Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Izin Kayla


__ADS_3

"Akhirnya kamu pulang juga, Sayang," ucap Elena sembari memeluk Arden dengan erat.


"Pulang enggak bilang-bilang. Lalu, di mana calon istrimu? Papa sudah tidak sabar buat melamarnya," kata Kevin.


"Apa?" mata Elena memicing tajam.


"Maksud Papa melamar gadisnya untuk Arden," ucap Kevin dengan senyum dipaksakan.


Elena masih menatap sengit sang suami. Kevin jadi salah tingkah. Aretha, Davin dan Arden melipat tangan di perut. Kesempatan melihat Kevin yang takut pada istrinya.


"Ingin nikah lagi?" tanya Elena.


Kevin menggeleng. "Enggak, Sayang. Enggak berani."


Tiba-tiba Arden merasa akrab ketika melihat pemandangan ini. Rasanya ia menuruni sifat Kevin. Waktu itu ia juga takut Kayla akan pergi atau meminta putus saat mereka bertengkar.


"Papa dan Mama tenang saja. Calon istrinya juga orang dekat, kok," ucap Arden memberi petunjuk.


"Siapa?" tanya Kevin dan Elena bersamaan.


"Pokoknya gadis itu cantik, imut dan luar biasa," kata Arden.


Aretha mencibir, "Halah! Dulu aja bilangnya enggak mau."


Arden memelotot ke arah sang adik. Kevin dan Elena juga penasaran siapa orang dekat yang menjadi calon istri putra mereka. Baik Kevin serta Elena tidak masalah siapa pun calonnya. Asal Arden bahagia, mereka akan dukung.


"Kamu kenal, Are?" tanya Elena.


Aretha menyengir. "Are enggak tau, Ma."


"Kamu sepertinya tau."


"Ya, kita tau Arden enggak pernah serius sama satu cewek. Kali ini dia pulang bawa calon istri. Kan, Aretha jadi kaget," ucapnya berkelit.


"Kamu enggak tau juga, Dav?" tanya Kevin.


"Oh, iya. Davin harus jemput Daren di rumah papa Dean. Bisa ngamuk dia ditinggal lama-lama. Davin pergi dulu, deh. Mama, Papa, Davin dan Aretha pamit dulu," ucapnya, lalu meraih tangan Aretha untuk berjalan bersama keluar rumah.


"Kenapa mereka terburu-buru?" tanya Kevin.


"Arden istirahat dulu. Nanti kita bahas pertemuan keluarga," kata Arden.


"Mama siapin makan mau?" tanya Elena.


"Enggak usah. Nanti malam Arden juga mau keluar."


"Biarkan saja dia. Kita ke kamar, yuk!" ajak Kevin.


"Kayaknya aku mesti beli banyak barang buat calon menantu," gumam Elena, lalu memandang Kevin. "Sayang, temani aku belanja."


"Besok saja. Kita ke kamar dulu."

__ADS_1


Kevin merangkul pundak Elena. Keduanya berjalan bersama menuju kamar mereka, lalu melakukan kegiatan cinta yang tidak pernah bosan untuk dilakukan.


Arden menatap papan nama yang bertuliskan 'Cewek gendut dilarang masuk'. Ia raih papan yang sengaja dibuat untuk Kayla. Arden copot salah satu kata di sana.


"Nah, sekarang tulisannya jadi, 'Cewek gendut masuk'," kata Arden, lalu masuk kamar.


Mesin pendingin udara dihidupkan. Arden membuka baju serta jeans yang dikenakan dengan menyisakan celana katun di atas lutut kemudian merebahkan diri di atas tempat tidur. Nyaman, itu yang ia rasakan.


"Aku mau telepon Kayla dulu. Apa yang kekasihku kerjakan," gumamnya, lalu beringsut bangun mengambil ponsel di celana panjang yang tadi ia lempar di sofa.


Arden menatap layar ponsel yang tidak ada pesan masuk sama sekali dari Kayla. Ia tidak suka ini. Kayla mengabaikan dirinya setelah bertemu Raka serta Bella.


Arden segera melakukan panggilan video. Cukup lama ia menunggu. Namun, tidak ada jawaban dari sang kekasih. Arden tidak putus asa. Ia tetap mencoba lagi sampai panggilan itu terangkat dan menampilkan Kayla yang baru selesai mandi.


