
Davin mengantar Kayla sampai rumah. Terlihat mobil Raka yang terparkir di halaman dan artinya, orang tua tunangan Arden berada di dalam. Arden ingin turun dan bertemu sahabat dari kedua orang tuanya, tetapi Kayla melarang. Mereka boleh bertemu sampai saat ditentukan.
"Kita akan bertemu nanti. Aku tidak ingin acara kangen bersama keluarga terganggu," ucap Kayla.
"Aku pengganggu?" Arden terlihat kesal mendengar ucapan itu.
"Bukan! Jika kamu ikut, maka hal lain yang akan dibahas."
"Benar, Ar. Lebih baik kita tidak menganggu Kayla dulu. Kalian bilang ingin mengatur rencana pertemuan keluarga. Jika kamu masuk ke sana, maka om Raka akan curiga mengenai kalian," tutur Aretha.
Selama liburan, Kayla memang tidak memberitahu keluarganya tentang Arden. Setiap menelepon, Kayla cuma mengatakan ia sendirian. Lagi pula semua orang tahu jika Arden dan Kayla tidak pernah akur.
"Aku bisa membuat alasan. Bilang saja kalau tidak sengaja satu pesawat bareng Kayla," ucap Arden.
"Sayang, aku lelah dan ingin istirahat. Jangan mengangguku untuk sore ini saja," kata Kayla akhirnya.
"Aku tidak menganggumu," bantah Arden.
"Beri saja kecupan perpisahan. Arden pasti diam," usul Davin yang turut kesal atas tingkah saudara iparnya.
Kayla mencondongkan tubuh ke hadapan Arden, lalu merapatkan bibirnya ke bibir sang kekasih. Arden tidak ingin hilang kesempatan meski itu di depan sepasang suami istri. Ia menahan kepala Kayla kemudian memperdalam kecupannya.
"S-sudah!" ucap Kayla sembari mendorong tubuh Arden. "Kamu tidak pernah puas."
Arden terkekeh. "Habisnya enak. Mau lagi boleh?"
Kayla mendengkus, lalu keluar dari dalam mobil. Begitu juga Davin yang membantu mengeluarkan koper Kayla. Penjaga rumah membuka pagar saat anak majikannya pulang.
"Sampai jumpa nanti, Kay," ucap Davin.
Kayla tersenyum. "Hati-hati di jalan, Kak."
Davin masuk mobil. Kaca belakang turun dengan menampilkan Arden yang melambaikan tangan serta lemparan kecupan. Kayla menangkapnya, lalu meniupnya kembali ke arah sang kekasih.
"Kalian membuatku geli," ucap Aretha.
"Cemburu," sahut Arden.
"Aku bahkan sudah bosan melakukan hal itu."
"Sudahlah, Sayang. Arden lagi berbunga-bunga," sela Davin.
"Ngomong-ngomong, apa Kayla sudah hamil?" tanya Aretha. "Kalian sudah bersama cukup lama, kan?"
"Kami bukan seperti kalian yang main tidur bersama saja," jawab Arden.
__ADS_1
Davin terbatuk-batuk mendengar sindiran Arden. Pas tertusuk di hatinya. Begitu juga Aretha. Itu bukan lagi tuduhan, tetapi kebenaran yang terang-terangan diucapkan oleh si mulut cabai.
Aretha memukul Arden dengan tas bahunya. "Aku serius."
"Benar, kok. Aku ingin melakukannya saat kami telah menikah. Tidak seperti kalian."
"Sudah lama tinjuku ini tidak mendarat di wajah seseorang," kata Davin.
Arden tertawa mendengarnya. "Maaf, tapi itu memang kenyataannya. Kami bersama, tetapi belum melakukannya."
"Oh, ya, bukannya kamu pernah bilang padaku kalau punya kekasih. Apa kalian sudah putus?" tanya Davin.
Kening Arden berkerut. "Kekasih? Aku tidak punya kekasih."
"Kamu pernah bilang padaku. Saat itu kamu ingin mengenalkannya kepada keluarga kalau waktunya tepat."
"Iya, Ar. Rasanya aku pernah mendengar itu. Apa kalian sudah putus?" sambung Aretha.
"Tidak. Sungguh aku tidak punya kekasih." Oh, apa ini Lauren? Aku tidak punya hubungan apa pun dengannya. Lagipula aku telah mengabaikan pesan dan teleponnya selama ini.
