
"Saya belum membakar, Anda sudah kebakaran."
🔥🔥🔥
Prof. Taufik serius sekali menjelaskan di depan, sedangkan Andara sedari tadi hanya duduk menekur. Dia sebenarnya masih ingin tidur, tetapi Buana malah menggeretnya ke kampus.
Bisa dibilang Buana terasa semakin aneh. Jika dahulu cowok itu akan marah-marah mengetahui dia mabuk atau dugem, semalam tindakan Buana justru sebaliknya. Sikapnya sangat dewasa. Andara tercengang kala mengingat perlakuan yang berbanding 180 derajat itu. Tidak ada marah, berteriak, membentak atau mencekik disertai wajah mencekam ala Buana. Sosok itu malah menjelma seperti sahabat yang sangat pengertian, tidak memaksa bercerita juga tidak mencecar apa pun.
Cap bajingan karena cowok itu tetap memintanya berhubungan intim setelah putus pun seakan luntur. Tadi malam, tidak terjadi apa-apa antara mereka berdua. Padahal jika Buana berniat jahat, bisa saja tubuhnya yang selemah jelly itu digarap tanpa permisi. Jika kejahatan terjadi karena ada niat dan kesempatan, jangan lupa, semalam ada kesempatan besar, toh Natha tidak pulang. Alih-alih berbuat yang nakal, Buana malah memeluknya sepanjang malam, meninabobokannya.
Sikap paradoks Buana terlalu memusingkan, menyebalkan bin rumit. Apa sih yang jadi rencana dan kehendak cowok itu? Mengapa Buana bisa hangat dan dingin bersamaan? Mengapa Buana meninggalkan juga merengkuhnya bersamaan? Mau Buana apa sebenarnya? Ingin membuat dia jatuh dua kali di lubang yang sama? Atau Buana juga masih memiliki perasaan yang sama dengan dia? Jika benar seperti itu lalu mengapa meninggalkan jika masih ingin bersama?
Andara menghela napas lelah, teringat saat terbangun tadi. Dia mendapati bubur ayam di atas meja makan. Ruangan juga cukup rapi untuk ukuran dibersihkan oleh seorang lelaki. Bantal-bantal di ruang tamu sudah tersusun kembali, bunga dan vas sudah duduk cantik di atas meja. Hanya saja, bantal yang terburai-burai kemarin dibungkus ke dalam plastik hitam dan ditaruh di sebelah kotak sampah. Kondisi dapur juga lumayan resik, botol Chivas dan seloki tidak ada di sana. Ketika Andara masih bingung dengan semuanya, datanglah Buana dengan penampilan segar penanda habis mandi, mengajaknya makan, memaksanya kuliah dan hingga detik ini, cowok itu bersikap biasa saja seolah-olah di antara mereka tidak pernah ada kata 'putus'.
Penjelasan yang diberikan Prof. Taufik hanya melintas di depan mata tanpa sempat menyangkut di otak, Andara malah memikirkan orang yang duduk di sisi kanannya. Kenapa Buana kelewat manis saat dia sudah menyiapkan rencana busuk? Apa sekarang bukan cewek lagi yang doyan tarik-ulur? Mungkinkah jurus itu sudah dikuasa para cowok juga? Buana salah satunya.
Sambil menopang dagu, dia memutar-mutar pulpen di tangan. Ahli sekali Buana membolak-balik hati. Seharusnya dari awal dirinya tahu kalau cowok itu berbahaya, menantang tetapi menyesatkan. Tetapi bagaimanapun itu, kejadian semalam membuat Andara gamang atas eksekusi rencananya untuk Buana dan Nina. Dia sibuk dengan pikiran sendiri dan spekulasi-spekulasi hingga tidak menyadari ada mata yang memperhatikan sedari tadi.
"Ses," bisik Vina mendekatkan muka. Reporter sebuah majalah anak muda yang duduk di sebelah kiri, menyentak lamunannya. Andara menaikkan dagu sedikit untuk bertanya dan Vina menambahkan penjelasannya, "Itu ... dilihatin laki lo melulu dari tadi. Ngelamun aja, sih."
Seketika Andara menoleh dan Buana tertangkap basah sedang menatapnya. Ada ekspresi gelagapan yang berusaha diredam dengan cara membuang muka saat Andara berusaha menganalisis tatapan Buana. Tetapi semakin dia berpikir, semakin dia tidak bisa membahasakan sorot mata Buana sehingga Andara akhirnya memilih memasang tampang tidak acuh.
