Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
I Will Become Karma


__ADS_3

"Jika karma tidak bisa menghancurkanmu. Aku yang akan menjadi karmamu."


🔥🔥🔥


Saat Andara membuka mata dengan kepala yang terasa diganduli ratusan batu, dia mendapati dirinya tertidur di sofa depan televisi. Andara mengerjap beberapa kali melihat langit-langit, berusaha mengingat-ingat. Semalam setelah siaran, dia ke Splash, lalu minum lalu digendong Kin. Gosh! Dia mencium Kin, lalu apa yang terjadi setelahnya? Mengapa dia tidak ingat sama sekali?


Andara menguap beberapa kali dan melirik jam dinding, pukul tujuh pagi. Badannya masih terasa lemas sekali. Di mana Rossa dan Natha?


Matanya menyapu sekitar. Gelas-gelas kotor yang isinya mulai kosong ada di atas meja depan televisi dan ada sepasang kaki panjang bercelana denim di bawah sofanya. Andara berusaha duduk dan menengok siapa yang ada di ambal. Jelas-jelas itu bukan kaki Natha. Pandangannya tertuju kepada sosok lelaki yang tertidur di sana.


Kin.


Jantung Andara mendadak seperti melompat-lompat. Ia buru-buru menoleh ke badannya sendiri. Syukurlah, apa yang dipakainya masih utuh. Baju dan celananya masih sama dengan yang semalam, hanya saja sepatu boots-nya sudah terlepas, berdiri tegak di bawah sofa.


Meski kaki terasa lemas, Andara beringsut memasuki kamar dan menemukan Rossa menyabotase tempat tidurnya. Cewek itu tidur tertelungkup tanpa menyisakan ruang untuk dia tidur. Andara lalu membuka lemari, meraih baju ganti dan membersihkan diri. Bajunya sudah beraroma keringat, alkohol, dan asap rokok. Setelah itu ia berencana mencari sarapan, cacing di perutnya sudah menggeliat, berdemo meminta sogokan.


"Eh, artis pendatang baru kita udah bangun," tegur Natha saat Andara menuju ruang makan. Jelas sekali cewek itu mengejek. Mukanya menahan senyum yang sangat terbaca.


Andara hanya diam, menarik kursi meja makan dan duduk sambil meneguk banyak air. Di meja makan juga sudah ada Kin. Cowok itu juga sudah bangun.


"Kalau mau bikin prank itu bilang-bilang, kompakin gue kek. Kan gue bisa shoot kalian, ambil angle yang terbaik. Pasti booming!"


"Shoot, shoot. Pala lo yang gue shot, pakai AK-47," ujarnya pelan. Kepalanya terasa berdentam.


"Ya, seenggaknya kalian kan jadi punya video kenang-kenangan juga dan gue juga dapat konten. Minggu ini gue belum ada upload video, nih." Natha menuang teh dari teko, memberikan satu cangkir ke Kin dan satu cangkir ke Andara. "Lagian, gimana skenarionya, sih? Kok ada adegan cip*k-cipokannya gitu?"


Andara berdecak, ingin sekali rasanya menyentil mulut penasarannya Natha. Cewek itu nggak tahu apa kalau Andara juga malu setengah mati di hadapan Kin sekarang. Apalagi ketika cowok itu hanya tersenyum kecil dan mengedikkan bahu sebagai jawaban atas pertanyaan Natha barusan.


"Ya, Ra? Gimana, gimana?" desak Natha mau tahu.


Tangan Andara mendadak dingin saat dua pasang mata itu menunggu jawabannya. Ini si Kin kenapa masih ada di sini, sih? Kan, kampret.


Beruntunglah ponsel Andara berbunyi dari dekat televisi, memecah perhatian mereka. Andara beranjak mengambil ponselnya, diamatinya nama penelepon dalam diam, sembari mengubah mode senyap tanpa diangkat.


"Dia nelepon dari semalam, tuh," ujar Kin memperhatikan mukanya. "Bubu. Siapanya Coreng sama Upik?"


Natha mulai tertawa mengekeh. Teh di mulut cewek itu bahkan ada yang muncrat. Selepas batuk-batuk karena tersedak, Natha menyindirnya lagi, "Buset, belum diganti namanya, Ra? Masih Bubu?"


Yang menelepon adalah Buana. Kontak cowok itu disimpannya dengan nama sayang Bubu. Andara lupa mengubahnya saat putus dahulu. Lagi pula setelah sms Buana terakhir kali, cowok itu tidak ada meneleponnya sama sekali. Ya, wajar dong kalau Andara lupa nama Buana di kontaknya, dia juga tidak berminat menelepon Buana selama ini.


