
Daftar lagu yang bisa diputar saat membaca bab ini:
Bebi Romeo - Cinta Kau dan Dia
Padi - Seandainya Bisa Memilih
🔥🔥🔥
Kenangan adalah tempat terindah
Menyimpanmu dengan mewah
Tanpa pernah menjadi asing dan usang
Kamu tak ubahnya kampung halaman
Yang selalu kurindukan
Lagu ini masih tentang kamu,
Hati ini masih milik kamu,
Mantan nomor satu...
Dirimu milik Tuhan tak ada duanya
Senyummu seperti lorong waktu
Menarikku kembali ke masa lalu
Lagu ini masih tentang kamu,
Hati ini masih milik kamu,
Mantan nomor satu...
Ada yang pernah bilang kalau sebuah lagu adalah mesin waktu sederhana yang mampu mengembalikan setiap ingatan. Dengan suara berat Buana yang hanya diiringi petikan gitar, lagu ini tidak ditingkahi dengan keributan alat musik. Jelas sekali kalau Marionette lebih mengedepankan lirik dan kekhasan suara Buana. Betotan bas Indra yang biasa cepat, tidak ada, tabuhan drum Choky mengentak kuat juga tidak ada. Seolah solois, semua berpusat ke Buana. Entah mengapa semua ini seperti menjadi penanda yang diciptakan tanpa sadar, kalau pada akhirnya lagu ini menjadi lagu terakhir Buana.
Sejak Andara kembali ditugaskan menjadi Creative Production Indiebest, dia tidak mau dengar, tidak mau tahu, tidak mau peduli sama lagu ini. Bahkan dia membangkang untuk tidak memutarkan lagu ini jika ada di daftar putarnya saat siaran. Sebagaimana dia menaikkan Marionette, dia juga yang memotong kaki Marionette setelahnya. Tidak ada satu pun lagu Marionette yang pernah dia putarkan setelah diputuskan Buana. Sabotase memang mudah jika seseorang memiliki akses dan Bang Anco atau siapa pun tidak ada yang sadari hal itu.
Sampai akhirnya hari ini Andara memutarkan Mantan Nomor Satu dan tertegun selama lagu mengalun. Dia masih ingat Indra bilang apa saat di backstage. Cowok itu bilang yang ciptakan lagu ini Buana, lengkap dengan cengiran menyindir khas Indra dan ditingkahi olok-olokan personel yang lain juga muka datar Buana seolah tidak mendengar apa-apa.
Apa lagu ini diciptakan Buana untuknya? Andara menggigit bibir. Sudut matanya kembali panas dan ini lebih menyesakkan. Saat di mana dia berusaha menahan sekuat tenaga agar air mata tidak menetes. Sudah seminggu kepergian Buana, selama enam hari juga dia juga diberikan kebebasan tanpa siaran. Bang Rodi seperti memberi waktu kepadanya agar beristirahat dengan tidak memasukkan nama dia di jadwal siaran minggu lalu.
Selama enam hari juga kerjanya hanya tidur, bangun, bengong, menangis, bergelung dengan selimut. Tidak ingin apa-apa dan tidak ada semangat hidup. Dia hanya ingin bisa bertemu Buana sekalipun dalam mimpi.
Ini kali pertama Andara kembali ke studio setelah peristiwa tolol menangis di depan mikrofon yang masih hidup. Dan dia mengulangi hal bodoh lagi, kali ini bukan menangis di depan mikrofon yang hidup, tetapi melongo selama mungkin padahal lagu sudah berhenti dan sistem autopilot tidak diaktifkan. Kesadaran Andara seperti pergi, kepalanya kosong.
Dead air adalah kesalahan terfatal seorang penyiar. Kalau keserimpet lidah, salah menyebutkan nama atau gelar orang, atau keseleo menyebutkan tanggal, masih bisa diralat penyiar dengan meminta maaf, tetapi dead air setelah sebuah lagu terputar ialah kesalahan kuadrat, kesalahan yang nggak bisa dimintakan maaf. Penyiar nggak bisa tiba-tiba open mic di antara jeda diam tanpa suara apa pun dengan bilang, "Sori tadi sempat dead air." Atau, "Sori, nggak sengaja."
