Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
EXTRA PART


__ADS_3

Andara menoleh saat pintu diketuk. Sepertinya dari tadi di luar masih persiapan deh, kenapa sudah ada yang mau menjemput dia? Memangnya kupingnya yang sedari tadi siaga jadi nggak berfungsi atau mik di luar mati? Atau jangan-jangan Kin ijab kabul dengan bisik-bisik? Dia menoleh ke daun pintu yang membuka dengan dramatis. Tatapan cemas berubah girang saat melihat siapa yang datang.


Sama seperti dia, Kaluna juga tersenyum riang, memekik kecil sambil menghampirinya. "Kakak! Ya ampun, calon pengantin."


Andara terkekeh dan memeluk Kaluna. Badan mereka bergoyang-goyang bahagia.


Pelukan itu terhenti. Kini mata tajam Kaluna memperhatikan keseluruhan Andara. Kebaya brokat putih dengan taburan payet swarovski di ujung tangan, leher dan dan dada. Tatanan rambut yang minimalis, dibingkai dengan tiara mewah di kepala menjadi menonjolkan kecantikan yang Andara punya. "Cantik banget, Kak. Kayak Barbie, hampir Kaluna nggak kenal!"


Di belakang Kaluna menyusul Vina. Sahabatnya itu yang mengurus semua persiapan pernikahan Andara dan Kin. Semenjak menikah dengan Indra, basis Marionette yang hobinya urus event-event, Vina mendirikan Wedding Organizer.


"Gue bilang juga apa? Nggak percaya banget sih lo sama gue, Lun. Andara beda, manglingin, deh." Vina ikut mendekat sambil memperhatikan lekat seolah meniliti apa yang kurang. "Ra, lo duduk cakep aja. Jangan banyak gerak heboh, apalagi ngelap-ngelap muka pakai tisu, entar dandanan lo hancur."


Rupanya tisu yang sedari tadi terkepal di tangan Andara mendapat perhatian dari Vina. Tapi Andara berani sumpah, dia nggak mengusap muka. Dia cuma mengelap telapak tangan yang sedari tadi berkeringat.


"Iya, pangling banget." Kaluna tampak bersungut. "Sayang, bukan jadi kakak iparnya Kaluna."


"Hei, hei, hei. Bicara apa kamu anak muda?" Vina menjentik pelan telinga Kaluna hingga wanita muda itu protes. "Hati-hati lo bicara, entar kalau sampai calon pengantin wanita ini berubah pikiran di detik-detik terakhir. Bisa jadi petaka bagi seluruh umat di dunia."


"Ya elah, bercanda, Mbak." Kaluna meringis sambil memegangi kedua tangan Andara. "Jadi kakak ipar aku atau enggak, Kak Andara tetap jadi kakaknya Kaluna."


Andara menggenggam tangan Kaluna. "Yes. Aku tetap jadi kakak kamu, Lun. Apa pun yang terjadi." Mata yang mirip sekali dengan mata sang mantan itu ditatapnya hangat. "Makasih udah selalu ada saat kakaknya mau cerita, makasih mau sama-sama hadapin kenyataan kalau Buana udah pergi dan makasih udah saling menguatkan. Doain kakaknya ini sakinah, mawadah, warahmah ya."


Mata Kaluna berkaca-kaca terharu. Kepalanya mengangguk. "Iya, kakak harus bahagia terus. Abang pasti bahagia kalau lihat kita bahagia."


Melihat suasana mendadak haru biru, Vina menengahi. Dia tahu betul bagaimana kegalauan Andara sebelum menjelang akad nikah dan khawatir jika terjadi apa-apa. "Lun, jangan sampai salah sebut nama mempelai laki-lakinya. Nanti lo sebut nama abang lo pula. Gue potong sampai habis honor MC lo."


"Sadis! Kan yang sebut nanti si Nando." Kaluna menyebutkan nama pasangan MC-nya yang berada di luar. "Aku bagian live report dari dalam kamar pengantin. Eh, kok jadi ambigu ya?"


Mereka semua tertawa.


"Tangan Kakak dingin." Kaluna tersenyum nakal sambil melepas tangan Andara. "Grogi, Kak?"


