
"Ternyata, saya adalah pembohong yang buruk."
🔥🔥🔥
Perdebatan dengan Buana benar-benar terasa menyita energi. Mungkin karena berdebatnya pakai seluruh isi hati kali, ya? Jadi setelah keluar dari kedai kopi, Andara merasa kakinya melemas. Paru-parunya juga seperti mau meledak. Dia perlu duduk di pelataran trotoar yang berjarak 100 meter dari tempat tadi.Â
Apakah Buana tadi jujur? Sebab Andara sendiri terguncang. Dia tidak menyangka hal-hal itu yang menjadi alasan Buana selama ini. Dia tidak menyangka kalau Buana tahu semua, dan sumpah, dia tidak tahu kalau Buana serius atas hubungan mereka. Perilaku Buana lebih cocok seperti macan yang menutupi bangkai daripada cowok yang mencintai seorang cewek. Ruang gerak yang dibatas-batasi bukan membuat Andara paham perasaan Buana, malah membuat Andara penasaran apakah ada yang disembunyikan Buana di belakangnya. Sikap posesif Buana tidak hanya terasa melindungi, juga terasa memenjarakan. Andara tertunduk memegangi dada, masih ada nyeri di sudut sana.
Mereka berpacaran cukup lama, tetapi waktu juga tidak menjadikan mereka saling mengerti bahasa masing-masing. Dia tidak tahu semua maksud dari tindak tanduk Buana dan sebaliknya. Jadi, apa arti kebersamaan mereka jika saling memahami tidak juga terjadi?
Penjelasan Buana sekarang bergaung-gaung di kepalanya, Andara mencoba biasa saja meski sulit. Sebab semua sudah tidak berguna. Penjelasan itu sudah terlambat. Hatinya sekarang tidak berisi Buana saja, ada Kin sebagai pendatang baru di sana.Â
Mengapa Kin dipermasalahkan? Kin tidak pernah berbuat aneh-aneh sebagai teman. Malahan jika dia cerita tentang Buana, cowok itu tidak pernah berkomentar macam-macam apalagi sampai memanas-manasi. Kin sering bilang bisa saja Andara salah. Kin juga mengingatkan kalau sebaiknya Andara menyampaikan keberatannya kepada Buana. Seharusnya Buana tahu kalau Kin tidak ada niatan aneh selama mereka berteman. Kin tidak pernah menjelek-jelekan Buana apalagi menyuruh Andara memutuskan hubungan seperti Buana barusan. Buana salah jika menuduh dia dan Kin selingkuh. Dahulu, dia tidak pernah sekali pun memikirkan Kin selain sebagai teman. Kalau saat ini berubah, bukan salah Kin, juga bukan salah dia. Perasaanlah yang berubah.
Andara menyeka ujung mata sambil memandangi langit yang berawan. Dia tidak boleh menangis. Menangisi hal yang sudah lewat adalah hal yang sia-sia. Cukup Buana saja yang bodoh, dia jangan. Cowok itu sungguh bebal, masih mempertanyakan bagaimana perasaan Andara terhadapnya. Andara bisa saja berbuat yang tidak-tidak saat dengan Kaka atau Rexy, tetapi dia tidak melakukannya. Dia memilih melakukan dosa itu bersama Buana. Menjadikan dirinya pertama untuk cowok itu dan sebaliknya. Untuk hal yang tidak bisa dikembalikan lagi, bagaimana mungkin Buana masih mempertanyakan perasaannya dahulu?
Setelah berulang kali mengembus napas, Andara beranjak memesan ojek online. Dia ada siaran siang ini. Urusan dengan Buana sudah selesai. Uang sepuluh juta juga sudah dia kembalikan. Sepanjang perjalanan Andara hanya diam, membiarkan pengemudi memilih jalan sendiri, dan ketika sampai pun dia turun tanpa banyak basa-basi.
"Wah, wah. Ada yang beda nih dari Si Caur," sambut Tirto saat Andara muncul dari ujung lorong Best FM. Beberapa mata menoleh ke arah kedatangan Andara dan ikut tersenyum.
"Sepokatnya beda, cuy. Udah nggak kayak Mbak-Mbak Menwa lagi," tutur Tata lepas.
