
"Apa dia datang terlambat lagi?" Kayla duduk setelah dipersilakan oleh pelayan pria. "Terima kasih," ucapnya pada pelayan.
"Kembali, Nona," balasnya.
Elise dan Mike sudah duduk manis di meja yang Kayla tempati. Pelayan pria kembali datang dengan membawa menu. Ketiganya memesan makanan masing-masing termasuk untuk si tukang telat, yaitu Arden.
"Mungkin Arden sibuk," ucap Elise.
"Kurasa dia tengah melakukan hal yang seru," sahut Mike.
"Seru?" sambung Kayla sembari menatap Mike. "Apa dia menemukan seorang gadis?"
"Aku tidak mengatakan itu, Kay," bantah Mike.
"Aku tidak peduli jika dia bermain bersama para gadis." Sialan!
"Arden datang," ucap Elise.
Kayla dan Mike memandang arah pintu masuk aula. Arden memang telah datang dengan setelan jas hitam yang rapi.
"Halo!" sapanya.
Arden meraih dagu Kayla, lalu mengecup sekilas bibir itu. Ia duduk di samping sahabatnya yang memandang tajam. Arden mengerutkan kening melihat pandangan tidak mengenakkan. Ia beralih pada Elise yang cuma tersenyum, lalu Mike yang mengangkat bahu.
"Dengan siapa kamu bersenang-senang?" tanya Kayla.
"Aku tidak bersenang-senang. Maksudnya apa?" Arden balik bertanya. Ia memandang Mike serta Elise. Namun keduanya, memang tidak tahu apa-apa. "Sayang, ada apa?"
"Jangan memanggilku sayang ketika kamu mengucapkan kata itu untuk gadis lain yang kamu kencani tadi," ucap Kayla.
"Astaga! Aku tidak berkencan dengan siapa pun. Pasanganku cuma kamu," tutur Arden.
"Kenapa datang terlambat? Sore kamu pergi dulu dari bar, lalu telat datang ke aula."
Arden terkekeh. "Kamu cemburu?"
"Aku tidak suka saja. Kamu boleh berkencan bersama wanita lain, tetapi melarangku untuk berdekatan dengan pria lain."
"Aku berani bersumpah tidak melakukan itu. Tadi itu aku cuma ketiduran sebentar."
"Lalu, sore hari tadi, kamu ke mana?" tanya Kayla dalam tatapan menyelidik.
"Oh, itu. Aku bertemu temanku yang menjadi kru di sini. Dia ingin ditemani," ucap Arden beralasan. Arden meraih tangan Kayla, lalu mengecup punggungnya. "Aku tidak bermain bersama wanita lain."
"Hentikan dulu perdebatan kalian. Makan malamnya sudah sampai," ucap Elise.
__ADS_1
"Aku belum pesan," kata Arden.
"Kayla sudah memesankannya untukmu."
Arden kembali mengecup punggung tangan Kayla. "Dia memang perhatian."
Makan malam dihidangkan. Keempatnya makan bersama dulu. Namun, Kayla kehilangan mood-nya karena keterlambatan Arden.
"Sayang, aku tidak berkencan dengan wanita lain. Jangan karena aku, kamu tidak makan," ucap Arden.
"Ayo, makan, Nak," kata Mike lembut. Ia bertindak seperti seorang ayah.
"Kau seperti ayahku, Mike," ucap Kayla sembari tersenyum.
"Aku punya anak seusia-mu," sahut Mike.
Kayla melahap hidangan yang berada di atas meja. Arden mengacungkan jempol kepada Mike atas usahanya dalam membujuk Kayla. Punya teman dengan umur yang lebih tua sangat bisa diandalkan.
Selesai makan malam bersama, pelayan datang membereskan meja, lalu menggantinya dengan hidangan wine. Arden menuangkan minuman anggur itu ke gelas Kayla, Mike serta Elise. Keempatnya mendentingkan gelas lebih dulu sebelum menyesap minuman itu sedikit demi sedikit.
Seorang pria bersetelan kemeja putih dan berdasi pita mencuri perhatian di atas panggung. Kayla terbelalak melihatnya dan pengunjung lain bersorak dengan mengelukan nama pria itu.
"Bukannya itu Kennedy Will?" tanya Kayla.
"Kapan dia datang? Aku tidak menyangka dia di sini."
