Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
You're My Biggest Doubt


__ADS_3

"Apakah yang akan menjadi jarak kita? Kilometer ataukah rahasia yang ditutup-tutupi?"


🔥🔥🔥


Saat tangan Andara lepas dari genggamannya, Kin terkejut. Dia berpikir Andara akan setuju dengan ajakan nekatnya tadi. Namun, mata itu menunjukkan kegundahan yang sangat nyata sebelum lari menghilang dari pandangan.


Kin mengusap muka gusar, menyesal akan ajakan bodoh yang terbersit. Sebenarnya ada rasa kecewa dan dia kesusahan menenangkan sesuatu yang terasa sesak di celana sedari tadi. Hanya saja, bagian lain dalam dirinya tersenyum lega melihat kepergian Andara. Dia lega menyadari bahwa kekasihnya mampu menjaga diri sendiri, mampu membentengi diri meski terlilit gairah, dan dia bangga. Tidak perlu mungkir, mereka berdua menginginkan kelanjutan adegan itu walaupun Andara tidak mengucap apa pun. Bahasa kalbu kerjanya lebih afdol untuk sesuatu yang mereka tahu sama tahu.


Kin mencoba mengejar Andara sebelum ponselnya bergetar menampilkan pemberitahuan. Ada pesan masuk bertubi-tubi ke Instagram-nya, dan semua itu dari Buana. Si pengirim pesan menyadari jika foto siluet yang dia unggah kemarin adalah foto Andara.


Buana.Semesta: Gue tahu siapa orang di foto itu. Tolong bilang sama Andara, gue perlu bicara sama dia.


Kin berdecak. Ini di luar dugaannya. Dia tidak percaya kalau Buana akan berkirim pesan sesantai itu. Hell, Andara itu kekasihnya sekarang dan Buana seharusnya tahu diri untuk berkirim pesan kepada pacarnya Andara.


Kin pun menuliskan balasan.


Kin.dhana: Harusnya lo sadar, dengan dia nggak mau angkat telepon lo itu berarti lo udah nggak ada tempat lagi meski buat sekadar bicara.


Buana.Semesta: Ini penting. Gue perlu ngomong langsung sama dia. Jangan halangi gue buat ngomong sama dia, setelah itu terserah dia.


Kin berdengkus. Penting sekali? Sepenting apa? Apakah ada misil jarak jauh nuklir yang kecepatannya melebihi cahaya, sedang diarahkan ke mereka saat ini dan bisa meledakkan separuh belahan dunia?


Kin.dhana: Lo terlalu pemaksa untuk Andara yang nggak suka dipaksa, Bro.


Buana.Semesta: Lo nggak tahu apa-apa, Bro. Bilang sama Andara kalau gue mau bicara sama dia, dan suruh dia angkat telepon gue.


Siapa dia mau memaksa Andara untuk mengangkat telepon? Kin sekalipun tidak mau memaksa-maksa Andara. Adrenalin yang tadi terpacu karena gairah sekarang berganti rupa, dia ingin sekali memukul cowok itu.


Kin.dhana: Gue paham kalau ngebantu orang yang kesulitan itu baik, tapi kayaknya nyenengin juga lihat orang lain susah apalagi untuk orang yang nggak kenal gimana adab minta tolong. Sori, gue nggak punya waktu luang buat balas-balasan pesan. Waktu gue sama pacar gue lebih berharga.


Kin mengunci kembali ponsel, dan mengedarkan pandangan. Karena berbalas pesan tadi, Andara jadi luput dari pandangan. Cewek itu terlihat sudah menjauh dengan orang asing. Kin berusaha berjalan mengejar Andara yang merokok santai sambil jalan. Entah mengapa ada keberatan melihat Andara merokok seperti itu. Jika selama ini orang akan santai melihat cewek merokok di kafe atau coffee shop, berbeda jika melihat cewek merokok di pinggir jalan. Orang langsung menstigmakan negatif.


"Ternyata di sini. Gue cariin dari tadi." Dia langsung merangkul Andara sembari menarik rokok. Rokok itu diinjaknya sampai mati. Andara menoleh kaget dan Kin hanya tersenyum tipis sambil mengusap bahu Andara.


"Lo kenal?" bisik seorang cewek yang ada di sebelah kanan Andara. Cewek itu adalah cewek yang keluar bersama Andara dari toilet. Kin menoleh dan cewek itu seperti gelagapan karena bisikannya terdengar.


