
Arden mengendarai mobil sampai di sebuah rumah yang baru siang tadi ia kunjungi meski tidak masuk ke dalam kediaman tersebut. Kendaraan roda empatnya berhenti tepat di gerbang rumah Kayla. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk janjinya bertemu bersama Lauren.
Arden keluar, ia berjalan menuju penjaga rumah. Tidak susah untuk masuk karena ia sudah dikenal. Bel dipencet dua kali. Tidak lama pintu dibuka dengan menampilkan sosok Raka di depan.
"Arden! Kapan kamu balik?" tanya Raka.
"Boleh masuk, Om?"
"Ayo, masuk." Raka bergeser sedikit agar Arden bisa masuk, lalu menutup pintu.
"Papamu enggak bilang kalau kamu kembali dari Amerika. Kayla juga baru balik," kata Raka.
"Iya, Om," jawab Arden.
"Kamu sudah tau masalah Kayla?"
Lebih dari tau, bahkan Kayla sekarang adalah calon istriku. "Makanya Arden mau ketemu Kayla."
"Arden!" tegur Bela.
"Hai, Tan." Arden menghampiri Bela, lalu memeluknya.
"Makin tampan saja kamu."
"Tante juga makin cantik," balas Arden.
"Ayo, duduk. Kapan kamu kembali?" tanya Bela.
"Kayla mana?" tanya Arden, mengubah topik dari pertanyaan yang akan menimbulkan kecurigaan.
"Tunggu sebentar, Tante panggil Kayla kemari. Tapi ingat! Jangan bicara apa pun. Kayla baru saja menenangkan hatinya dan kamu akan kaget akan perubahannya," ucap Bela.
"Iya, Ar. Semenjak putus dari Steve, dia berusaha untuk diet. Sekarang berat badannya jadi ideal. Yang pasti putri Om sangat cantik," ucap Raka.
"Kayla, kan, memang cantik."
"Om mau menjodohkan Kayla sama pria tampan di kantor," ucap Raka.
"Apa? Menjodohkan, Kayla? Arden enggak setuju!"
"Tadinya. Sekarang Kayla bilang sudah punya calon suami," kata Raka.
"Kok, Om main jodohin Kayla sembarangan. Waktu sama Steve juga main setuju saja. Seharusnya Om ngomong dulu sama Arden."
Arden masih kesal akan hubungan Steve dan Kayla. Jika waktu itu Arden tahu lebih awal, maka jalinan cinta itu pasti tidak akan terjadi. Ia akan melakukan apa pun untuk menghalanginya. Arden kesal juga karena kecupan bibir pertama Kayla diambil oleh Steve.
"Astaga! Kamu ini enggak berubah dari kecil. Kayla enggak punya teman cowok gara-gara kamu," kata Raka.
"Ada Arden. Ngapain punya cowok lain."
__ADS_1
Raka mendengkus. Sebenarnya yang cocok menjadi ayah Kayla adalah Arden karena siapa pun laki-laki yang dekat dengan putri semata wayangnya, maka akan berurusan dengan Arden.
"Arden," tegur Kayla.
"Aku mau ajak kamu keluar," kata Arden.
"Enggak mau," tolak Kayla.
"Setiap ketemu pasti bertengkar," kata Bela, lalu duduk di samping Raka.
"Memangnya mau ke mana?" tanya Raka.
"Mau makan malam," jawab Arden sembari tersenyum menatap Kayla.
Kekasihnya marah lagi. Kayla tidak mengangkat panggilannya meski Arden mengirim pesan akan tujuannya bertemu Lauren. Keduanya memang sangat berbeda. Kayla bagai wanita manja di hadapan Arden, sedangkan Lauren mengerti apa yang Arden inginkan.
"Makan di sini saja," sahut Bela.
Arden masih menatap lekat kekasihnya. Ia butuh sikap dewasa Kayla. Kepercayaan. Arden membutuhkan itu dari kekasihnya. Keyakinan jika Arden sungguh tidak akan berpaling darinya.
"Aku ganti baju dulu," kata Kayla.
Arden tersenyum. "Aku menunggu."
Sebuah kejutan seolah Kayla tahu apa yang Arden inginkan. Salah satu nilai tambahan yang membuat Arden tidak bisa melepas Kayla ke pelukan pria lain.
