Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
EPILOG


__ADS_3

Dia duduk berjongkok. Satu kakinya menyentuh tanah sebagai topangan badan agar seimbang. Beberapa tahun ditinggalkan, makam ini masih rapi. Rumput-rumput yang ada selalu terjaga dan subur.


Tangannya mengusap nisan yang terbuat dari pualam hitam. Yang sedang tidur di hadapan adalah orang yang ketika hidup banyak menjalani kisah miris. Kesakitan, ditinggalkan, meninggalkan, dibohongi, membohongi dan semua perbuatan kelewatan yang dijadikan pelarian. Sosok itu lupa, bahwa berlari tentu melelahkan. Manusia tidak bisa terus berlari, manusia perlu berhenti, perlu istirahat. Namun, pelarian perempuan itu berakhir di sini, dalam usia yang relatif muda.


Kelopak mawar yang berwarna merah muda memenuhi pusara makam. Perempuan itu sangat menyukai bunga mawar dan sering mengibaratkan dirinya sebagai bunga yang cantik, berduri dan bisa merusak sekitar. Di lain kesempatan, kadang, perempuan itu mengibaratkan dirinya sebagai serigala. Saat bercerita tentang hewan tersebut, mata perempuan itu berkaca-kaca. Ada kesedihan mendalam yang disimpan di balik makna kebuasan serigala. Seakan merindukan sesuatu, sesuatu yang tidak berani disebut.


Perempuan itu lupa kalau Kin sebenarnya tahu meski tidak diceritakan. Kin mengenal mereka bertiga yang menganggap diri sebagai kumpulan serigala betina. Serigala adalah binatang liar yang berkelompok, saling melindungi, juga berbahaya. Meski seberapa pun liarnya, tetap saja patuh kepada pemimpin dan juga solid. Kin tidak tahu siapa pemimpin mereka. Semua terlihat sama kuat, sama mandiri dan sama-sama tegar. Ketika akhirnya koloni itu bubar dan semua berjalan sendiri, dia mendapati perempuan itu seperti menyesali semua yang pernah terjadi.


Kin baru sampai dari Melbourne dua hari yang lalu dan masih disibukkan dengan pekerjaan. Tadi malam, perempuan itu datang ke mimpinya entah kenapa. Untuk itu, sore ini, Kin sempatkan diri datang mengunjungi, mengirimi doa dan berharap semoga perempuan itu bahagia di sana.


Tubuh Kin berdiri, melangkah hendak pulang ketika dia mendengar suara sayup-sayup dan kemudian bokongnya terasa ngilu. 


"Oh my God, Katya. I've told you. Slowly walk, sayang." 


Seseorang menghampiri anak yang tadi menabrak Kin. Sosok itu berjongkok, memperhatikan sang anak dari atas ke bawah sambil membersihkan kuntum-kuntum mawar yang tertempel di lengan kecil karena terjerembab di atas makam yang baru saja Kin taburi bunga. "Are you okay? Yuk, bangun. Kita jalan lagi. Tidak boleh berlari, kita harus jalan pelan-pelan."


Anak itu dibantu sang ibu untuk kembali berdiri. "Badan Katya ada yang sakit?"


Kin mengamati kedua orang itu dengan takjub. Yang ditabrak kan dia, seharusnya yang lebih sakit adalah dia. Pertanyaan dengan nada khawatir tadi dijawab sang anak dengan gelengan dan tangisan manja. Seolah-olah pelukan yang datang dari sang ibu bisa menjadi perisai atas kesalahan yang dibuat sendiri.


"Maaf, anak saya nggak sengaja. Bapak nggak apa-apa?" tanya wanita yang sudah menggendong anaknya dan berdiri di depan Kin. 


Untuk udara sore Jakarta yang relatif hangat, rasa-rasanya mustahil jika mereka beku. Namun, Kin yakin, bukan dia saja yang terpaku di areal pemakaman, wanita itu juga. Mata bulat hitamnya melotot memandang Kin. Seolah anak kecil yang lari-lari di areal makam tidak lebih mengerikan daripada dia. Seolah dia makhluk yang muncul mendadak, bagian dari penampakan para hantu.


"Ara?"


Susah payah Kin berusaha untuk memanggil nama tersebut. Nama pemilik tubuh yang ada di hadapannya dengan penampilan luar biasa berbeda. Cantik dengan aura dewasa. Rambutnya sebahu dan sehat tertata. Pakaian yang dikenakan jelas menunjukan strata sosialnya, dan Kin yakin sosok dengan blazer abu-abu, bercelana lurus ini sudah sukses dan bahagia. Ya, sepertinya begitu. Andara bahkan sudah memiliki anak.


