Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Too Late


__ADS_3

Jika saja masa dapat diputar kembali, tentu manusia tidak akan mengenal arti terlambat.


🔥🔥🔥


Andara mengerutkan alis. Lehernya masih terasa nyeri meski luka sudah dibersihkan dan diobati. Suhu tubuhnya makin meninggi, tapi dia malah merasa kedinginan. Andara menggulung tubuh letihnya dalam selimut, tidak bertenaga untuk melakukan apa-apa.


"Ra, nggak ikut?" Natha muncul di balik pintu. Setelah tadi siang datang ajakan untuk ngopi, malam ini datang lagi undangan dugem. Kin tampak banyak memiliki waktu luang di Jakarta, berbeda sekali saat sedang di Johor.


Tanpa repot-repot membalik badan, Andara menggumam sebagai jawaban. Mulutnya susah sekali untuk dibuka. "Nggak."


"Lo ngehindarin Kin, ya?" Pertanyaan Natha terdengar menyelidik. "Jadian baik-baik, putusan juga harus baik-baik, dong, Ra."


Andara meringis di antara semua rasa tidak nyaman dalam tubuhnya. Dia menyeka dahi yang penuh keringat. "Nggak, kok. Cuma capek aja."


Suara klakson menyela, datang dari depan rumah. Mereka berdua paham siapa yang datang. "Jadi ... lo nggak ikut, nih?" Natha kembali bertanya, dan Andara mengangguk sebagai jawaban. "Ya udah, gue cabs dulu, ya."


Setelah pintu depan ditutup, kepergian Natha menyisakan kosong. Sepi seperti mencengkeram sehingga Andara kesulitan bernapas. Dia lalu tertatih duduk, bersandar di ranjang, sembari berkaca dari kamera depan ponsel. Lukanya terlihat bengkak. Mungkin ini yang buat demam. Sial, kerambitnya karatan nggak, ya? Nggak lucu kalau dia tetanus karena pisau sendiri.


Andara memejam, berusaha menurunkan debar di dada. Padahal cuma dengar suara klakson mobil Kin saja, dia sudah deg-degan. Bagaimana kalau bertemu langsung coba? Mendadak beku seperti mayat hidup mungkin, ya?


Dia jadi tidak enak hati dengan Kin. Cowok itu sudah biasa saja dengannya, sedangkan dia kelihatan sekali masih sakit hati. Yang dibilang berteman kan seharusnya tidak boleh egois dan dia yang mengajak Kin berteman, harusnya dia tidak boleh egois. Setelah berulang kali Andara mengetik dan menghapus pesan, dia kirimkan juga sebuah pesan ke Kin.


Andara Ratrie: Kin, sori nggak ikutan. Ngantuk banget.


Andara menggigit bibir. Alasannya aneh nggak, ya? Dia ingin menghapus pesan itu, tetapi sudah dibaca Kin. Dadanya semakin berisik ketika Kin terlihat mengetik pesan.


Kin Dhanandjaya: Santai, Ra.


Tangan Andara sudah mengacak-acak rambut sendiri. Dua kata balasan dari Kin saja mampu memorakporandakan hati dia. Susah memang kalau orangnya sudah pergi, tetapi perasaan masih tetap tinggal. Dasar gagal move on! Andara mengutuk diri sendiri dan kembali menggulung badan dalam selimut. Lebih baik dia tidur saja.


Di tempat lain, dalam sebuah mobil yang sedang berhenti di lampu merah, Kin masih memperhatikan layar ponsel, menunggu jawaban dari Andara. Namun, tidak ada tanda-tanda kalau pesan itu akan dibalas. Kin lantas menaruh kembali ponsel di laci. "Dia nggak bisa ikut kenapa, Nath?"


Natha menoleh sambil memperhatikan mukanya. "Andara maksud lo?"


Kin mengiakan.


"Oh, tadi katanya capek. Dari kerja kelompok itu mungkin." Natha mengedikkan bahu lantas mengembalikan pandangan ke jalan yang padat oleh lampu kendaraan.


Kin tertawa pelan sambil mendengkus. Capek? Andara bilang ke dia karena mengantuk, bukan capek. Kerja kelompok? Kerja kelompok yang mana? Yang berdua dengan mantan, maksudnya? Eh, mereka itu sudah mantan atau masih pacaran, sih? Kin menarik bibir. Lagi pula, bukannya minggu ini sudah memasuki liburan semester?


"Lo kok ketawa sendiri, sih? Aneh!" ujar Natha menoleh kembali sambil bergidik.


