Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
General Relativity


__ADS_3

"Dan kali ini, saya mengerti bagaimana Relativitas Umum bekerja."


🔥🔥🔥


"Ya Allah, berikanlah hamba pacar seperti Roni," ucap Andara sembari menengadahkan tangan ke atas. Kakinya melangkah masuk ke kamar mandi. Bathtub putih besar nan berkilap itu sudah penuh terisi busa dan dua serigala cantik sedang berendam di sana sembari memandang Bundaran HI yang tampak sibuk sore ini.


Rossa melirik sambil terkikik. "Lo mau nikung Roni?"


Handuk yang melilit terbuka dan Andara ikut masuk ke dalam bathtub, merendam badan hingga air setinggi dada. Air hangat dengan harum bunga lili yang menenangkan terasa begitu nikmat. "Nggak begitu juga keleus. Masih punya adab gue! Masa pacar temen sendiri diembat?!"


Natha yang sedari tadi mengusap badan dengan limpahan busa ikut menyengir. "Udah... Kin aja udah," selanya sambil memainkan alis.


"Gila." Andara membuang pandangan ke arah jendela besar di sebelah bathub, memandang sepasang patung yang sedang memegang bunga dan melambaikan tangan tepat di tengah bundaran dikelilingi kolam. Kamar mandi suite ini seperti sengaja memakai kaca besar sebagai pembatas antara ruang yang ditempati dengan dunia luar. Seperti memanjakan pengunjung yang ingin berendam untuk sekalian menonton kegiatan di Monumen Selamat Datang.


"Dia sering tanyain lo kali." Natha kemudian tergelak karena lirikan tajam Andara. Jari telunjuk dan tengahnya terangkat dari busa-busa. "Suer!"


Rossa juga tertawa. "Gas! Gas!"


"Mobil kali ah digas." Andara menatap mereka berdua. "Dia ngajakin ZoukOut. Ikut, yuk?"


Baik Natha maupun Rossa tak henti-hentinya menyengir dan saling lirik satu sama lain. Andara tahu sekali apa arti sorot mata dua sahabatnya itu. "Nggak usah mikir macam-macam, deh."


Rossa menenggelamkan seluruh badan lalu naik lagi ke permukaan. Senyum di muka cewek itu masih ada ketika bertatapan dengan Andara. "Sudahlah. Chu, lo itu jomlo. High quality jomlo. Ya, kalau lo mau jalanin rencana kita yang kemarin, bukan berarti nggak boleh punya pacar, 'kan? Malah pukulan telak lagi buat Buana."


"Yoi. Kayak yang gue bilang dulu, pengganti Buana itu harus lebih segalanya dari dia. Biar dia tuh nggak berasa paling oke. Udah, gas! Gaspol!"


Andara ikut tersenyum. "Ya udahlah. Nggak usah bahas itu dulu. Ngapain aja rencana kita hari ini?"


Sejumlah rencana keluar dari bibir Rossa; berenang malam hari sambil menikmati pemandangan dari rooftop, duduk cantik quality time di executive lounge, maraton film Korea bertema psikopat. Dan benar saja, mereka menggarap rencana itu dengan baik tanpa gangguan siapa pun karena semua alat komunikasi dimatikan. Rossa hanya memperbolehkan Natha menggunakan kamera itu pun sesekali. Bagus sih menurut Andara, mereka datang benar-benar menikmati suasana bukan untuk sibuk membuat konten atau mengganti status.


Setelah semua selesai, seluruh lampu kamar dimatikan, kecuali satu lampu tidur. Tirai sengaja dibiarkan terbuka. Pemandangan kota Jakarta yang menawan terlihat semakin cantik dengan lampu dari kendaraan lalu lalang di bawah sana. Cekakak-cekikik masih menggema di ruangan yang sudah redup itu. Mereka menertawai pemeran cewek yang tampak ketakutan kala seorang pembunuh mendekatinya dengan sebuah martil.


"Pinter banget memang ya kadang-kadang. Doi diteror begitu malah ketakutan. Kalau gue jadi dia, setiap sudut gue tanam ranjau, gue siapin katana, CCTV sama bawa kerambit ke mana-mana. Belajar nembak bila perlu," desis Andara pelan.