"Menwa, ya?!" Andara menaikkan alis dengan malas. Masa memakai Docmart disamakan dengan anggota Resimen Mahasiswa, sih? Ada-ada saja mereka.
"Iya, bener. Dia lebih nyeremin dari Menwa malah. Mbak Menwa masih bisa senyum kalau digoda," tambah Tirto terkekeh. "Kalau Andara yang ketawa, gue mah ketar-ketir. Takut habis ketawa terus muntah darah."
"Buset, Bang. Memangnya gue apaan?" desis Andara mencibir. Seandainya bisa, dia kepengin sekali bisa membuat orang muntah darah hanya dengan menaikkan pandangan atau mengirimkan senyum sinis. Akan tetapi, dia tidak punya kekuatan sesuper itu.
Tirto masih memperhatikan sepatu baru Andara. Matanya lalu beranjak naik. "Memangnya ini dijual di Medan?" tanya cowok itu terdengar sangsi. Cowok itu tahunya Andara izin cuti seminggu untuk pergi ke Medan.
"Ada, Bang. Sepele amat lo sama Medan. Main-main makanya ke Medan," balas Andara. Dia sudah googling kalau ada outlet resmi Vans di Medan.
"Bukan gitu. Yang limited edition ini maksud gue. Itu kan yang lo pakai limited edition yang baru keluar. Setahu gue, nggak masuk ke Indonesia, deh." Tirto hanya menyengir setelah mengucapkan itu.
"Masa? Nyatanya ada, tuh," balas Andara mengedikkan bahu. Diam-diam Andara ingin secepatnya menghilang dari tempat itu. Pencinta sneakers seperti Tirto tentu lebih mengenal dan paham tentang dunia persepatuan. Andara sendiri baru tahu jika tidak semua jenis sepatu yang keluar pasti akan masuk ke outlet tersebut meskipun resmi.
Tata tertawa. "Iya juga ya, To. Nggak mungkin kan kalau ini bocah pakai versi KW?"
Tirto menyambat langsung. "Nggak mungkinlah. Cari mati dia kalau berani pakai KW ke sini. Lebih baik nggak ada merek tapi asli, daripada bermerek tapi KW."
Andara hanya menyengir saja. Dia tentu saja tidak mungkin memakai bajakan atau produk tidak asli. Sebagai pekerja seni, mengonsumsi bajakan terasa seperti mencuri. Bukan hanya sepatu saja, lagu, buku, tas, baju dan lainnya, lebih baik tidak punya daripada membeli produk kopian.
Suasana Best FM siang ini cukup ramai karena dijadwalkan akan ada rapat bulanan membahas rencana materi untuk bulan Desember. Andara yang sudah melepas sepatu, beringsut masuk ke dalam. Dia menoleh sedikit ke ruang rapat. Ada beberapa orang di dalamnya.
__ADS_1
"Ada siapa?" tanyanya ke Irvin yang sedang duduk di depan komputer operator. Tumben kali ini meja Irvin bersih. Kertas-kertas yang biasa bertumpuk-tumpuk raib entah ke mana. Pena-pena dikumpulkan dan ditaruh di keranjang besi berwarna hitam. Sticky notes yang biasa menempel di mana-mana kini lebih tertata.Â
"Bos Kecil," bisik Irvin. "Tas lo jangan taruh sembarangan. Masukin loker, ya."
Bos Kecil yang dimaksud Irvin adalah anaknya Bang Boim. Andara tahu kalau Bang Boim memiliki beberapa anak, tetapi memang tidak ada satu pun anak pemilik Best FM yang dia kenal. Semua anak Bang Boim dikabarkan bersekolah di luar negeri.Â
Andara mengangguk dan membuka pintu loker, menjejalkan tas ke dalam. Setelah itu, dia memainkan ponsel untuk melihat-lihat pemberitahuan. Sedari sampai tadi, hatinya terasa tidak tenang. Dadanya terus berdebar-debar.
"Ra, ingat! Jangan bawa masuk hape ke dalam, terus lo baca dulu materi siaran bagus-bagus. Kata Bang Rodi, si Bos Kecil ini lagi mantau kita." Irvin berdecak mengingatkan. Kedatangan anak owner Best FM tentu saja seperti kode kepada seluruh penyiar kalau hari ini harus meningkatkan performa dan mutu siaran.
