Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Liburan Asik


__ADS_3

"Airnya jernih. Aku suka di sini," ucap Kayla.


"Kita bisa ke sini kapan pun kalau kamu mau," sahut Arden. "Tapi aku cuma mau pulang."


"Pembahasanmu selalu ingin pulang. Setelah ini kita pulang ke Amerika."


"Rute perjalanannya sangat jauh. Aku ingin secepatnya sampai setelah itu kita pulang ke Indonesia," kata Arden.


Kayla beranjak dari duduknya, lalu beralih ke pangkuan Arden. Ia mengalungkan kedua tangan di leher sang kekasih.


"Setelah mendapatkanku, kamu menjadi pria yang tidak sabaran." Kayla membelai helaian rambut Arden. "Aku ingin ke tempatmu. Aku ingin lihat di mana kekasihku ini tinggal."


"Kita tinggal beberapa hari dulu di apartemenku. Kamu juga perlu bertemu semua temanku yang berada di sana."


"Ide bagus. Aku ingin tau pesta anak muda di sana," kata Kayla.


"Aku hanya akan menyediakan soda dan kacang. Tidak ada minuman beralkohol karena aku tidak ingin membuatmu menggila."


"Kamu takut aku sembarangan memeluk pria?" Kayla mengecup jakun Arden.


"Jangan ditanya lagi." Arden memandang Kayla dari atas ke bawah.


Kekasihnya memakai celana pendek jeans serta blouse pendek yang memamerkan perut rata. Arden mengerutkan kening. Rupanya ia baru tersadar dengan apa yang Kayla pakai.


"Ngomong-ngomong, bukannya kamu ingin memakai pakaian renang?" kata Arden.


"Aku tidak akan memakainya, dan mulai sekarang, kurangi untuk menyentuh tubuhku," ucap Kayla.


"Sekarang kita berpelukan dan tadi siapa yang mengecup jakunku?"


"Kamu dilarang untuk menyentuh bagian sensitifku. Dilarang untuk tidur bersama tanpa pakaian," tutur Kayla.


"Peraturan apa ini? Tiba-tiba saja tidak boleh menyentuh. Mana mungkin aku bisa untuk mencegah tanganku yang ingin memegang benda favoritku. Satu lagi, kamu tidak akan tega membiarkan bayi besar ini kehausan, kan?" Arden ingin menyentuh keranuman milik sang kekasih, tetapi dengan sigap tangannya ditepis oleh Kayla.


"Sekarang tidak boleh lagi. Hanya pelukan, kecupan wajah dan bibir. Aku cuma mengizinkan itu. Titik!" ucap Kayla.


"Kenapa membuat peraturan seperti ini? Kita sudah bersama. Aku boleh memilikimu seutuhnya," protes Arden.


Kayla menggeleng. "Tidak boleh mulai sekarang. Bersabarlah sampai kita sudah resmi."


Arden memeluk Kayla erat. "Aku akan bersabar sebulan lagi. Aku janji tidak akan melewati batas."


"Good boy," ucap Kayla.


...****************...


Kayla tersenyum ketika mendapati sebuah memo di atas tempat tidur. Ia mengambilnya, lalu membaca pesan itu.


Untuk malam indah. Keluarlah dari kamar, dan di sana kamu akan mendapat petunjuknya.

__ADS_1


"Dia ingin main petak umpet. Aku akan keluar," ucap Kayla.


Baru membuka pintu, Kayla disuguhkan dengan taburan kelopak mawar dan di sana ada lagi memo untuknya. Kayla mengambil itu di lantai, lalu membacanya.


Berjalan tanpa alas kaki. Bidadariku layak melangkah dengan kelopak bunga di atasnya.


Kayla melepas sandal rumah, lalu berjalan di atas kelopak bunga mawar merah dan putih. Ia terus berjalan sampai mendapatkan satu surat lagi.


"Astaga! Kapan dia menyiapkan ini?" ucap Kayla. "Arden sangat manis."


Temukan aku jika aku adalah belahan jiwamu. Tutup mata dan rasakan keberadaanku.


"Dia kira aku ini bisa menebaknya," protes Kayla. "Baiklah, aku akan mencobanya."


Kayla menutup mata, berusaha untuk memusatkan keberadaan Arden. Sangat lucu, tetapi ia senang melakukannya. Ketika ia membuka mata, Kayla menutup bibirnya, dan sungguh ia kaget. Ada lilin led di sepanjang koridor tempatnya berdiri.


