Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Is Love Blind?


__ADS_3

"Jatuh cinta boleh, buta jangan."


šŸ”„šŸ”„šŸ”„


"Den!" Seseorang memanggil Deni dan mendekat ke meja mereka ketika Kin baru saja meletakkan kopi. Ini kopi keduanya hari ini. Dia perlu lebih banyak kopi lagi, bukan hanya karena mengantuk. Kin merasa kepalanya pusing setelah mengantarkan Andara ke pintu keberangkatan. Bandara Changi masih ramai, dan hati Kin terasa sebaliknya.


Deni menoleh, mendapati seseorang tersenyum semringah. "Weits,Ā Bro!" Deni mengepalkan tangan dan menempelkan ke kepalan tangan si penegur.Ā  "Apa kabar lo?"


Rexy masih memamerkan giginya. "I'm blessed. Wah, gila langgeng banget sih lo sama Diska. Apa kabar kalian berdua ini?"


"Baik," jawab Diska sambil tersenyum. Rexy tampak tidak banyak berubah semenjak SMA. "Udah lama kita nggak ketemu, ya."


"Exactly. Tahun lalu kita ketemu, ya?" Deni mengangguk sambil memperhatikan Rexy. Cowok itu mendorong sebuah koper berukuran sedang dan wajahnya terlihat seperti baru bangun tidur. Deni lantas menyimpulkan jika Rexy baru saja tiba. "Baru sampai? Sama siapa,Ā Bro?" tanyanya menoleh sekitar.


"Sendiri aja.Ā Gue ada perlu sama teman di sini." Rexy lantas menyadari kalau di meja itu tidak hanya ada Deni dan Diska saja, ada Kin yang sedari tadi diam dan khusyuk dengan kopinya. "Eh, sori. Gue ganggu nggak kalau gabung di sini?"


"Nggak, santai aja," balas Deni mengajak Rexy duduk.


"Kalian mau berangkat?" Rexy menaruh cangkir plastik berisi es kopi. Kopernya disandarkan di belakang kursi.


"Kami baru dari antar teman balik. Ceweknya si Kin," tutur Deni sambil mengedikkan dagu ke arah Kin. Setelah berkata demikian, Deni lantas membulatkan mata. Pandangannya beradu dengan mata Kin. Dia teringat kalau Andara mantannya Rexy, dan sepertinya Kin juga menyadari hal itu.


Rexy mengangguk pelan dan menoleh ke Kin di samping. "Apa kabar, Kin?" tanyanya sambil mengisap es kopi. Mereka memang satu SMA dahulu, tetapi Kin tidak terlalu dekat dengan Rexy.


"Baik," jawab Kin sambil mengembalikan pandangan ke gelas kopinya. Dia sedang tidak ingin berbasa-basi, apalagi dengan mantan-mantannya Andara.


"BTW, lo pacaran sama Andara?" Rexy sepertinya masih memusatkan perhatian kepadanya. "Gue lihat di IG lo waktu itu, sih. Si Andara jugaĀ postingĀ foto yang sama pakaiĀ love-loveĀ gitu."


Suasana jadi mendadak asing. Mungkin hanya Diska yang tidak menyadari kalau pembicaraan itu berbahaya. Cewek itu masih santai menggigit brownies sambil melihat layar ponsel.


"Iya. Kenapa?" Kin meletakkan cangkir kopi yang sedari tadi digenggam. Badannya pun sudah bergeser, dan menatap Rexy.


"Dia mantan gue." Rexy menerbitkan senyum yang tampak aneh. Sumpah demi apa pun, Kin tidak peduli tentang itu. Jauh sebelum kenal dengan Andara, dia sudah tahu perihal tersebut.Ā Kin hanya mengangguk untuk menanggapi kalimat Rexy barusan.


Diska yang mendengar hal itu langsung mendongak. Matanya menatap Rexy dan Kin bergantian. Dari gestur Kin yang terlihat, dia lantas menyadari kalau keadaan menjadi tidak nyaman. Diska menoleh ke Deni, dan mengajak sang pacar untuk temaninya melihat kue di etalase kasir. Mereka memberi Kin dan Rexy waktu untuk berbicara empat mata.


"Lo udah lama ya jadian sama dia? Soalnya foto lo berdua sama dia kan udah beberapa bulan yang lalu. Gue juga lihatĀ vlog-nya Natha yang ada lo dan Andara."


Entah apa maksud Rexy mengorek itu, tetapi Kin tergoda untuk membalasnya. "Iya, udah beberapa bulan," ulasnya sambil tersenyum. Apakah kalimat 'Lo masa lalunya, gue masa depannya' akan berlaku juga kepada Rexy? Kin mulai menimbang-nimbang ini.