Andara mencibir sambil mengangkat kedua tangan. Hendak menjelaskan yang dia rasa tetapi tidak bisa dijabarkan dengan kata-kata. Jadi bibir dia hanya mangap, mengatup, mangap, mengatup. "Entar juga kamu tahu kalau sudah waktunya, Lun."


Vina tertawa-tawa tidak jelas sambil duduk di sofa yang ada. Pandangannya menyapu keadaan kamar Andara masih dengan pandangan meneliti. "Lo tahu nggak rasanya serbasalah, Lun? Saat berdiri kok panik, pas duduk nggak tenang dan waktu itu kayak berjalan lambat banget."


Kaluna menggeleng.


"Ya udah, entar juga lo bakal ngerasa kalau dilamar orang. Rasa-rasa jantung lo hilang digadein di pasar gitu," tambah Vina cengar-cengir paham.


"Lebih parah daripada ngemsi di depan Presiden?"


Vina berdecak. "Beda sensasinya, Kaluna. MC hits setanah air Indonesia."


"Iya, iya. Luna kan nggak tahu, Mbak Vina. Owner WO tersukses se-Nusantara." Kaluna kemudian duduk di pinggir tempat tidur yang sudah penuh dengan kuntum-kuntum bunga. Ada mawar yang dibentuk-bentuk tanda hati di tengah juga kuncup-kuncup melati bertabur acak. "Orang nikah beda tipis sama orang mati, ya? Sama-sama ditaburi bunga. Mawar, melati, lili," gumamnya sambil memperhatikan buket bunga.


"Ya Tuhan, mulut lo." Vina berkacak pinggang ke Kaluna melihat Andara meringis. "Beda, Lunong. Kagak ada irisan pandan, kenanga, kamboja, kapur barus, kapas. Aduh, kok kita jadi bahas yang lain, sih? Ngomong sama lo ini bisa merembet ke mana-mana. Sekarang, tolong lo fokus ya, Lun. Nama mempelai wanitanya Andara Ratrie. Nama mempelai prianya Kin Dhananjaya."


Kaluna hanya mengangkat alis. Seolah menyampaikan keberatan atas kalimat Vina. Nggak perlu diingatkan, dia sudah ingat kok nama masing-masing mempelai. Sebelum menikah juga Andara meminta doa restu darinya dan mengunjungi makam Buana bersama-sama dengan Kin. Walaupun sempat ada pikiran akan lebih enak kalau Andara menikah dengan Buana, toh Kaluna tetap mendukung Andara. Abangnya sudah tidak ada dan Andara telah menjalani waktu bertahun-tahun sendiri, meratapi kepergian Buana. Sampai kapan pun, Buana tidak mungkin hidup kembali dan Kaluna tahu, Andara harus bisa meraih kebahagiaan sendiri dengan pria lain.


Suara Nando terdengar. Pembawa acara yang juga partner paling kompak Kaluna mulai mengajak para hadirin yang hendak menyaksikan akad nikah untuk duduk. Nando juga menyebutkan nama Kin dan Andara dengan baik, mempersilakan Kin untuk duduk di meja akad dan tak lama hening.


Andara kembali meraih tisu, menggumpal-gumpalkan helaian itu ke tangan. Keringat dingin di telapak tangannya semakin banyak. Dadanya seperti berhenti berdetak dan Andara mulai kesulitan bernapas kala mendengar suara Kin di mik.


Seperti menyadari perasaannya, Vina dan Kaluna memegangi masing-masing tangan Andara. Menyalurkan kekuatan dari genggaman. Tanpa banyak kata, Andara tahu, mereka hendak berkata kalau semua akan baik-baik saja. Ini bukan hanya akhir, melainkan sebuah permulaan yang panjang. Permulaan hidup barunya dengan status yang lain. Menjadi istri Kin.


Setelah Kin mengucapkan nama Andara berikut besaran emas kawin, diiringi jawaban 'Sah' dari semua yang hadir, bukan hanya Andara yang menghela napas lega. Vina dan Kaluna tidak kalah lega.


