
"Kata siapa hidup itu adil? Dengan kau tidak menggigit, bukan berarti kau tidak akan digigit."
🔥🔥🔥
Tentu Rossa dapat melihat dengan jelas dua orang di hadapannya sedang terperangah. Dia juga dapat membaca komat-kamit dari bibir Andara yang jika disuarakan membentuk kata 'anjing'. Sembari memilin-milin ujung rambutnya, Rossa merangkai cerita untuk meyakinkan sang pacar kalau mereka sedang dalam kondisi kepepet. Sejumlah uang disebutkan sebagai biaya rumah sakit. Cewek itu berpesan agar pacarnya yang sedang di luar negeri tidak perlu khawatir karena ada Andara yang akan temaninya. "Iya, Yang. Aku nggak sendiri, ditemanin Andara, kok."
Andara membulatkan mata, kemudian menendang kaki Rossa. Ia tidak suka namanya dibawa-bawa, Rossa terlalu sering seperti itu.
"Aduh." Rossa mengelus betisnya yang ngilu sambil melempar tusuk gigi ke Andara. "Apa, Yang? Iya, ini perutku mulai sakit, obatnya udah kerja," keluh Rossa bersandiwara.
Natha yang tidak mengerti, bolak-balik menatap Andara dan Rossa seolah meminta penjelasan. Dia menyadari telah ketinggalan berita satu babak penting, tetapi sedari tadi mencolek Andara, cewek itu malah mengibaskan bahunya. "Ada apaan, sih? Apaan?" bisik Natha.
Lambaian tangan Rossa di udara memutus reaksi sahabatnya yang mendadak rusuh. "Iya, nanti aku kabarin lagi. Ini udah mau masuk. Doain aku, ya, Yang," pungkasnya sembari mengakhiri telepon dengan menyeringai. Mbak Serik menyembulkan taring tak kasatmata ketika meletakkan ponselnya, dan menepuk dada. "Mbak Serik, serigala, bukan anjing."
"Apa, sih? Apaan? Oh, shit." Natha masih heboh sampai-sampai tangannya menyentuh pinggan panas tempat steak yang baru disajikan.
Kepala Andara bergeleng pelan. Seharusnya dia bisa menebak apa yang akan dibuat Rossa kepada pacarnya. "Jiwa licik lo dipupuk pakai apaan? Tumbuh subur gitu."
"Life isn't fair. Just because they didn't bite The Wolves, doesn't mean The Wolves don't bite them." Alis Rossa terangkat pelan. Dia membelah bistiknya dengan riang.
Natha yang hendak bertanya dengan ternganga langsung dipotong Andara. "Camkan itu, Grandong."
"Eh, anjay. Iya, Mak Lampir!" balas Natha melepaskan tawa.
"Paham kagak? Jangan iya-iya aja lo."
"Nggak perlu baca skrip juga gue tahu kalau Ocha lagi ngisengin Roni, tapi maksud gue kok bisa ngaku-ngaku hamidun? Pikiran kotor gue kan jadi berkembang biak."
Malas untuk memberi tahu lebih lanjut, Andara menggoyangkan tangan, meminta Rossa untuk menjelaskan. Perhatiannya beralih ke tenderloin steak yang menggugah selera. Daging setengah matang yang kemerahan dihiasi potongan kentang juga sayur-sayuran. Andara menyomot kentang bersama saus lada hitamnya, mendengarkan Rossa yang menjelaskan kronologi kepada Natha.
"Pacar sendiri dipelorotin ya, Cha. Parah memang lo." Natha yang sudah mendengar semuanya langsung berkomentar. Rossa malah mengaku sudah mengarang satu sesi cerita tambahan bahwa dirinya mulai keluar flek sebagai efek dari meminum obat penggugurnya.
"Makan cinta nggak kenyang, bego. Itu lihat temen lo yang mencintai sepenuh hati, ujung-ujungnya sakit hati. Sakit hati nggak ditanggung asuransi." Kalau masalah mengerjai pria, Rossa memang pakarnya. Cewek itu juga sering memberi pencerahan kepada mereka berdua bagaimana cara menghadapi para pria. "Makanya gue gemas banget ini sama Buana, diapain ya enaknya?" tanyanya sambil menatap lurus mata Andara.
"Banyak sih rencana gue, tapi belum gue bikin si Buana muntahin paku."