"Lo angkat?" tanya Andara kepada Kin, dengan mengabaikan Natha yang menyebalkan.


Kin menggeleng. "Nggak. Siapa Bubu? Lucu banget namanya."


"Buana," jawab Andara sebelum keburu Natha yang menjawab. Dia mulai meneguk teh hangatnya. "Kenapa nggak lo angkat? Harusnya angkat aja nggak papa."


Tepat setelah Andara berkata seperti itu, ponselnya berkedip-kedip tanpa suara memberi tahu kalau ada telepon masuk. Layarnya menampilkan nama yang sama, nama yang kata Kin berusaha menghubunginya semalaman. Andara membiarkan saja telepon itu, tidak berminat untuk menjawab.


"Coba dijawab, gue pengin dengar." Natha menyeringai. "Kin, lo aja yang jawab. Ya, Ra? Kin jawab, ya?"


Natha meraih ponsel Andara. Cewek itu menekan tombol hijau begitu melihat Andara hanya mengangkat alis tak peduli. Sesaat Natha mengaktifkan pengeras suara sebelum menyodorkan ponsel itu ke Kin.

__ADS_1


"Halo," panggil suara di seberang. "Halo, Andara."


Mereka bertiga diam, saling berpandangan. Kin lantas berdeham. "Andara masih tidur," jawab Kin.


"Lo ... masih sama Andara sekarang?!" Pertanyaan itu lebih menjurus kepada ketidakpercayaan sebenarnya. "Kalian di mana? Andara mana? Kasih hapenya, gue mau ngomong sama Andara," desak Buana.


Desakan itu membuat Kin melirik ke arahnya. Mata cowok itu mengirimkan banyak pertanyaan ke Andara. "Banyak amat pertanyaan lo kayak reporter. Ngomong aja langsung sama gue. Kalau gue nggak kasih Andara ngomong sama lo, kenapa?"


Rupanya Kin bisa iseng juga. Andara mulai menarik ujung bibir, menikmati percakapan mereka berdua.


"Cowok macam apa sih lo, yang ngajak ceweknya dugem, ngebiarin ceweknya mabok?! Lo sengaja ya ngejebak Andara?!"


Mereka bertiga dapat mendengar dengan jelas bentakan Buana. Cowok itu seolah ingin mengeluarkan kekesalannya semenjak semalam.


"Wah, lo kayaknya terlalu banyak waktu luang buat ngurusin apa yang kami buat," balas Kin. "Mind up your business! She's mine, now."


"Berengsek lo!" seru Buana dengan kegeraman yang kentara. Seperti yang Andara tahu, Buana masihlah cowok yang mudah sekali tersulut api emosi. Selanjutnya hanya terdengar beberapa makian kasar sebelum telepon itu tertutup.


Kin terdiam, melirik ke arah Andara dan Natha. Yang lebih dahulu tertawa adalah Natha. Cewek itu terbahak-bahak. "Seru, seru! Aduh, kenapa tadi nggak gue rekam, ya?" ujar Natha menepuk jidat.


Orang yang kedua tertawa walau kecil adalah Kin. "Jadi dia berkali-kali telepon cuma buat tanya itu?"


Andara hanya mengangkat bahu cuek dan mulai meneguk tehnya lagi. Dia teringat ciuman itu lagi dan mulai nggak enak hati dengan Kin. "Kin, sori buat yang semalam. Akting gue kebablasan. Sori."


Mata Natha memicing geli, seolah menuduh Andara. Di antara kesibukan meniup-niup tehnya yang panas, cewek itu masih sempat saja menggodanya. "Ah, akting apa akting? Atau memang disengaja? Sambil menyelam, minum air gitu."


"Menyelam sambil minum air jadinya tenggelam, pintar!" desisnya ke Natha.


"Eits, pakai emosi nih Mbaknya. Biasa aja dong, Mbak. Kin aja santai. Ya, nggak, Kin?"


"Santai, Ra." Jawaban Kin akhirnya menenangkan Andara. Cowok itu kembali tersenyum dan memperlihatkan mata tenggelamnya.


"Lagian, ya, Ra. Biasanya yang mabok nyosor-nyosor itu kan si Ocha. Kok bisa-bisanya sekarang lo yang nyosor, sih?" ungkap Natha lagi. Cewek itu memegangi perutnya yang geli. "Bisaan, mentang-mentang lawan mainnya si Kin."


"Nath..." desis Andara meminta cewek itu diam. Sianida jualnya di mana, ya? Andara pengin sekali menabur di tehnya Natha.