"Wah, untuk ukuran Andara sih itu lama. Berarti dia beneran udah putus ya sama Buana?" Rexy mengangguk-angguk sendiri kemudian terkekeh. "Lo udah dapat apa aja? Gue cuma semingguan sama dia, tapi, lumayanlah."


"Maksud lo?" Kim mengemam. Sedari tadi dia sudah berusaha keras untuk singkirkan kebimbangan atas Andara. Sisihkan rasa kesal begitu menyadari fakta kalau janji antara Andara dan Buana masih ada. Lalu datang lagi pengganggu yang memperparah remasan di hatinya.Ā  Sesungguhnya Kin tidak peduli masa lalu pasangannya. Dia tidak ingin tahu. Masa lalu hanyalah masa lalu, dan dia tidak suka jika keadaan itu dibawa-bawa atau masih bermain di kehidupan sekarang.


"Masa nggak dapat apa-apa? Ciumannya kan jago." Rexy kembali mengisap minumannya dengan santai, seolah-olah sedang membicarakan gosip artis. "Gue rasa dulu Buana pasti udah dapat jatah dari Andara. Posesifnya luar biasa itu cowok."


Gelembung kecil yang sedari kemarin menggelegak dalam dirinya kini meruap. Kin tidak tahu bagaimana bisa tangan itu bergerak di luar kendali dan menyiramkan isi gelas ke muka Rexy. Mengabaikan Rexy yang gelagapan, Kin memeringati cowok itu dari sudut mata agar diam.


"Lho, kok lo marah? Gue kan bilang yang benar." Rexy menyeringai sambil mengusap mukanya yang basah. "Nggak usah sombong,Ā Bro. Dia tetap bekasan gue!"


Kin sudah tidak bisa menolelir lagi. Jangan salahkan Kin jika dia mengayunkan kepalan ke muka Rexy. Terdengar Diska memekik dan Deni lari selekasnya ke arah mereka.


"Kin, kontrol," desis Deni sembari merangkul sepupunya. Tidak pernah Kin lepas kendali seperti ini.


Beberapa pengunjung kedai kopi terlihat menoleh ke sudut mereka. Diska menangkupkan tangan ke arah mereka guna meminta maaf dan meyakinkan jika tidak ada masalah apa-apa.

__ADS_1


Rexy terkekeh sumbang sembari mengusap sudut bibir yang terasa perih. "Cewek begitu lo belain."


"Gue nggak suka lo ngomongin pacar gue kayak gitu." Tunjuk Kin ke muka Rexy.


"Oke, oke." Rexy tersimpul miring lalu meraih kopernya. Dia juga tidak ingin jadi tontonan.


Mendorong koper ke arah luar, Rexy membisiki Kin sesuatu saat mereka berpapasan. "Tapi ... gue sering lihat pacar lo masih jalan sama Buana. Kadang di Best, kadang nonton. Yakin dia nggak selingkuhin lo?"


Rexy pergi dengan sunggingan kemenangan. Andaikan Deni tidak menghalangi, sudah akan ditonjoknya lagi muka Rexy. Sialan memang. Kin mengeram kesal, masih mengepalkan tangan kuat-kuat.


"Kin, santai,Ā Bro." Deni menepuk-nepuk bahu Kin. Cowok itu mengajak Diska dan Kin meninggalkan kedai kopi. Mereka berjalan beriringan ke parkiran. "Emosian amat, Bos."


"Gue nggak suka mulutnya," desis Kin sambil memijat pelipis.


Deni mengangguk paham. "Ya, lo kayak nggak tahu gimana bacot dia. Harusnya nggak usah lo dengarin. Ini pakai kepancing segala."


"Karena bacotnya nggak bagus, makanya perlu gue ingetin. Coba gue tanya, lo suka nggak kalau Diska diomongin macam-macam?"


"Enggak, sih. Ya udah, balik, yuk. Lo jadi ke apart gue, kan?"


Kin menggangguk lesu. Dia perlu istirahat di apartemen Deni dahulu, untuk tidur atau sekadar rebahan. Yang jelas dia perlu mengisi tenaga sebelum kembali ke Johor. Pusing di kepalanya makin menjadi-jadi setelah bertemu Rexy.


***


Pintu apartemen terbuka saat Kin sudah bangun dari tidur, tetapi masih menggeliat malas-malasan di kamar.