Kayla mengikuti sepanjang cahaya lilin itu. Semakin dekat, aroma dari Arden tercium. Kayla yakin kekasihnya itu menyemprotkan parfum sebagai tanda.


Kayla melangkah masuk ke ruangan dan di sana lagi-lagi ia menerima kejutan. Setiap ia melangkah, maka satu lampu akan menyala.


"Will, you, marry, me," eja Kayla.


Semua lampu menyala dan menampilkan sosok pangeran yang tersenyum sembari memegang cincin di jarinya. Arden berjalan mendekat, lalu berlutut di hadapan Kayla.


"Will you marry me?" ucap Arden.


"Yes, i will," jawab Kayla.


"Aku janji akan menggantinya dengan berlian setelah pulang dari liburan," ucap Arden.


Kayla tertawa sembari menitikkan air mata. Terharu, tapi malah lucu saat cincin akrilik itu tersemat di jari manisnya.


"Ini sangat cantik. Aku akan menyimpannya sebagai barang berharga. Kamu membelikan cincin ini di Maldives, dan ini sangat berharga," ucap Kayla.


"Ya, setidaknya aku membelinya di luar negeri."


"Terima kasih," ucap Kayla, lalu memeluk Arden.


"Aku yang harusnya yang mengucapkan hal itu. Terima kasih karena telah menerimaku."


Tangan Arden berangsur naik menangkup pipi Kayla. Keduanya saling menatap, lalu menyatukan bibir secara lembut dan mendesak.


"Aku mencintaimu, Kay," ucap Arden.


Kayla mengangguk, napasnya terengah. Kening mereka saling menempel, lalu Arden kembali menyatukan bibir mereka. Kecupan manis, begitu menuntut yang diakhiri dengan kecupan-kecupan kecil.


"Kapan kamu menyiapkan ini semua?" tanya Kayla.


"Saat kamu tidur siang," jawab Arden. "Aku keluar, lalu menyiapkan ini semua."

__ADS_1


"Pantas saja saat bangun kamu malah tidak ada. Saat aku berada di kamar mandi, malah mendapatkan pesan. Tapi aku suka ini. Sangat suka," ucap Kayla.


"Aku tau segala kesukaanmu."


"Kamu menyiapkan makan malam?" tanya Kayla.


"Oh, itu. Aku pesan sekarang. Maaf karena telah melupakan urusan perut," ucap Arden.


"Selalu saja ceroboh," gerutu Kayla.


"Hei, Gen .... "


Arden menghentikan ucapannya. Kayla tidak lagi gendut seperti sebelumnya. Arden berdeham, lalu melanjutkan kalimatnya yang terpotong.


"Maaf, Sayang. Aku terlalu asik menyiapkan ini semua."


"Tadi kamu mau bilang apa?" Kayla berkacak pinggang.


"Tidak ada."


"Kamu ingin memanggilku gendut, kan?"


Arden menggeleng cepat. "T-tidak. Itu fitnah." Kebiasaan, nih, mulut.


"Mulutmu itu tidak pernah berubah!"


Arden langsung memeluk Kayla. "Jangan katakan apa pun. Kamu memang wanita gendutku."


"Arden! Apa berat badanku naik? Aku harus diet lagi." Kayla mendorong Arden menjauh, tapi tidak bisa.


Arden mengecup pipi Kayla berkali-kali yang malah membuat wanita itu geli. Kayla tertawa karena Arden tidak membiarkannya melepaskan diri.


"Mau gendut sekalipun aku tetap suka," ucap Arden.


"Habis sudah pipiku." Kayla mengusap wajahnya.


"Oh, iya. Kita harus memberitahu keluarga. Kita lakukan panggilan video."


"Jangan dulu. Nanti saja setelah kita pulang. Kita beri kejutan istimewa," ucap Kayla.


"Aku tidak bisa membayangkan wajah-wajah kaget itu nantinya."


Kayla mengalungkan lengannya di leher Arden. "Lebih kaget lagi kalau mereka tau kita liburan bersama."


Arden mengangkat tubuh Kayla dan spontan kedua kaki Kayla melingkar di pinggangnya. "Liburan yang manis."


"Saat itu aku akan bilang jika kamu melamarku dengan cincin plastik. Om Kevin pasti akan malu," ucap Kayla sembari tertawa.


"Itu malah bagus. Dia akan memberiku uang," ucap Arden, lalu mengecup kembali bibir Kayla.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2