
"Sayang!" seru Arden.
Keduanya sudah sampai sedari tadi di apartemen. Arden meninggalkan Kayla sendirian sebab ia pergi menemui Davin. Kakak iparnya telah menyiapkan sebuah pil yang katanya bisa membuat tahan lama dan pastinya ganas.
Arden sungguh tidak tahan untuk mencobanya. Tapi, di mana Kayla? Arden memeriksa di kamar. Kayla tidak berada di sana. Ia lalu memeriksa di dapur juga tidak ada. Istrinya memang tidak berada di rumah.
"Apa di apartemennya?" gumam Arden berpikir. "Mungkin saja. Sebaiknya aku cari."
Arden keluar dari apartemen. Ia turun satu lantai menuju flat Kayla berada. Sesampainya di sana, Arden lekas masuk. Sandi apartemen Kayla masih sama. Namun, ia tidak menemukan istrinya.
"Ke mana dia?"
Arden menjejalkan tangan di saku meraih ponsel. Ia menelepon istrinya, tetapi tidak diangkat. Sekali lagi Arden menghubungi Kayla, dan lagi-lagi panggilannya tidak diangkat.
"Apa dia kabur?" gumam Arden yang terserang panik.
Arden keluar dan lekas masuk lift. Ia menekan angka paling terbawah menuju lantai dasar. Baru keluar itulah ia menemukan Kayla bersama seorang pria asing. Oh, bukan! Tapi pria yang satu gedung apartemen dengan mereka. Arden ingat jika pria berkacamata itu tinggal di lantai yang sama dengannya. Meski tidak tahu namanya, tetapi Arden mengenal rupanya.
"Sayang!" seru Arden.
Kayla menoleh. Ia tersenyum, lalu kembali bicara pada pria berkacamata itu. "Sudah dulu. Suamiku memanggil."
"Iya, Mbak. Senang bicara sama Mbak," ucap pria berkacamata itu.
Kayla tersenyum manis. Pria berkacamata membalasnya dan terkesan malu-malu. Arden memelotot melihat keduanya. Ayolah! Itu istrinya. Apa hal tebar pesona seperti itu?
"Sayang!" panggil Arden lagi.
Kayla melambaikan tangan kepada pemuda itu, lalu berjalan menghampiri suaminya. Arden menarik tangan Kayla, lalu membawanya masuk lift. Langsung saja ia menekan angka menuju lantai atas.
"Tadi aku ...."
"Diam!" bentak Arden.
Kayla terkesiap. Ia menggeleng dan sudah tahu sifat cemburu Arden. Dari dulu memang seperti itu. Tidak boleh ada laki-laki yang mendekatinya.
Keduanya keluar ketika pintu lift terbuka. Arden langsung saja menarik tangan Kayla menuju apartemen mereka. Arden membuka pintu dan mendorong Kayla masuk ke dalam. Hampir saja kantong belanjaan di tangan Kayla terlepas.
"Kamu kenapa?" tanya Kayla.
Arden menarik tangan istrinya. Belanjaan yang dibawa Kayla terjatuh. Ia terseok-seok mengikuti jalan suaminya. Arden membawa istrinya masuk kamar. Melemparnya ke atas ranjang.
"Apa-apaan kamu!" murka Kayla.
Arden membuka habis pakaiannya. Kayla beringsut mundur, tetapi kakinya ditarik. Arden naik ke atas tempat tidur, lalu mengangkat ke atas gaun yang istrinya pakai. Kain segitiga ditarik begitu saja. Arden menekan bagian tengah milik Kayla dengan dua jarinya.
"Sakit!" rintih Kayla.
"Baru sehari menikah, kamu sudah ingin selingkuh," ucap Arden.
"Tarik tanganmu!" pinta Kayla.
__ADS_1
Arden tidak mengindahkan permintaan Kayla. Soal mengobrak-abrik bagian wanita itu, ia ahlinya. Kayla menahan tangan Arden agar tidak keluar masuk secara kasar.
"Kamu berani denganku? Katakan!" desak Arden.
"Kamu menyakitiku. Ini sakit, Arden," ucap Kayla lembut. Ia menutup wajahnya dengan dua tangan dan terisak.
Arden lekas menarik tangannya. Ia memeluk Kayla. "Sayang, maaf."
Kayla mendorong tubuh Arden. "Enggak! Kamu selalu begitu. Aku ini istrimu!"
"Iya, aku tau. Kamu istriku."
"Kamu kasar padaku. Ini baru sehari, tapi kamu malah main kasar," ucap Kayla.
Arden menggeleng. "Tidak, Sayang. Aku cuma marah. Saat aku pulang kamu tidak di rumah."