***


"Gue yang minta dia stay lamaan buat temenin gue." Itu jawaban Natha ketika Andara tanya kenapa masih ada Kin, pagi ini. Andara masih tahu diri, dia menahan pertanyaan itu setelah Kin pamit pulang.


"Temenin lo? Tapi lo-nya aja tidur di kamar, sedangkan dia tidur di ambal gitu. Kasihan."


Natha menyergah. "Gue juga di ambal kali. Gue baru masuk kamar itu jam lima. Udahlah nggak usah diperbesar, lagian, Kin itu ngebantuin gue semalam. Misalkan nggak ada dia, nggak tahu deh gimana gue musti bopong lo berdua. Mau lo kalau kita bertiga tidur di trotoar? Badan gue aja masih pegal-pegal, si Ocha keberatan dosa."


"Jangan macam-macam lisannya," tegur Rossa sembari melangkah keluar dari kamar Andara. Cewek itu duduk sambil menggelung rambutnya yang kusut.


Baik Andara maupun Natha mencibir. "Kasih tahu, Nath. Gimana lisan dia semalam. Kasih tahu."


"Nggak berubah lo. Kalau mabok, mengguncang dunia persilatan. Pakai acara gelendotan sama Mas-Mas meja sebelah, komentarin segala macam."


Rossa tertawa. "Masa?"

__ADS_1


"Tapi lebih beruntung Andara, sih. Dia ambil kesempatan dalam kesempitan," ujar Natha dengan senyum dikulum.


"Nggak usah dibahas lagi, napa?" Andara menelungkupkan muka di meja. Sumpah dia nggak menyangka kejadian ciuman itu akan jadi bulan-bulanan Natha.


Tawa kencang Natha pecah lagi, mukanya sudah memerah. "Gimana gue nggak mau bahas coba? Itu kejadian dramatis banget! Lo tahu nggak, Cha? Bisa gitu ya dia mabok, udah dibaringin di mobil terus bangun, keluar mobil buat meluk dan cium Kin di depan Buana. Gilaaaa."


Rossa ikut tertawa meski dirinya sedang mencoba mengingat-ingat. "Tapi menurut gue, apa yang dibilang Kin benar."


"Yang mana?" Andara yang masih menaruh kepala di meja lantas menoleh ke Rossa, memperhatikan cewek yang sedang meneguk air putih.


"Ya, yang bilang kalau apa yang dibuat Buana itu terlalu aneh sebagai mantan." Rossa menaruh cangkirnya di meja. Perkataan itu dibilang Kin sebelum cowok itu pulang.


"Lo dengar?"


"Gue udah bangun, tapi masih pengin rebahan," jelas Rossa. Cewek itu mulai menerangkan spekulasinya mengenai Buana. "Gini, deh. Coba lo pikir, Chu. Kalau lo putusin mantan, ada lo ikut-ikutin atau kepo mantan lo lagi ngapain? Kan enggak. Kita putusin mantan berarti kita itu udah ilfeel. Jadi mantan mau punya pacar baru kek, mau nyungsep ke galian kabel kek, mau terjun bebas ke laut kek. Bodo amat."


Suasana meja makan menjadi sepi. Bahkan tidak ada lagi tawa Natha. "Iya, sih. Semalam Buana juga berulang kali teleponin gue, tapi nggak gue angkat," aku Natha.


"See?" Alis Rossa naik sebelah, menatap Andara seolah menguatkan pernyataannya. "Ngapain coba si Buana pakai mengadang lo sama Kin, terus bilang, 'Andara balik sama gue'. Dia itu siapa? Botol kecap!"


Andara menekur, meresapi kebenaran perkataan Rossa. Memang tindak tanduk Buana tidak biasa sebagai seorang mantan yang baru saja mencampakkannya. Buat apa Buana peduli lagi sama apa yang diperbuatnya? Dengan cowok itu memutuskan berarti kan cowok itu sudah melepasnya.


"Coba deh pikir. Selama ini mantan-mantan lo ada yang gitu? Enggak kan. Gitu juga kita, pernah kita gituin mantan? Ya, paling ngisengin dia doang sekadar membalas apa yang mau kita balas. Heran beneran gue. Maunya Buana itu apa sih sebenarnya?" tandas Rossa.


Sekali lagi, perkataan Rossa barusan juga benar. Kenapa Buana masih mau terlibat dalam kehidupannya? Apa karena ...