"Nggak, nggak apa-apa. Kenapa kita jadi berdua aja, ya? Lama-lama tuduhan Putra makin gawat ke gue." Kin menggeleng-geleng, menertawai tuduhan beralasannya.


Giliran Natha yang mendengkus. "Ge-er amat lo, Bang. Iya, ini gue ajakin Ocha deh biar rame."


Cewek itu lalu meraih ponsel dan menghubungi Rossa. Kin tidak mendengar pasti apa yang mereka bicarakan. Pukul sepuluh malam dan jalanan masih saja ramai. Pikirannya berkecamuk. Kin sempat berpikir kembalinya dia ke Jakarta bisa memperbaiki hubungan dengan Andara. Ternyata tidak, tidak ada kemajuan apa pun.

__ADS_1


***


Dering telepon yang meraung-raung membuat Andara terpaksa mencelikkan mata dan beringsut untuk meraih benda itu. Dia melirik jam dinding, hampir pukul empat pagi. Seandainya tidak lupa matikan dering telepon, tentu tidurnya tidak terganggu seperti ini. Andara sudah akan marah  kepada sang penelepon. Namun, dia menjadi tertegun melihat nama yang tertera. Tidak biasa-biasanya Vina menelepon dini hari. Ada kabar apa? 


"Halo, Vin," sahut Andara dengan nada berat. Dia masih mengantuk dan nyawanya belum menyatu sempurna.


Suara dari seberang terdengar ramai dan ribut. "Halo, Ra," panggil Vina. Cewek itu lalu memanggil namanya berulang-ulang seperti panik. Andara dapat mendengar suara Vina mengandung tangis yang tertahan. "Tolong, tolong. Gue ketemu Buana, dia tadi dipukulin massa karena nabrak orang. Gue berusaha tahan mereka dan bilang Buana teman gue, tapi Buana keburu bonyok."


"Terus?"


Andara dapat mendengar Vina terbata menjelaskan. Embusan napas yang ditarik berkali-kali pun terdengar.  "Gue nggak tahu harus gimana ini?!"


Telepon ini mengganggu saja. Dia tidak peduli apa pun yang terjadi dengan Buana, serius. Andara memejamkan mata, ingin tidur lagi. Kenapa Vina mesti tanya ke dia, sih? Tentu saja jawabannya cuma satu. "Ya udah, biarin aja. Dia yang nabrak, biarin dia tanggung jawab. Udah nggak usah lo pusingin, pulang aja lo. Ngapain masih kelayapan jam segini?"


"Gue baru balik lembur terus waktu mampir beli kopi, ada ramai-ramai di pinggir jalan. Gue pikir apaan, eh ternyata si Buana. Lo tahu aja, motor Buana kan mudah dikenalin."


Vina masih menyerocos penuh energi menjelaskan kalau cewek itu sedang ada di rumah sakit, dan tidak tahu nomor kontak keluarga Buana yang bisa dihubungi karena ponsel cowok itu mati. Andara mendengar tanpa komentar. Sadar didiamkan olehnya, Vina memanggil dengan cemas. "Lo masih dengarin gue, 'kan?" tanya Vina sebentar sebelum berbicara sebentar dengan seseorang. "Ra ... yang ditabrak meninggal barusan. Innalilahi. Mati gue! Orang-orang makin emosi ngelihat gue. Aduh, gimana ini?"


Andara bergumam dan sudah akan terlelap kembali. "Lo juga ngapain pakai acara tolong-tolong dia, tinggalin aja udah. Biar dia yang ngehadapin massa. Suruh si Buana itu tanggung jawab."


"Andai si Buana bisa gue ajak ngomong, buat apa gue tanya kontak orang rumahnya sama lo?!" Vina mengerang lirih, membuat Andara membuka mata kembali. "Kalau Buana nggak parah, gue juga nggak mau ikut campur kali, bagusan juga pulang. Ini Buana di IGD, Ra. Koma!"


Dingin menyergap tengkuk Andara, membuatnya refleks langsung duduk. "Serius lo?"


"Ngapain gue bercanda jam empat pagi? Memangnya lo lagi ulang tahun mau gue kasih prank?! Tadi gue udah ditanya-tanya polisi, sekarang massa juga tanya-tanya Buana ke gue. Gue nggak tahu apa-apa. Dompetnya nggak ada. Rumahnya juga gue nggak tahu di mana. Tolong gue, Ra!" pekik Vina mulai tersengal dan histeris.