"Iya, bawel." Andara kembali membuka loker dan menaruh ponsel, lalu menuju komputer kosong untuk membaca ulang materi siarannya. Sebenarnya ada keperluan apa si Bos Kecil pakai acara memonitor Best FM? Toh sampai sekarang predikat Radio Anak Muda Terpopuler masih dipegang oleh Best FM. Begitu juga dengan Feminin FM dan Eksekutif FM, masih menjadi juara di segmennya. Jadi anak bos kok menyulitkan diri? Seharusnya Bos Kecil duduk-duduk santai saja.
Ketika waktu menunjukkan pukul dua belas tepat, Andara masuk ke studio. Setelah duduk di kursi empuk penyiar, dia mengamati iklan-iklan yang berjalan sembari membuka daftar putar. Dia menyesuaikan suasana panas di luar dengan lagu pembuka siaran. Lagu dengan ketukkan sedang membuat panas tidak terlalu menyengat, tetapi juga tidak membuat yang di ruangan menjadi lemas.
"101 Best FM, The Best Hits Radio Station. Firasat, lagu ini di-remake dari miliknya Marcell yang pernah booming di tahun 2000an. Dengar lagu ini rasanya enak banget apalagi cuaca panas di luar ya, Besties. Anyway, pernah nggak sih kamu ngerasain tanda-tanda kalau akan terjadi sesuatu? Kayak firasat gitu." Andara terdiam sejenak. Sebenarnya ini yang dia rasakan dari tadi. "Nah, kalau kamu mau bagi cerita tentang firasat. Boleh banget kirim sms ataupun mention di Twitter Best FM. Sembari istirahat atau rehat siang, Andara Ratrie akan temani kamu sampai jam dua siang nanti. So, stay close."
Andara menaikkan volume lagu dan kembali memutar lagu-lagu selanjutnya. Jari jemarinya sudah berjalan otomatis dan hafal runutan yang harus dilakukan di dalam ruang siaran. Dia melirik layar iklan dan juga membacakan adlibs yang ada. Semua dilakukan seperti biasa karena ini adalah siaran reguler bukan siaran bertema khusus seperti Reload, Indiebest atau lainnya.
Di pertengahan siaran, Andara diajak bergabung ke ruang rapat. Studio sendiri dialihkan ke Irvin. Cowok itu akan memutar lagu yang sudah ada di daftar putar. Lagi pula kebutuhan pendengar itu berbeda-beda sesuai waktu. Jika siaran siang, para pendengar biasanya tidak terlampau suka kalau penyiar banyak bicara. Mereka ingin mendengarkan lagu sebagai teman untuk santai siang atau lagi di jalan. Penyiar akan banyak memutarkan lagu daripada berbicara dan saat berbicara hanya menyampaikan hal-hal yang perlu secara tepat sasaran. Sesi curhat atau cerita-cerita biasanya ada di pagi, sore dan malam hari.
Setelah mengetuk sebentar, Andara lantas masuk ke ruang rapat dan duduk di bangku belakang yang kosong. Rapat sepertinya sudah berjalan lebih dahulu sebelum kedatangannya. Di ruang rapat saat ini cukup ramai, selain ada seluruh penyiar, ada juga petinggi Best FM seperti Bang Rodi, Bang Anco, dan Mbak Inka. Namun, seseorang pendatang baru yang ada di sebelah tiga petinggi Best tersebut membuat Andara melebarkan mata. Cowok itu juga seperti tidak menyangka melihat Andara, dan mengulas senyum. Sepertinya firasat buruk Andara sedari tadi terjawab sudah.
"Ini satu lagi penyiar kami yang lagi siaran namanya Andara." Bang Anco mengenalkan Andara kepada cowok itu. Andara mengangguk kaku. Jantungnya terasa melorot ke mata kaki.
