
Liburan di Maldives dimanfaatkan pasangan Arden dan Kayla untuk bersama. Namun sayangnya, liburan itu tidak bisa dilewatkan dengan berenang di laut atau kolam renang. Kayla kedatangan tamu bulanan yang membuatnya harus rela untuk memandang lautan indah saja. Lalu, Arden harus mengikuti aturan untuk tidak menyentuh Kayla secara berlebihan.
"Aku ingin kembali ke kapal," cetus Kayla.
"Besok kita kembali," sahut Arden. "Lebih baik kita jalan-jalan saja."
"Rasanya tidak nyaman."
"Terus? Aku harus apa supaya kamu nyaman?" tanya Arden. "Jalan-jalan ke pantai atau ke pasar. Yang penting kita keluar."
"Takut bocor. Lagi banyak-banyaknya," ucap Kayla.
Arden berjalan mendekat, tetapi Kayla mengangkat tangannya. Ia menyuruh sang kekasih untuk tetap duduk di kursi sofa.
"Jangan dekat-dekat," kata Kayla.
"Apa wanita akan berbaring miring seperti itu karena takut bocor?"
"Aku lupa membawa pembalut panjang. Di luar negeri harganya mahal dan aku lupa meminun pil penunda tamu bulanan. Seharusnya aku membawanya kemari. Sudah tau kita liburan di pantai," cerocos Kayla.
"Aku mengerti. Setidaknya posisi tidurmu harus benar," kata Arden.
"Aku takut terkena seprai-nya. Aku tidak ingin kita membayar lebih kamar ini jika ada noda merah di alas tempat tidur."
"Terserah kamu saja, Kay. Besok kita kembali ke kapal," ucap Arden. "Jadi, aku harus tidur di mana malam ini?"
"Di sofa."
Arden mengembuskan napas kasar. Ia berbaring dengan bantal sofa sebagai alas. Menjadi wanita sangat rumit. Sudah tahu begini, Arden akan memperlakukan wanita dengan sebaik mungkin khususnya Kayla.
Besok harinya, Arden dan Kayla kembali ke kapal satu hari lebih cepat. Ini bagus untuk Arden. Setidaknya tujuan pulang akan semakin cepat.
Satu bulan perjalanan dengan singgah ke pelabuhan lain, maka mereka akan tiba di Florida di bulan berikutnya. Arden telah memesan kamar hotel di sana, lalu tiket New York.
Jadwalnya akan beberapa hari menikmati pantai Miami yang indah, lalu pulang ke New York setelah itu balik kampung. Kalau bisa Arden ingin langsung melakukan perjalanan saja. Tapi Kayla ingin liburan lagi.
"Hai! Aku tidak tau kalau kalian sudah tiba di sini," ucap Mike.
"Kamu juga kembali lebih cepat," sahut Arden.
"Ya, kami sampai kemarin siang."
"Hai, Mike!" tegur Kayla, lalu memeluk pria paruh baya itu. "Di mana Elise?"
"Dia di kabin. Bagaimana liburan kalian?" tanya Mike.
__ADS_1
Kayla menunjukkan cincin di jari manisnya. "Dia melamarku."
"Oh! Selamat." Mike kembali memeluk Kayla serta Arden bergantian. "Kamu sudah bertindak cepat, Ar."
"Ya, dia akan lepas lagi jika aku tidak mengikatnya," sahut Arden.
"Kalian mengobrol saja. Aku kembali ke kabin. Aku perlu istirahat," ucap Kayla.
"Biar aku bantu bawa kopernya," kata Arden.
"Aku bisa sendiri, Sayang. Kamu mengobrol saja bersama Mike."
Arden mengangguk. Membiarkan Kayla berlalu dengan dua koper di tangan. Arden juga ingin berbincang bersama Mike.
"Kenapa dia?" tanya Mike.
"Semalam tidak bisa tidur nyenyak. Biarkan untuk siang ini dia istirahat," ucap Arden. "Kita ke bar atau tetap di sini?"
"Sambil minum lebih asik."
Keduanya berjalan ke bar. Tidak ada banyak tamu karena mereka belum kembali dari libur panjang. Mike memesan minuman dingin untuk ia dan Arden.
"Boleh aku mengatakan sesuatu?" tanya Arden meminta izin.
Mike mengangguk. "Ajukan saja."
Mike tersenyum, lalu menepuk pundaknya. "Kamu sangat peka, Ar."
