Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
HTS


__ADS_3

"Menurutmu siapa yang menulis surat itu?" tanya Kayla.


Arden dan Kayla telah sampai di dalam kamar. Malam ini, Kayla akan menginap di kabin mewah Arden. Tentu sang pria tidak menyia-yiakan kesempatan untuk terus bersama wanita pujaannya.


"Entahlah," jawab Arden.


Ia menurunkan resleting gaun Kayla. Menurunkan pakaian itu sampai ke pinggang. Arden mendaratkan kecupan kecil menyusuri sepanjang punggung mulus hingga ke bawah.


Ia mendengar desiran suara berat Kayla. Arden pastikan wanita itu tengah memejamkan mata menikmati sentuhannya. Selembut es krim. Arden akan melakukan seperti yang tertulis di surat yang dibacakan oleh Kennedy Will.


"Kurasa pria itu sangat romantis," ucap Kayla.


"Aku berpikir dia hanya mengutarakan pendapatnya tentang seorang wanita yang tengah ia kencani," sahut Kayla.


"Menurutmu begitu?" Kayla menoleh ke samping memandang Arden.


"Dia jatuh cinta, tetapi wanita itu tidak menginginkannya." Arden mengecup bibir Kayla.


Kayla beringsut bangun dari duduknya. Gaun yang ia pakai meluncur bebas dari atas. Kayla melepaskan gaun itu dari kakinya, lalu melangkah menuju tempat tidur.


Arden bersiul, ia membuka pakaian atas serta celana panjang. Menyisakan satu pelindung di antara sela kaki panjangnya. Kayla tersenyum, ia menjadi terbiasa melihat penampilan Arden seperti itu, bahkan polosnya pria itu juga telah dilihat.


"Kemarilah," pinta Kayla dengan menggerakkan satu jari telunjuknya. Matanya mengedip sebelah dan bibirnya sengaja ia gigit.


Arden tertawa kecil. Ia berjalan perlahan mendekati tempat tidur. Kayla sendiri telah mengundangnya dan Arden menerima itu.


"Indah," ucap Arden.


"Apa aku seperti es krim?" tanya Kayla seraya tertawa ketika mengatakan hal itu.


"Kamu terus saja mengingat surat itu."


"Jelas saja. Kita melakukan kegiatan menikmati es krim dan tiba-tiba malam ini aku mendengar seseorang menulis surat seperti itu," ucap Kayla.


"Melihatmu seperti ini, aku benar-benar ingin menikmati es krim."


Arden naik ke atas tempat tidur. Kayla melebarkan kaki agar Arden bisa masuk ke dalam pelukannya. Ia mengusap rahang tegas Arden serta bahu bidang pria itu.


Arden merendahkan diri, memeluk Kayla dengan erat. Terasa hangat ketika kulit mereka bersentuhan. Terlebih ketika masing-masing dari mereka menggerakkan tubuh. Arden merasakan dua ujung kecil menegang serta Kayla merasakan tonjolan di bawah sana.


"Sebenarnya aku ingin menikmati es krim yang sesungguhnya," bisik Arden sembari memagut daun telinga Kayla.


Kayla mendesir, ia meraih wajah Arden, lalu menatapnya. "Tidak ada es krim di sini."


"Ada, tapi aku tidak ingin. Aku terlalu takut."

__ADS_1


"Takut kenapa?" tanya Kayla.


Arden mengecup kening Kayla, berpindah ke mata, hidung, lalu bibir. Di sana ia berhenti cukup lama sebab Kayla memberi perlawanan. Sesaat keduanya hanyut akan buaian sesapan bibir lawan.


"Jika aku mengambilnya, maka kamu harus menjadi milikku," ucap Arden.


Kayla mengerutkan kening karena ia tidak paham maksud dari Arden. "Bukannya kita telah bersama?"


Kata-katamu itu yang membuatku ragu, Kayla. Jangan melibatkan perasaan. Apa kamu bisa menarik kata itu lagi? Jadilah pasanganku yang sesungguhnya.


Arden mengecup bagian jenjang Kayla. Jejak-jejak bibir itu menyusuri ke tulang selangka, turun lagi ke bawah tepat di badan atas keranuman milik Kayla.


Arden membentuk tanda di sana. Kayla menggigit bibir. Merasa luar biasa di antara sakit juga nikmat. Tangannya secara sadar menurunkan kepala Arden untuk ke bawah.


"Aku suka bentuk darimu. Sesuai dengan tipeku," ucap Arden.


