
"Kayla! Dengarkan aku dulu," ucap Arden.
"Tidak ada yang perlu dibicarakan," sahut Kayla sembari membuka pintu dan menyeret kopernya.
Arden meraih koper itu. Kayla terhenti, lalu menoleh ke belakang. Adegan tarik menarik terjadi. Kayla mengalah, ia melepaskan koper kemudian lekas berjalan ke depan.
"Sayang, aku bisa jelaskan. Kita enggak perlu seperti ini," bujuk Arden.
"Sebenarnya kamu dendam sama aku, kan?" ucap Kayla.
"Astaga! Dari mana pikiran itu?"
"Kamu memang enggak pernah berubah. Sampai akhir kita akan tetap menjadi musuh," kata Kayla.
"Semua perasaan ini benar, Sayang. Aku mencintaimu," ucap Arden.
"Simpan rasa cintamu untuk wanita lain! Jika cinta, kamu enggak bakal tidur bersama perempuan selain aku."
Kayla hendak berjalan, tetapi Arden meraih tangannya kemudian memeluk. Kayla meronta untuk bisa dilepaskan, tetapi Arden semakin erat mengukungnya.
"Lepasin!" teriak Kayla.
"Kumohon, Kay. Dengarkan aku dulu."
"Lepasin atau kita putus!" ancam Kayla.
Arden melepas pelukannya. Kayla lekas berjalan ke pintu, lalu keluar. Arden mengikutinya tidak peduli saat ini ia hanya memakai handuk sebagai pelindung tubuh.
Kayla masuk lift dan Arden ke sebelahnya. Keduanya sama-sama menuju lantai dasar. Sungguh. Kayla tidak terima Arden menyimpan barang milik wanita lain.
Pikirannya berkelebat membayangkan sosok Arden yang memperlakukan wanita dengan begitu manis. Kekasihnya bukanlah pria perhitungan. Wanita akan senantiasa datang menghampiri karena Arden bisa dibilang suka memanjakan mereka.
Kayla keluar dari lift begitu juga Arden. Lagi-lagi Arden mengikuti sampai keluar gedung, dan ia menjadi tontonan dari pejalan kaki sampai orang yang berlalu-lalang dengan kendaraan.
"Sayang, dengarkan aku," ucap Arden.
"Jangan mengikutiku!"
Arden berjalan cepat dan berhasil meraih tangan Kayla. "Ini masa lalu, Kay. Aku punya masa lalu dan kamu juga."
"Hentikan!" teriak Kayla. "Wanita masa lalumu itu akan datang ketika kita menikah. Lalu, kamu akan berpaling dariku, dan kisahku akan terulang lagi."
__ADS_1
"Sayang, aku tidak punya hubungan apa-apa dengan Lauren. Kami hanya bermain."
"Bermain sama seperti kita awalnya. Lalu cinta itu tumbuh dan kamu akan melamarnya. Menjadikan dia pasanganmu dan mencampakkan aku."
Arden menggeleng. "Tidak, Sayang. Ini tidak seperti yang kamu kira. Aku mencintaimu."
"Mulut lelaki sama saja. Steve juga berkata demikian dan sekarang aku tidak akan pernah percaya apa pun pada mulut mereka. Semuanya omong kosong!"
"Aku dan Lauren tidak ada hubungan apa pun!" ucap Arden.
"Oh, jadi namanya Lauren. Dia pasti cantik dan membuatmu tergila-gila. Katakan padaku apa saja yang kalian lakukan?" tantang Kayla.
Arden menggeleng. "Please, Kayla. Ini tidak seperti yang kamu pikirkan."
Arden tidak ingin menjelaskannya. Hal itu akan membuat Kayla sakit hati jika mengetahui apa yang Arden dan Lauren lakukan. Bukan hanya Lauren, tetapi pada banyak gadis yang mendekatinya.
"Kamu memperlakukannya seperti aku, kan? Kamu mengajaknya liburan dan tidur bersama. Persis seperti kita saat ini. Itu, kan, yang kamu lakukan kepadanya?"
"Maaf," ucap Arden.
"Simpan maafmu. Aku tidak ingin dengar apa pun." Kayla hendak berjalan, tetapi Arden memegang lengannya. "Lepaskan aku!"
"Kayla!"
"Steve!" Kayla mendorong Arden. Ia berlari menuju sang mantan. "Bawa aku pergi. Tolong."
Steve mengangguk. "Baiklah."