Pandangan Kin menuju kepada bocah di gendongan. Dari tubuhnya, Kin berpendapat kalau umur anak tersebut tidak jauh dari perjumpaan mereka terakhir kali. Kin kemudian ingat, makam Buana juga terletak di areal yang sama dengan makam perempuan itu. Yang berarti, Andara dan anaknya baru saja berziarah dari tempat Buana.


Jadi ... apakah anak ini adalah anaknya Buana?


***


Rasanya Andara ingin lari sekencang dia bisa, tetapi mustahil. Badan Katya cukup membebani langkah. Lima belas kilogram untuk anak berumur empat tahun tentu membuat siapa pun yang menggendong akan terengah-engah, kecuali laki-laki, mungkin. 


Dia melihat Lisa yang menggunakan stiletto sedang berjalan cepat ke arahnya. Andara menggeleng sebagai jawaban. Itu akan merepotkan Lisa saja. Sekretarisnya itu tidak membawa alas kaki ganti karena tidak tahu kalau dia mendadak ingin berziarah ke makam Buana.


Menyadari dia masih tidak menjawab sapaan, Kin mulai mengulas senyum. "Apa kabar, Ra?"


Kabar? Kin tanya kabar? Andara meringis. Buat apa lelaki itu bertanya kabar? Terlalu basa-basi dan sok menunjukkan kepedulian. "Baik," jawab Andara sekenanya sembari mengusap-usap kepala Katya agar tenang. "Ngapain di sini?"


Sekarang, Andara yang ingin menghujat diri sendiri atas basa-basi barusan. Ini pemakaman, ya jelas saja orang yang datang mau ziarah, bukan mau rapat. Matanya bergerak untuk membuang kecanggungan, menoleh ke makam yang baru diziarahi Kin. Makam yang berada tak jauh dari makam Buana, hanya berbeda blok. Dia membaca nama di nisan dan badannya membeku untuk kedua kali seperti dicelupkan ke danau penuh es. 


Tatapan Andara naik. Binar tidak percaya itu bertemu dengan iris mata Kin. Terakhir, dia masih stalking Kin saat Kin wisuda dan dia masih melihat Rossa ada di foto-foto. Setelahnya, Andara memutuskan untuk tidak pernah mau tahu dan tidak akan mencari tahu sesuatu yang akan melukai hati sendiri. 


"Ocha ... Ocha kenapa?" desisnya. Dia kembali memperhatikan nisan. Tahun kematian Rossa hanya berselang satu tahun setelah Buana.


Kin mengembus napas dan menarik bibir sedikit. Sorot matanya menghunjam Andara. "Kanker serviks." 


Andara membuka mulut, ingin bertanya lagi tetapi jawaban Kin membuat seluruh kosakata tersangkut di tenggorokan. Dia hanya mengangguk bisu dan tidak tahu harus apa lagi. Untunglah Katya menyelamatkan keheningan mereka. "Mommy... I'm hungry."

__ADS_1


"Okay," balas Andara tersenyum kepada gadis kecil menggemaskan yang ada di pelukan. "Kin, duluan ya," pamitnya lalu mengambil jalan lain yang berada di sebelah kiri makam. 


Namun, Kin ikut berjalan di sampingnya yang hanya dipisahkan oleh barisan makam berjajar lurus. "Gue juga udah mau pulang, kok. Tadi, kaget aja waktu mau jalan tiba-tiba ada yang nabrak. Anak lo?"


"Sori, dia lagi demen lari-lari." Andara mengangguk dan mencoba untuk senyum. "Udah gue bilang tadi supaya jalan, tetap aja dia lari."


Kin mengangguk-angguk. Mereka sudah sampai ke aspal yang membentang di setiap blok. Lelaki itu terus mengikuti langkah Andara. "Umur berapa, Ra?"


"Empat tahun setengah." Andara tersenyum singkat dan mengarahkan badan Katya kepada Kin. "Katya. Ayo, salam sama Om."


Anak berambut ikal tersebut patuh dan menyalami Kin, lantas tubuhnya diangsurkan Andara ke Lisa yang sudah berdiri siaga di samping. "Sa. Tadi, Katya jatuh. Coba dicek dan dibersihkan di mobil."


Setelah Lisa membawa Katya lebih dahulu ke mobil yang parkir tidak jauh dengan mereka, Andara melirik Kin. Lelaki berkemeja rapi itu masih berdiri berjarak dua meter dari tempat dia berdiri. Entah apa maksudnya? Yang jelas cukup aneh. Kin seharusnya bergegas pulang. Toh, matahari sudah hampir terbenam.