"Aku ingat kamu sering meremehkannya. Kamu bilang ini sangat datar dan bentuknya besar karena aku gendut," sahut Kayla.


Mana mungkin. Aku hanya berbohong. Ini bentuk ideal 36B. Mungkin juga lebih. "Kamu sangat pas, Kayla. Aku suka membenamkan wajahku di antara milikmu," ucap Arden. Terlebih di bawah sana. Aku ingin mencicipinya.


"Ayo, lakukan," ucap Kayla.


Sapuan indra perasa Arden membuat tubuh Kayla terangkat. Bagian tidak bertulang itu mengitari bentuknya sebelum meraih puncak merah yang telah menegang.


Bermain-main di sekitar sana membuat Kayla terbakar. Di bawah sana sudah basah. Berkedut yang malah ingin disentuh. Kayla menurunkan sendiri tangannya, lalu menyentuh miliknya.


"Sakit!" ringis Kayla.


"Lepaskan tanganmu, Kay," pinta Arden.


Kayla tertegun. Ia menarik tangannya. "Hah, apa yang kulakukan?"


Napas Arden memburu, ia memeluk Kayla. Tahukan Kayla jika miliknya itu masih belum pernah disentuh oleh wanita manapun? Arden memang ingin disentuh, tetapi ini malah akan membuatnya tidak tahan untuk menerjang wanita yang saat ini tengah bersamanya.


"Kamu marah?" tanya Kayla.


Arden menggeleng. "Tidak, tapi aku tidak tahan lagi." Arden mengangkat wajah menatap Kayla. "Bisakah kamu memuaskanku?"


Mata Kayla membelalak. "Memuaskan?"


Arden mengangguk. "Iya. Puaskan aku."


Kayla mendorong Arden membuat pria itu terjungkal ke sisi samping. Kayla beringsut duduk, ia menarik selimut menutupi tubuhnya.


"Aku tidak ingin barang bekas," ucapnya.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Kayla teringat dengan hal yang ingin sekali ia ucapkan. Kayla kesal mengingat Arden telah tidur bersama banyak wanita dan itu artinya, ia mendapat barang bekas.


"Bekas? Milikku ini asli," kata Arden yang ikut duduk.


"Sudah berapa banyak milikmu itu masuk ke dalam sawah milik wanita lain?"


"Sumpah! Sama sekali tidak ada. Kamu orang pertama yang menyentuhnya," jawab Arden.


"Aku bukan wanita yang bisa dibohongi."


Arden ingin memeluk, tetapi Kayla menghindar. Ia bahkan menggeser duduknya agar menjauh. Arden meraih lengannya, lalu memeluk Kayla erat.


"Kenapa? Tidak ingin kalau aku melakukannya bersama wanita lain?"


"Hanya tidak terima saja. Bagiku ini pertama," ucap Kayla.


"Bagiku juga. Kamu yang pertama."


Kayla menatap Arden. "Sungguh!"


Arden mengangguk. "Kapan aku pernah berbohong padamu?"


"Kali ini aku percaya padamu."


"Kamu memang harus percaya kepadaku, Sayang." Arden meraih dagu Kayla, lalu menyematkan kecupan di bibir sana. "Jadi, bisakah kamu memuaskanku?"


Kayla menyengir. "Aku belum siap."


"Mandi bersama?" tanya Arden.


"Belum juga. Lebih baik tidur saja."


Arden menjatuhkan Kayla di atas tempat tidur. Ia pasrah dengan kehendak wanitanya yang ingin menunda kegiatan memuaskan satu sama lain.


Kayla membalik diri menghadap Arden. Sahabatnya itu telah memejamkan mata. Ia usap tulang pipi Arden dengan lembut. Sebagai wanita, Kayla menginginkan lebih kegiatan tadi.


"Sebenarnya kita ini tengah melakukan apa?" bisik Kayla.


Arden membuka mata. Kayla kaget karena mengira sahabatnya telah tidur. "Kamu menganggapku apa?"


"Kamu pura-pura tidur." Kayla ingin membalik diri, tetapi Arden menahannya.


"Kay, sebenarnya kamu menganggapku apa?" tanya Arden.


"Kita teman, kan? Tidak! Kita orang asing yang baru saling mengenal, lalu menjadi pasangan kencan," ucap Kayla.

__ADS_1


Arden tersenyum. "Aku pernah bilang padamu. Aku bisa menjadi apa pun yang kamu inginkan."


Bersambung


__ADS_2