"Sarap itu cowok, gue rasa. Dia yang putusin, dia juga yang nggak suka lo dekat sama cowok lain. Nggak mungkin nggak ada dasar deh dia begitu." Tatapan Rossa seperti menyelidiki. "Lo yakin nggak tahu kenapa mantan lo itu aneh begitu? Kalau dia mantan gue, udah gue garuk mukanya pakai garu. Gengges."


Berbagai kemungkinan hilir mudik di benak Andara. Dia sendiri tidak mendapat jawaban atas perlakuan Buana semalam. Cowok itu seperti khawatir, itu jelas dia tahu. Namun, kenapa Buana mesti khawatir dengannya? Apa hanya karena perjanjian yang pernah mereka buat?


Andara berdeham, mengumpulkan keberanian untuk menjelaskan. "Mungkin karena ... He's the first."


Ditatapnya Rossa dan Natha yang sudah membulatkan atensi ke arahnya. "Iya, gue ngelakuin itu pertama kali sama dia, dan kami pernah berjanji untuk nggak ngelakuin itu sama orang lain."


Bibir kecil Rossa terdengar mengumpat sedangkan Natha masih bengong.


"Gue pikir lo pemain," cicit Natha.


"Dia ini gayanya aja yang liar, aslinya jauh lebih cupu daripada lo," tandas Rossa. "Lo kenapa baru ngaku sekarang coba? Lo nggak pikir panjang banget, sih?! Pantesan susah move on."


Andara hanya meringis. Itu adalah kesalahannya dan mungkin juga kesalahan perempuan-perempuan yang terlalu cinta. Dia berpikir dengan dia merelakan satu-satunya harta berharganya, Buana tidak akan memutuskannya.


"Gue pikir panjang, Cha. Saking pikir panjangnya, gue begitu. Gue pengin Buana sama gue terus. Nggak ninggalin gue apa pun yang terjadi."


Rossa terlihat mengacak-acak rambutnya. "Chu! Yang namanya cowok itu, mau lo kasih apa pun kalau dia mau ninggalin ya dia bakal tetap ninggalin. Sekarang gimana jadinya? Lo udah putus, tapi karena alasan 'itu' dia tetap nggak ngelepas lo? Dan lo bakal tetap nganunya sama dia? Idih, enak di dia nggak enak di lo!"


Cewek itu terlihat menarik napas beberapa kali sebelum melanjutkan ucapannya. "Ra, walaupun lo udah nggak virgin lagi, bukan berarti hidup lo berhenti sampai di sini. Di luar sana, masih banyak cowok yang open minded dan menerima keadaan lo. Ketika lo nanti pacaran dan dapat pengganti Buana, bukan berarti lo nggak berhak memilih apakah lo mau tidur bareng atau enggak sama pacar lo itu. Cowok itu harus menghormati keputusan lo. Oke, memang kita salah, karena kita melepaskan virgin kita sama berengsek-berengsek yang akhirnya ninggalin kita. Tapi bukan berarti kita nggak berharga, terus mau dijadiin pelampiasan dia doang. Najis!"


Dibanding Andara, Rossa terlihat lebih emosi. Andara mengerti, di mata Rossa dia hanyalah anak cupu yang cuma bisa bergandengan, berciuman dan berpelukan. Acap kali Andara melontarkan lelucon menyerempet vulgar, Rossa tetap menganggapnya anak culun dan sering menggodanya untuk sekadar bercanda. Nyatanya, Rossa terlihat tidak terima ketika mengetahui fakta tentangnya dan Buana.


"Jadi rencana lo sebenarnya gimana, Ra?" tanya Natha. "Menurut gue, sih. Sebaik-baiknya membalas dendam sama cowok yang putusin kita ya dengan cara move on secepatnya. Tunjukin ke dia kalau lo bahagia, lo tetap berharga dan ada orang yang bisa cintain lo apa pun yang udah terjadi sama lo."

__ADS_1


"Nggak, nggak! Itu terlalu gampang!" balas Rossa. "Ini gue kasih ide. Yang pertama, lo bujuk dia supaya balikan sama lo dan ninggalin Nina, terus lo empas saat dia cinta banget sama lo. Kedua, lo ajak dia selingkuh di belakang Nina terus lo aduin ke Nina, terus lo empas dia. Ketiga, lo jebak dia ajak nganu, terus ikut skenario gue yang kemarin aja. Pura-pura hamil terus lo pelorotin dia! Itu baru pembalasan!"


Mata Andara berkilat berbahaya. Ide Rossa terdengar sangat brilian. Mungkin otak Rossa yang dibasuh alkohol meningkatkan kinerjanya di luar nalar. "Gue rangkum semuanya, Cha. Ide lo benar-benar spektakuler."


__ADS_2