Andara mengangguk. "Cowok gue."


Seisi tubuh Kin rasanya mengembang. Andara masih mengakuinya meski dia tadi melakukan kesalahan. Cewek di samping Andara itu membolakan mata beberapa detik dan langsung mengulurkan tangan untuk kenalkan diri.


"Gue Zella." Zella memanggil seorang cowok dan mengenalkan juga. "Dan ini cowok gue, Bima." Sehabis mengenalkan, Zella mengajak Andara duduk di pinggir keramaian.


Bima dan Kin memilih berdiri di tempat semula. Pacarnya Zella itu menawarinya sekaleng bir, dan Kin menerima untuk menghargai teman baru. "Sori, Zella memang kayak gitu. Gampang akrab dan ada aja teman barunya," ulas Bima sambil memandang Zella dan Andara yang sedang bercerita-cerita. "Gue kayaknya nggak asing sama lo, deh. Lo kuliah di sini?" tanya Bima sambil mengangkat kaleng birnya.


Kin membuka kaleng dan menyesap sedikit. "Nggak. Gue di UTM. Lo kuliah di?"


"Gue di NUS."


"Oh, I see." Kin mengangguk. "Mungkin kita pernah ketemu di acaranya Deni." Deni juga kuliah di tempat yang sama seperti Bima yaitu National University of Singapore (NUS), dan sepupunya itu termasuk anak yang aktif dalam pergaulan.


"Deni?" tanya Bima. Cowok itu meluruskan telapak tangan untuk menggambarkan bagaimana sebuah mobil melaju kencang. "Deni Maserati?"


Kin mulai tertawa pelan. Mewah sekali si Deni diingat hanya karena merek mobilnya yang berlambang trisula itu. "Iya, yang itu."


Bima ikut tertawa. "Ya, kenallah. Awalnya kami battle racing dulu baru bisa temenan. Dia aktif di mana-mana, di PPI, di kampus. Ah, sosialita banget."


Kin mengangguk membenarkan, Deni orangnya ramah dan loyal. Dengan sikap Deni yang gampang berbaur dan nyambung di setiap obrolan, orang akan dengan mudah mengingatnya. Ya, kecuali Andara. Pacarnya itu sepertinya kebal akan pesona Deni karena masih tidak ingat sampai kembali diperkenalkan ulang.


Ponsel Kin bergetar kembali dan nama Buana masuk sebagai pengirim pesan.


Buana.Semesta: FYI, dia hamil anak gue.


Refleks Kin mencengkeram ponsel. Langkah Buana sudah keterlaluan dan tidak bisa ditoleransi lagi. Pantas Andara tidak mau mengangkat telepon cowok itu. Buana memang berengsek.


"Gue pikir tadi cewek lo sendirian aja ke sini." Bima membuka suara. "Gue awal ketemu Zella gitu soalnya. Anak itu santai aja nonton konser sendirian."


Kin mengantongi ponsel sambil berusaha tersenyum. Pandangannya kembali ke Andara yang terlihat nyaman bersama Zella. "Dia juga orangnya begitu. Rebel. Ke mana dia mau pergi, ya dia pergi aja."

__ADS_1


"Paham banget gue," tambah Bima terkekeh. "Susah-susah gampang punya pacar kayak mereka. Mandirinya bikin kita senang, tapi bisa bikin kita kesal sendiri. Udah gitu, teman-temannya." Bima menjeda sebentar sambil akting mengusap dada. "Sabar-sabar, deh. Teman cowoknya banyak banget!"


"Lebih ribetnya kalau mereka anggap si cowok itu teman, padahal si cowok punya niatan lain." Kin mengangkat alis setuju.


Bima terbahak. "Ah, iya. Itu! Cuma cowok yang paham sesama cowok. Gue pernah ingetin Zella tentang itu, tapi dianya ngotot kalau cowok itu cuma anggap dia sahabat. Hampir gue ketikung."


"Jadi ketikung?" Kin jadi ingin tahu.


"Nggak. Zella akhirnya sadar kalau cowok itu ada maksud lain. Kadang gue ngerasa orang kayak mereka itu terlalu polos untuk menganggap semua cowok adalah pure teman. Apalagi kalau udah mantan, mana ada mantan berteman sama mantan."