"Jangan pergi, Kayla!" teriak Arden yang berlari ke arah mobil. "Sayang, kita bisa selesaikan ini."
Kayla tidak menggubris perkataan Arden. Ia langsung masuk mobil dan menguncinya. Arden menggedor pintu. Namun Kayla, sama sekali tidak memperdulikannya.
"Jalan, Steve!" perintah Kayla.
Steve menuruti perintah Kayla. Mobil berjalan dengan Arden yang mengejar dari belakang. Ia sudah menjadi tontonan bagi semua orang dengan tubuh setengah polosnya.
"Kayla!" teriak Arden.
Dua petugas keamanan menghampiri Arden yang telah membuat keributan. Sempat adu argumen antara ketiganya. Arden minta maaf dan segera kembali masuk gedung apartemen.
"Steve lagi! Awas saja," ucap Arden geram, lalu masuk lift.
__ADS_1
Arden sampai di dalam biliknya. Ia masuk kamar tidur mencari barang yang menjadi petaka bagi hubungannya dengan Kayla. Arden meraih kain berenda di lantai.
"Sialan! Seharusnya aku buang benda milik Lauren ini!" Arden menggulung menjadi satu pakaian dalam itu, lalu membuangnya di tong sampah. Arden meraih ponsel yang berada di nakas, lalu mencoba menelepon Kayla.
Panggilannya tidak diangkat. Berkali-kali Arden mencoba, tetapi hasilnya nihil. Arden mengumpat, ia terduduk di tepi tempat tidur dengan mengusap wajah dan menarik rambutnya.
"Aku harus cari Kayla," gumamnya, lalu bangkit dengan berjalan menuju lemari mengambil pakaian.
Ketika tengah berpakaian, telepon berdering. Arden lekas mengangkatnya. "Sayang, aku bisa jelaskan soal kita."
"Hei! Cepat datang ke kantor. Kamu sudah lama menghilang dan tidak bekerja. Aku menunggumu!" ucap Dika yang berada di sana.
"Om Dika! Sekarang tidak bisa. Aku tidak ingin bekerja lagi. Jangan menghubungiku. Aku sibuk."
Arden langsung memutus telepon. Tidak peduli jika Dika akan marah kepadanya. Toh, sejak datang ke Amerika, ia tidak bekerja. Cuma nongol saja di perusahaan yang dipimpin Dika sebagai pemegang saham. Posisinya sebagai Direktur keuangan juga sudah digantikan orang lain.
Arden keluar kamar. Ia meraih kunci mobil yang tersimpan di lemari pajangan, lalu keluar dari bilik apartemen. Tujuannya sudah sangat jelas. Mencari Steve yang telah membawa Kayla pergi.
...****************...
"Pakai jas milikku. Sudah masuk musim gugur. Udara terasa dingin," ucap Steve.
"Terima kasih," balas Kayla.
Pelayan datang membawa menu sarapan yang telah dipesan keduanya. Steve membawa Kayla ke kafe. Tidak disangka Steve malah bertemu mantan tunangannya di jalan. Sungguh takdir sama sekali tidak terduga.
"Kali ini apalagi yang menjadi bahan pertengkaran kalian?" tanya Steve.
"Hanya masalah kecil. Tidak sangka bertemu pria menjijikkan dan sayangnya pria itu malah menolongku," ucap Kayla.
"Kamu berhasil, Kay. Selama tiga bulan hubungan pernikahanku tidak berjalan lancar. Evelyn membohongiku. Dia hamil anak orang lain dan sekarang kami mengajukan perpisahan," tutur Steve.
"Bagus! Itu hadiah yang pantas kamu dapatkan."
Steve meraih tangan Kayla. "Aku masih mengharapkanmu. Aku sadar bahwa cintaku adalah kamu."
Kayla melepas genggaman Steve darinya. "Mimpimu jangan terlalu tinggi. Kamu pikir dengan sikap pahlawanmu tadi, aku akan luluh?" Kayla membuka tas, lalu mengambil uang di dalamnya. Ia meletakkan beberapa lembaran hijau itu di atas meja. "Bayaran karena sudah menolongku dan sarapan ini juga." Kayla beranjak dari duduknya, lalu membuka jas dan melemparnya ke wajah Steve. "Terima kasih atas bantuanmu."
Kayla melangkah pergi dari kafe. Steve cuma terperangah atas apa yang dilakukan oleh sang mantan.
Bersambung
__ADS_1