"Kalian lucu deh," tambah Vina tersenyum simpul.
Andara berdecap pelan. Mereka lucu? Yang lucu itu Buana, bisa ciptakan keadaan mengesalkan juga menyenangkan dalam satu waktu. Dia sodorkan segaris senyum untuk membalas Vina, sekadar berbasa-basi karena dibanding cewek-cewek seangkatannya, dengan Vina-lah interaksi Andara cukup baik. Mereka sering bertukar informasi tentang narasumber. Andara sering memberikan rekomendasi band-band indie untuk diwawancarai Vina dan Vina sering memberikan tawaran menarik untuk acara Indiebest-nya dahulu. Walaupun Andara sudah tidak menjadi Creative Production Indiebest, hubungannya dengan Vina cukup baik. Nggak bisa dibilang tidak terlalu akrab tetapi mereka saling membantu. Jadi, apa pun komentar Vina barusan dia anggap lalu. Lagi pula cewek itu tidak tahu apa yang terjadi dengannya dan Buana.
Perhatian Andara teralih ke ponsel yang bergetar-getar. Pesan masuk dari Rossa.
Rossa Indira: Angkat telepon, plis.
Andara Ratrie: Kuliah.
Rossa Indira: Izin ke toilet, bentaran aja, Chu. Buru!
Jangan-jangan. Ingatan Andara kembali pada terakhir dia bersama Rossa. Apa skenario hamil pura-pura Rossa ketahuan? Tanpa sempat berpikir ulang, kaki Andara mendadak berdiri. Dia izin ke toilet kepada dosen. Ditinggalkannya ruang kelas dengan terburu-buru agar langsung menelepon Rossa. "Kenapa?" tanyanya langsung ketika Rossa mengangkat telepon. Badannya bersandar pada dinding depan toilet.
"Kuliah sampai jam berapa lo?"
"Jam sebelas, habis itu siaran. Kenapa?" Diulanginya pertanyaan yang sama, was-was jika kebohongan Rossa terbongkar. Ya, bagaimanapun itu menyangkut dirinya juga. Roni kan memercayainya jadi jika Rossa ketahuan berbohong berarti dirinya juga terikut-ikut. Dia tidak ingin menjadi Rossa, yang sampai sekarang tidak begitu disukai oleh Buana karena pernah ketahuan bohong. "Yang kemarin ketahuan?"
Andara dapat mendengar kekehan Rossa sembari dia menunggu jawaban. "Nggak, kok. Aman! Gue lagi nginap di Kempinski, minta bukain kamar suite sama Roni buat kita. Lo sama Natha nanti ke sini, ya, Chu."
"Wih, sakti memang lo. Dalam rangka apaan?" desis Andara. Kamar suite itu bukan main-main. Dirinya tidak habis pikir kenapa Rossa bisa memiliki banyak taktik jitu dalam hal melemahkan laki-laki.
Suara gemerisik terdengar di ponsel, menemani suara Rossa yang masih saja riang. Mungkin anak itu sedang berguling-guling di ranjang yang super besar. "Gue bilang, dia harus terima kasih sama bantuan kalian. Jadi, gue minta kamar buat girls time," jelas Rossa. "Pokoknya balik siaran langsung ke sini, ya. Gue udah bilang sama Natha juga. Oke?"
Telepon selesai ketika Andara mengiakan permintaan Rossa. Namun, ketika ia melangkah hendak kembali ke kelas. Sebuah panggilan masuk lagi tepat saat Andara melintas di tengah taman.
"Ada yang dapat saya banting, Kamerad?" jawabnya setelah menggeser tombol hijau.
__ADS_1
"Di mana Anda, Kamerad?"
"Di kahyangan." Andara mulai menyengir, mengetahui dengan pasti kalau Kin akan kesal mendengar jawabannya itu. Dia lantas duduk di sebuah bangku semen, di bawah pohon akasia. Bunga-bunga kuning dari pohon itu melayang jatuh membuat taman kampus seolah berada di musim gugur.
Kin tergelak. "Mimi Peri?" selanya terputus lalu bergumam, "Ya ... mirip, sih." Lantas tertawa panjang.
"Heh! Udah berani, ya?! Pulang lewat mana lo?!" sentak Andara berusaha judes. Seperti senior yang melabrak adik kelas dan berusaha membuat efek takut.
Bukannya reda, Kin malah menambahi, "Lewat jalan yang diridhoi Allah, Kak."