Begitu juga Andara, setelah diteriaki Bang Rodi dari ruangannya setinggi tiga oktaf hingga terdengar ke ruang studio. Dia yang akhirnya tersadar hanya bisa menyelipkan jingle station radio dan terburu-buru menaikkan satu lagu lagi lalu pasrah kena marah.
"Konsentrasi, Andara. Apa waktu seminggu masih belum cukup buat lo self healing?" sentak Bang Rodi dengan alis berkerut.
Andara tidak menjawab. Dia hanya menunduk, menyadari kesalahannya. Seminggu memang tidak cukup, sebulan juga belum tentu. Entahlah, dia tidak yakin waktu akan bisa menyembuhkan segala rasa sakit.
And being professional is sucks.
Andara menyadari dia bukanlah seseorang yang profesional atas semua yang dilakoni. Contohnya saat melancarkan balas dendam kepada Buana, apa dia profesional dengan perannya? Tidak, dia membawa hati! Saat melakoni skenario dengan Kin juga tidak ada profesional-profesionalnya karena dia jadi benar-benar suka. Saat siaran terakhir juga tidak profesional dan saat ini juga gagal. Rasa-rasanya memang tidak ada yang dilakukannya dengan ahli kecuali dalam hal mencaci seseorang. Dan dia mencaci diri sendiri lagi untuk kesekian kali.
Siaran selesai dengan banyak pertanyaan penting menyerbu Andara. Dia mulai mempertanyakan eksistensi di dunia broadcasting. Dia menyukai musik, suka sekali, namun menjadi penyiar bukan atas dasar hanya menyukai musik saja, 'kan? Dengan menjadi penyiar Best FM, ke mana pun dia, ada bendera tak kasatmata yang terbawa-bawa di atas kepala. Dia dijejalkan tanggung jawab representasif radio tersebut.
Titik-titik air turun pelan kala kaki Andara sampai di lantai satu. Wajah langit putih keabu-abuan membuat sekitar terasa redup. Lampu-lampu yang belum dinyalakan menambah suram suasana Best FM. Penghuni bawah yang rata-rata kru Best EO sedang mempersiapkan lokasi untuk acara pergantian tahun, nanti malam. Panggung kecil mulai dirangkai, backdrop dipasang, alat-alat musik dan perangkat DJ juga dites.
Dia melirik ke set sofa yang ada di depan kantor Best EO. Biasanya Buana dan Marionette-nya akan duduk di situ setelah mengisi acara off air, sekadar ngobrol ngalor ngidul dengan kru Best EO atau duduk di pojok taman jika acara sudah dimulai untuk mengamati setiap pertunjukan. Buana itu sering memperhatikannya meski dalam diam. Andara dapat merasakan kok kalau pandangan cowok itu sering mengarah ke dia. Setelah putus juga masih seperti itu, dari pojok remang itu, Buana bersembunyi dan memantau dari sana.
Andara menghidu pilu. Dia masih saja berpikir kalau Buana akan datang, entah di malam-malamnya ataupun di dalam mimpi-mimpinya, tetapi Buana tidak pernah datang lagi. Sekadar lewat sesaat dalam mimpi pun tidak pernah. Dia berdeham sejenak dan menunduk lewati ruangan itu. Bayangan digoda atau dijaili yang lain juga ditatap Buana masih di pelupuk dan mengaburkan jarak pandang. Tidak, dia tidak menangis. Matanya hanya berair sedikit saja, sekadar pelumas untuk retina agar tidak kering.
Pelan, dia menuju pos satpam, duduk di sana sambil memandang gerimis yang tampak setajam hantaman kerikil. Mungkin besok atau ke depan harinya, dia akan lebih tolol daripada hari ini. Bisa jadi.
Andara meremang, mulai bimbang. Mungkin dia mulai memikirkan pengunduran diri. Memasuki semester enam juga bukan hal main-main bagi mahasiswi hukum yang nilai semester lalunya terjun bebas. Nasakom, kalau istilah anak-anak kampus. Nasib satu koma. Iya, IPK-nya hanya 1,95 tidak sampai dua. Nilai UAS-nya anjlok, tugas banyak yang tidak terkumpul karena kehidupan dia carut-marut tumpang-tindih antara kerja, kuliah juga masalah pribadi.