Mendengar perkataan Davin, membuat perasaan Arden tidak karuan. Yang tadinya bahagia kini berubah menjadi tidak menentu. Arden menyakinkan jika dirinya dan Lauren adalah teman. Mereka menghabiskan waktu bersama juga karena keduanya sama-sama suka.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Aretha.
"Menurutmu, apa yang harus kulakukan?" Arden balik bertanya.
"Apa perlu aku menghubungi Lauren? Kami hanya bersenang-senang saja," ungkap Arden.
"Menurutku abaikan saja. Kalau kalian cuma teman, kurasa tidak perlu. Ya, jika kamu ingin, menyapa saja mungkin bisa," tukas Davin yang berpikir seperti pria di luar sana.
"Apa kalian sangat dekat?" tanya Aretha.
"Aku sempat liburan bersamanya. Cuma itu," jawab Arden.
"Kalau hanya teman, kukira tidak terlalu penting. Kamu bisa menghubunginya untuk menyapa. Kalian teman, kan?"
Arden mengangguk. "Iya, aku akan mengajaknya bertemu untuk berbincang saja."
Arden mengambil ponsel di saku kemejanya, lalu mengubah mode pesawat ke mode aktif. Ada banyak pesan masuk, tetapi Arden memilih nama Lauren dan mengirim pesan balasan.
Tidak lama ponsel Arden berdering. Dari Lauren yang sudah lama diabaikan. Arden langsung mengangkatnya, lalu mendekatkan gawai ke dekat telinga. Arden ditelepon melalui aplikasi media berlogo gagang telepon sebab ia belum berganti nomor.
"Ya, Lauren," ucap Arden.
"Kamu mengabaikanku," kata Lauren.
__ADS_1
Arden tersenyum dan ia membayangkan kalau wajah Lauren saat ini tengah cemberut. "Aku baru pulang dari liburan."
"Ada di mana kamu sekarang? Aku sangat merindukanmu."
"Tebak. Di mana aku sekarang?" tanya Arden.
"Di apartemenmu. Aku ingin menyusulmu," Lauren.
Arden tertawa. "Aku sudah berada di Indonesia."
Arden mendengar teriakan gembira dari seberang telepon. Memang Arden pernah berjanji akan memberitahu Lauren jika ia kembali ke tanah air.
"Kapan? Kamu tidak memberitahuku," ucap Lauren.
"Aku baru sampai dan sekarang dalam perjalanan."
"Aku ingin kita bertemu, Sayang. Aku merindukanmu."
Arden terkekeh mendengar itu. Maksud merindukan itu Arden tahu artinya. Sayangnya, Arden tidak akan melakukan itu. Ia sudah memiliki kekasih. Wanita yang paling ia cintai, yaitu Kayla.
"Boleh. Aku akan mengajakmu makan malam. Kebetulan ada kabar gembira yang ingin aku sampaikan padamu," ucap Arden.
"Nanti malam. Aku ingin bertemu secepatnya," kata Lauren. "Oh, kamu membawakan oleh-oleh untukku, kan?"
"Oleh-oleh? Ya, aku membawakannya," sahut Arden.
"Aku akan tunggu kamu."
"Aku tutup dulu. Nanti aku hubungi untuk tempatnya," kata Arden, lalu memutus telepon.
Arden menepuk jidatnya sendiri. Hadiah untuk Lauren tidak pernah terpikirkan. Barang apa yang harus ia berikan kepada gadis itu? Semuanya sudah menjadi milik Kayla.
"Aretha, kamu punya tas branded merek C model terbaru?" tanya Arden.
"Aku tidak akan memberikannya. Kamu tau sendiri jika aku harus menabung uang belanja untuk membelinya."
"Suamimu pelit sekali. Masa beli tas harus menabung dulu," kata Arden.
"Kamu pikir, uang datang dengan sendirinya? Aku tidak bekerja karena mengurus anak dan suamiku," ucap Are.
"Davin, aku tidak menyangka keuanganmu menurun," kata Arden. "Untuk membeli tas saja Aretha harus menabung."
"Kenapa aku terus yang disalahkan? Aku sudah memberinya uang setiap bulan selain uang belanja," ucap Davin.
"Tas itu mahal dan susah mendapatkannya. Jika kamu menginginkannya, harus membeli dariku dua kali lipat," kata Aretha.
__ADS_1
"Berikan tas terbaru. Aku akan bayar dua kali lipat."
Bersambung