__ADS_1
"Savage! Cinta diempas, dukun bertindak," cetus Natha diiringi gelak Rossa.
"Udah, buruan selesain makan. Habis ini kita koro-koro."
"Yeay!" Ajakan Rossa itu disambut semringah oleh Natha. Bule Jerman yang nggak pernah menapaki kaki di Jerman itu seperti terkejut-kejut akan hedonisme Rossa.
"Tapi sebelum itu ...." Rossa hanya mengerling saat menggantung kalimatnya.
Jika diakumulasi, hampir dua setengah tahun sudah Andara mengenal Rossa. Mereka bertemu pertama kali saat sama-sama menjadi Maba. Di hari pertama, seluruh mahasiswa baru dari seluruh fakultas dikumpulkan di gelanggang mahasiswa. Di tempat itu juga Andara mengenal Rossa. Sama-sama ada di barisan peserta terlambat dan menerima sangsi dari panitia Tatib. Hukuman mereka adalah memunguti sampah. Ringan? Tidak. Karena sampah tercecer yang harus dipungut adalah sampah satu universitas. Sungguh bercandanya panitia sering kelewatan, besarnya universitas mereka itu ratusan hektar.
Setelah luput dari mata panitia, Rossa mengajak Andara lari dari siksaan. Saat Maba yang dihukum mulai berpencar untuk memulung sampah, Rossa yang sudah hafal seluk beluk kampus mengajak Andara menghilang sejenak guna sarapan. "Ya kali, lo mau pungutin sampah sepanjangan jalan. Encok yang ada," rutuk Rossa sambil mengisap jus jeruk.
"Tapi kita nanti harus setor sampah, Cha."
"Gampang." Rossa menunjuk kumpulan sampah yang teronggok di belakang Fakultas Farmasi sambil menyengir.
Begitulah awal kekariban mereka berdua terjalin. Sampai ketika Andara mengenal Natha di Best FM dan mulai kompak, Andara juga mengenalkan Rossa kepada Natha dengan asumsi mereka bertiga sama, sama-sama memiliki jiwa pemberontak.
"Tapi sebelum itu, apa?" tanya Natha terus mencecar penjelasan Rossa setelah mereka makan. Dia membuntuti Rossa yang mulai menyebrang menuju rumah sakit dengan pandangan bertanya-tanya.
Berbeda dengan Andara yang bungkam karena dapat mengendus rencana Rossa. Ia menerka sepertinya Rossa ingin memperjelas pernyataan, dan akan merekayasa bukti.
Seperti baru lepas dari tahanan, Rossa ceria sekali. Dia bahkan menanggung semua biaya karaokean mereka. Jika ditilik dari jumlah uang yang ditransfer pacar Rossa memang traktiran tenderloin tadi belum apa-apa.
"Gue nggak bisa lama-lama, ada siaran jam sepuluh." Andara mengingatkan mereka berdua, saat memasuki ruangan KTV.
"Mabal aja mabal," usul Rossa seenaknya.
"Lempeng amat lo ngomong kayak jalan tol," cibir Andara sembari mengempaskan badan ke sofa.
Di hadapan mereka ada televisi layar besar, remote dan juga mikrofon. Ruangan yang dominan warna abu-abu ini adalah ruangan ekslusif di karaoke yang juga semiprivat. Letaknya satu lantai di atas kelab malam yang biasa mereka kunjungi. Rossa lebih dahulu mencari lagu yang dia ingini dan memutarnya. Suara kekehan cewek itu nyaris mengejutkan jika saja didengar di tempat yang sunyi. Dari lagu yang terputar, Andara tahu niat Rossa di balik itu. "Biar apa lo putar lagu ini?"
"Biar terbiasa, Chu. Sesuatu yang mengingatkan kita dengan mantan itu jangan dihindari, tapi dihadapi. Kalem, kalem, keluarin aja udah!"
Berbagai umpatan keluar dari bibir penuh Andara. Namun, diabaikan dua serigala lainnya. Rossa dan Natha malah sengaja meneriakkan lagu The Cure yang mengingatkannya dengan Buana.
__ADS_1
"However far away, I will always love you. However long I stay, I will always love you. Whatever words I say, I will always love you. I will always love you, " seru mereka kompak. Dua orang itu berlenggok seperti balerina, berputar-putar mesra di ruangan, tidak ada malu dengan pelayan yang masuk dan menyajikan minuman.