Tapi dari mana pemasukannya jika tidak bekerja? Jadi penyiar atau MC jelas lebih bersahabat dengan jadwal kuliah daripada jadi karyawati restoran cepat saji atau barista kopi. Lagi pula, dia tidak tahu apa-apa tentang kopi dan kata orang, kerja di restoran cepat saji itu sangat melelahkan.
Lamunan Andara terdistraksi kala sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendela mobil itu turun perlahan dan ada wajah Kin yang menoleh ke arah dia. "Ra, ayok."
__ADS_1
Andara sempat mengangkat alis bingung sampai Kin mengajak dia naik untuk yang kedua kali. "Ayok buat apa?" tanyanya masih tidak beranjak dari atas bangku panjang pos satpam.
"Biar gue antar, lo mau ke mana? Masuk dulu sini."
Cowok itu membuka pintu dari dalam sehingga mau tak mau Andara juga masuk. Dikibaskannya titik hujan yang jatuh di kepala.
"Ada kuliah hari ini?" tanya Kin sembari menjalankan BMW hitam seri X. Sekilas pandang Andara dapat menangkap gambaran kalau mobil ini adalah mobil baru. Interiornya kelewat sempurna, terlalu bersih untuk mobil lama, lagi pula keseluruhan dalam dan luar kentara kok kalau mobil halus nan mengkilap ini mobil baru.
Andara menggeleng. "Masih libur sampai Minggu depan."
"Oh, gitu. Gue lusa udah masuk lagi," ujar Kin.
Andara memilih mengangguk dan kemudian diam. Sudah lama tidak komunikasi secara personal dengan Kin membuat dia jadi canggung. Tidak tahu apa yang harus dikatakan kepada cowok itu. Dia mendengung. "Kin, sebenarnya gue mau ke rumah Buana. Nanti sore ada pengajian nujuh hari dia."
Kin melirik jam lalu mengangguk. "Ya udah, gue antar," ujarnya terdiam sesaat.
"Gue besok balik," tambah Kin saat menyadari Andara tidak berkata apa-apa lagi. Cowok itu menoleh ke Andara. "Tapi gue pengin bicara sebentar sama lo. Makanya waktu lihat lo di pos satpam, gue langsung putar balik."
Mobil Kin berhenti pada sebuah kedai kopi di daerah kampus. Andara tidak menyangka Kin tahu kedai yang terbilang baru ini. Dia sendiri pernah ke sini, sekali, untuk berbicara dengan Buana. "Harus banget ya ke sini?" gumamnya tanpa sadar.
"Kenapa?" Kin jadi urung mematikan mesin untuk mengunggu persetujuan Andara.
"Kalau ke tempat lain aja, boleh?" pinta Andara. Dipandanginya jendela lantai dua yang terlihat dari balik kaca mobil. Bayangan Buana seakan-akan masih berada di sana. Duduk bersama dua gelas teh mengepul yang sudah tersedia di atas meja dengan pandangan yang tidak bisa dia artikan. Sekarang Andara tahu arti pandangan itu, pandangan gelisah, sedih, putus asa dan kesakitan.
"Kenapa?" tanya Kin lagi sambil menatap tepat ke bola matanya. "Karena keingat Buana? Pernah ke sini sama dia, 'kan?"
Wajah terperangah Andara sudah tak terkontrol. Mulutnya refleks membuka dan dia menatap Kin dengan alis bertaut antara tak percaya juga terkejut.
"Gue tahu kok kalian pernah ke sini, waktu lo bilang ada urusan sama teman." Kin menarik bibir datar. "Dan kata lo waktu itu, bakal telepon balik gue lagi tapi lo nggak telepon gue."
Dentum jantung Andara terasa mencengkeram leher. Dia seperti diberondong mitraliur dan terbunuh di tempat dalam satu waktu.
