
"Ternyata begini rasanya baru berpisah, namun sudah rindu."
🔥🔥🔥
"Welcome back to the club!" seru Rossa dari jauh. Cewek itu cengar-cengir sendirian di pintu kedatangan sambil melambaikan tangan.
Memang kemarin Andara sempat mengabari jadwal pesawatnya dan dia tidak menyangka jika Rossa akan datang menjemput dia. Andara berhenti begitu sampai di depan Rossa. "Sendirian?" tanyanya. Rossa mengangguk. "Baik hati banget Mbak Serik susah-susah jemput gue."
"Widih, masih jahanam aja mulut. Bukannya bilang makasih. Gue tinggal juga nanti," ujar Rossa tersimpul sambil berjalan menuju parkiran.
"Iya, iya. Makasih." Andara memasukkan koper ke bagasi dan menutupnya, berjalan menuju pintu penumpang. "Puas lo?!"
Tawa Rossa terlepas. Cewek itu sudah menjalankan mobil, keluar dari bandara. "Kalau gue nggak puas juga nggak mungkin minta puasin lo, Chu. Gini-gini gue masih normal."
Mata Rossa menyapu penampilan Andara. "Kayaknya ada yang beda, nih."
Andara tersenyum kecil sambil membuang pandangan ke jalan.
"Senyumnya beda. Gaya-gaya senyum jatuh cinta gitu. Terus ... Eciye, sepokat baru, ya!" goda Rossa. "Dapat apa lagi dari Kin?"
Andara mendengkus. "Lo beneran anak Ekonomi, deh. Selalu mikirin pengorbanan sekecil-kecilnya untuk dapat keuntungan sebanyak-banyaknya," balasnya. Dia mulai malas meladeni Rossa yang selalu mengukur sesuatu sesuai Prinsip Ekonomi. "Gue nggak beli apa-apa, karena nggak pengin. Sepatu ini aja Kin yang paksa. Kami di sana jalan-jalan aja, Cha."
"Honeymoon kali, ah. Jalan-jalan melulu," timpal Rossa terkekeh. Cewek itu lalu meraba laci mobil dan mengeluarkan bungkusan koran. "Ini duit lo. Kalau agak lama lagi lo balik, bisa nggak kuat iman gue untuk nggak pakainya. Deg-degan juga takut dirampok orang di jalan."
Uang berbungkus koran itu ditaruh Rossa di pangkuan Andara. "Hitung dulu, siapa tahu gue khilaf." Rossa tertawa lagi. "Tinggal sembilan juta, Chu. Satu jutanya dipakai gue sama Natha buat makan-makan jadian lo, karaokean sama minum dikit di Splash kayak waktu itu. Lo sih pulangnya lama, kalau cepat kan bisa open bottle."
"Ya, tapi nggak juga langsung main ambil aja kali, Cha." Andara menoleh ke Rossa. Dia kan nggak pernah memaksa Rossa untuk mentraktirnya waktu itu, saat Rossa berhasil menipu Roni. Bukan maksudnya untuk perhitungan, tetapi Rossa tidak ada izin sama sekali dengannya sebelum memakai sejuta itu.
"Yailah, Chu. Uang haram harus dibersihin! Jangan dinikmatin sendiri-sendiri, nanti sakit perut," tandas Rossa masih saja santai.
Andara melenguh. "Gue tuh mau balikin uang ini." Andara memegang bungkusan itu dan mengangkatnya setinggi dada. "Gue nggak mau berurusan lagi sama Buana."
"Udah gila kali lo?!" Rossa berteriak. "Yang bener aja, sih? Masa skenario kita udah bagus-bagus kemarin jadi berantakan gegara ini doang? Kan kemarin kata lo mau balas Buana? Sekarang kita udah balas dia, 'kan? Lo udah bikin dia jatuh cinta lagi sampai dia kayak kesurupan gitu nyariin lo, lo udah bikin si pelakor itu sakit hati karena diselingkuhi di belakang dia, dan lo juga berhasil pelorotin Buana. Mission Accomplished!"
"Tapi gue nggak bisa nerima uang ini!" Entahlah, sejak pertama kali mendengar berita dari Rossa, hatinya selalu menolak. Menolak Buana, dan menolak uang ini. Dia sadar kalau Buana benar-benar seorang pengecut, berbeda dengan segala ucapannya yang terkadang manis.