"Sialan!" Andara ikut terkekeh. "Kenapa, Beb? Kangen, ya?" tanyanya memasang suara centil, berniat menjaili Kin.
"Iya, kangen banget pengin lelepin lo ke Samudra Pasifik."
"Jahatnya. Udah nggak sayang lagi sama aku?" Bibir Andara menyengir. Perutnya geli sekali dan dia kembali tertawa mendengar Kin menajis-najiskan dirinya. "Biasa aja nggak pakai najis berapa, Bang?"
"Nggak bisa, Neng. Udah sepaket!"
"Situ pikir situ KFC?! Udah pakai paket-paket aja!" Seruannya membuat Kin tertawa lagi. "Ketawa terus lo. Bayar!"
"Iya, nanti gue bayar pakai cinta," ujar Kin sok manis, masih dengan bias-bias tawa.
"Bangke!" maki Andara, tetapi dia ikut tertawa setelahnya. Mukanya juga memanas. Mereka berjawab-jawaban tidak mau kalah; mengejek, menggoda dan memaki kemudian tertawa lagi. Begitu terus sampai Kin bilang tujuannya menelepon.
"Gue lagi di sekitar kampus lo. Kata Natha, lo siaran siang. Mau bareng ke Best? Biar gue jemput."
"Cielah... Jemputnya pakai cinta nggak?" Andara tergelak sambil menengadah, memandangi bunga-bunga akasia di atasnya.
Eh, selesai? Andara menoleh ke arah kelas dan baru sadar kalau kelas sudah bubar. Ada Buana berdiri di dekatnya sambil bersedekap diiringi tatapan dingin, entah sejak kapan. Tas yang tadi ditinggal di kelas juga sudah dibawakan cowok itu. Andara ingin berterima kasih saat tas itu diulurkan ke arahnya, tetapi aura Buana tidak dalam keadaan yang bersahabat. Dia berbasa-basi sedikit dengan Kin dan menutup telepon.
"Bilang sama pacar kamu, kalau nelepon itu jangan pas orang lagi kuliah."
Andara menggaruk kepala, bingung. Kan sebenarnya tadi yang menelepon duluan itu Rossa. Malas menjelaskan, Andara mengalihkan kesibukan dengan periksa isi tas, memastikan buku dan pulpen sudah dimasukkan kembali oleh Buana.
"Tadi Prof. Taufik sampai tanya kenapa kamu nggak balik-balik," jelas Buana. Mata tajam itu jelas terlihat berbahaya. "Kalau kamu nggak bisa bilang sama dia, sini biar aku yang bilang."
"Iya, nanti gue bilang." Andara tidak ingin memperpanjang keadaan. Dia menggumam terima kasih dan ingin beranjak pergi. Dari balik kaca yang memisahkan taman, lobi dan parkiran, Andara dapat melihat jip merah Kin di ujung sana. Warna menterengnya mudah dikenali apalagi merek mobil Kin itu bisa dibilang merupakan rajanya SUV di Indonesia.
"Mau ke mana?" potong Buana menarik tangannya.
"Siaran."
"Biar aku antar."
"Nggak usah."
"Mentang-mentang sekarang ke mana-mana dijemput Range Rover, nggak mau lagi naik motor?" sindir Buana menaikkan sebelah alis.
Rupanya Buana menyadari kedatangan Kin. Wajar sih sebenarnya, kelas mereka kan tepat bersebelahan dengan tempat parkir. Ada kaca-kaca besar yang membuat penghuni kelas bisa melihat ke arah luar. Jadi, apakah Kin sudah datang dari tadi? Andara semakin ingin bergegas. "Ngomong apa sih lo? Ya udah ya, gue duluan," tandasnya sembari melepas pegangan Buana.
__ADS_1
Buana kembali menangkap tangannya, menandakan masih ingin menyampaikan sesuatu. "Hati-ha...."
"Buana!"
Namun, datang sebuah bentakan menyela mereka berdua. Membuat Buana mendadak diam dan juga menimbulkan perhatian dari banyak mata yang sedang berlalu di koridor itu. Nina datang sambil berkacak pinggang. Mata itu mengarah ke tangan Buana yang sedang memegang tangannya. Cewek itu melerai gandengan Buana, membuat Andara seolah-olah adalah pelakor yang bermain di belakang pacar sah. Andara menelan ludah. Oh, tidak. Ini nggak pernah ada dalam rencana atau bayangannya. "Kata kamu mau kuliah. Nyatanya berduaan sama dia!"
