Pelarian Termanis

Pelarian Termanis
Undangan


__ADS_3

Besoknya, Kayla dan Arden kembali ke pelabuhan. Sudah ada beberapa tamu yang kembali dan ada sebagian wajah yang keduanya kenali. Termasuk Mike dan Elise yang sampai berbarengan.


"Tiga hari tidak bertemu membuatku merindukanmu," ucap Mike, lalu memeluk Kayla.


"Aku juga sangat merindukan kalian," balas Kayla. Menarik diri dari pelukan Mike, lalu berpindah pada Elise.


Arden juga sama. Ia memeluk Mike, lalu Elise. "Sebaiknya kita naik ke kapal. Kita bisa bersantai di bar."


"Kita harus menyimpan barang-barang dulu," kata Elise.


"Kita bertemu sore saja," usul Arden.


"Kurasa itu ide baik. Aku ingin kembali ke kamar, lalu tidur nyenyak sepanjang hari ini," sela Kayla.


Elise bersedekap tangan. "Hoho, apa kau tidak bisa tidur, Kayla?"


"Ada seekor nyamuk yang selalu menganggu. Dia selalu menempel."


"Kurasa itu harimau jinak," timpal Mike seraya menjeling Arden.


Elise tertawa. "Harimau yang belum menunjukkan cakar dan taringnya. Jika dia menunjukkan, maka kau akan melayang-layang dibuatnya."


"Kalian membahas apa, sih?" Arden salah tingkah. "Ayo, kita naik."


"Ya, ya, mari kita naik. Harimau akan kembali memangsa," sahut Mike.


Jika ada lubang kecil, maka Arden akan bersembunyi di sana. Bisa-bisanya ketiga orang itu menggodanya. Lalu, Kayla? Wanita itu semakin hari semakin meresahkan. Terlebih dengan pakaian pantai yang selalu dikenakan. Arden tidak bisa mengabaikannya. Ia ingin selalu membuat Kayla terbaring di atas ranjang.


"Aku kembali ke kamarku saja," kata Kayla.


"Enggak boleh. Aku sama siapa?" tanya Arden.


"Tidur di tempatmu sendiri. Aku ingin istirahat tanpa tindihanmu."


"Di tempatku saja. Aku janji enggak bakalan ganggu kamu."


"Semalam kamu juga berkata begitu. Buktinya aku tidak bisa tidur karena tanganmu itu," ucap Kayla.


"Tanganku ini memberi pijatan untukmu agar rileks."


"Pokoknya siang ini jangan ganggu aku." Kayla menyilangkan tangan di depan wajah.


Arden menghela napas panjang. Ia pasrah. "Izinkan aku mengantarmu."


"Kalau itu aku izinkan."


Arden menyeret dua koper di tangan menuju kamar Kayla. Sesampainya di sana, Arden tidak membuang kesempatan untuk melakukan apa yang ia sukai. Kayla kehilangan keseimbangan dan hampir terjatuh jika Arden tidak sigap meraih pinggangnya.

__ADS_1


Kayla memalingkan wajah. "Jangan menyerangku tiba-tiba."


"Biar aku mengecup bibirmu."


Arden menangkup wajah Kayla kemudian menyatukan bibir. Kayla berusaha mendorong tubuh pria itu agar menjauh, tetapi Arden tidak akan membiarkan itu terjadi. Ia semakin mendekatkan tubuh hingga bagian depan Kayla sesak oleh tekanan.


"Arden! Biarkan aku istirahat sebentar." Kayla menutup wajah Arden dengan kedua telapak tangan.


Arden melepas pelukannya, lalu menurunkan tangan Kayla ke bawah. "Aku akan melepasmu, tetapi janji satu hal."


"Apa?"


"Aku ingin mandi bersama denganmu," ucap Arden.


"Mandi bersama?" Kayla mengulang permintaan itu dalam nada pertanyaan.


Arden mengangguk. Ini keinginannya yang sudah lama terpendam. Mandi bersama Kayla di dalam bathtub. Saling bermain busa sabun dan mengikuti naluri yang akan terjadi selanjutnya.


"Iya. Aku ingin kau memenuhi undanganku," ucap Arden sedikit memohon.


Kayla tersenyum, lalu mengangguk. "Baiklah. Kita akan mandi bersama. Tapi bukan hari ini."


"Hah ... lalu, kapan?"


Sudah diberi harapan malah dijatuhkan lagi. Arden sudah senang, tetapi mendengar kalimat terakhir ia sedikit kecewa.


