Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Pesta Topeng


__ADS_3

"Kenapa duduk di sini?" tanya Kayla.


"Ayo, tidur lagi Kayla. Cup, cup, tidur, ya." Arden langsung memeluk Kayla dengan erat.


"Hei! Lepaskan aku! Aku bisa mati karena sesak napas." Kayla mengeliat, ia bagai tercekik karena Arden merangkul kepalanya. Kayla menggigit lengan pria itu.


"Sakit!" ringis Arden.


"Aku bisa mati, nih. Kenapa, sih?" tanya Kayla kesal.


"Ada nyamuk tadi."


"Mana ada di sini nyamuk. Kamu mau apa sebenarnya?"


Arden menggeleng cepat. "Sumpah! Tadi ada nyamuk yang gigit. Kamu tau sendiri kalau binatang serangga itu bisa hidup di mana pun."


"Enggak jelas." Kayla membalik diri membelakangi Arden, mengeratkan pelukannya pada guling, lalu tidur kembali.


Arden lekas bangun dari posisi, melangkah menuju balkon agar ia dapat mengembuskan napas lega sebanyak-banyaknya. Hampir saja ketahuan. Ia menggelengkan kepala. Menyesal? Lebih merasa seperti kucing yang mencuri ikan.


Ini gila! Ia memang pencuri yang mengecup bibir seorang wanita yang tengah tidur. Sialnya gadis itu adalah sahabatnya dari kecil. Arden tidak tahu bagaimana cara mendekati Kayla. Mengutarakan apa yang ia rasakan terhadap gadis itu. Arden menganggap Kayla sebagai wanita yang ingin ia miliki. Namun, rasa takut lebih besar dari itu semua.


Bagaimana kalau pernyataan itu membuat hubungan mereka berada dalam keadaan yang canggung? Ini bukan masalah Arden yang suka mengejek Kayla, tetapi hal mengenai perasaan. Jelas itu berbeda. Dengan sendirinya Kayla akan menjauh jika ungkapan cinta tercetus dari bibir Arden.


"Sialan! Aku harus mengatakan apa? Setiap yang kukatakan tidak dianggap serius." Arden mengacak-acak rambutnya. "Lebih baik aku tidur saja, tetapi di mana tempatnya? Kayla datang malah menyiksaku."


Arden merebahkan diri di kursi pantai. Sekarang tempatnya hanya ini. Jika tidur bersama Kayla, maka tidak ada yang tahu jika kucing kepala hitam akan mencuri apa lagi. Yang pasti kucing jantan sangat kelaparan.


...****************...


"Akhirnya, kita tiba di Casteway Cay," ucap Kayla.


"Iya," jawab Arden.


Kayla menoleh pada Arden yang berdiri di sampingnya. "Ada apa denganmu?"


"Entahlah."


Kayla memposisikan dirinya agar bisa menatap Arden dengan lekat. "Marah karena aku tidur di tempatmu? Salah kamu sendiri karena tidak mau tidur denganku."


Arden ingin berteriak atas kata 'tidak mau tidur denganku' bukankah ada banyak artinya. Seenaknya saja Kayla mengucapkan kosakata itu. Iya! Arden ingin tidur bersamanya, tetapi sebagai pasangan. Membawa Kayla dalam puncak permainan yang menggairahkan dan menggebu.


"Kita harus kembali ke kapal pukul lima sore. Ayo, kita turun," ucap Arden.

__ADS_1


"Mike dan Elise tidak jalan-jalan?" tanya Kayla.


"Menurutmu, pasangan yang tengah kasmaran mereka melakukan apa sepanjang liburan?"


"Bergelung dalam selimut," jawab Kayla.


"Jadi, jangan tanya lagi tentang mereka. Kita belanja saja untuk keperluan pesta nanti malam," kata Arden. "Oh, iya, aku lupa memberi kabar kepada keluarga. Aku akan mengatakan kepada mereka jika kita bersama."


"Jangan!" cegah Kayla.


"Kenapa?"


"Papa akan cerewet jika aku bersamamu. Dia akan bilang untuk menjagaku. Ini dan itu. Aku liburan karena ingin merasakan hal yang berbeda. Tidak kukira aku bertemu denganmu, dan hidup berbeda itu sepertinya jauh dari impian," ungkap Kayla.


Arden tersentak. "Kamu tidak senang bertemu denganku?"


Kayla menggeleng. "Tentu saja aku senang. Aku hanya merasa sedikit tidak bebas."