Bima membalas anggukan Andara. "Kalau sama Andara sih udah kenal," jawab Bima sembari tertawa. "Ya, kan, Ra? C'mon, kalian jangan pada kaku, ah. Gue cuma mau lihat dan kenal aja jadi bisa proyeksiin gimana Best FM ke depannya. Karena sebentar lagi Best FM dipercayain ke gue buat dikelola."
Tapi ... Andara tidak bisa. Andara masih kaku. Andara pengin bisa teleportasi dan lenyap tanpa bekas dari ruang rapat. Dia berdoa dalam hati, semoga Bima tidak membahas apa pun.Â
Rapat kembali berjalan. Materi bulan Desember sudah diputuskan. Acara apa saja yang akan digelar untuk memeriahkan ulang tahun Best FM juga tahun baru sudah dipersiapkan. Deretan pengisi acara juga sudah fix dan sebentar lagi akan dicetak dalam bentuk flyer, banner atau spanduk juga akan muncul di halaman utama web Best FM.
Saat Irvin memanggilnya untuk closing, Andara permisi sebentar dari ruang rapat. AC ruang siaran terasa lebih segar daripada ruang rapat. Andara sengaja memperlambat closing dan masih di ruang siaran hingga penyiar gantinya datang. Dia tidak mau kembali ke ruangan mengerikan itu. Beruntunglah, rapat selesai tanpa dia perlu kembali ke sana. Andara segera menarik pintu loker. Dia ingin secepatnya kabur dari sini.
Pintu ke arah ruang tengah dibuka, terdengar langkah beberapa orang masuk. Secara refleks, Andara tentu saja menoleh. Ada Bima dan ketiga petinggi Best FM di sana. Bima seperti menilai kondisi ruangan tempat para penyiar biasa berkumpul. Ya Tuhan, Andara kepengin bisa menembus dinding sekarang juga!
"Jadi ... center point-nya di sini?" gumam Bima.Â
"Iya, Bang. Anak-anak sering ngumpul di sini." Mbak Inka seperti berusaha menjelaskan kepada sang tamu. "Kadang kalaupun nggak ada siaran, tetap aja di sini dipakai buat ngumpul."
"Iya, bagus, sih. Kalau para penyiar itu akrab di luar, waktu siaran pasti tek-toknya dapat banget. Lebih asyik dengarnya." Bima mengangguk-angguk. "Tapi kayaknya interiornya perlu dibenerin biar nyaman. Bila perlu kayak kantor Google."
Cowok itu menatap meja, beberapa komputer dan printer yang ada. Pandangannya naik ke papan tulis yang berisi informasi-informasi penting juga jadwal siaran, lalu terakhir berlabuh ke arah loker dan menemukan Andara di sana. "Hai, Ra. Apa kabar? Kapan balik?"
Andara tidak tahu harus bagaimana. Dia hanya bisa tersenyum garing. "Hari Senin kemarin," jawabnya singkat.
__ADS_1
"Abang kenal sama Andara?" tanya Bang Anco. Sepertinya umur Bang Anco lebih tua daripada Bima. Namun, untuk alasan menghormati, tentu Bang Anco memanggil Bima dengan sebutan 'Bang' begitu pun Mbak Inka dan Bang Rodi.
Bima mengangguk pelan. "Kenal nggak sengaja sih waktu nonton Aly & Fila di Singapura, kemarin. Kin ikut balik ke Jakarta, Ra?"
Andara tidak tahu harus berkata apa. Dia hanya menggeleng dan bersandar canggung di loker karena kakinya mendadak tidak bisa bergerak.
"Singapur?" tanya Bang Anco dan Mbak Inka bersamaan. Dua orang itu otomatis bertatapan lalu menoleh ke arah Andara dengan pandangan curiga.
Somebody, please help Andara.
"Aly & Fila, ya, Bang?" Bang Anco mengeluarkan ponsel, seperti mencari informasi dari perangkat pintar tersebut. Andara sudah kehabisan napas sekarang. Mukanya kebas.
Setelah menemukan jawaban, Bang Anco kembali berbicara. "Oh, Sabtu kemarin, Bang?" tanya Bang Anco terdengar ramah namun terasa dingin menusuk bagi Andara.