"Aku pergi belanja di minimarket dekat apartemen."
"Aku telepon enggak diangkat," kata Arden.
"Aku memang enggak bawa ponsel! Seharusnya, kamu dengar penjelasanku."
"Aku cemburu!" ungkap Arden sebenarnya. "Kenapa senyum-senyum bersama pria lain? Sudah tau aku paling tidak suka kamu menampilkan senyum manis kepada pria lain."
"Apa setiap bertemu orang wajahku ini harus cemberut?" tanya Kayla.
Arden terdiam. Sesaat kemudian ia berkata, "Sepertinya dia menyukaimu. Biliknya berada di lantai yang sama dengan kita."
"Pikiranmu itu selalu saja negatif. Jika kamu tidak mengubah sifatmu itu, jangan harap bisa meniduriku."
"Jangan berlebihan!" kata Kayla. "Aku tidak akan pernah berpaling darimu!"
Arden mengerucutkan bibir. "Aku perlu bukti, bukan janji omongan."
"Ya, sudah kalau enggak percaya."
"Percaya," sahut Arden, lalu mengecup pipi istrinya. "Mau main lagi."
"Milikku sakit," kata Kayla.
"Enggak boleh nolak."
"Siapa yang membuatnya sakit? Kamu, kan? Tanggung sendiri akibatnya."
Arden turun ke bawah. Ia menarik kaki Kayla dan melebarkannya. Arden mengusap ketebalan istrinya, lalu meniupnya pelan.
"Jangan ditiup," kata Kayla. Lantas ia merapatkan kakinya.
"Tunggu di sini, aku keluar bentar," ucap Arden yang lekas memakai pakaiannya lagi.
Kayla beringsut duduk. "Mau ke mana?"
__ADS_1
Arden memberi kecupan di bibir Kayla. "Pokoknya tunggu. Aku segera kembali."
Arden keluar kamar, tetapi ia kembali lagi. "Jangan keluar tanpa izinku."
"Iya, aku akan tetap di sini," sahut Kayla.
...****************...
Beberapa saat, Arden kembali dengan membawa sekantong plastik es krim. Kebetulan Kayla sudah mandi.
"Kamu keluar cuma buat beli es krim?" tanya Kayla.
"Kebetulan kamu selesai mandi. Ayo, ikut aku."
Kayla dibawa ke dapur. Arden mendudukkan istrinya di atas meja makan. Ia juga membuka kimono yang masih Kayla pakai.
"Sayang, aku baru selesai mandi," kata Kayla.
Arden menyeringai. "Justru itu bagus."
Arden mengambil es krim cup, lalu membukanya. Langsung saja ia menuangkan beberapa scoop es krim di tubuh Kayla.
"Dingin."
Tubuh Kayla terbalut es krim vanila. Arden menghabiskan satu es krim gelas untuk itu. Ia membuka habis pakaiannya, lalu mulai mencicipi es itu.
Kayla mengerang. Sensasi dingin juga nikmat jadi satu. Terlebih lelehan itu turun ke bawah, dan Arden malah lebih menyukai mencucup es krim dari sana.
"Sayang," ucap Kayla bernada berat.
Nikmat hanya kata itu yang pantas. Luar biasa dan Kayla dibuat gila oleh suaminya. Kayla kembali mengambil es krim di dalam plastik, lalu menuangkan habis di atas perutnya. Es itu mencair, Kayla semakin melebarkan kakinya.
"Sayang, tepat disitu. Jangan berhenti menyesapnya," kata Kayla.
"Tidak sakit lagi, kan?" tanya Arden.
Kayla menggeleng. "Tidak, Sayang. Ini malah enak."
Arden bermain-main dengan perasanya. Menyesap seluruh ketebalan Kayla dari terluar sampai dalam. Kayla sudah memutuskan. Ia tidak akan membiarkan rambut halus itu tumbuh jika ingin terus menikmati sensasi nikmat ini.
"Putar disitu," kata Kayla.
"Di sini?" tanya Arden, lalu menusuk bagian itu dengan perasanya.
Kayla menarik napas panjang. Tubuhnya menegang. Ia mencengkeram rambut Arden kuat, lalu terengah-engah kemudian. Kayla jatuh telentang di meja makan.
Sedetik kemudian, ia menjerit lagi. Arden memainkan dua jarinya dengan cepat. Kayla menggeleng, tetapi Arden menekan perutnya sembari menggerakkan kedua jari dengan cepat.
"Ayo, keluarkan," kata Arden.
Kayla menjerit. Arden tertawa senang saat melihat air mancur keluar dari ketebalan istrinya.
__ADS_1
"Kerja bagus, Sayang," ucap Arden, lalu mengecup bibir Kayla.
Bersambung