Sebelum cewek itu makin memperunyam keadaan, Buana menarik Nina ke arah parkiran motor. Andara masih tegang sambil mengerjap-ngerjap menonton mereka. Waw, ada apa ini? Dia mundur perlahan dan memilih pilar yang aman untuk melihat keributan secara langsung. Namanya terdengar disebut-sebut bahkan diteriakkan oleh Nina. Cewek itu menunjuk-nunjuk Buana dan Buana menepis tangannya. Ups! Andara menutup bibir dramatis. Kalau ada Natha, pasti sudah direkamnya. Kan lumayan, bisa viral. Harusnya Nina bersyukur lho, dirinya tidak suka mengekspos privasi orang lain. Apa direkam saja, ya? Andara terkekeh sebentar.
"Mana dia?! Aku mau ngomong sama dia!" Nina berusaha masuk lagi ke arah koridor Fakultas Hukum, tetapi dihalangi Buana.
Sadar jika dirinya menjadi sumber keributan, Andara melangkah mundur dengan kedua tangan di saku. Masih ada sisa tawa di bibirnya sambil berlari kecil ke arah mobil Kin lewat lobi. Dia dapat mendengar Nina memanggil namanya saat menyeberangi parkiran tetapi dia hanya membalikkan badan dan melambai mereka berdua. Mendarat cantik di jok mobil Kin lalu meminta Kin meninggalkan kampus dengan segera.
"Kenapa lagi tuh?" tanya Kin sambil memutar setir.
"Biasa ... drama," ujarnya sambil mengutak-atik pemutar musik dan menyetel kompilasi lagu miliknya yang sudah di-mixing.
"Kok bisa?"
Andara hanya mengedikkan bahu sambil tersenyum. "Tadi waktu Buana lagi ngomong sama gue. Ujug-ujug itu cewek datang terus marah."
"Lo masih ngomongan sama dia?" Kin menoleh sebentar lalu melihat jalan lagi.
Jangankan ngomong, rencana busuk pun ada. Rasanya Andara ingin berkata seperti itu. Namun, dia malah menjawab lain, "Ya, namanya sekelas. Tadi ada tugas, dia sekelompok sama gue."
Kin terlihat bergumam. Cowok itu menyodorkan sebotol minuman dingin yang baru dibeli. "Ngehadap dosen aja, minta ganti kelompok. Daripada dituduh-tuduh sama cewek dia."
Kepala Andara mengangguk-angguk setelah menegak minuman dari Kin. Dia sebenarnya masih merasa lucu atas perilaku Nina. Padahal rencana busuknya belum ada dijalankan satu pun karena merasa berterima kasih atas bantuan Buana semalam. Bagaimana jika rangkuman ide Rossa diimplementasikannya coba? Wah, mati berdiri mungkin si Nina itu.
"Ini punya siapa, Ra?" komentar Kin tentang musik yang terputar.
"Gue."
"Lo yang mixing?" Mata sipit itu terbelalak dan meminta penjelasan, tepat ketika lampu merah menyala. "Bisa?"
"Wei, sepele lo! Ya, bisalah. Radio DJ, lho, ini." Dia sedikit menaikkan dagu. "Kalau ruang produksi kosong, suka gue pakai buat belajar mixing. Cakep, nggak?"
"Cakep. Bikinin gue juga, dong."
Jempol Andara terangkat ke atas. "Siap. Nanti Dmitri sama David Guetta juga gue masukin. Oh, iya, sama Mr. Brightside favorit lo itu."
Lampu merah sudah berganti hijau dan mobil Kin kembali berjalan. Pengendara di sekitar mereka tidak sedikit yang terlihat mengamati mobil Kin. Untungnya kacanya tidak tembus pandang, Andara tidak merasa seperti ikan dalam akuarium.
"Eh, jadi 'kan ZoukOut?" Kin teringat pembahasan mereka ketika membicarakan DJ.
"Jadi. Beres, Kamerad!" jawab Andara sembari menggoyangkan pelan bahunya.
"Benar, ya?" Cowok itu seperti memastikan.
"Iye. Bungkus! Bawa pulang semuanya." Mereka kemudian tertawa bersama, menikmati musik racikannya.
__ADS_1
Yang Andara tidak sadari, mungkin itu saat terakhir dia bisa berbincang lepas dengan Kin sebagai teman dekat karena nantinya antara mereka tidak seperti dulu lagi.