Cewek itu lalu menyebutkan nama rumah sakit yang membuat Andara bangkit dan mengenakan jaketnya. Diraihnya tas yang berisi beberapa keperluan penting dan dia langsung memesan taksi. Ini untuk Vina. Kalaupun dia datang hari ini, dia datang untuk Vina yang membutuhkan bantuan.


Tak lama, pintu penumpang di depan terbuka dan Natha turun. Mata cewek itu sempat menyipit ke arahnya.  "Ra? Ngapain lo di teras pagi buta?" tanya Natha lirih sambil membuka gerbang. Sekitar masih sangat sepi, dan sedikit keributan saja bisa membangunkan tetangga.


Andara melirik ponsel, taksi yang dipesan sudah memasuki komplek. Dia menggaruk kepala sambil menoleh ke Natha. Kalau tadi Natha bersama Kin, berarti sekarang yang ada di dalam mobil itu Kin? Dia hanya hafal mobil merah Kin yang dahulu sering dipakai. Andara meringis tipis. "Nunggu taksi."


"Ngapain naik taksi? Sama Kin aja sono." Natha menunjuk mobil tadi yang kaca depannya sudah turun dan lampu dalam dinyalakan. Benar ada Kin di sana. Cowok itu melihatnya dan jantung Andara mulai berdentum keras.


Syukurlah taksi yang dipesan sampai sehingga Andara tidak perlu banyak berbasa-basi. Dia berusaha mengangkat alis wajar untuk menegur Kin dan melewati Natha di pagar. "Nggak usah, udah sampai kok taksinya," ujarnya cepat sembari menarik kaki yang berat. Semobil dengan Kin akan sangat canggung apalagi tanpa persiapan mental sama sekali. Jangan lupa, perasaannya masih pol-polan untuk cowok itu.


"Memang mau ke mana, Ra?" Natha masih memperhatikan dia.


Andara mengedip. Dia belum berpikir akan menjawab apa tetapi mulutnya lebih dahulu berkata tanpa kendali. "Rumah sakit. Ada teman kecelakaan."


"Buana?" 


Pertanyaan Natha itu yang hanya didiamkan Andara dan dia langsung menaiki taksi. Tanpa dijawab juga, Natha cepat atau lambat pasti tahu siapa yang kecelakaan. Andara menyandarkan kepala. Matanya memejam kembali saat kendaraan yang ditumpangi jalan menuju rumah sakit. Dalam diam, Andara menghujat hati sendiri. Buat apa sih dia tadi bilang ada teman kecelakaan? Kalau itu Buana memangnya kenapa? Kin kan sudah putus dari dia. Dasar otot kawat, tulang besi, hati puding puyo!


Taksi melesat kencang melewati deretan permukiman penduduk, melewati jalan-jalan kota yang masih sepi, melewati para penyapu jalan yang sudah beraktivitas sepagi ini. Ketika Andara sampai rumah sakit, langit sudah beranjak terang dan dia menemukan Vina sedang memeluk lutut di depan IGD. "Vin, lo nggak apa-apa?"


Vina mengangkat kepala dan langsung memeluknya. Tangis cewek itu lepas kembali. "Padahal kita udah praktek peradilan semu dan kita tahu jadi saksi itu riskan. Kenapa gue yang mesti jadi saksi sih sekarang?!"

__ADS_1


Tangan Andara mulai menepuk-nepuk bahu Vina untuk menenangkan cewek itu. "Iya, sabar. Sebenarnya gue juga nggak tahu kontak keluarga Buana. Hapenya mana?"


Vina merogoh sebuah plastik dan memberi ke Andara. "Gue coba hidupin tapi perlu password," jelas Vina dengan muka pucat juga lingkar mata yang lelah.


Andara mengangguk dan coba memasukkan enam angka yang dahulu pernah dia tahu menjadi nomor kunci pembuka. Ponsel itu berbinar, tanda angka yang dimasukkan benar. Dia mencoba mencari kontak dengan nama rumah atau home, tetapi tidak ada. Tulisan papa atau mama juga tidak ada di kontak. Kenapa dia baru sadar kalau nama-nama itu tidak ada di buku telepon ponsel ini, sih?


Pilihan Andara akhirnya menuju salah satu anggota Marionette. Dia menelepon Indra sampai tiga kali dan tidak diangkat. Andara coba menghubungi yang lain, Choky. Beruntung Choky mengangkat teleponnya. Cowok itu juga berjanji memberi tahu yang lain.