Kaluna langsung menghidupkan mik kecil yang tersemat di kebaya, menjawab panggilan Nando. Wanita itu dengan lancar memberi tahu kalau pengantin wanita yang sedari tadi berada di dalam kamar sudah siap.


Andara juga mendengar Kaluna menyebutkan dengan luwes detail-detail kecantikan Andara hari ini yang membuat pengunjung di luar penasaran akan tampilannya. Dia tersenyum kecil. Adik kecilnya itu bertransformasi menjadi wanita tangguh yang ketika dihadapkan kepada badai besar tetap tidak patah. Ditinggal sang mama dan abang, juga kurangnya pantauan papa karena dipenjara tidak membuat Kaluna hancur.


Andara jadi ingat saat Kaluna bilang hendak menjadi penyiar dan MC seperti dirinya. Meski kadang tidak bertemu, Andara banyak memberitahu Kaluna tentang hal-hal yang harus dipelajari seorang broadcaster. Dia mewanti-wanti Kaluna agar tidak lalai dengan dunia entertain yang gemerlap. Hasilnya tampak saat ini, Kaluna dikenal sebagai pembawa acara yang ramah dan baik, tidak salah arah. Jauh dari rumor yang pernah menyelubungi Andara.


Kaluna menggandeng lengan Andara, mengarahkannya ke pintu yang sudah dibuka Vina. Dari arah pintu, sudah datang Nia yang tersenyum senang. Wanita pengganti mamanya itu menghampiri dan menggandeng Andara di sebelah kanan. Membuat dia seperti ratu yang diapit dua orang dayang.



Mereka menuruni tangga memutar yang kanan kiri pegangannya sudah dihias dengan bunga-bunga. Acara akad nikah ini memang dilakukan di rumah peninggalan Opung. Awalnya, Andara ingin melakukan akad nikah di ballroom hotel saja sekalian dengan resepsi. Namun atas masukan Nia, akhirnya dia memilih akad nikah di rumah. Kata tantenya itu, acara bahagia hendaknya diadakan di rumah juga bukan hanya acara berkabung saja. Rumah ini terakhir ramai saat Opung meninggal, meninggalkan jejak-jejak kesedihan yang melekat.


Rumah peninggalan Opung yang berada di jantung kota Medan memang besar, mampu menampung tamu undangan khusus untuk akad nikah. Dia kembali menahan napas saat langkahnya berada di anak tangga terakhir.  Ada ratusan tamu di sana. Andara merasa mukanya kebas, darah seperti tersendat dan tidak mengalir. Dia menunduk, menurut saja diarahkan ke meja akad dan duduk di samping Kin.


"Oh, jadi ini yang namanya Andara?" sapa penghulu membuka suara. Andara menaikkan pandangan dan mengangguk hormat.


"Cantik. Pintar kali kau cari istri. Cocoklah ya?" tanya penghulu ke para tamu. "Yang pria ganteng, yang wanita cantik. Patutlah tadi si Kin ini ijab kabulnya lancar, rupanya tak tahan lagi dia mau memperistri Andara."


Hadirin tertawa sementara Andara meringis malu. Iya, malu. Malu-maluin lebih tepatnya. Guyonan penghulu itu benar-benar membuat muka Andara merah. Kalau saja Andara nggak ingat, lelaki itu yang menikahkan dia dan Kin, tentu enak sekali menendang kakinya. Berani-beraninya membuat Andara malu di depan orang banyak.


Masih dengan muka tengsin yang tidak bisa ditahan, Andara melirik ke samping. Tampak Kin tersenyum simpul kepadanya. Dari semua penampilan Kin yang pernah dia lihat, hari ini, Kin jutaan kali lipat lebih tampan. Benar-benar mirip artis Korea. Jas putih dipadu rompi dalaman yang fit body itu tampak cocok sekali di badan Kin. Kemeja dan dasi gradasi abu-abu, rambut yang biasanya bebas hari ini tertata sangat rapi juga senyum sukacita Kin yang menyempurnakan penampilannya. Apa benar dia sekarang punya suami setampan ini?