"Kenapa nggak cerita sama gue, Ra? Kenapa gue mesti tahu lo di sini dari Rizki, dan tahu apa yang kalian berdua bikin dari CCTV?"
"C-CCTV?" tanyanya gagap.
Kin mengangguk sambil menyandarkan punggung ke jok setelah mengecilkan volume musik. "Gue pernah cerita kan sama lo kalau Rizki ajak gue buat bisnis coffee shop? Ini coffee shop-nya. Malah gue ikutin masukan lo untuk kreasiin juga sajian teh. Poor me, belum sempat gue ajak lo ke sini. Lo udah duluan ke sini sama Buana."
Bibir Andara masih tergantung membuka. Seorang penyiar juga manusia, bisa kebingungan memilih kata-kata.
Hujan makin deras di luar, dari pemutar musik mobil Kin terdengar denting-denting piano mengalun dan suara Bebi Romeo menyusul kemudian.
Hancur hatiku, mengenang dikau
Menjadi keping-keping, setelah kau pergi
Tinggalkan kasih sayang
yang pernah singgah, antara kita
Masihkah ada, sayang itu
Lagu yang terasa menyudutkan dan menyadarkan Andara. Sebab saat dia jatuh hati dengan Kin, masih juga ada Buana di sisi bagian dalam perasaan. Dia kehabisan suara.
"Gue bukannya nggak berusaha, Ra. Gue memilih diam waktu Buana sibuk nyariin lo sampai DM-DM gue. Gue diam waktu tahu lo tutupin apa yang lo lakuin sama Buana di belakang gue. Gue diam waktu dapatin kabar-kabar tentang lo sampai lihat video lo sama Buana. Lo dipeluk Buana di sini, di acara Best FM, di mana lagi, gue nggak tahu. Gue nggak mau marah-marah. Gue cuma nunggu lo cerita, Ra."
Andara hanya bisa menggenggam erat jarinya sendiri. Setelah mendapat jalan terang atas semua alasan Buana, kali ini tabir mengenai Kin juga terbuka.
Memang salahku, yang tak pernah bisa
Meninggalkan dirinya, 'tuk bersama kamu
Walau 'tuk trus bersama
'kan ada hati, yang 'kan terluka
Dan ku tahu kau tak mau
"Bukannya waktu dulu berteman, kita bisa cerita apa aja? Kenapa waktu kita pacaran malah aneh, malah renggang, malah banyak yang ditutupin?" gumam Kin menatap ke depan, seperti berbicara dengan diri sendiri. "Kalau lo mau jalani dua-duanya, apa mungkin seseorang bisa membagi rasa untuk dua orang berlainan dengan kapasitas yang sama? Mustahil, 'kan?"
Sekali lagi maafkanlah
karena aku, cinta kau dan dia
Maafkanlah, ku tak bisa
__ADS_1
tinggalkan dirinya
Bohong kalau mata Andara tidak mengembun, kali ini. Dan kata maaf tidak pernah bisa mengembalikan semua ke posisi awal, ke titik nol. Pada akhirnya, semua ini adalah kesalahannya. Tentang Buana, tentang Kin, tentang semua yang selama ini dia kira dialah yang tersakiti. Realitasnya, dia adalah aktor utama semua kekacauan berantai ini.
Sadar kalau dia tidak mau turun di tempat itu, Kin lalu mundurkan mobil, kembali melaju di jalan raya, menuju arah rumah Buana. "Benar sih kata Buana. Apa pun ceritanya, lo bakalan balik ke dia," ujar Kin meringis sedikit lalu tersenyum pelan. Senyum maklum yang berupaya sabar mendapati perkiraannya tidak meleset.
"Kin, lo harus dengar cerita versi gue juga." Andara mengumpulkan semua keberanian dan kosa kata yang lenyap. Kin perlu tahu, sebab asumsi yang tidak komunikasikan hanya menghancurkan dan komunikasi tidak bakal efektif jika dia tidak bisa menahan diri ataupun kesedihan.
"Masih ingat Bima? Pacarnya Zella yang kenalan sama kita di event Aly & Fila?" tanya Andara sembari menekan duka yang dari tadi merebak.