"Aku merasa istrimu sudah tau. Hanya saja dia pasrah," ucap Arden, lalu melanjutkan. "Wanita itu sangat lembut. Kamu tega mempermainkannya?"
Mike tertawa kemudian menyesap minumannya sampai habis. "Istriku memang sudah tau. Bahkan bisa dibilang dia yang menyodorkanku kepada Elise. Itu sebabnya aku tidak berfoto bersamanya di setiap kesempatan. Istriku akan terluka, tetapi dia sendiri yang menyebabkan itu. Bersama bertahun-tahun aku tidak cukup memahami wanita. Aku sudah bilang pada Elise untuk melupakan perasaannya padaku. Dia tentu saja terluka."
"Tidak heran tadi dia tidak bersamamu," sahut Arden.
"Aku tidak tidur dengannya. Aku tidak sanggup," ucap Mike.
"Kamu melakukan hal baik, Mike. Pria yang sudah menikah tidak boleh meniduri gadis lain."
"Kamu sudah siap menikahi Kayla?" sorot mata Mike cerah menyanyakan kabar bahagia itu.
Arden mengangguk. Raut wajahnya terlihat bahagia. "Iya. Penantian yang sudah sangat lama. Kayla akan menjadi milikku."
"Selamat sekali lagi untukmu." Mike merangkul Arden.
"Aku akan mengadakan resepsi. Kamu harus datang."
__ADS_1
"Pasti jika aku diundang pada hari bahagia itu. Pria tua ini akan memberkatimu. Oh, maksudku mendoakan agar kalian bahagia," ucap Mike.
"Kamu memang harus melakukan itu," seloroh Arden.
...****************...
Hari-hari berlalu cepat. Perjalanan kisah selama di kapal menjadi pengalaman berharga untuk semua. Di antara ribuan tamu, punya kisah mereka masing-masing baik itu bahagia atau sedih.
Elise menerima segala keputusan Mike. Awalnya ia sedih, tetapi Kayla selalu menemani. Saling bertukar cerita membuat luka Elise sedikit terobati.
Ia tidak marah kepada Mike dan malah memuji kesetiaan pria itu. Elise bahkan membocorkan rahasia bahwa mereka tidak tidur bersama meski sudah tiga bulan bersama berada di kapal.
Kayla kaget, tetapi ia senang mendengarnya. Namun, Kayla tetap saja kesal pada pria yang membawa wanita lain untuk liburan mewah. Ia tidak terima begitu saja.
Mike menjalin hubungan teman bersama Arden dan Kayla. Ia mengundang makan malam dan berniat menjamu keduanya saat berkunjung ke Boston.
Arden menjanjikan hal itu. Ia akan berkunjung ke Boston setelah resmi menikah bersama Kayla. Mendengarnya saja Kayla sangat malu. Arden sangat serius dan itu kenyataan.
Sementara Arden dan Kayla semakin mengukuhkan hubungan mereka. Rencana pernikahan, kejutan bagi keluarga selalu menjadi pembahasan bagi keduanya.
"Aku sungguh tidak menyangka kita kembali ke pelabuhan pertama dengan selamat dan tentunya membawa kisah masing-masing," ucap Mike.
"Ya, pengalaman yang menakjubkan. Terima kasih sudah mengajakku liburan," sahut Elise.
Mike memeluk Elise. "Aku akan selalu menyayangimu."
"Kita akan berpisah setelah sampai di Boston. Aku akan menjauh darimu setelah ini."
"Aku yakin ada banyak pria yang mengantri untukmu," sela Arden.
Elise beralih memeluk Arden. "Terima kasih dan selamat untuk kalian. Pria penyuka es krim ini mendapat keuntungan besar."
Arden tertawa. "Bukan keuntungan, tetapi Kayla adalah belahan jiwaku."
Kayla maju ke depan untuk memeluk Elise. "Arden memang beruntung karena aku menerimanya."
Elise menarik diri menatap Kayla. "Kamu juga mencintainya gadis es krim. Jangan lupa untuk terus menghubungiku."
"Pasti. Kita akan bertemu lagi," ucap Kayla.
"Sudah cukup acara perpisahannya. Kita harus turun dari kapal," sela Mike.
"Mike, aku akan merindukanmu," ucap Kayla.
Mike mengecup puncak kepala Kayla, lalu memeluknya seperti seorang anak. "Aku juga, Nak. Semoga rencana pernikahan kalian lancar."
__ADS_1
Keempatnya turun dari kapal. Saling melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan, lalu berjalan ke tujuan masing-masing.
Bersambung