Tak ingin berlama-lama dalam kecanggungan yang mematikan, Andara memilih untuk pamit. Biarkan sajalah. Lagi pula, Kin tidak ada urusan dengannya dan Katya sudah kelaparan, harus cepat mencari tempat makan. "Gue duluan, ya. Nice to meet you," ujar Andara sembari menuju bangku penumpang. 


"Ra," panggil Kin membuat Andara tidak jadi masuk mobil. "Katya ini ... anaknya Buana?"


Punggung Andara menegak. Beberapa tahun tidak bertemu, Kin masih saja bisa memutar balik mood-nya dan Andara sadar kalau dia harus bisa berhadapan dengan lelaki itu. Cepat atau lambat. Sudah seharusnya dia bersikap dewasa dan menyikapi dengan baik apa saja yang mengadang di depan.


***


Sedari tadi, Kin mengamati Katya yang mengunyah pizanya dengan lahap sembari bertanya apa saja. Bibir mungil itu tidak kehabisan kata-kata, membuat Andara juga sekretarisnya kewalahan untuk menjawab. Selesai makan, seperti ponsel yang berbaterai penuh, Katya turun dari kursi, meminta balon ke petugas piza dan berlarian ke sana kemari. Sang sekretaris yang mengikuti ke mana Katya pergi, terlihat kelelahan.


"Lucu ya Katya itu," gumam Kin sembari menoleh ke arah Andara.


Andara mengangguk sambil tersenyum kecil. Matanya menontoni Katya yang sudah jauh dari meja mereka.


"Katya memang selalu diurus sama sekretaris lo?" Kepala Kin kembali menoleh ke samping, menyapu wajah Andara yang terlihat lebih bersinar dari terakhir kali bertemu. Ada beberapa hal yang berubah dari Andara, tetapi yang paling terlihat adalah kebiasaan tersenyum. Andara semakin murah senyum, dan itu membuatnya tampak lebih cantik daripada dahulu.


Kin terdiam, berusaha memilih kata yang tidak menyakiti. Dia mengambil sepotong piza dan menggigit ujungnya. "Gue sih bukan mau ikut campur, tapi sesekali kalau nggak sibuk, harus sempetin waktu buat anak, Ra."


Dia lalu mengangkat sebelah tangan begitu melihat gerak mata Andara yang intens ke arahnya. "Sori, kalau salah."


Sudut bibir Andara tersimpul. "Kayaknya lo memang salah. Pasti lo pikir Katya anak gue ya? Sama Buana?" Dia meletakkan garpu dan menyesap jus jeruk sesaat sebelum melanjutkan pembicaraan sambil tertawa kecil. "Katya itu anaknya Lisa. Udah gue anggap kayak anak sendiri. Kalau ada keperluan keluar kota dan Lisa perlu ikut, Katya juga kami bawa. Biasanya sih sekalian bawa pengasuhnya, tapi kali ini, si pengasuh pulang kampung. Jadi, kami cuma bertiga ke Jakarta." 


Pembicaraan mereka terhenti karena Lisa mendekat sembari menggendong Katya. "Mbak, saya ke mobil duluan, ya? Soalnya Katya sudah ngantuk."


Andara mengangguk sambil menunjuk makanan di meja. "Bawa beberapa potong, Sa. Biar sekalian makan di mobil."


"Nggak usah, Mbak. Sudah kenyang. Saya duluan ya." Lisa mengambil tasnya lalu mengangguk ke arah Kin. "Permisi, Pak."


Setelah kepergian wanita yang tampak begitu hormat dengan Andara, Kin mulai membuka suara lagi.  "Sama lo manggil Mbak, sama gue panggil Bapak."


Andara terkekeh. "Lisa itu orangnya jujur loh."


"Jadi ... maksudnya, dia jujur kalau gue kayak bapak-bapak?" Kin memperjelas maksud perkataan Andara dan wanita itu hanya tertawa panjang sebagai jawaban. "Lo masih rajin ziarah, ya?"


"Nggak juga. Hari ini, empat tahunnya Buana dan kebetulan gue lagi di sini, jadi janjian sama Kaluna buat ziarah bareng. Tadi, nggak tahu kenapa, Katya lari-lari ke arah makam Ocha sehabis dadah-dadah ke Kaluna."


"Sori, gue pikir anaknya Buana. Abis namanya mirip sama nama adeknya Buana." Kin mengedikkan bahu.

__ADS_1


"Tanya Lisa-lah. Dia yang kasih nama anaknya."


"Enak ya jadi Buana, masih aja diingat orang."


Andara tidak membalas Kin karena ada panggilan masuk. Wanita itu tampak berbicara serius entah dengan siapa, tetapi Kin dapat mendengar Andara menggunakan kata 'aku' untuk menyebutkan dirinya. Syukurlah, panggilan itu tidak lama.