"Arden mau hibur Kayla. Dia lagi marah."
"Kayla marah kalau ketemu sama kamu," ucap Bela.
"Kok, kamu tau Kayla baru pulang dari liburan," cetus Raka.
"Memangnya apa yang tidak Arden ketahui."
Kalau Arden bukan anak dari Kevin, pasti Raka akan membuat perhitungan dengannya. Anak itu pandai sekali menjawab ucapan orang tua.
Kayla hanya memakai celana jeans panjang serta blouse putih dengan tas tangan bulat berwarna hitam. Ia memakai sepatu bertumit tinggi warna kuning. Begitu saja sudah sangat cantik.
"Ayo," kata Kayla.
"Om, Tante, Arden bawa Kayla dulu, ya. Nanti malam Arden balikin."
"Balikin seperti kamu bawa Kayla pergi keluar. Tanpa kurang satu apa pun," kata Raka.
"Beres, Om," sahut Arden.
Raka dan Bela mengantar keduanya sampai di pintu depan. Sampai Kayla masuk mobil dan berlalu dari sana barulah mereka masuk rumah.
...****************...
__ADS_1
"Bawa aku ke apartemen saja," kata Kayla.
"Enggak mau ikut aku ke restoran?"
"Ngapain? Mau lihat kemesraanmu? Lagian buat apa jemput aku sampai ke rumah?"
Arden tidak menjawab, tetapi secepatnya mengendarai mobil untuk sampai di apartemen. Kayla melirik bingkisan berwarna oranye di kursi belakang. Itu adalah tas yang akan Arden berikan untuk temannya.
Jika dipikir-pikir bagi Arden tas itu merupakan barang kecil. Apalagi di atas gaya pria itu yang selalu tampil dengan barang bermerek. Memberi barang yang tidak istimewa rasanya tidak cocok. Namun, Kayla takut jika pihak wanita akan berpikiran berbeda.
"Memangnya kamu sangat dekat dengan Lauren itu?" tanya Kayla.
Arden lagi-lagi tidak menjawab. Ia melirik jam di pergelangan tangan. Arden berpacu dalam waktu. Lauren menunggunya di restoran yang telah dijanjikan.
"Kita sampai," kata Arden, lalu keluar.
Ia berlari kecil menuju pintu sebelahnya, tetapi Kayla malah sudah keluar lebih dulu. Arden meraih tangan kekasihnya. Membawa Kayla masuk dan keduanya menuju lift.
"Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku?" kata Kayla. Kesal karena terus diabaikan.
Pintu lift terbuka. Keduanya keluar dengan Arden memegang tangan sang kekasih hingga keduanya sampai di bilik Kayla.
"Berapa sandinya?" tanya Arden.
Kayla mengulurkan tangan memencet angka-angka. Ketika pintu terbuka, Arden mempersilakan Kayla masuk lebih dulu, dan ia mengganti kata sandi kamar Kayla.
"Kuncinya gabungan dari hari kelahiran kita," ucap Arden.
"Terserah," sahut Kayla.
Arden menutup pintu kemudian berjalan mendekat. Ia genggam kedua tangan Kayla. "Kamu percaya aku, kan?"
Kayla tersentak. Kata yang diucapkan sangat tegas hingga Kayla tidak sanggup untuk menjawabnya. Arden meminta itu darinya. Sebuah kepercayaan terhadap pasangan.
Kayla mengangguk. "Iya, aku percaya."
Arden tersenyum. "Aku akan pulang pukul sembilan malam. Aku tidak pernah berbohong padamu."
Kata-kata yang menghipnotis. Kayla tidak sanggup membantahnya, bahkan amarah yang ingin keluar dalam bentuk protes urung keluar. Arden menatapnya lekat. Ini bukan candaan, tetapi Arden sangat serius mengucapkannya.
"Aku akan menunggumu," ucap Kayla.
Arden kecup kening Kayla. "Ya, aku pergi dulu, Sayang."
Kayla menatap langkah sang kekasih. Arden membuka pintu, lalu keluar. Kemudian ia baru sadar atas apa yang terjadi.
"Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku memang harusnya percaya. Dia adalah Arden bukan Steve. Aku mengenalnya lebih dari siapa pun. Aku percaya Arden akan bersamaku," gumam Kayla.
Bersambung
__ADS_1