
Arden terlambat setengah jam dari waktu yang sudah ditentukan. Lauren memasang tampang cemberut ketika melihat langkah kaki mendekat ke meja yang ia tempati.
Lauren bangkit dari kursinya, merentangkan tangan guna dapat merangkul teman sepermainannya. Namun, Arden bukan memeluk, tetapi memberikan hadiah yang ia bawa.
"Untukmu. Ayo, duduk," ajak Arden, lalu duduk begitu saja.
"Tas baru. Terima kasih," ucap Lauren, "kali ini kamu dimaafkan karena datang terlambat."
Arden tersenyum. "Aku harus menenangkan si kucing betina di rumah. Maaf karena hal itu. Aku sudah membawakanmu hadiah yang kamu suka."
Lauren kembali melihat hadiah yang Arden berikan. Ia senang karena tas itu model terbaru. Lauren mampu membeli, tetapi akan menguras dompetnya terlalu dalam.
"Kamu selalu tau keinginanku," ucap Lauren.
"Wanita sama saja. Adikku juga senang sekali mengoleksi tas," tukas Arden. "Kamu sudah pesan makan?"
"Aku sudah pesan makanan kesukaanmu. Sebentar lagi akan tiba," ucap Lauren.
Lauren memandang Arden yang tidak lepas dari ponsel di tangan. Selalu sibuk itulah pria yang ia suka. Lauren mengakui jika ia memang menyukai Arden. Teman yang sudah sangat akrab dan berharap status itu akan berubah menjadi kekasih atau istri.
"Ar, apa ponsel lebih berarti dariku?" tanya Lauren.
"Maaf, aku harus memberi kabar kepada keka ....."
"Arden!"
Sontak Arden menoleh ke belakang. Matanya membelalak melihat Elena dan Kevin. Bisa-bisanya orang tuanya datang ke restoran yang sama di antara banyaknya tempat makan di Jakarta.
"Mama, kok, bisa ada di sini?" kata Arden yang langsung bangun dari duduknya.
Lauren juga kaget jika kedua orang yang berjalan mendekat itu adalah sepasang suami istri yang Arden kenali.
"Karena kamu enggak makan di rumah, Mama ajak Papamu makan di restoran ini," ucap Elena, lalu beralih pada Lauren dan ia melangkah mendekat. Elena tersenyum dan mendapat balasannya dari Lauren. "Jadi, dia ini adalah ...."
"Bukan!" potong Arden cepat, "jangan salah sangka. Lauren teman Arden."
Kevin menepuk pundak putranya. "Kenalin sama Papa dan Mama."
"Lauren, ini Papa dan Mamaku," ucap Arden.
Lauren mengulurkan tangan. "Halo, Om, Tante. Saya Lauren."
__ADS_1
"Manis sekali," kata Elena dengan menyambut tangan Lauren, lalu memeluknya.
Arden tersentak dengan adegan itu. Elena sudah pasti salah paham tentang Lauren. Arden meraih tangan ibunya, lalu menempatkan posisi Elena ke samping Kevin.
"Arden! Perlakukan Mamamu dengan lembut," tegur Kevin.
"Maaf, Mama main peluk anak orang saja," gerutu Arden.
"Kenapa, sih? Masa kamu cemburu. Mama mau peluk calon mantu saja enggak boleh."
Arden membelalak mendengarnya. Lauren tentu saja kaget akan ucapan dari ibunda temannya. Sementara Kevin dan Elena menebar senyum kebahagian ketika melihat calon dari putra semata wayang mereka.
"Jangan disembunyikan lagi, Ar. Besok, bawa kekasihmu ke rumah. Papa dan Mama akan menunggunya," kata Kevin.
"Lebih baik kita pindah restoran saja. Tidak baik menganggu mereka," sahut Elena, lalu lekas menarik tangan Kevin untuk pergi.
"Mama, Papa!" seru Arden.
Keduanya malah melangkah lebih cepat. Pelayan datang membawa makanan, lalu menatanya di meja.
"Kita makan dulu, Ar," kata Lauren.
"Jangan dengarkan ucapan mama dan papa. Mereka cuma bercanda," kata Arden.
"Tidak apa-apa," jawab Lauren.
Keduanya makan lebih dulu. Arden selalu melihat ponselnya sembari menyuap nasi ke dalam mulut. Ia memanggil pelayan, lalu memesan makanan untuk dibungkus serta meminta nota pembayaran.
"Sepertinya kamu buru-buru," kata Lauren.