"Sori, kepotong. Gue nggak tahu kalau Ocha udah meninggal," lanjut Andara setelah meletak ponsel di meja. Wanita itu menunduk, menatap makanannya.


"Lo stay di mana, sekarang? Waktu dia meninggal, gue berusaha hubungi lo tapi nomor lo nggak aktif. Semua sosial media lo juga nggak berteman lagi sama gue. Kosan lo kosong, dan Natha juga nggak tahu kabar lo," terang Kin. "Di hari-hari terakhirnya, Ocha selalu cerita tentang kalian. Dia kelihatan sedih kalau cerita tentang lo, tentang Natha. Mungkin kangen atau apa, gue nggak tahu."


"Memang Natha ke mana?" Wanita itu balik bertanya tanpa menjawab semua pertanyaan Kin.


Kin terperangah. "Lo hilang ke mana, sih?" Dia menambahkan sekelumit informasi lama yang sepertinya dibutuhkan Andara. "Natha udah ketemu sama bokapnya dan stay di Jerman, sekarang."


"Alhamdulillah," sahut Andara terdengar lega. "Gue balik ke Medan, waktu itu, dan ya ... gue ganti nomor hape."


"Ganti nomor tapi nggak kasih tahu gue."


Senyum kecil Andara hadir lagi sambil bergeleng-geleng. "Biar apa? Cewek lo sendiri bilang ke gue supaya nggak usah hubungin lo lagi."


"DM itu, ya?" Kin bergumam. Sebab sehabis Rossa membalas pesan Andara, akun Andara langsung tidak berteman dengannya.  "Lo kayak nggak tahu dia, sih. Gue tuh mau DM lo lagi tapi lo udah block gue."


Andara hanya mengawangkan alis, menelan potongan piza terakhir. "Ya udahlah, ngapain juga gue DM-an sama cowok orang."


"Lo marah?" pancing Kin.


Mata Andara langsung membulat, menunjuk muka sendiri dengan ujung garpu. "What? Gue marah? Buat apa?" Andara lalu meletakkan garpu dan pisau, mengelap bibir dengan serbet dan menaruh kain itu di meja. Sekilas, disesapnya jus yang tersisa hingga tandas. "Udah ah, gue balik, ya."


"Lo berusaha menghindari pembahasan itu, Ra?" Kin mengulas senyum saat melihat Andara berdiri. "Kita udah lama banget nggak ketemu. Baru juga ketemu, masa sebentar aja?"


"Gue nggak sendirian, Kin. Kasihan Katya lagi tidur di mobil." Wanita itu melambai kepada memanggil pelayan, meminta tagihan.


Menyadari kalau Andara hendak membayar, Kin langsung mengeluarkan uang dan memberikan ke pelayan sebelum wanita itu sempat membuka dompet. Gerak tangan Kin memberi isyarat kepada pelayan agar dia saja yang membayar dan tidak menerima uang dari Andara. "Lo nginap di mana? Biar gue aja yang antar. Sekretaris lo disuruh pulang duluan aja."


Dia menyejajari Andara yang mulai melangkah menuju pintu luar. Sudah tidak ada lagi Docmart di kaki itu, meskipun tidak memakai sepatu seruncing sang sekretaris, sepatu Andara sekarang lebih feminin. "Ra," panggil Kin kepada wanita yang tidak menggubris pertanyaannya. "Nggak pengin ngobrol-ngobrol lebih lama?"


Kerlip mata itu menatapnya datar lalu menggeleng.


"Nggak kangen cerita-cerita bareng?"


Wanita itu hanya menarik bibir sedikit, kembali menggeleng. Mereka sudah berdiri di depan pintu restoran.


"Okelah, nggak apa-apa. Tapi lo mesti coba teh Rusia yang ada di coffee shop gue, lengkap dengan samovar-nya. Itukan murni ide lo, Ra. Masa nggak mau tanggung jawabin ide sendiri?"


Sebuah mobil sedan mewah yang tadi parkir, mendekat dan berhenti di depan Andara.


"Ra," panggil Kin sungguh-sungguh. "Sekali ini aja, gimana?"


Andara hanya membuang napas, dan membuka pintu penumpang. Kin sudah pasrah. Memang tidak semua kesempatan akan datang dua kali. Andara bahkan tidak tergerak untuk memberikan nomor ponsel yang baru atau memberitahu menginap di hotel apa kepadanya.


"Ra, bukannya spekulasi tanpa konfirmasi itu sesat?"

__ADS_1


🔥🔥🔥


HUJAT TERUS AKU... HUJAT... 🤧


__ADS_2