Rossa melempar bantal ke arahnya. "Bukannya lo yang pernah bilang kalau teror nggak harus pakai senjata? Bikin orang nggak nyaman juga teror. Ya, kan? Terus situ apa kabar ya yang terteror Buana?" ujar Rossa sambil tergelak, "inget nggak sih dulu?! Saban lo mau dugem aja pakai susun seribu rencana, pura-pura tidur cepatlah, nginap di rumah gue-lah. Orang mah bikin seribu candi, lo bikin seribu rencana."


Bantal yang sampai di kepalanya, dilempar balik oleh Andara. "Mon maap, jangan takabur Anda, Mbak Serik. Apa bedanya waktu lo pacaran sama Roni sekarang? Segala rencana ada, mau main aja pakai alasan kuliah, mau dugem sama kita sampai bikin cerita opname. Taik!"


Buana memang tidak pernah menyukai dugem, bahkan cowok itu tidak mengizinkan setiap kali Andara ingin berpesta. Untuk menjaga stabilitas kehidupan, Andara memilih berbohong setiap kali ingin pelesiran malam. Pernah sekali ketahuan sama Buana, itu juga yang membuat Buana tidak memercayai Rossa karena saat itu Andara mengarang cerita akan menginap di rumah Rossa. Selanjutnya setiap kali ingin dugem, Andara menyusun alasan yang lebih rapi dan bermain cantik.


Pacar Rossa lebih asyik, ceweknya ini diperbolehkan dugem, tetapi hanya boleh pergi dugem bersama dia saja. Namun, kebebasan tetap tidak indah jika digaris-batasi, Rossa juga ingin sesekali lepas. Makanya kadang mengarang cerita bohong ke si Roni.


"Putra juga yang paling benar," timpal Natha sembari menarik selimut. Ruangan terasa dingin karena mereka hanya diam sedari tadi.


"Yakin lo?!" balas Rossa dan Andara kompak. Cowok perhitungan seperti Putra tidak pernah masuk dalam kategori favorit Andara maupun Rossa. Cowok macam apa yang kalau nggak ada uang, meminta uang ke ceweknya?


"Putra itu salah satu spesies manusia langka, sih. Bagusan diawetin jadi patung garam," tawa Rossa. Dia mengingat salah satu cerita horor dimana korbannya dilumuri garam dengan bola mata rusak dan organ-orang dikeluarkan paksa.

__ADS_1


Natha mendesah. "Apa yang salah sih sama split bill? Putra nggak kayak Roni sama Buana yang duitnya banyak."


Dengan menggelung rambut asal, Rossa menggeser badan ke arah Natha. "Chu, ini bukan masalah split bill. Wajarlah kalau anak kuliahan kayak kita split bill, tapi gue nggak suka aja si Putra itu suka minta-minta duit lo gitu."


"Gue kan kadang kalau nggak ada uang juga suka minta uang dia," bela Natha.


"Aduh, susah banget sih bilang sama lo. Nih, ya, uang cewek adalah uang cewek nggak bisa diganggu gugat. Sedangkan di uang cowok itu ada jatahnya uang si cewek. Sampai sini lo paham nggak?" Rossa tampak geregetan menjelaskan ke Natha, dan Andara memilih tidak ikut-ikutan. Apalagi Natha juga tampak bersikeras dengan pendapatnya.


"Udahlah, nggak usah dipermasalahin itu. Lo pada mau dengar cerita seru nggak?" Andara menyengir lebar kepada keduanya. Perhatian Natha dan Rossa akhirnya teralih ke dia. "Jadi... tadi siang, si Nina datang ke kampus terus mergokin Buana lagi gandeng tangan gue."


"What?! Terus, terus..." Rossa tidak lagi membahas Putra, cerita tentang Nina lebih menarik perhatiannya.


"Ya, jadi drama. Anak itu mencak-mencak gitu, Cha."


"Sumpah? Gimana cerita lengkapnya?! Ceritain!" pekik mereka berdua gembira. Andara akhirnya menceritakan bagaimana kejadian yang terjadi setelah dia menutup telepon Rossa, tak lupa juga menjelaskan bagaimana ekspresi Buana dan Nina saat dirinya melambai bak artis dan masuk ke mobil Kin.


Mereka bertiga tertawa puas, lantas meneruskan bercerita apa saja hingga tertidur.


***


Tadi saat Andara bilang kalau hasil mixing untuk Kin sudah selesai, cowok itu bilang akan datang. Kin bertanya keberadaannya dan Andara memberi tahu Kin agar mengambil flash disc di Best saja. Tetapi ternyata Kin ada di daerah kampusnya sehingga cowok itu datang ke sini.