"Tidak sabaran," decak Kayla. "Aku pakai baju dulu." Kayla mengalihkan kamera ponsel ke sisi lain.


"Jangan dialihkan," protes Arden. "Aku mau lihat."


Arden harus rela melihat tirai kamar daripada tubuh polos Kayla. Padahal di kapal, mereka terbiasa melihat satu sama lain. Arden merindukan suasana panas yang hangat dan liar.


"Sayang," panggil Kayla lembut.


Arden meleleh mendengarnya. Mereka selalu bertengkar sejak dulu. Kayla berkata lembut rasanya sangat langka.


"Sudah kasih tau om Raka?" tanya Arden.


"Sudah dan mereka enggak sabar buat ketemu. Aku sangat semangat untuk ini," jawab Kayla.


"Bagaimana kalau minggu ini? Makan malam di tempatmu dan acara melamar saja," usul Arden.


"Aku ini bukan orang lain, Kay. Kedua orang tua kita bukan sehari ini saja kenal."


Kayla menyengir. "Oh, iya. Langsung lamaran saja kalau begitu."


"Minggu ini, ya. Sabtu ini pokoknya," kata Arden.


"Artinya, dua hari lagi."


"Semakin cepat malah bagus, Sayang. Besok kita cari cincinnya bagaimana?"


Kayla mengangguk. "Iya. Kita ketemu langsung di mal."


Arden ragu ingin bicara, tetapi ia harus mengatakan segalanya. Kayla adalah wanita pilihannya dan apa pun yang Arden lakukan harus diberitahukan kepada sang kekasih termasuk pertemuan malam ini.


"Sayang, aku mau izin darimu," ucap Arden.


Kayla mengangkat sebelah alisnya. "Apa?"


"Aku mau makan malam bareng teman."


"Makan malam saja harus izin padaku. Lakukan apa saja yang kamu inginkan," kata Kayla.

__ADS_1


Kayla melihat di seberang sana raut wajah Arden yang enggan untuk bicara. Kekasihnya menyembunyikan sesuatu yang sulit untuk diungkap. Arden salah tingkah, seperti menimbang perkataan yang akan dilontarkan kepada Kayla.


"Sayang, ada apa?" tanya Kayla.


"Jangan tutup teleponnya jika aku mengatakannya," ucap Arden.


"Ada apa ini?"


"Janji padaku," pinta Arden.


"Baiklah. Sekarang katakan," ucap Kayla.


"Aku punya janji makan malam bersama Lauren."


"Apa? Coba katakan sekali lagi."


"Malam ini, aku akan pergi makan malam bersama Lauren," ucap Arden jelas.


"Lauren? Teman tapi mesramu itu?" tanya Kayla.


Arden menggeleng. "Hanya teman."


"Wanita yang barang pribadinya kamu simpan, kan? Sekarang kamu minta izin buat makan malam bersamanya, lalu kalian akan ke hotel."


"Itu kesalahan. Pertama, aku enggak pernah berniat nyimpan barang Lauren, dan yang kedua, aku janji makan malam di restoran."


"Sehabis kalian makan di restoran, lalu ...."


"Itu tidak akan terjadi," potong Arden. "Aku bertemu Lauren karena ingin menyapa dan memberitahu hubungan kita."


"Oh, jadi, Lauren itu kamu jadikan teman curhat," ucap Kayla.


"Sayang, kamu izinin aku apa enggak?" tanya Arden yang malas akan topik pembahasan Lauren.


"Pergi saja." Kayla memalingkan wajahnya.


"Aku juga kasih dia hadiah."


"Apa?" tanya Kayla.


"Tas. Aku beli dari Aretha," ucap Arden.


Mata Kayla membelalak mendengarnya. Ia tahu koleksi tas Aretha tidak ada yang murah. Hampir semua dari brand ternama.


"Wah! Sayang, kamu sangat baik, ya," sindir Kayla.


"Enggak mungkin aku kasih dia gantungan kunci sama baju dengan gambar Patung Liberti."


"Terserah kamu mau apa. Mau ketemu Lauren atau apa, aku enggak peduli."


Kayla langsung memutus panggilan videonya. Arden yang berada di seberang sana mencoba untuk menelepon lagi, tetapi ditolak oleh sang kekasih.

__ADS_1


"Yang penting aku sudah izin," gumam Arden.


Bersambung


__ADS_2