"Kebebasan apa yang kamu maksud?" tanya Arden.


"Aku cuma ingin keluar dari zona tuan putri. Aku ingin seperti mereka. Wanita yang mengekspresikan dirinya. Aku ingin gila," tutur Kayla.


"Ayo gila bersama." Arden mengulurkan tangan.


"Apa?"


Kayla membalas senyumnya, lalu menyambut uluran tangan Arden. "Kayla."


Arden mengecup punggung tangan Kayla. "Mari jalan bersama."


Kayla tersentak. "A-ayo!"


...****************...


Kayla dan Arden menyempatkan diri menikmati jalanan kota yang banyak dikunjungi turis. Rencana kapal akan turun lagi ke Jamaica sehari setelah ini. Kayla pun tidak ingin menunda kesenangan itu. Ia membeli beberapa pakaian renang serta perlengkapan pesta untuk nanti malam yang bertema kostum.


"Kamu ingin jadi seorang Cinderella?" tanya Arden yang melihat Kayla membeli gaun panjang warna biru.


"Aku tidak tau. Aku hanya beli barang yang akan menjadi pilihan nanti," jawab Kayla. Ia menoleh pada Arden. "Kalau kamu?"


"Aristokrat Inggris. Pria seperti itu lebih menggoda." Arden menjawab sembari mengedipkan mata.


"Pilihan bagus." Kayla mendekat. "Aku ingin tau apakah nanti ia akan bisa mendapatkan seorang gadis."

__ADS_1


Arden mencondong tubuh, ia berbisik, "Kita lihat siapa yang akan pria itu taklukan."


Selesai membeli perlengkapan di kapal, Arden dan Kayla menyempatkan makan dan berfoto di kota yang mereka kunjungi. Sedikit susah karena keduanya membawa banyak barang.


"Seharusnya kita foto dulu baru belanja," gerutu Kayla.


"Justru belanja dulu karena itu memakan waktu. Sudah pukul tiga sore. Sebaiknya kita segera pulang ke kapal. Lebih baik kembali awal daripada terlambat," kata Arden.


"Benar juga. Di sini hanya tempat berhenti sementara."


"Saat ke negara Jamaica, kita punya waktu selama tiga hari. Kita bisa liburan panjang di sana," ucap Arden.


Kayla mengangguk. "Lebih baik kita pulang sekarang."


Arden menghentikan taksi. Keduanya masuk ke dalam, dan berlalu dari sana. Meski kurang puas, tapi Kayla dan Arden harus tetap kembali karena mereka perlu persiapan untuk berdandan.


...****************...


Arden dan Kayla berpisah menuju kabin mereka masing-masing. Kay langsung membersihkan diri kemudian memilih kostum yang akan ia kenakan malam ini.


"Jika Arden jadi bangsawan, maka aku harus menjadi seorang tuan putri. Oke! Arden tidak tau kalau aku membeli dua gaun. Aku akan memakai warna maroon."


Kayla merias diri, ia mengenakan riasan bold dengan pewarna bibir warna merah. Rambutnya disanggul tinggi. Anting berlian sebagai pemanis juga topeng rubah.


"Ayo, kita mulai pesta."


Arden sudah lebih dulu berada di aula pesta. Satu per satu gadis ia perhatikan. Masalahnya ada beberapa wanita yang memakai topeng rubah dan gaun warna biru.


"Di mana Kayla? Haish! Kenapa dia membeli gaun warna biru itu dan topeng rubah? Bikin susah carinya," gumam Arden.


Seorang wanita berdiri sembari memegang segelas minuman. Memakai topeng rubah dan gaun biru. Arden tersenyum, ia dapat melihat jika wanita itu adalah Kayla.


Namun, ketika ia melangkah mendekat, pintu aula terbuka yang menampilkan seorang wanita memakai gaun maroon. Arden melihatnya dan ia berhenti melangkah.


Gadis itu berdiam di sana, Arden tersenyum dan malah berjalan ke arah wanita bergaun maroon yang membawa kipas di tangan.


"Aku tidak salah menilai. Kamulah gadis yang aku tunggu," ucap Arden.


"Siapa Anda?" tanya wanita itu dalam bahasa asing.


Arden merangkul pinggang gadis itu. "Meski kamu berbicara bahasa asing, aku tetap tau siapa dirimu yang sebenarnya."


"Oh, jadi ini bangsawan Arden?" ucap Kayla.

__ADS_1


"Kamu menebak dengan benar, Sayang."


Bersambung


__ADS_2