Ya, tapi... Andara kan nggak tahu kalau Kin ternyata membawa motor. Memang Kin bilang dia lagi berkumpul dengan teman memotoran. Sekian lama mengenal dan sering bersama, Andara tetap belum pernah melihat motor Kin, dan ketika sosok itu benar-benar terlihat mengendarai kendaraan berban dua, rahang Andara rasanya dislokasi.


Dua puluh satu tahun dia hidup, bukan tidak pernah Andara melihat motor-motor keren lagi termasyhur. Dia pernah melihat langsung bagaimana gagahnya cowok-cowok memakai Ducati, Harley Davidson, atau BMW. Tirto juga kan setiap hari membawa Moto Guzzi-nya ke Best FM. Akan tetapi, ini jelas beda. Aduh, susah untuk menjelaskannya. Intinya, Kin yang selama ini terlihat biasa dan tidak terlalu manly karena berkulit putih, mendadak cowok banget di mata Andara. Kalau Kin bersama Range Rover merah dapat dikategorikannya sebagai ganteng-sih-tapi-biasa-aja, saat Kin membawa Moto Guzzi ini kadar gantengnya meningkat pesat. Gantengnya-biadab-nggak-ketulungan bikin Andara mau jatuh menggelepar di tempat.



Motor itu berhenti di depan Andara persis dan Kin tersenyum seperti biasa. Tidak tahu kenapa, senyum Kin kali ini laksana bom atom yang dijatuhkan Sekutu di Hiroshima dan Nagasaki, semua pertahanan Andara luluh lantak dan hendak menyerah. Ya Tuhan, kenapa ... kenapa keren sekali?!


Andara tidak berani bergerak, ritme jantungnya tidak harmonis. Semua seperti berhenti di tempat, rotasi dunia setop, revolusi bumi ambyar. Teori yang berlaku saat itu cuma satu; Relativitas Umum Einstein. Materi fisika yang selama ini susah ditangkapnya, sekarang malah mengajarkan dengan gamblang. Dia merasa semua bergerak semakin lambat karena berada pada lubang gravitasi yang semakin dalam. Dia, Andara Ratrie, jatuh bebas pada sesuatu yang bermassa lebih besar daripada gaya tarik bumi.


"Kok bengong?" tegur Kin.


Teguran itu mengembalikan fungsi otak Andara. Dia berdeham untuk mengalahkan keterkejutan dan memberikan flash disc yang berisi hasil mixing. "Nih."


"Thanks." Kin mengantongi flash disc tersebut. "Lo udah kelar kuliah?" tanyanya melihat Andara memakai ransel.


Kalah dengan pertahanan diri, Andara hanya mengangguk. Pikirannya kacau.


"Siaran?"


"Jam dua sampai jam empat," jawab Andara sembari meringis garing, berusaha sembunyikan kikuk.


"Oh, ayolah bareng," ajak Kin.


Andara masih mematung. Apa? Dia diajak naik motor ini? Ya Tuhan, Ya Tuhan, Andara panik, rasanya pengin memekik-mekik norak sambil koprol-koprol di tempat gitu.

__ADS_1


Melihat muka Andara yang terlihat kaku, Kin sadar jika Andara tampak enggan. "Sori, gue cuma bawa motor. Nggak papa, 'kan?"


Mereka masih berdiam dan menjadi tontonan.


"Percaya sama gue, naik motor juga enak," tambah Kin. Cowok itu seperti menyadari apa yang menjadi pertimbangan Andara. "Iya, nanti kita mampir tempat temen gue yang di dekat sini dulu. Pinjam helm buat lo. Yuk."


Kalau Kin berpikir dia keberatan karena cowok itu hanya naik motor, jelas Kin salah. Andara suka sekali naik motor dan menurutnya naik motor berduaan itu lebih romantis daripada naik mobil. Andara hanya takut dan yang ditakutkan sepertinya sudah kejadian, tidak bisa dicegah lagi. Andara takut jatuh hati, dan dia mesti mengakui bahwa dirinya sudah jatuh hati dengan sosok Kin. Ini bukan hanya karena merek motor, tetapi semua yang pernah ada di antara mereka berkumpul dan membentuk satu kesimpulan baru untuk Andara; Kin memikat.