"Jangan dibalikin pokoknya. Enak aja dia. Kalaupun lo nggak mau duitnya, lo bisa kasih ke gue kek, ke Natha kek atau kita dugem bareng. Lo juga bisa pakai buat nimbun makanan kucing, lo bisa sumbangin ke orang miskin, anak terlantar atau panti asuhan. Banyaklah pokoknya."
Andara terdiam, memandang bungkusan itu lagi. Dia dan Buana sudah selesai. Iya, harusnya selesai. Jangan ada apa pun di antara mereka, termasuk cerita karangan Rossa juga uang ini. "Gue nggak bisa, Cha."
"Terserah lo. Yang jelas gue udah ingatin lo sampai mulut gue berbusa kalau cowok itu makhluk egois. Jadi, kalau cowok bisa sesuka hatinya, kita juga harus bisa memanfaatkan mereka sesuka kita. Lo masih ingat kan gimana nyokap gue, malam itu?"
Rossa kembali mengajaknya untuk ingat peristiwa yang dia sendiri sudah lupa. "Lo lihat dengan mata kepala lo sendiri gimana bokap gue yang katanya cinta sama nyokap akhirnya keluar dari rumah dan memilih pelakornya? Lo lihat sendiri kan gimana nyokap ditendang dan dimaki-maki? Lo lihat sendiri kan kalau perasaan terlalu berperan penting itu nggak baik? Gue cuma ngajak lo mikir. Gue percaya cewek-cewek kayak kita tetap ngandalin logika. Ya, walaupun sekali dua kali pernah pakai hati. Tapi, jangan terus-terusan lemah cuma karena kita mikirnya pakai hati."
Andara mengembus napas dan bersandar di jok. Omongan Rossa ada benarnya, hanya saja hati dia juga bertentangan. Entahlah. Semua terasa berat.
"Lo setuju nggak sih sama gue?" Rossa bertanya.
"Setuju. Hidup, Ocha! Vote Ocha for Menteri Pemberdayaan Perempuan Urusan Kenangan Tertinggal!" balas Andara mengepalkan tangan. Dia tidak bersemangat untuk memperpanjang pembahasan ini.
"Kampret!" desis Rossa terkekeh. Cewek itu melirik ke arahnya sambil menganggukkan kepala, ikut bernyanyi lagu yang terputar. "Masih ngantuk lo? Tidur sono, ntar gue bangunin kalau udah sampai."
Andara mulai meletakkan kepala di sandaran. Dia ingat Kin. Dia ingat bagaimana Kin juga menyuruhnya tidur saja saat dia baru sampai di Johor. Dengan segera, Andara mengabari bahwa dia sudah tiba ke kekasihnya itu, lalu memejam. Baru berpisah, tetapi dia sudah rindu lagi. Dia rindu tawa Kin, kejailannya, mata sipitnya, wangi khasnya, apalagi pelukan dan ci ....
__ADS_1
Ah! Andara merasa dia perlu tidur sekarang juga. Jam tidurnya masih kurang meski sudah tidur di pesawat. Lagi pula dia perlu bermimpi, sebab dunia nyata terlalu berat untuk pejuang LDR sepertinya.
***
"Bangun, bangun. Kebakaran, kebakaran!" Rossa berseru sambil tertawa. Andara menggeliat sambil mengucek mata. Dia melirik Rossa garang. Cara membangunkan yang tidak etis. Lagian mana ada kebakaran tapi yang minta tolong malah tertawa? "Turun, yuk."
Andara menegakkan badan, menoleh ke sekeliling. Ini bukan rumahnya. "Ini di mana? Kok nggak pulang?"
"Makan dulu kali. Ini udah siang." Rossa keluar dari joknya. "Yuk, buruan."
Andara sempat melirik jam, memang sudah pukul setengah satu. Dia beranjak turun, mengamati bangunan yang dihampiri Rossa lalu ikut masuk. Rossa mendatangi sebuah kafe yang beraksen klasik, bagian luar bangunan dipenuhi batu alam dan taman. Terlihat homey dan hampir saja dia tidak menyadari itu kafe jika tidak ada plang petunjuk.
Rossa sibuk mengutak-atik ponsel dan menjelajah pengunjung kafe, lantas tersenyum saat melihat seseorang. Hal itu disadari Andara, dia sempat berdesis saat mengetahui mereka tidak hanya berdua. "Lo janjian sama orang? Kenapa nggak bilang?"