Dia mulai menceritakan semua, menjabarkan kenapa dia sampai tidak menelepon Kin kembali, menjelaskan bahwa setelah bertemu dengan Buana, dia lalu terperangkap dalam konsekuensi kebohongan cuti yang disadari petinggi Best FM.
"Gue memang salah, tapi gue nggak ada niat mau bohongin lo. Gue mau cerita dengan bebas, dengan tenang tapi sekadar punya waktu untuk bisa teleponan sama lo juga nggak ada," ujarnya, "gue ketemu Buana buat selesaiin semua, buat ingatin dia supaya jangan ganggu gue, jangan ganggu kita. Salahnya gue, nggak kasih tahu sama lo. Maafin gue, Kin."
Kin bungkam, mencari kebenaran dari mata Andara. Mobil-mobil ramai menumpuk di jalan yang basah menjadi pengalihan Kin setelah mendapati jawaban dari apa yang dilihatnya. "Bukan cuma lo yang salah, gue juga. Mungkin semua ini udah telat buat dikomunikasiin, tapi kata Diska, isi hati orang nggak bakal bisa ditebak kalau nggak dibicarain langsung. Seenggaknya, kita bisa sama-sama belajar kalau mengira-ngira tanpa konfirmasi adalah sesat."
Andara mengangguk lambat, menyetujui ucapan Kin. Namun, sepertinya, ada yang perlu diralat dari perkataan cowok itu. "Lo bukan pelarian gue. Gue beneran pernah suka sama lo, Kin. Gue ketemu Buana juga buat kasih tahu dia kalau gue ... sayang dan cinta sama lo," aku Andara jujur. Kin memang tidak pernah menjadi pelarian dari Buana. Malah dengan Kin, dia merasa sadar bahwa hatinya masih berdenyut hidup.
Ada helaan berat yang berembus dari bibir Kin. Tanpa suara, Kin membelokkan setir, memasuki perumahan Buana. Cowok itu melambatkan laju kendaraan saat sudah dekat.
"Kalau seandainya Buana masih ada dan lo dihadapin dua pilihan antara gue sama dia. Yang mana yang bakal lo pilih, Ra?" tanya Kin dengan nada ragu.
Seandainya? Andara tersenyum getir dengan muka menahan tangis. Dia tahu seandainya itu tidak pernah ada. Dia tidak pernah ingin terjebak dalam pengandaian itu sebab jika dia tahu Buana akan meninggal, tentu dia tidak akan balas dendam. Dia akan memilih menyelesaikan semua persoalan di antara mereka dengan baik-baik dan beradab layaknya manusia dewasa.
"Gue juga sayang dan cinta sama lo, tapi entah kenapa, gue yakin kalau lo dihadapin sama pilihan tadi. Lo pasti pilih Buana."
Andara menahan napas dan dia seperti manusia yang tenggelam dalam lautan. Dadanya sesak. Kehilangan menampakkan wujud asli melalui sebuah kematian. Hilang nyawa adalah sebenar-benar hilang yang tidak akan pernah diharap bisa kembali, sekalipun memakai perandaian. Andara mengerjap dengan sudut yang mulai memanas. "Gue nggak tahu, Kin," desisnya.
"Lo tahu jawabannya, tapi lo ngingkarin. Lo masih aja pikirin dia kan sampai sekarang?"
Lelehan air mata sudah tak bisa Andara bendung lagi. Lecutan rasa bersalah selalu bertamu setiap kali mengingat Buana. "Gue nggak ngerti sama perasaan gue sendiri. Setelah dia masuk rumah sakit, gue baru tahu apa yang bikin dia jadi kayak gitu ke gue," isaknya lepas. "Dan masalahnya, apa yang selama ini gue bikin ke dia terlalu jahat. Gue ngelakuin semua atas dasar analisis gue aja, tanpa gue sadar kalau gue sendiri yang jadi sebab musabab semua."
Mobil Kin sudah berhenti di dekat rumah Buana. Di sekitar rumah itu, sudah ada beberapa mobil parkir. Andara dapat melihat kalau halaman rumah Buana juga dipasang tarup untuk menampung tamu sehingga tidak bisa dipakai parkir.