"Ngantuk, 'kan? Gaya banget sih pakai begadangan sampai pagi segala." Deni mendatanginya sambil menaruh sebuah plastik yang di dalamnya berisi burger dan kentang goreng.


"Berisik." Kin bergerak sedikit, ikut meraih plastik dan mengambil kentang goreng. Sudah pukul tiga sore, pantas dia merasa sangat lapar. "Diska udah lo antar pulang?"


Kin hanya tersimpul miring tidak peduli. Setiap orang memiliki sisi buruk. Setiap orang tanpa kecuali termasuk dia. Hanya saja, orang yang acap kali terlihat baik bisa jadi adalah mereka yang bisa menyembunyikan dan memerangi sisi buruknya. Begitu juga Kin, selama ini dia tidak pernah merasa terganggu oleh sesuatu. Sekitarnya selalu dapat dikendalikan. Jika ada yang tidak dia suka, cukup dia jauhi atau hindari dan semuanya selesai.


Namun, berbeda belakangan ini. Sebab sekarang bukan tentang Kin saja, ini juga tentang Andara. Mulut-mulut tidak beradat seperti Buana atau Rexy perlu diperingati.


"Memang kalau udah cinta, ya," tambah Deni terkekeh. "Kucing pun bisa berubah jadi macan."


Kin mendengkus, tahu yang sedang dibahas Deni. Apa lagi kalau bukan kejadian tadi? "Kalau tadi gue nggak mikir ituĀ public place, bisa lebih parah dia."


"Ngerih! Itulah coba-coba ganggu Permaisuri Kaisar. Si Rexy ini benar-benar cari mati," ujar Deni masih tertawa. Cowok itu ikut meletakkan badan di sofa, memandang televisi yang hidup dan menampilkan filmĀ action. "Eh, tapi gue penasaran. Memang si Rexy bilang apa sampai lo ngamuk begitu?"


"Dia jelek-jelekin Andara."


"Iya, gue tahu dia jelek-jelekin, tapi dia bilang apa?" Deni memang tidak mendengar dengan jelas semuanya. Dia hanya mendengar sepenggal-sepenggal kalimat dari Rexy. Itu pun tidak jelas karena bibir cowok itu robek.


"Ada lah." Kin memilih tidak menjelaskan kepada Deni. Masalah ini jika diceritakan akan memicu cerita-cerita lama terbahas juga, dan sekali lagi, ini tentang Andara yang dia tidak ingin satu orang pun tahu. Termasuk Deni.


"Buset. Rahasia terdalam banget kayaknya." Deni menggoda Kin dengan mencolek bahunya. "Yakin nggak mau cerita?"


Kin menepis jawilan Deni. "Apa sih coel-coel?!"


Bukannya tersinggung, Deni malah terbahak. "Parah sih lo! Yang awalnya nggak pernah emosi jadi emosian, sekarang nggak mau cerita lagi sama gue. Nyet, lihat aja kalau ada apa-apa minta bantuan gue, ya!"


"Cemen, bisanya ngancam." Kin melengos, kembali menatap televisi. Tangannya mulai menyuap kentang goreng ke dalam mulut.


"Tapi ... memang beda, sih. Efek Andara ini memang gede banget di diri lo, ya. Jujur sama gue, lo pasti udah suka sama dia dari pertama kali kita kenalan, 'kan?" Alis Deni sudah naik turun ketika Kin menoleh. "Udah nggak usah ngeles. Kebaca!"

__ADS_1


Tawa Deni lepas lagi. "Lo yang paling malas ke mana-mana kalau lagi balik ke Jakarta, mendadak rajin banget ke Splash, mau-maunya anterin mereka ke Best. Anak-anak juga bilang lo sering kelihatan di sekitar kampus. Terus lo sampai jalan-jalan ke Green Canyon segala. Halus banget modus lo!"


Dicecar Deni dengan fakta-fakta, Kin hanya bisa melempar kentang ke sepupunya itu.


"Benar, 'kan? Halah, mau ngeles apalagi lo?!" Deni sampai memegang perutnya yang geli. "Wajar sih kalau dibelain kayak gitu. Lama banget perjuangannya. Biasanya kan cewek duluan yang suka sama lo."


"Diam, Den!"


"Oh...Ā No,Ā no. Sekarang gue paham kenapa Ririn resek banget waktu itu. Mungkin dia udah sadar kalau lo suka sama Andara dan jadi berubah sama dia."


Kin berdecak meski mulutnya penuh. "Nggak ada hubungannya sama Ririn. Gue putusin dia karena makin nggak nyaman. Teleponin gue tiap menit, minta VC tiap hari, nggak dikasih kabar dia ngambek. Capeklah."


