Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Manis


__ADS_3

"Jadi sekarang, kita pacaran?" tanya Arden memastikan.


Kayla mengangguk, lalu tersenyum sembari melingkarkan kedua lengan di leher Arden. "Iya. Aku menerimamu menjadi kekasihku."


"Oh, jangan-jangan aku tengah bermimpi saat ini. Bisa kamu cubit aku?"


Kayla tersenyum. Bukan mencubit Arden, tetapi ia mengecup bibir pria itu. "Kurasa ini lebih bisa membuktikan."


"Lagi," pinta Arden.


Satu kecupan diberikan. Kayla menyesap bagian bibir bawah Arden, menariknya seperti permen karet.


"Puas."


"Lagi. Ini masih mimpi," ucap Arden.


Kayla meraih kedua pipi Arden. Kembali memberi kecupan di atasnya, tetapi kali ini disertai sebuah gigitan yang membuat Arden bergetar.


"L-lepas," pinta Arden.


Kayla menarik bagian bawah Arden sebelum benar-benar melepasnya. "Sudah puas?"


"Puas," jawab Arden sembari memegang bibirnya. "Dasar kucing betina. Main makan saja."


"Hei! Tuan kucing ini yang selalu tidak puas," protes Kayla.


"Sakit."


"Jangan manja."


"Lihat ini." Arden menunjuk bibir dengan jari telunjuknya.


"Apa masih berasa mimpi lagi?"


Arden menggeleng. "Enggak. Aku yakin ini kenyataan. Tapi sungguh ini sakit, Sayang."


"Oh, mana? Sini aku lihat." Kayla memposisikan wajah Arden tepat di depannya. Ia kecup kecil bibir yang terluka itu berkali-kali. "Pasti bakalan cepat sembuh."


"Masih kurang. Sekali lagi," pinta Arden.


Kayla melakukan apa yang pacar barunya minta. Mengecup kecil bibir Arden berkali-kali. Bukan hanya bibir, tetapi kening, hidung serta kedua pipi.


Hehe ... menang banyak. "Sekarang baru puas," ucap Arden.


"Dasar!" Kayla memberi cubitan di perut. "Rasain. Ini baru jepitan kepiting."


Arden malah tertawa sembari mengusap cubitan bekas Kayla. Ia memutar Kayla menghadap belakang, lalu memeluknya. Arden membawanya melihat pemandangan laut dalam kegelapan.


"Gadis es krim, bagaimana isi suratku? Apa kamu terharu?" tanya Arden.


Kayla mengusap rahang tegas pria itu. "Sedikit."


"Hanya sedikit? Aku mendadak populer dari Kennedy Will."

__ADS_1


"Jangan tunjukan kalau penulis itu adalah dirimu," kata Kayla.


"Kamu takut gadis-gadis akan mengejarku? Jangan takut karena aku hanya akan mengejarmu."


"Percaya diri sekali."


"Aku tampan dan itu kenyataan," ucap Arden.


Kayla memutar diri menghadap depan. "Bagaimana kalau aku gendut lagi? Apa kamu masih menginginkan-ku?"


"Aku suka kamu sejak dulu. Mau kamu gendut atau kurus, aku tetap suka."


"Tapi kamu pernah bilang kalau aku .... "


"Jangan dibahas. Aku sudah bilang itu bentuk perhatian dan cemburu," potong Arden cepat.


Kayla tertawa. "Kamu pencemburu rupanya."


"Setiap pria akan cemburu melihat wanitanya bersama laki-laki lain," ucap Arden. "Oh, bicara soal surat, bagaimana kamu bisa tau kalau aku pria penyuka es krim?"


"Apa isi suratmu itu tidak mencerminkan tentang kita? Aku sudah curiga sejak surat pertama dibacakan oleh Ken."


Arden mencubit kedua pipi Kayla. "Kita sehati, Sayang. Kamu langsung tau kalau itu aku."


"Apa yang tidak kuketahui tentang dirimu? Semuanya aku tau."


Arden menoyor jidat Kayla. "Hatiku. Kamu malah enggak peka sama sekali."


Kayla mengusap keningnya. "Memangnya aku ini cenayang yang bisa tau isi hatimu?"


"Kita kembali ke kabin. Di sini sudah sangat dingin. Pakaianku terbuka."


"Biarkan aku memelukmu, Cintaku."


"Sampai kapan?" tanya Kayla.


"Sampai matahari terbit," jawab Arden.


"Tersisa kurang lebih tujuh jam. Aku akan masuk angin di sini."


Arden tertawa. "Kita tidur sebentar. Setelah itu aku akan menunjukkan pemandangan matahari terbit."