Sesuatu terasa menyentil jantung Kin. Mengapa setiap kalimat Bima seperti mantra yang memiliki kecocokkan di kehidupannya? Dia berdeham. "Sebenarnya, gue sih nggak ngehalangin kalau sesama mantan berteman, tapi harusnya bisa mengendus juga apa niat dari berteman lagi itu. Sekadar berteman atau ..."


"... atau minta bobo bareng," sela Bima tertawa.


Sialan. Kin ikut tertawa garing karena menghubungkan dengan pesan Buana tadi. Seingatnya Andara sudah putus beberapa bulan dengan cowok itu. Apakah Andara ada bermain sesaat tanpa status? Rasanya Kin ingin menarik Andara pulang ke hotel dan menanyainya sampai mengaku, tapi itu akan menambah masalah. Lagi pula, dia saksi kalau minggu lalu Andara PMS, kok. Cewek itu bahkan sempat tembus dan dipinjaminya jaket untuk menutup bercak di celana Andara. Iya, Andara tidak hamil. Itu bisa-bisanya Buana saja untuk merusak momen mereka berdua. Licik sekali cowok itu.


Kin langsung meraih ponsel dan mengetikkan balasan atas pesan Buana yang tadi diabaikan. Jika Buana pikir dia mampu dihasut, tentu salah sasaran.


Kin.dhana: Fantasi lo ketinggian. Lo dengar, ya. Kalaupun Andara hamil, gue yang akan tanggung jawab. Case closed, Bro.


Setelah menjawab itu, Kin mematikan ponsel dan kembali menikmati pertunjukan Aly & Fila dari jauh sembari bercengkerama dengan Bima sampai ketukan terakhir dan orang-orang membubarkan diri. Begitu pun Andara dan Zella, mereka kembali merapat ke arah Kin.


Andara melambai ke Zella sebagai perpisahan dan setelah itu mereka berdua berjalan menuju hotel dalam keadaan diam.  "Gue lusa balik," tutur Andara mulai bersuara.


Kin menoleh cepat, kaget atas informasi barusan. "Gue udah beli tiket," tambah Andara seolah mengklarifikasi bahwa cewek itu tidak meminta tiket darinya.


"Kok mendadak?"


"Sebenarnya nggak juga. Gue kan udah seminggu lebih liburan. Senin malam mesti siaran Reload karena minggu lalu, Bang Anco udah gantiin gue. Nggak enak kalau lusa dia gantiin lagi." Andara menoleh ke arah laut yang gelap. Pandangannya menerawang seperti memikirkan sesuatu.


"Take off  jam berapa? Biar gue tahu jam berapa kita balik ke Johor besok."


Andara menggeleng pelan. "Gue pilih flight dari Changi, jam sembilan pagi. Sori nggak bisa temanin lo balik ke Johor."


Ada gelembung-gelembung kecil yang terasa bergelegak. Sesungguhnya Kin tidak keberatan sama sekali berkendara sendirian. Dia sering ke Singapura sendirian dan itu tidak masalah. Namun, beda saat Andara memberitahukan tentang ini. Kin meringis, ternyata seperti ini rasanya mendapatkan keputusan sepihak tanpa diajak diskusi. Dia memandangi Andara tanpa komentar. Hatinya berisik.


Kin hanya bisa mengulas seutas senyum pahit. Kali ini, dia tidak mau membuat keputusan sendiri lagi. "Lo mau nginap di mana besok malam? Tempat Deni, Diska atau hotel?"


"Nggak usah. Let's explore amazing S'pore at the night. Gue bisa tidur di pesawat."


"Serius?"


Andara mengangguk yakin. Dan benar saja, keesokan malam, Andara mengajaknya berjalan kaki. Untuk ke sekian kali, mereka benar-benar berjalan kaki. Mobil diparkir, dan mereka menjelajahi Singapura waktu malam. Mereka berpindah dari trotoar satu ke trotoar lain, melewati jalan-jalan ramai dan pusat perbelanjaan yang terkenal. Sayang, Andara tampak tidak tertarik untuk berbelanja di toko-toko gemerlap yang terlihat membujuk, sampai Kin yang memaksa untuk masuk ke sebuah toko sepatu.


"Bagus, nggak?" Kin menunjukkan sebuat boots berwarna kulit.


"Bagus."


"Kaki lo nomor 37 apa 38?" tanya Kin sebelum memesan ke pelayan.


"Lho, kok kaki gue?" Andara mulai mengerti maksudnya menanyakan nomor sepatu cewek itu, lantas menolak. "Nggak, Kin. Nggak."