"Terserah aku. Bisa besok, lusa atau hari-hari setelahnya," kata Kayla.


"Aku janji. Sekarang, kamu balik ke tempatmu." Kayla membuka pintu mempersilakan Arden keluar.


"Oke. Sampai jumpa nanti sore." Satu kecupan kembali dicuri. Arden lekas keluar dan berlari.


"Dasar!" teriak Kayla. Kemudian menutup pintu dan menguncinya.


...****************...


Sore hari, Arden sudah berada di bar bersama Elise serta Mike. Tinggal Kayla yang belum muncul dan membuat Arden ingin melangkah ke kabin wanita itu. Sialnya Mike malah mencegah dan menyuruh menunggu saja. Arden cuma tidak ingin di perjalanan Kayla malah bertemu Alex dan berkencan dengan pria itu mengingat Kayla yang ingin hidup bebas tanpa ikatan apa pun.


"Biarkan saja Arden mengunjungi Kayla. Kenapa malah melarangnya?" ucap Elise.


"Wanita akan cepat bosan jika terus diusik," sahut Mike.


"Aku tidak," protes Elise.


"Aku melihat Kayla berbeda. Jika mengekangnya terlalu erat, maka dia akan lepas. Lebih baik melonggarkan ikatan itu biar dia terus melekat," ucap Mike.


"Kayla di sini ingin liburan setelah gagal menikah. Dia ingin menjalani hidup bebas. Kayla membiarkan-ku menyentuhnya," tutur Arden.

__ADS_1


"Nah, kamu paling tau dia, Arden. Kayla tidak akan bebas jika kamu terus berada di sisinya. Dia akan beranggapan ini akan sama seperti masa lalu. Sedangkan Kayla ingin sesuatu yang baru," timpal Mike.


"Kurasa kamu ada benarnya," sahut Arden.


"Sudahlah. Nanti malam ada acara spesial di aula," kata Elise.


"Dansa lagi?" tanya Arden.


"Bukan! Tapi acara katakan cinta. Katanya kita bisa menulis sesuatu tentang orang-orang yang disayang. Sayang sekali jika kita tidak hadir malam ini."


Katakan cinta? Arden beranjak dari duduknya. "Aku pergi dulu. Jika Kayla datang, katakan saja kalau aku ada urusan. Sampaikan padanya untuk datang ke acara itu."


Arden melangkah keluar dari bar. Elise dan Mike cuma menatap. Sepertinya mereka tahu akan apa yang dilakukan Arden untuk malam nanti.


"Kurasa dia ingin mengatakan cinta kepada Kayla," ucap Elise.


"Entahlah. Hubungan mereka rumit. Mereka sama-sama tidak memiliki pasangan, tetapi tidak ingin bersama dalam ikatan jelas," kata Mike.


"Adakalanya hubungan tanpa status lebih menyenangkan. Tidak melibatkan perasaan dan ketika harus berpisah, tidak akan yang saling menyakiti."


Mike mengenggam tangan Elise. "Maafkan aku, Elise. Aku tidak bisa memberimu status yang jelas."


"Sayangnya aku melibatkan perasaan."


Pintu bar terbuka. Mike melambaikan tangan ketika Kayla muncul di sana. Kayla yang melihat itu segera menghampiri.


"Apa aku datang terlambat atau ada satu orang lagi yang belum tiba?" tanya Kayla sembari mendaratkan dirinya di kursi tempat Arden duduk tadi.


"Kamu tidak lihat ada tiga cangkir gelas di sini?" kata Elise.


"Rupanya aku yang datang telat. Aku ketiduran. Lalu, di mana pria itu?"


"Dia bilang ada urusan," sahut Mike.


"Oh, ya, malam ini kita ada acara," ucap Elise.


Kayla memanggil pelayan, lalu memesan minum sebelum menanggapi ucapan Elise mengenai acara nanti malam.


"Musik atau apa?" tanya Kayla.


"Ini curhatan cinta. Ini akan sangat menyenangkan, Kay," ucap Elise.


"Sepertinya menarik. Aku akan datang nanti malam. Oh, apakah Arden sudah tahu?"


"Dia menyuruhmu untuk datang. Ah, sebaiknya aku memesan meja untuk kita berempat. Kalian tunggulah di sini. Aku akan segera kembali," ucap Mike.


"Ide bagus, Mike," sahut Kayla.

__ADS_1


"Dia selalu tau apa yang dibutuhkan," timpal Elise.


Bersambung


__ADS_2