Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Patuh


__ADS_3

"Aku harus mandi," kata Arden yang beringsut bangun dari atas tubuh Kayla.


Kayla duduk dan ia melihat ketegangan yang mengembang di balik celana jeans Arden. Ia pun sama halnya. Bagian bawahnya terasa berkedut, basah dan membuat gatal. Kayla ingin Arden menyentuhnya. Menelusupkan dua buah jari di dalam sana. Semakin membayangkannya, Kayla menjadi basah. Ada sesuatu yang keluar dan ia sangat malu.


"Aku perlu mengganti pakaian dalaman," kata Kayla.


Arden mengerutkan kening, lalu pandangnya turun ke bawah area paling terlarang untuk disentuh. Ingin sekali Arden merasakannya. Sungguh tercetak jelas dari jeans ketat yang Kayla kenakan. Arden yakin sekali jika milik sang kekasih memiliki ketebalan yang menakjubkan.


Arden tertawa. "Basah?"


Kayla menggeleng. "Enggak tau, tapi ada yang keluar."


Buat apa malu membicarakannya. Keduanya sudah sama-sama mengenal satu sama lain. Kayla sudah melihat Arden polos dan Arden pernah mencicipi bagian atas milik Kayla.


"Lepaskan saja. Biar aku cuci," kata Arden.


"Jangan! Aku bisa melakukannya," cegah Kayla.


Arden turun dari tempat tidur. "Ganti pakaianmu. Aku lihat apa ada kaus atau kemeja untukmu."


"Kurasa kaus bisa kupakai. Tubuhku tidak seperti dulu lagi."


"Astaga! Kita bisa mengambil pakaian dari kamarmu," kata Arden, baru sadar jika kamar apartemen mereka berdekatan.


Kayla tertawa. "Aku lupa. Tolong ambil pakaianku."


"Tunggu di sini. Kamu mandi saja dulu."


Arden mengambil kausnya secara sembarangan. Ia memakainya, lalu keluar kamar. Sementara Kayla lekas masuk bilik mandi untuk membersihkan diri.


Kayla masih berada di kamar mandi ketika Arden tiba dengan membawa pakaian ganti di tangan. Arden menatap langit-langit kamar seraya menunggu kekasihnya selesai.


Pintu kamar mandi terbuka. Kayla keluar dengan handuk kimono. Arden menatapnya lekat dan kenangan saat liburan terlintas begitu saja.


"Sepertinya kita tidak boleh sering bertemu," kata Arden.


"Kenapa? Kamu enggak tahan?"


"Kamu sudah melihatnya. Memangnya aku bisa tahan untuk tidak mencicipinya?" ucap Arden.

__ADS_1


"Ketika bersama wanita lain kamu tahan."


"Parahnya aku membayangkan dirimu. Sekarang wanita yang menjadi fantasiku ada di depan mataku sendiri. Kamu pikir itu tidak menyiksa? Ini sangat menyiksa," ungkap Arden.


"Sebaiknya jangan membahas ini. Jika terus membicarakannya, aku juga tidak kuat. Bisa jadi aku menyerahkan diriku saat ini juga."


"Kamu tidak keberatan menyerahkan dirimu?" tanya Arden.


"Prinsipku berubah ketika gagal menikah. Tapi kamu tidak ingin menggagalkan impianku, kan?"


Sama saja Kayla. Kamu tetap ingin kita melakukannya setelah menikah. "Lebih baik jangan membahas ini lagi," ucap Arden.


"Kita bisa bersenang-senang dengan hal lain. Kita bisa menghabiskan waktu bersama seperti yang dulu sering kita lakukan. Nonton TV, masak bersama. Apalagi sekarang pernikahan akan segera digelar," tutur Kayla.


"Baiknya begitu. Mulai besok, aku tidak akan membawamu ke apartemen. Bahaya," kata Arden.


Kayla tertawa, lalu mengangguk. "Ide bagus, Sayang."


...****************...


Seperti yang sudah keduanya sepakati bersama. Tidak ada pertemuan di apartemen. Kayla dan Arden menghabiskan waktu di luar dan rumah mereka.


Arden menyukai tinggal di luar negeri. Jiwanya yang berpetualangan serta teman-teman yang lebih banyak di sana yang menjadi sebabnya. Sementara Kayla tidak tega untuk pergi jauh dari sisi kedua orang tuanya.


Dalam hal ini keduanya berdebat. Arden mulai mengungkit keinginan Kayla ketika bersama Steve. Dulu Kayla pernah ingin tinggal di Amerika kalau ia jadi menikah bersama pria itu. Namun sekarang, Kayla malah enggan untuk pindah.


"Di sini kita dekat dengan kedua orang tua," ucap Kayla.


"Kehidupanku ada di sana. Aku suka berada di sana. Kita bisa berkunjung ke tempat indah."


"Di sini juga indah, Ar," kata Kayla. "Aku tidak punya saudara, mama dan papa akan kesepian jika aku tinggal di Amerika."


"Kurasa om Raka sudah tau tentang itu. Kamu akan menikah dan dia sudah harus terima jika aku membawamu ke luar negeri."


Arden masih bersikeras dengan kehendaknya, dan Kayla tetap membujuk agar sang kekasih mengurungkan niatnya.


"Begini saja. Kita bawa om Raka dan tante Bela tinggal di luar negeri," usul Arden.


"Keluarga, sahabat dan pekerjaan ada di sini. Papa tidak akan meninggalkan tanah airnya."

__ADS_1


Arden mengembuskan napas panjang. "Aku sudah punya rumah di sana. Sangat indah, Kay. Kamu akan betah di sana."


"Aku tetap tidak ingin meninggalkan orang tuaku. Aku ingin di sini."


"Terserah kamu. Aku mau balik," ucap Arden, lalu menghabiskan minumannya.


Keduanya berada di kafe. Arden dan Kayla bertemu memang ingin membahas tentang tempat tinggal mereka setelah menikah.


"Jika masalah ini belum selesai, lebih baik tunda dulu saja pernikahannya," kata Kayla.


"Selalu saja, selalu itu yang menjadi ancamanmu," ucap Arden kesal.


"Terus apa?"


"Kamu sengaja membuatku tidak berdaya, kan?" Arden mulai emosi.


"Aku berkata benar, kan?" ucap Kayla.


"Oke! Kita tinggal di sini."


"Aku tidak akan setuju jika itu terpaksa."


"Aku mengalah. Kita tinggal di sini, tapi kamu harus janji satu hal," kata Arden.


"Apa?" tanya Kayla.


"Aku tidak akan mengizinkanmu bekerja," kata Arden.


"Setuju. Tapi sebelum itu aku ingin membuat perjanjian pra nikah."


"Memangnya harus?" tanya Arden.


"Tentu saja. Sebagai wanita aku harus melindungi hakku." Kayla mengambil garpu, lalu menusuk-nusuknya di kue red velvet yang baru setengah ia habiskan.


"Iya, aku setuju," ucap Arden. Masih saja dia ingat tentang Lauren.


Kayla tersenyum. "Sebaiknya kita lekas mengurusnya."


Arden mengangguk. "Iya, Sayang."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2