"Udah ... ikut aja." Rossa berkedip memberi kode. Mereka mendatangi meja kayu di mana sosok itu duduk sendiri. "Lama nunggunya?"
"Nggak, kok." Cowok itu tersenyum. "Duduk, duduk. Sama siapa, Cha?"
Rossa lantas mengenalkan Andara sebagai sahabat ke cowok itu. Nama cowok itu Devan. Ya, jujur, Andara sih tidak peduli siapa nama cowok itu. Di benaknya hanya menginginkan tidur lagi setelah mengisi perut.
"Oh, jadi ini yang namanya Andara. Ocha sering cerita tentang lo." Devan tertawa. Cowok itu dan Rossa terlihat akrab bercerita. Andara sendiri memilih diam sambil memakan sup buntutnya, sebagai tanggapan dia sesekali mengangguk. "Ngomong, Ra. Jangan diam aja."
"Suara gue mahal. Sekali ngomong, gue biasa dibayar," balas Andara pelan sambil meringis.
Devan dan Rossa kembali tertawa. "Iya deh yang penyiar. Eh, benerkan, Beb?" tanya Devan ke Rossa dan Rossa mengangguk.
Beb? Andara berusaha biasa saja meski akhirnya dia menajamkan telinga. Dia tidak salah dengar, 'kan? Itu bercandaan atau ....
"Devan ini orang event juga, Ra." Lalu Rossa menceritakan usaha Devan yang fokus kepada event besar. Cowok itu ada di balik panggung-panggung besar, tinggi dan mewah, di balik sinar-sinar laser yang memukau dan ciamik dalam acara-acara yang diadakan stasiun televisi juga off air.
"Baru-baru ini, BWP di Bali sama kami," ujar Devan santai tanpa berniat sombong.
Bali Warehouse Project? Andara mengangguk paham. Itu event DJ berkelas internasional yang tidak jadi didatanginya karena memilih ZookOut. Orang di depannya berarti pengusaha cukup terkenal di bidang yang digeluti. "Kalian kenal di mana?"
"Facebook." Rossa terkekeh sedangkan Andara membulatkan mata. Bukannya di Facebook, Rossa berstatus pacaran dengan Roni? Namun saat melihat kedipan Rossa sekilas, Andara lantas paham. Mungkin yang Rossa maksud itu adalah akun yang lain. Dia hanya mengangguk.
"Chu, gue udah jadian sama Devan," aku Rossa kemudian sambil merangkul lengan cowok di sebelahnya. Andaikan sup buntut Andara belum habis, mungkin akan tersembur dari mulut. Syukurlah dia sudah selesai makan sedari tadi. Devan mengangguk dan mengusap kepala Rossa.
"Teman kamu satu lagi siapa namanya, Beb?" Devan menatap Rossa.
"Natha," jawab Rossa. "Ntar malam aku kenalin." Rossa lantas menoleh ke Andara. "Nanti malam lo berdua ikut kita ya, Chu."
"Nggak bisa, gue siaran, Cha. Minggu lalu udah izin," tolak Andara.
"Sampai jam berapa?"
"Dua belas."
"Ya udah, kayak biasa, deh. Nyusul aja nanti, atau ntar kita yang susul. Iya kan, Beb? Lagian jam dua belas juga beat-nya masih pelan."
Andara ingin menolak lagi, tetapi Devan ikut turun membujuk. "Jarang-jarang gue bisa ketemu teman-temannya Ocha, sempetin lha, Ra. Sesekali doang."
"Iya, deh." Andara jadi tidak enak hati. "Tapi beneran jemput gue, Cha. Soalnya kayaknya bakal ada drama kalau ada yang ngeh gue siaran ntar malam."
__ADS_1
"Paham gue paham. Si Buaya, 'kan?" Rossa terkekeh dan menambahi saat Devan mengangkat alis bertanya. "Mantan dia, Beb. Agak resek orangnya."
"Gibas aja, Ra. Lo kan metal," tambah Devan. Mereka berdua tertawa lagi. Andara juga ikut tertawa.