Andara ikut menandatangani buku nikah. Menyodorkan tangan saat Kin memasangkan cincin ke jari manisnya dan balik memasangkan cincin di jari manis Kin. Tidak bisa untuk tidak tersenyum malu-malu kala Kin mencium pelipisnya di depan semua orang. Ini benar-benar di luar dugaannya. Dia tidak pernah bermimpi untuk menikah, setelah apa yang pernah dialami.


***


Andara ingat apa yang pernah diceritakan kepada Vina mengenai kebimbangannya. Bagi Andara, menikah adalah hal yang sakral. Dia cukup paham kalau menikah butuh komitmen besar. Segala masalah yang pernah ada saat pacaran hanya menjadi masalah seujung kuku dan tidak bisa dibandingkan ketika sudah berkeluarga. Sebab menikah itu menyatukan dua keluarga, meleburkan dua budaya, dua kebiasaan, dua perbedaan dan lain-lain. Intinya, lebih kompleks.

__ADS_1


"Capek deh, Ses. Masih aja lo sangsi sama niat baik si Kin." Vina melengos saat mendengar kegundahannya. "Nih, gue jelasin. Sebagai cewek yang lebih dahulu menikah, menjalani persiapan pernikahan berliku-liku sampai pakai acara mantan datang buat menganggu ketentraman dan menggoyahkan isi hati gue, gue yakin dan percaya si Kin itu baik. Buktinya dia lurus-lurus aja. Dan lo juga udah jalanin apa yang gue bilang, kan? Nggak usah hubungin mantan dengan alasan silaturahmi atau mau antar undangan."


Andara mengaduk teh lemon sambil menyesap sedikit. "Iya. Semua undangan ke mantan dikirim pakai kurir, enggak ada WA atau balas sms mereka, enggak ada telepon-teleponan sama mereka. Lagian, Vin. As you know, mantan terdalam gue kan Buana dan dia udah nggak ada."


"Lo masih kepikiran Buana, ya?"


Andara mengangguk dan bergeleng. "Kalau ingat ya ingat, Vin. Gue belum pikun, tapi maksud gue bukan itu. Gue galau sama Kin. Kok bisa sih dia mau nikah sama gue?"


Andara menghela napas sambil mengaduk-aduk isi cangkir. Seolah-olah gula pasir terbuat dari batu dan nggak larut-larut. "Gue tuh ... Ya, kayak lo nggak pernah dengar gosip tentang gue aja, sih? Ngapain coba Kin mau sama gue?"


Vina menggaruk kepala sambil memutar bola mata. Seperti berusaha mendengarkan dengan baik penjelasan Andara padahal mulutnya sudah nggak sabar mau memotong. "So?" tandas Vina.


"Gimana kalau keluarganya tahu masa lalu gue? Gue tukang dugem, sering mabok, belum lagi suka gonta-ganti pacar."


Vina mengembuskan napas keras sekali. Untung saja kafe tempat mereka duduk saat itu sepi. "Ses, plis deh. Setiap orang pernah buat salah kali. Lo nggak ngerampok, nggak mencuri, nggak narkoba, 'kan?"


Andara menggeleng dan Vina menepuk pelan meja.


"Lo nggak ngerebut suami orang, guna-gunain bini orang sampai muntah darah atau membunuh, 'kan? Ya udah, sih. Keluarga Kin juga bukan keluarga kolot. Dhananjaya gitu, lho. Percaya sama gue, semua bakalan baik-baik aja, Ra."


Andara terdiam. "Gue pernah ngerebut pacar orang." Dia menatap Vina dengan pandangan menerawang. "Gue pernah ngerebut Buana dari si Nina. Gue juga pernah membunuh ... bunuh Buana."


"Enggak!" Vina melempar gumpalan tisu yang dia pegang. "Gue yang ada di lokasi kejadian. Jelas-jelas lo aja tidur di rumah. Harus berapa juta lagi gue bilang kalau kematian Buana itu takdir?"


"Iya, iya. Sori."


Vina menaruh tangannya di atas punggung tangan Andara. "Percaya sama gue, semua bakalan baik-baik aja. Lo cuma lagi nervous aja ini. Gue sengaja turun langsung ke lapangan, nemenin lo cek gedung, cek baju, cek make up, buat memastikan semuanya aman."