"Karena Ririn rasa lo ngejauh dari dia," ujar Deni. Dia dan Diska adalah orang yang menjadi tempat pengaduan Ririn kala itu. Namun, baik Deni dan Diska tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa meminta Ririn untuk sabar dan berusaha memperbaiki hubungan.


"Dan dengan dia kayak gitu, gue bakal lebih ngejauh lagi karena ilfeel. Dia pakai nge-DM Andara tanya-tanya apa hubungan kami berdua. Ampun, deh."


"Tapi memang benar 'kan lo suka sama Andara dari lama?" desak Deni.


Jeda sebentar, Kin lalu mengangguk.


"Anjir! Kan benar!" Deni menepuk bantal sofa sebelum rebahan. Sepertinya dia berhasil mengorek Kin dan cerita ini cukup menarik. "Terus ... kalau nanti Andara bikin lo nggak nyaman juga gimana?"


"Dia nggak mungkin kayak Ririn. Nggak mungkin bangetlah Andara kayak gitu." Kin tiba-tiba ingat sang pacar belum memberi kabar dan langsung menyambar ponsel. Lantas dia tersenyum ketika mendapati kabar dari Andara.


Kepala Deni terangguk, bibirnya menyungging mengamati tingkah sang sepupu. Kin tidak akan menyadari perubahan dalam dirinya, tetapi Deni sadar akan hal itu. "Mungkin pacar lo yang sekarang bukan tipe cewek yang minta kabar terus, minta VC terus, tapi pasti ada lah hal-hal yang bikin lo nggak nyaman. Apalagi jatuh cinta yang sekarang dahsyat banget kayaknya."


"Gue juga pernah suka sama Diska, kalau lo lupa." Kin meraih remote, mengganti tayangan televisi. Film pukul-pukulan makin membuat atmosfir terasa panas.


"Beda." Deni menggeleng. "Lo sama Diska cuma perasaan sesaat biasa. Waktu lo tahu Diska sama gue, lo mundur. Waktu gue putus dan lo ada kesempatan pun nggak lo ambil. Tapi waktu lo tahu Andara udah punya pacar, lo tetap dekat aja sama dia.Ā Case-nya kalian masih sama-sama punya pacar lho."


Kin diam lagi. Tangannya berhenti memencet remote. "Gue nggak nikung, Den."


"Gue nggak bilang lo nikung." Deni kembali memainkan alis sambil menahan tawa. "Cuma pintar ambil selah."


Bungkus kentang yang kosong dilempar Kin dan sampai ke muka Deni. Cowok itu lalu bergerak menutup mukanya dengan bantal. "Asal aja lo nuduh!" protes Kin.


Deni terbahak lagi dari balik bantal. "Benar kata Rexy, lo kenapa marah? Kalau nggak terima ya udah, setiap orang kan punya pendapat?"


"Oh, lo jadi mau ngebela Rexy?" Kin menoleh kembali ke Deni dan menaikkan alis. Selama ini kedekatannya dengan Deni sudah seperti saudara kandung. Dia akan kecewa sekali jika Deni yang tidak tahu apa-apa sampai memihak Rexy.


"Bukan gitu." Tangan Deni mengibas di udara. Dia tidak ingin Kin salah tanggap atas reaksinya. "Maksud gue gini. Gue percaya Andara baik, dan jujur, gue juga seneng lo sama dia. Lo jadi lebihĀ happy. Tapi biasanya, seenggak suka lo sama pendapat dan komentar orang, Kin yang gue kenal selalu telaah dulu, selaluĀ cross check. Ya, jangan sampai jatuh cinta bikin lo buta. Itu aja sih yang bisa gue ingetin."


Kin tidak menjawab, tetapi dalam hati dia membenarkan ucapan Deni. Dan kalimat itu terus tersimpan di benak Kin sepanjang perjalanan pulang ke Johor.


šŸ”„šŸ”„šŸ”„


Hai! Ada yang punya mantan resek kayak Rexy? 🤭


Yah, namanya mantan. Kadang ngangenin, banyak nyebelin.


Oh, iya, aku mau kasih tahu kalian kalau cerita Pembalasan Andara ini sekarang ekslusif hanya ada di Mangatoon aja. Cerita ini sudah ditarik di aplikasi baca orange sama tosca. Uhuk.


Ajakin teman-teman, kenalan, kakak, adik, sepupu buat baca ini ya, gaes.


Terima kasih. šŸ™

__ADS_1


__ADS_2