Kalau teman akan membesarkan hati orang yang sedang patah hati, dua serigala itu malah memanas-manasi keadaan. Selanjutnya sebuah lagu patah hati malah sengaja diputar dan dinyanyikan mereka. Rossa berdiri di pojok, menatap ke arahnya. "Sandiwarakah selama ini? Setelah sekian lama kita telah bersama. Inikah akhir cerita cinta? Yang selalu aku banggakan di depan mereka. Entah di mana kusembunyikan rasa malu."
Diikuti Natha yang mulai ikut bernyanyi. "Kini harus aku lewati. Sepi hariku tanpa dirimu lagi. Biarkan kini kuberdiri, melawan waktuku 'tuk melupakanmu. Walau sakit ... Namun aku bertahan."
Andara hanya diam dan meneguk birnya. Dia terus saja menolak sodoran mik dari mereka berdua. Belum puas di satu lagu, Rossa memutar lagu lain.
"Tiada yang salah hanya aku manusia bodoh. Yang biarkan semua kini permainkanku, berulang-ulang kali." Mereka berdua tampak harmonis dalam menyindirnya. "Mencoba bertahan sekuat hati. Layaknya karang yang dihempas sang ombak. Jalani hidup dalam buai belaka. Serahkan cinta tulus di dalam takdir."
"Ra, ayo nyanyi, Ra! Scream it out!" Ajakan Natha masih tidak ditanggapi oleh Andara.
"Minum dulu, minum. Biar nggak haus." Rossa menyengir sambil tuangkan bir ke gelas Andara yang kosong.
"Lo tuh yang harusnya minum dari tadi muter-muter mulu kayak kipas."
"Kalem. Toast dulu, dong." Rossa menyenggolkan gelas mereka.
"Gue mau siaran, kampret!"
Rossa hanya tertawa. Lagu baru terputar lagi. Seolah-olah masih berusaha menguji ketahanannya, Rossa memutar lagu Azmi. "Pernah sakit tapi tak pernah sesakit ini. Karena pernah cinta tapi tak pernah sedalam ini. Aku ingin semua cintamu hanya untukku. Memang 'ku tak rela kau bagi untuk hati yang lain," nyanyi Rossa sambil memasang muka memelasnya, membuat Andara berdecak gusar. Dia berulang kali melirik jam tangannya seolah menunggu waktu yang tepat untuk hengkang dari sana.
"Gue cabs dulu, ya." Andara bangkit, tetapi Natha kembali menarik bahunya hingga ia jatuh terduduk.
"Masih satu jam lagi lo siaran, jangan banyak alasan. Satu dua lagu lagi, deh. Mainkan, Cha!"
Sekongkol dengan Natha, Rossa lantas memilih lagu lagi. Kali ini, lagunya lagu dangdut.
"Atiku rasane loro. Nyawang kowe rabi ro wong liyo. Nangis getih eluhku, remuk ajur rosoku. Kowe tego ninggal aku." Mereka berdua bergoyang-goyang, mengabaikan Andara yang semakin sangar.
"Mas, opo kowe lali karo sumpah janjimu? Biyen bakal ngancani urip tekan matiku. Pancene kowe tego medot tali asmoro. Rabi karo wong liyo, mblenjani tresnoku nelongso..."
Natha mulai menambah-nambahi lagu dengan ber-'Eaaaa... Eaaaa...' yang ingin sekali Andara pukul. Dia sudah lelah mengumpati dua serigala betina itu dan beranjak keluar. Tangannya ditarik Natha. "Satu lagu lagi, beneran," janji cewek itu, "tapi lo mesti ikut nyanyi juga."
Suara gendang mengentak-entak lagi. Andara sudah menerima mik dari Natha. Dia menoleh ke layar, ingin tahu lagu apa yang diputar mereka. Tampak di layar seorang penyanyi dangdut yang tidak dikenal Andara. Mengetahui dirinya tidak begitu tahu lagu itu, Rossa lebih dahulu bernyanyi sambil memutar pinggulnya.
__ADS_1
"Apa salah dan dosaku, sayang? Cinta suciku kau buang-buang. Lihat jurus yang 'kan kuberikan. Jaran goyang, jaran goyang...."
Sialan memang. Andara bergegas meninggalkan ruangan karaoke dan dua teman laknatnya itu.