Berbeda dengan Roni yang nggak begitu nyambung dengannya, Devan ini lebih asyik, cepat beradaptasi. Mungkin karena bidang yang digeluti mereka berhubungan, sehingga akhirnya Andara merasa satu frekuensi dengan cowok itu. Mereka jadi membahas banyak hal, dan tertawa-tawa. Jika boleh jujur, Andara lebih menyetujui Devan daripada Roni. Namun, bagaimanapun Andara tidak mau ikut campur lebih dalam hubungan asmara Rossa. Memang di perjalanan balik dia memaki-maki Rossa karena kelakuan cewek itu, tapi Andara sendiri punya fokus hubungan yang harus dia jaga. Lebih baik dia urusi urusannya daripada mengurusi orang lain.
Sebelum siaran, Andara sudah menitip pesan kepada Bob yang sedang berjaga di pos satpam. Jika nanti ada Buana menjemput, Bob harus bilang kalau Andara sudah pulang. Entah paham Andara tidak mau diganggu atau sudah mendengar info dari yang lain jika antaranya dan Buana sudah putus, Bob mengiakan.
Kin Dhananjaya: Udah di Best?
Andara tersenyum melihat pesan masuk. Ditanya seperti itu saja dia senang.
Andara Ratrie: Udah, barusan. Lo di mana?
Kin Dhananjaya: Baru sampai Johor. Capek. ☹️
Andara tertawa kecil. Emote yang dikirimkan Kin terasa lucu, apalagi jika dia membayangkan muka Kin yang seperti itu.
Andara Ratrie: Ya udah, istirahat gih, Beb.
Kin Dhananjaya: Iya, gue mau coba tidur dulu. Selamat siaran, Beb.
Muka Andara tersipu, dia menutup mulutnya yang memekik kecil.
Andara Ratrie: Lo juga, tidur yang nyenyak, ya.
Setelah membalas itu, panggilan dari Buana masuk. Pesan dari cowok itu juga datang kembali bertubi-tubi. Bahkan setelah Andara selesai siaran, Buana masih saja mengirimi pesan yang tidak juga dibacanya. Andara melangkah turun dari studio ketika Rossa mengabari kalau cewek itu sudah sampai.
Di luar pagar Best ada sebuah mobil berbadan besar menunggu dengan keadaan mesin hidup. Itu bukan mobil Rossa. Saat Andara bingung, jendela depan turun sedikit, Rossa memanggilnya. Begitu Andara melewati pos satpam dan melambai ke Bob, seseorang yang ada di balik pos itu mengadang.
"Ra, kita perlu ngomong." Buana menahan lengannya, dan Andara langsung menepis.
"Ngapain sih lo ke sini?"
"Urusan kita belum selesai, Andara." Buana tidak peduli kalau Andara sedang ditunggu oleh mobil yang hidup itu. Dia perlu bicara dari hati ke hati, dan semua itu tidak akan selesai kalau Andara terus saja menghindar.
"Urusan kita? Urusan lo aja kali, gue sih nggak ada urusan lagi sama lo." Andara mendorong Buana yang menghalangi. "Pinggir daripada gue teriakin maling."
Mendengar ancaman Andara, tubuh Buana bergeser. "Uangnya udah dikasih sama Ocha?" tanyanya ketika mereka berpapasan.
Badan Andara mendadak kaku. Sepuluh juta sialan. Uang itu tadi ditinggalnya di rumah, jika ada sudah akan dilemparnya ke muka Buana.
"Ra, udah dikasih kan sama Ocha?" Buana mendekat ke arahnya.
Mungkin memang benar mereka perlu bicara, Andara menarik napas agar tenang. "Kita memang perlu ngomong, tapi nggak sekarang. Ntar gue kabarin lo kapan dan di mana."
"Lo mau dugem ya sama Ocha?" tanya Buana lagi mengejar langkah Andara yang menuju mobil.
"Nggak urusan lo, Buana." Andara memelotot sebelum membuka pintu mobil, menandakan cewek itu tidak suka akan campur tangan Buana dalam kehidupannya.
Buana mengangguk pelan. Dia memang tidak berhak apa pun. "Hati-hati, Ra."
Tidak ada jawaban selain dengkusan dan Andara naik ke mobil mewah itu, meninggalkan Buana yang menunggunya sedari tadi.
__ADS_1
🔥🔥🔥
Yang kemarin kasihan sama Kin, sekarang kasihan sama Buana, nggak? 🤭