Keduanya berjalan menuju kabin. Malam ini, Kayla mengundang Arden menginap di kamarnya. Pintu dibuka, Arden mendorong Kayla masuk, lalu menutup bilik dengan kakinya.


Kayla tersandar di dinding dengan Arden yang menyentuh bibirnya. Sama-sama saling melepas pakaian yang melekat tanpa berniat untuk menarik diri dari penyatuan.


Napas mereka terengah-engah. Arden menggeser tubuh Kayla, membuat wanita itu terjatuh di atas tempat tidur. Arden merangkak naik dengan pandangan tidak lepas dari sang kekasih.


"Gadis es krim yang nikmat. Biar aku menggigitmu."


"Gigimu akan ngilu ketika menggigitku. Lakukan sesuatu yang membuatku meleleh," ucap Kayla.


"Artinya, aku akan membuatmu panas, lalu .... "

__ADS_1


Jari-jemari Arden menyentuh perut, naik di antara dua belahan, menyusuri tulang selangka. Menggelitik ke atas sampai rahang wajah yang membuat Kayla tidak sanggup membuka mata.


"Arden," suara Kayla berucap. Nadanya berat dan lemah.


Arden menurunkan tubuh. Mengecup tulang jenjang yang mendamba untuk disentuh. Kayla mendonggak, sengaja memberi peluang untuk Arden menjelajah di sana.


"Gadis es krim. Kamu memang sangat lembut," ucap Arden.


Tangannya menyentuh tipe favorit bagian Kayla. Pertama memutar, lalu menekan penuh keranuman yang terasa pas di tangan. Dua ujung jari memelintir keimutan yang berhasil membuat suara Kayla memberat.


"Cicipi dia," pinta Kayla.


Tubuh Arden berangsur mundur menghadapi dua tantangan yang memanggil untuk disesap. Arden memainkannya lebih dulu. Melembabkan bagian ujung dengan ujung indra perasanya. Membuat tubuh Kayla melentik sedikit ke belakang. Semakin mudah Arden meraup umpan yang Kayla berikan. Dari menyesap ujungnya beralih ke bibir yang penuh dengan area ranum.


Jari-jari Kayla menelesup masuk setiap helaian rambut Arden. Tangannya mendorong kepala sang kekasih untuk turun ke bawah. Arden menurut. Kecupannya turun ke perut rata. Tidak hanya disitu, tetapi Kayla patuh akan hasrat yang bergejolak. Ia ingin Arden ke daerah terlarang.


"Aku ingin pulang," kata Arden.


Kayla tertegun ketika Arden menghentikan permainan. "Begini lagi?"


"Aku mau pulang," ucap Arden lagi.


"Balik saja ke kamarmu," sahut Kayla sedikit kesal.


Arden beringsut duduk. Ia membawa Kayla juga untuk bangun dari tempat tidur. "Aku ingin liburan ini berakhir. Aku ingin pulang ke rumah. Setelah itu kita menikah."


"Tiba-tiba kamu berkata seperti itu."


"Aku tidak tahan lagi," kata Arden.


Kayla melirik ke bawah. Di sana sudah ada bagian diri Arden yang ingin lepas. "Jika kamu ingin menikah karena milikmu itu, aku tidak akan setuju."


Arden menggeleng cepat. "Aku mencintaimu dan ingin menikahimu. Sekarang aku ingin bertanya. Apa tujuan menikah kalau bukan untuk ini?" Arden menunjuk bagian bawahnya.


"Bukan hanya itu," protes Kayla.


"Aku tau tujuannya, Sayang. Tapi sebenarnya memang untuk ini. Ayo, kita nikah saja," bujuk Arden.


"Aku juga enggak tahan. Ini basah dan sedikit gatal. Aku ingin kamu menyentuhnya."


Arden menatap Kayla. Sejurus kemudian ia tertawa. Kayla menutup kedua wajahnya. Ia malu karena berkata jujur kepada Arden.


"Jangan menggodaku," kata Kayla.


"Kamu sungguh ingin aku melakukannya?"


Kayla mengangguk, lalu menggeleng. Arden menurunkan kedua tangan Kayla. Ia kecup kening kekasihnya.


"Aku siap jika kamu mengizinkan," ucap Arden.


"Tidak ada yang spesial jika kita melakukannya sekarang. Kamu tau ketika seorang gadis telah menikah? Malamnya akan ada wanita yang menggoda untuk malam pertama. Saat itu aku membayangkan pipiku yang memerah karena malu. Aku menginginkan moment itu di hari pernikahanku nantinya," tutur Kayla.


Arden mendaratkan kembali kecupan di kening. "Kita tunggu sampai resmi saja."

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2