"Ya ampun! Dia akan membacakan surat bagi pengunjung yang ingin mengatakan cinta."
Wajah Kayla terlihat takjub. "Sungguh! Ini akan menjadi sangat menyenangkan."
"Hoho. Kuharap begitu. Aku paling suka dengan acara pernyataan cinta. Itu sangat romantis," ucap Elise.
Arden menyenggol Mike dengan sikunya. "Mereka sangat antusias."
"Namanya juga wanita," sahut Mike.
"Halo semua! Aku Kennedy Will. Kalian semua pasti sudah mengenaliku. Ya, kalian benar! Aku adalah pembaca acara yang terkenal itu," Kennedy berucap sembari tertawa.
Pengunjung tertawa dan bertepuk tangan. Semua tidak sabar untuk acara ini ketika salah seorang pelayan mendorong meja yang di atasnya terdapat beberapa amplop berwarna pink.
"Aku di sini akan membacakan surat dari kalian yang ingin mengungkap perasaan. Bagaimana kalau kita memulainya? Apa kalian sudah siap?" tanya Ken.
"Kami sangat siap!" seru pengunjung termasuk Kayla dan Elise yang tidak sabar untuk itu.
"Oke! Kita mulai sekarang. Aku akan bacakan surat dari Mr. Andrew." Ken berdeham, lalu membaca surat itu.
__ADS_1
Aku menulis surat ini bukan untuk mengungkapkan perasaanku kepada wanita. Aku di sini karena kebencianku kepadanya. Tega sekali dia berselingkuh di depanku. Dia adalah wanita yang duduk saat ini bersamaku. Dia tidur bersama pria berkumis tebal dengan perut buncit.
"Astaga!" ucap Kennedy.
Dari meja tengah terjadi keributan. Ya, pria bernama Andrew tengah diserang oleh seorang wanita yang tidak terima telah dipermalukan di depan banyak orang. Pelayan segera mengusir mereka keluar untuk melanjutkan kembali acara.
"Pria itu membalasnya dengan sadis," ucap Kayla.
"Aku tidak ingin berkomentar," sahut Elise.
Kennedy kembali melanjutkan acaranya. Ia mengambil surat kedua dari meja, lalu mencari nama pengirimnya.
"Ini tidak ada nama pengirim. Tapi aku akan membacakan isi suratnya kepada kalian," ucap Ken.
Tidak tau dari mana memulainya. Jantungku selalu berdebar saat di dekatnya. Aku sudah pergi ke dokter. Berkali-kali malahan. Tentu saja dokter bilang aku baik-baik saja. Aku terkena serangan yang namanya jatuh cinta. Kurasa kalian pernah mengalaminya.
"Kurasa aku juga begitu," ucap Ken. "Kita lanjutkan membaca suratnya."
Sayangnya, dia akan menikahi pria lain. Aku sudah bilang jika dia tidak cocok dengan pria itu. Akulah pria yang paling sempurna untuknya.
"Cinta bertepuk sebelah tangan," kata Ken, lalu melanjutkan.
Aku tidak tau apakah kami sungguh berjodoh. Aku melihatnya di atas kapal ini. Dia berubah menjadi gadis yang sangat cantik. Aku memberanikan diri untuk menyentuh, dan dia mengizinkan. Dia liar dan aku suka.
"Apa kalian ingin aku melanjutkan lagi?" tanya Ken.
"Tentu saja," jawab semuanya.
"Setelah membaca ini, aku ingin mencari gadis untuk ditiduri," kata Ken.
Dia seperti es krim vanila yang lembut. Manis ketika aku mencicipinya. Meleleh di ujung lidah dan segar ketika sampai di tenggorokkan. Dia dingin dan aku bisa menghangatkannya dalam balutan cone yang keras.
Dari Penyuka Es krim Vanila. Kuharap malam ini aku bisa mengulanginya lagi.
"Aku rasa tulisan ini menggantung," kata Ken. "Tapi siapa pria penyuka es krim? Apa kalian suka es krim?"
"Ya! Kami sangat suka," jawab yang lain.
"Pria yang panas," ucap Elise.
"Benar," sahut Kayla dengan wajah memerah. Mendengar es krim, ia teringat kejadian di kamar hotel.
"Kita akan tunggu surat selanjutnya dari pria penyuka es krim di malam besok. Kita lanjutkan membaca surat yang lain," kata Ken.
Bersambung
__ADS_1