"Gue pengin kita pakai sepatu kembar. Nggak boleh?" argumen Kin. Dia tahu kok jika sepatu yang dipegangnya itu adalah jenis sepatu kesukaan Andara meski bukan terbuat dari kulit seperti Docmart.


Andara menghela napas. "Ini harganya lumayan." Cewek itu terdiam sebentar sambil menatap mukanya. "Ya udah, tapi punya gue biar gue yang bayar."


"Nggak. Gue pengin beliin lo. Kalau bayar sendiri itu namanya bukan beliin." Kin makin bersikeras.


Andara masih keberatan, tetapi sepertinya cewek itu melihat kesungguhannya. "Kalau gitu, jangan Timberland." Telunjuk Andara mengarah ke yang lain. "Vans aja."


Setelah membeli, Kin meminta Andara segera mengganti sepatu di tempat. Dia bahkan berlutut untuk menalikan sepatu Andara.


"Gue bisa sendiri." Andara menjauhkan kakinya.


"Gue tahu, tapi gue tetap pengin ngelakuin ini. Biar ikatannya kencang, langkah lo kuat dan jalan kita jadi lebih lama. Sesuatu yang asal-asalan, hasilnya bakal nggak maksimal." Kin meraih kaki Andara dan merapikan ikatan. "Udah beres. Yuk." Dia lantas menggenggam Andara menuju mobil untuk menaruh sepatu lama, setelah itu meneruskan menjelajah Singapura.


Mereka sempat mengabadikan sepatu baru seperti pasangan norak. Tertawa-tawa dan mengamati kelakuan orang-orang di sekitar. Kameranya yang dipinjam Andara banyak menangkap keindahan dari permainan lampu yang memukau. Tidak ada bintang terlihat. Namun, laser-laser bermain dari semua sudut. Dari tingginya Marina Bay Sands, dari lengkungan Helix Bridge, dari bulatan City Skyline. Pantulan cahaya itu indah meski terlihat hanya dari air.

__ADS_1


"Gue baru kali ini benar-benar jalan kaki di Singapur," aku Kin. Tak pernah terpikirnya hal itu meski dia berulang kali ke sini. Kalaupun dia pernah menjelajahi kehidupan malam di Singapura mungkin hanyalah kelab atau kafe, tidak pernah dia benar-benar meniti jalanan. Dari Andara-lah, dia baru tahu kalau wisata malam di Singapura benar-benar elok. "Cakep juga lampu-lampunya."


"Bukannya lo yang bilang, cahaya itu semakin cantik kalau sekitarnya gelap?" Andara tertawa kecil mengejeknya. Tawa yang membuatnya terlihat semakin cantik meski ada yang terasa mengganjal bagi Kin. "Makanya jalan, jangan duduk di balik setir melulu."


"Copy aja terus. Melanggar hak cipta." Kin tersenyum sembari merangkul bahu Andara. Dia sempatkan mengacak rambut cewek itu untuk meredakan kegundahan.


"Bikin trademark kalau nggak mau dipakai gratis!" Andara balas memukul pelan lengan Kin. "Memangnya lo siapa? Fiersa Besari atau Wira Nagara?"


Kin mengerutkan alis, mendengar Andara sebutkan nama yang asing. "Itu siapa?"


Bukan menjawab, Andara makin terbahak. "Udah, nggak usah dipikirin. Kasihan otak lo kalau dipaksa di luar kapasitas."


"Ara!" seru Kin tidak terima.


Mencoba menghindarinya, Andara lari berkelit menjauh. Mereka lalu berjalan lagi, memasuki Night Safari sampai lelah, setelah itu duduk sebentar lantas kembali menelusuri jalan-jalan yang tidak diketahui namanya, duduk lagi di taman kota yang sepi. Semua yang menyenangkan terasa melaju begitu cepat hingga fajar datang, menyadarkan mereka jika perpisahan sejengkal di depan mata.


"Astaga! Lo berdua beneran nggak tidur?" tanya Deni yang menyambangi Kin dan Andara di Changi. Di genggaman cowok itu ada Diska yang ikut tersenyum.


"Lo ngapain ke sini?" Kin balas bertanya. Deni terlalu mudah menemukan dia. Cowok itu tentu tahu kedai kopi favorit Kin di bandara Changi dari banyak tenant yang ada di sini.