Ketika badan cowok itu maju sedikit untuk menyisakan jok bagi Andara duduk. Tubuh mereka sangat dekat. Jok motor ini seperti dirancang untuk mendekatkan pengendara dan penumpangnya. Mengabaikan tatapan iri dari yang lain, Andara pasrah naik motor Kin.


"Motornya nggak ada pegangan. Lo mesti peluk gue," ujar Kin iseng dan dibalas Andara dengan tepukan di helmnya.


Sesuai janji, Kin mengajak Andara mampir ke rumah seseorang. Di halaman rumah besar yang ada sekitar kampus itu sudah ada seorang cowok yang duduk di atas motor, bermerek sama dengan punya Kin. Saat Kin mendekat, cowok itu mengangsurkan sebuah helm sambil melirik ke arahnya.


"Tumben ada boncengan," goda teman Kin tergelak. Baik Andara maupun Kin hanya meringis. "Mbak, kalau dia ngebut-ngebut keplak aja kepalanya. Modus itu pasti."


"Memangnya gue kayak lo?!" balas Kin tidak terima. Dia menerima helm dan memberikan ke Andara. "Ki, kenalin. Ini Andara."


Baik Rizki maupun Andara mengulurkan tangan untuk berkenalan. Kin berbincang sedikit dengan Rizki sebelum mereka pergi.


"Itu teman memotoran lo?" tanya Andara ketika mereka sudah melaju di jalan raya.


"Senior di UTM, bentar lagi dia tamat. Kalau memotoran sih baru-baru aja, gue racunin supaya ikutan."


"Oh, anak teknik juga?"


"Enggak, anak manajemen."


"Pantes kalian tadi ada ngomongin coffee shop." Tadi Andara sempat mendengar keinginan Rizki untuk membuka kafe kopi dengan nuansa yang berbeda. Sepadan sih, karena Kin kan pada dasarnya juga suka kopi. "Lo mau buka coffee shop sama dia?"


Kin mengangguk. Jalanan tampak tidak begitu ramai, matahari siang terasa menyengat apalagi Kin mengendarai motor dengan lambat. Mereka berhenti di satu bangunan kafe. Kin melepas helm dan menyisir rambut memakai jari. Cowok itu pasti tidak sadar kalau Andara sampai menahan napas melihat semua itu.


"Kenapa tadi dengan coffee shop?" tanya Kin menariknya masuk ke dalam. Cowok itu mengajak mampir karena sudah jam makan siang. Mereka duduk di sebuah sofa yang terletak di sudut.


"Kalau gue boleh kasih ide, coffee shop di sini banyak yang fokus ke kopi aja tapi varian tehnya sedikit. Padahal nggak semua orang suka ngopi. Bikin coffee and tea house aja. Teh kan bukan cuma Earl Grey, English Breakfast, Chamomile, Darjeeling, Matcha aja. Coba sekali-kali pakai teh Rusia, yang teh kismis enak, lho. Bikin cara ngeteh ala Rusia juga lucu kayaknya, ada samovar, ada gula kotaknya, beda aja dari kebanyakan," jelas Andara setelah dia memesan nasi goreng udang.


Tangan Kin terulur dan mengacak puncak kepalanya. "Ih, pintar amat, sih? Jadi cinta."


Tanpa sadar, Andara menggigit bibir. Itu bercanda, jelas sekali itu bercandaan mereka tetapi dadanya terasa mengembang lebih besar dari biasa. Mata sipit yang biasa dia hina-hina kali ini malah memberikan manuver tambahan. Andara salah tingkah ditatap mata itu. Setiap pembicaraan mereka membuat efek kejut pada jantung yang satu-satunya dia miliki.


Berulang kali Andara merekayasa gerak, tawa dan senyum agar terlihat biasa tetapi mau tak mau Andara harus mengakui posisi dominan Kin.


Kin adalah magnet dan bom waktu dalam satu kemasan; menarik dan meledakkan di satu kesempatan. Seharusnya Andara sadar jika mereka cuma teman, tetapi otak dan hati memang kadang tidak sinkron. Melihat senyum dengan mata hilang itu Andara ingin lebih, ingin dimiliki dan memiliki, ingin status semunya menjadi status nyata.


Ini berat, Kamerad! Yang dihadapi adalah Kin Dhananjaya, teman baiknya.


****** kau, Andara.

__ADS_1


__ADS_2