"Iya, aku harus pulang pukul sembilan malam."
"Apa kamu akan dihukum jika pulang terlambat?" Lauren tidak bisa menahan tawanya.
Arden turut tertawa. "Kamu benar, Lauren. Dia akan marah padaku. Kekasihku akan marah."
"Apa?" Lauren merasa pendengarannya bermasalah. "Coba katakan sekali lagi."
"Iya, kekasihku akan marah. Aku sudah punya pacar. Bukan pacar, tetapi calon istri," ucap Arden dengan wajah berbinar.
"C-calon istri," ucap Lauren.
__ADS_1
"Aku sepakat untuk menyembunyikan hubungan kami. Itu semata untuk memberi kejutan kepada mereka karena calon istriku adalah Kayla. Dia anak dari sahabat orang tuaku," tutur Arden.
Raut wajah Lauren berubah serius. "Kayla?"
Arden mengangguk. "Kamu pernah bertemu dengannya saat di kelab dan apartemen. Kayla yang menjadi musuhku."
"Bukannya dia sudah punya calon suami?"
"Mereka putus. Aku sungguh tidak mengira kami bertemu di kapal saat liburan."
Wajah Arden merona ketika mengingat kenangan mereka selama di kapal. Ingin rasanya Arden membawa Kayla liburan terus. Menghabiskan waktu bersama, dan paling penting dalam keadaan resmi.
"Dari kecil Kayla adalah kekasihku. Dia cintaku dan sekarang aku mendapatkannya. Aku akan menikahinya," ucap Arden.
Lauren terdiam. Tidak tahu harus memberi tanggapan apa atas ucapan Arden. Terlambat. Ia sudah sangat telat untuk mengutarakan perasaan yang ada dalam hatinya. Tidak, Lauren salah. Bukan terlambat, tetapi Arden memang tidak memberi peluang untuk merebut hatinya. Dari awal sudah ditegaskan, bahwa mereka adalah teman.
"Lauren, kamu kenapa?"
"Maaf jika mengecewakan dirimu. Aku mencintaimu, Arden," ucap Lauren.
Arden tersentak mendengarnya. Lauren punya perasaan terhadapnya, padahal Arden sudah mewanti agar hal itu tidak akan pernah terjadi. Arden akui ia pernah berniat menjadikan Lauren sebagai pengganti Kayla. Namun, itu hanya niat yang tidak pernah tercetus dari bibirnya.
Arden menggeleng. "Itu bukan cinta, Lauren. Kamu hanya suka padaku karena aku memperhatikanmu. Kamu mengecewakan diriku. Sudah aku bilang jika aku menyukaimu karena kamu tidak menuntut lebih dalam berhubungan. Kamu tau aku memiliki seseorang di hatiku. Aku pernah mengatakannya."
"Maafkan aku, Arden. Perasaan ini tumbuh begitu saja," ucap Lauren.
Lagi-lagi Arden menggeleng. "Aku tidak ingin berkata kasar, tetapi kamu sungguh membuatku kecewa. Hubungan kita sampai di sini saja. Jika bertemu denganku lebih baik tidak saling kenal. Aku kecewa memiliki teman sepertimu."
Arden mengeluarkan beberapa lembar uang dan meletakkannya di meja sebagai bayaran atas makan malam mereka. Ia beranjak dari kursi tanpa menunggu dulu makanan yang ia pesan untuk Kayla.
Lauren menahan tangannya. "Maafin aku. Tapi aku lega telah menyatakan perasaanku padamu."
"Perasaanmu tidak tulus, Lauren. Sungguh, jika kamu hanya menganggapku teman, maka aku akan menganggapmu sahabat. Wanita yang akrab denganku selain Kayla."
"Faktanya pria dan wanita tidak bisa jadi teman."
"Kamu benar. Ini terjadi kepadaku dan Kayla. Itu sebabnya aku sudah memutuskan untuk tidak lagi berteman denganmu. Cukup sampai di sini saja. Maafkan aku," ucap Arden, lalu melangkah pergi.
Arden kira Lauren akan berbeda dengan gadis yang selama ini bersamanya. Awalnya menganggap teman. Setelah diberi perhatian, maka gadis-gadis itu malah ingin memilikinya. Lauren sama saja dengan mereka. Jatuh cinta karena uang. Hanya Kayla yang tulus berteman dengannya, dan hubungan mereka akan berubah menjadi teman hidup.
Bersambung
__ADS_1