"Udah lo tenang dulu. Bentar lagi teman-temannya datang, kok." Andara kembali merangkul Vina yang tampak terpukul berat.


"Gue ini wartawan lifestyle bukan wartawan perang. Mana pernah gue ngelihat kayak gini," gumam Vina menatap kosong ke arah taman yang ada di depan mereka.  Mulut cewek itu berdecak pelan. "Lo nggak ngelihat sih gimana kondisi Buana, tadi malam. Mukanya sampai nggak berbentuk lagi, Ra."


Ngomong-ngomong tentang Buana, dia belum tahu kondisi cowok itu. "Sekarang dia di mana?"


"ICU." Vina menunjuk pelan ruangan di seberang taman. Mereka berdua terdiam. Suasana rumah sakit mulai terang, beberapa perawat lalu lalang. 


Dari ujung koridor, Andara melihat kedatangan Choky dan Indra yang tergopoh-gopoh. Raut tegang berbayang di muka keduanya. "Gimana Buana?" tanya Choky kala menghampiri tempat mereka duduk.


"Di ICU," jawab Andara.


"Kenapa dia bisa kecelakaan, Ra? Habis dari mana memang?" Kali ini Indra yang bertanya.


Andara terkejut ditanya seperti itu. Dia menggeleng sambil mengedikkan bahu. Ditatapnya mata Indra yang penasaran. "Gue nggak tahu, yang nemuin dia dipukulin orang tuh si Vina. Vina telepon gue karena hape Buana mati dan perlu kontak keluarganya. Gue sama aja sih, nggak tahu juga kontak keluarga Buana."


Indra kemudian menjauh dan mengutak-atik ponsel. Cowok itu seperti berusaha menghubungi para kenalannya. Andara dapat melihat Indra berkali-kali berdecak atau mengacak rambut setelah bicara dengan seseorang. "Kenapa?" tanyanya sambil mendekat ke arah Indra.


"Nggak ada orang di rumahnya, Ra. Cuma pembantu," desis Indra mulai gusar. "Gue ada sih nomor adiknya, tapi pasti lagi sekolah, 'kan?"


"Jangan, kasihan dia lagi sekolah, nanti syok. Hubungi Bonyoknya aja."


Indra berbisik pelan yang hanya bisa didengar dia. "Bokapnya kan ketangkap dituduh korupsi kemarin. Itu yang ramai beritanya di TV."


Andara membeku sesaat. Dia ingat pandangan pedih Buana saat datang ke rumah dan menatap layar televisi. Jadi, pejabat itu bapaknya Buana? Napas dia terasa tercekat. "Coba titip pesan buat nyokapnya, deh."


Kata nyokap membuat Indra membelalak. Cowok itu menatapnya naik turun seperti tidak percaya. "Yang benar aja?! Nyokapnya kan udah kabur dari rumah enam bulan yang lalu, Ra. Masa lo nggak tahu, sih?"


Kalimat terakhir Indra seperti menampar kesadarannya. Hampir satu tahun dia bersama Buana, banyak bercerita, banyak berencana, banyak tertawa, tetapi dia tidak tahu apa pun mengenai cowok itu. Dia tidak pernah mau diajak ke rumah cowok itu. Dia merasa belum siap untuk mengenal keluarga sang pacar. Ada kekhawatiran berlebih dan Andara takut, bagaimana jika keluarga itu tidak menyukainya?


Andara menggigit bibir, menyeret kaki hingga depan ruang ICU. Ada rasa bersalah menyisip dan mulai nyeri, mengalahkan luka di leher yang sudah ditutupnya dengan plester. Namun semua sudah terlambat. Dia telat mengetahui bahwa Buana sama hancurnya dengan dirinya sendiri.


🔥🔥🔥


Gaes, terima kasih untuk kalian yang setia di lapak ini. Buat kalian yang pantengin IG, mohon maap chapter ini beda jauh dari rencana. 😂


Oh iya, ke depannya aku nggak bisa pastikan akan publish Rabu atau Sabtu. Karena ini sudah memasuki bab-bab akhir, dan nggak tahu kenapa mood-ku merosot, kesehatanku mangkrak.


Semoga aku bisa menyelesaikan Pembalasan Andara dengan baik.

__ADS_1


Kenapa Buana sedih melulu, ya? Ya, karena dia kan pemeran utama. Hilih, yang sayang sama Buana juga sedikit. Kalian terlalu terpaku oleh kejahatannya daripada kebaikannya. Padahal semua karena sebab-akibat. 🤭



__ADS_2