Deni mencibir. "Gue ke sini bukan karena lo, ya! Diska yang ajak karena katanya mau antar Andara. Jangan geer lo."


Alis Andara menaik. Matanya meneliti pasangan itu dan sepertinya Deni tidak berbohong.


"Iya, Kin. Lagi pula Andara kan baru sekali gabung bareng kita, nggak ada salahnya diantar walaupun cuma sampai pintu keberangkatan," ujar cewek itu tulus.


Pantas Kin sempat suka, Diska orang yang baik. Mau tak mau Andara memperhatikan Diska lebih dekat. Padahal saat sekamar di Pulau Sentosa, dia berusaha untuk pulang dini hari agar tidak terlibat percakapan dengan Diska. Merasa bersalah atas penilaian sendiri, Andara bergumam. "Thanks, ya, Dis."


Diska mengangguk.


"Sama gue nggak, Ra?" Deni menggoda Andara.


"Nggak perlu," potong Kin meledek. "Lo aja sering susahin gue kalau di Johor."


"Jadi ... Gue nyusahin lo juga nggak?" Andara melirik Kin, dan Deni-Diska tertawa.


"Mampus, kalau pacar yang nanya kicep kan lo?" Deni terkekeh menambahi yang langsung dicubit oleh Diska.


Tidak ingin menambahi perdebatan menjadi panjang, Diska mengingatkan mereka bahwa Andara perlu masuk ke ruang tunggu. Mereka mengantar Andara hingga ke pintu masuk.


"Guys, gue balik dulu, ya. Makasih banyak ya, Dis, Den. See you again." Andara menjabat tangan Deni dan balas memeluk Diska. Lantas cewek itu menghadapnya. "Lapor, Kamerad. Saya siap berangkat!"


Kin menatap sang kekasih dengan berat hati sambil membalas hormat. "Laporan diterima. Hati-hati."


"Yaelah, gitu doang? Nggak dipeluk? Nggak dicium?" goda Deni yang masih menontoni Kin, kembali dicubit Diska. "Pedes cubitannya, Baby."


"Jangan digangguin," balas Diska menarik pacarnya yang berisik.


"Ya, tapi nggak salah juga, sih." Deni berkilah. "Mereka kan bakal LDR. Nyesal mah belakangan. Udah, gas, Kin!" seru Deni yang mulai menjauh.


Rona-rona merah pada muka Andara tampak karena mendengar itu. Kin membuka tangan. "Sini," ajaknya menarik Andara yang tersipu. "Gue bakal kangen banget sama lo."


Andara membalas pelukannya tanpa bicara, namun itu cukup bagi Kin. Dia lalu mencium pipi kesayangannya. "Safe flight, Sayang," bisiknya sebelum pelukan itu merenggang dan Andara masuk ke dalam.


Badan Andara makin lama makin menghilang, menyisakan kehampaan yang Kin sendiri tidak tahu apa. Sekitar terasa kosong dan sebelah hatinya nyeri. Seandainya Andara bisa lebih lama lagi liburannya, seandainya selama bersama tidak ada pertengkaran atau kekakuan, seandainya jarak Johor-Jakarta hanya seperti Johor-Singapura, tentu Kin tidak akan seragu ini.


Berusaha mengukuhkan kebimbangan, dia lalu meraih ponsel untuk mengirimi Andara pesan, tetapi pesan Buana masuk lagi.


Buana.Semesta: Apa pun cerita lo, Andara bakal tetap sama gue, tetap bakal balik ke gue, tetap bakal cari gue. Antara kami ada janji yang terikat seumur hidup, Bro.


Tanpa membalas, Kin mengantongi ponsel. Dia tahu maksud Buana. Bukankah Andara pernah cerita alasan Buana mengadang mereka berdua di parkiran Splash? Sadar atau tidak, Andara cerita soal janji itu. Janji yang membuat Kin menyadari mengapa Andara menolaknya kemarin. Janji yang akan terus dijalani kekasihnya di belakang dia. Janji yang membuat dia semakin bingung.


Kin mendesah, tengadah memandang pesawat yang lalu lalang di langit. Tidak pernah dalam sejarah, Changi terasa semenyesakkan ini.


🔥🔥🔥


Hayo, siapa yang mikir Buana bakal dateng? WKWKWK. 🤭

__ADS_1


Tim Buana dan Tim Kin akan beradu sebentar lagi. Eh, apa jangan-jangan udah keles gegara pesan Buana ke Kin? 😂


__ADS_2