"Iya, makanya gue ingat. Sori, soalnya kadang gue suka lupa orang. Untung sama lo, gue ingat, Ra. Baru beberapa hari juga, ya, 'kan?" Bima tertawa pelan tanpa menyadari kalau tiga orang di sampingnya sudah memandang Andara dengan murka. Setelah diantar ke studio dan ruang lain, Bima lantas pamit. Meninggalkan Andara dan orang-orang yang hendak mengulitinya hidup-hidup.
Bang Anco menarik napas sembari mengantongi kedua tangan. Cowok itu menggelengkan kepala tidak percaya. "Luar biasa banget lo, ya. Bilangnya kakek lo sakit, ternyata dugem. Udah mulai jadi pembohong, Ra?"
Mbak Inka melipat tangan di dada dan berdengkus. "Co... Co... Lo sih terlalu percaya sama penyiar. Udah gue bilang, anak-anak tuh jangan terlalu dikasih hati. Ini lagi si Andara. Jangan-jangan dari dulu dia sering bohongin kita, tapi kebetulan aja kali ini lagi apes."
Bang Anco melengos, bergegas meninggalkan ruang tengah. Berpapasan dengan Duo Ti-Ta yang hendak masuk.Â
Mbak Inka masih menyapu pandangannya ke Andara. "Lo tahu nggak hal yang paling berbahaya di dunia ini?" tanyanya retoris, sebab tanpa menunggu Andara menjawab, cewek itu meneruskan kalimatnya, "Yang paling berbahaya di dunia ini adalah hilangnya kepercayaan dari orang-orang yang dulunya percaya banget sama lo. Lo tuh kerja di sini, nekat banget lo bohong sama kami."
Tanpa menghiraukan Duo Ti-Ta yang melongo pandangi kejadian ini, Mbak Inka beranjak masuk ke ruangannya. Andara tidak tahu lagi harus bagaimana sampai Bang Rodi menggerakkan telunjuk ke arah dia. "Andara, ke ruangan gue sekarang."
Sebab sepintar-pintar tupai melompat akhirnya akan jatuh juga. Andara mengikuti perintah tersebut dengan pasrah. Dia memasuki ruangan Station Manager dengan tubuh lunglai seolah seluruh tulangnya sudah ditarik lepas.Â
"Duduk," ujar Bang Rodi. Pria itu sudah duduk di kursinya.
Andara duduk tanpa suara.Â
"Sejak kapan Medan pindah ke Singapur?" tanya Bang Rodi menatap dalam ke matanya. Ada kekecewaan yang terlihat di mata pria paruh baya itu, meski terhalang lensa.
Andara menundukkan kepala. Berdalih sepertinya hanya memperburuk keadaan. Mereka bertiga bisa menanyai Bima dan mendapatkan kebenaran dari cowok itu. Jika sudah seperti itu, posisi dia akan lebih riskan lagi karena kebohongannya sudah sampai ke pemilik Best FM.
Dia benar-benar pembohong yang buruk, setelah semua kebohongan malamnya selama ini diketahui Buana, sekarang kebohongan ringannya pun ketahuan oleh para petinggi Best.
"Lo bilang Opung lo sakit, gue kasih izin. Kenapa lo mesti bohong, Ra?" Bang Rodi melepas kacamatanya sembari memijat dahi. "Lo tahu 'kan di sini itu attitude is everything? Mau siaran lo sebagus apa, mau mixing lo sejago apa, kalau lo nggak ada attitude ... sori, berarti tempat lo bukan di sini."
Kalimat itu seperti anak panah melesat yang masuk dan membolongi jiwa Andara. Dia kehabisan kata-kata dan tidak tahu bagaimana membela diri. Seharusnya dia tahu kalau kebohongan itu gendangnya cuma ada dua sisi: ketahuan sekarang atau ketahuan nanti.
"Sekarang gue tanya sama lo. Lo masih mau di Best FM apa enggak? Pilihan lo cuma dua, resign atau terima SP II dan konsekuensinya."
__ADS_1
🔥🔥🔥
Kalau kalian tanya kenapa nggak crazy update? Gini, aku selalu publish chapter itu pakai minimum kata. Kalau jauh dari 2000 kata, aku nggak update. Makanya doakan jempolku sehat dan otakku waras ya. ðŸ¤