"Kadang lo perlu pinjam mata orang lain, kalau lo sendiri nggak bisa nilai diri lo," jelas Kin sembari mengangsurkan tisu. "Perasaan lo jelas kok, Ra. Lo masih nempatin Buana pada tempat khusus, di hati lo."
Tanpa menampik, Andara menyusut air mata dan meredakan sedunya. Dia tidak mungkin muncul dengan muka habis nangis seperti ini.
"Harusnya malam ini kita New Year Eve di Sentosa, ya?" canda Kin mengalihkan pembicaraan. Selama kenal dengan Andara, cewek itu memang pernah menangis bersamanya, tetapi tidak pernah seterpukul saat Buana meninggal. Tangis Andara begitu menyayat jantung, kesedihan yang lebih besar dari hujan tumpah ruah, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi oleh cewek itu.
"Situ yang putusin gue ya, Kamerad!" dengkus Andara dengan suara masih sengau tapi berusaha bercanda. "Rasain lo jadi jomlo."
Kin mulai melepaskan tawa, mengusap kepala Andara sekilas. "Iya, sori. Kamerad Andara selalu benar. Jangan sedih-sedih melulu, ya. Lo jelek kalau nangis."
"Lo yang bikin gue nangis, woy!" Andara melempar pelan tisu yang sudah digumpal-gumpal. Dia kemudian ingat akan cerita Natha kalau Kin-lah yang memapahnya saat dia pingsan di pusara Buana. "Ngemeng-ngemeng, thanks ya, udah bantuin waktu gue pingsan tempo hari."
"Anytime, Ra."
"Thanks juga lo sampai batalin keberangkatan cuma buat datang ke pemakaman Buana."
"Bocor halus juga si Natha," decak Kin terkekeh sambil meraih sesuatu di belakang tempat duduknya. "Buat persediaan teh lo, sori, gue lupa mulu mau kasihnya. Oh, iya, tahun depan mungkin gue bakal jarang pulang, mau kejar kelarin skripsi."
Andara menerima kantung kertas yang berisi kotak-kotak teh. Mata redupnya mulai berbinar. "Thanks, Kin. Lo nggak turun?"
Kin menggeleng. "Gue belum packing."
"Okelah kalau gitu. Makasih banyak-banyak, Kamerad. Good luck buat skripsinya. Hati-hati di jalan." Andara meraih tas dan membuka pintu mobil hendak turun. Namun, Kin menggapai pergelangan tangannya.
"Ra, satu hal lagi yang belum kelar. Gue nggak mau sesat sama spekulasi buat kedua kali," tutur Kin sambil menatap matanya. "Karena dari tadi kesimpulan gue belum juga lo jawab. Sekarang, gue pengin lo jawab pertanyaan gue. Lo masih cinta sama Buana?"
Andara kembali diam. Diraihnya tangan Kin dan digenggamnya. Mungkin dia terlambat, tetapi lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali. Dia yakin Buana pasti mendengar, entah dari mana. Dia ingin memberi tahu cowok itu bahwa pengakuannya kali ini bukan sekadar formalitas guna menyenangkan hati.
"Iya," angguknya. Hati yang masih perih, tangis yang tak kunjung reda dan kehilangan yang menampar keras. Mungkin luka ini ialah cara cinta menunjukkan bagaimana sebenar-benar perasaannya kepada Buana. Cowok itu masih nomor satu di hidupnya. "Makasih udah sadarin gue kalau gue ternyata masih sayang dan cinta juga sama dia."
Senyum Kin tercetak lebar dan tulus. Cowok itu pamit. Dengan kepergian Kin, baik Andara maupun Kin sendiri sadar bahwa tidak ada harapan untuk hubungan mereka.
🔥🔥🔥
Haaaaai! Lama banget sih updatenya?!
Prinsip, Kamerad, Prinsip! 😄
Aku bukan orang yang nulis dulu, revisi belakangan. Udah pernah kayak gitu, malah plotnya jadi berantakan.
Jadi, lama update karena aku baca ulang lagi. 😣
__ADS_1
Ada komentar seru apa kali ini?