"Selama Kin nggak main kasar ke badan lo. Selama Kin nggak main sama cewek lain di belakang lo. Selama Kin nggak berjudi, mabok-mabokan atau narkobaan. Semua masih bisa dikomunikasikan. Bukannya kata lo, Kin juga bilang gitu dua bulan yang lalu?"


Suara pintu kamar mandi yang ditarik dari dalam menyadarkan lamunan Andara. Pembicaraan yang ada satu hari sebelum akad nikah itu langsung buyar begitu sosok Kin keluar dari situ. Andara kembali mengusap-usap mukanya dengan kapas, berusaha mengenyahkan sisa make up yang susah hilang padahal sudah tiga kali diseka pakai make up remover. Dari balik kaca yang memantul, dia melihat bayang Kin berjalan menuju lemari. Kin hanya memakai handuk tergantung di pinggang dan wangi sabunnya itu membuat Andara belingsatan sendiri.


Dia berusaha membuang pandangan dan kembali menyibukkan diri dengan sisa noda hitam di kelopak mata. Seolah-olah tidak menyadari kehadiran Kin dan seolah-olah jantungnya masih bekerja santai. Padahal sudah melorot ke mata kaki.


"Masih belum hilang, Ra?" tanya Kin sembari mengancingkan baju. 


Andara melirik dari ujung mata. Piama yang dipakai Kin lucu. Membuat Andara teringat masa kecil. Masa-masa di mana memakai piama dan berbedak celemongan adalah kewajiban setiap anak di setiap sore. Dia hanya mengangguk tanpa menoleh sebagai jawaban. Semakin Kin dekat, semakin dia mau mati di tempat.


"Mau dibantu?" Kin berdiri di sampingnya sembari  menatap cermin. Bola mata mereka beradu di kaca.


Tatapan itu memberi efek kejut di jantung Andara sehingga dia langsung menggeleng cepat dan pura-pura sibuk sendiri. Berdecak-decak mengumam betapa susah menghilangkan bekas eyeliner, betapa lengketnya bekas bulu mata palsu yang dia pakai dan juga efek pemakaian softlens yang selama acara membuat matanya terasa berat serta mengantuk. Tak lama, Andara pamit ke kamar mandi lalu merosot di balik pintu.


Gila ya, aroma Kin yang wangi itu bagaikan malaikat pengisap nyawa. Lutut Andara sampai lemas. Semua rasa campur aduk di dadanya. Grogi, kalut, bingung, senang, takut. Sebab bagaimanapun, meski dia sudah mengenal Kin, belum tentu dia mengenal Kin seutuhnya. Ada banyak hal tentang Kin, juga tentangnya yang akan ketahuan setelah satu rumah dan satu ranjang.


Perlu dia akui, dia sudah pernah melakukan itu. Namun, tidak segugup ini. Memikirkan kalau nanti malam akan menjadi malam pertama mereka saja, Andara seperti terkena serangan jantung. Selama akad nikah yang dilanjutkan dengan resepsi di hotel keluarganya yang berjarak tak jauh dari rumah, Andara tidak berani menatap Kin terang-terangan.


Dia berusaha berdiri menuju wastafel, menghidupkan keran. Tangannya meraih sabun pencuci muka dan mengusap busa di wajah. Suami istri apaan kalau melihat suami sendiri saja tidak berani? Apalagi acara seperti tadi akan terulang lagi. Resepsi mengunduh mantu mereka akan digelar di Jakarta, bulan depan.


Andara mengusap halus kulit wajah sambil berpikir kalau dia sudah tua. Bagaimana dia bisa lupa kalau gravitasi Kin itu sangat kuat? Apa dia bisa tidur malam ini?


Mata Andara menoleh ke jendela di samping bathtub. Pemandangan kota Medan waktu malam terhampar di sana. Titik-titik lampu kendaraan lalu lalang berwarna-warni. Merah dan kuning. Dia memasuki bathtub yang telah diisi air sabun lantas menyandarkan kepala. Menggosok badan yang terasa gerah dengan busa yang melimpah. 


Pantulan berlian dari cincin yang dipakai membuat Andara tertegun. Dia memandangi cincin itu dengan saksama. Cincin yang simpel dan mewah. Andara menggigit bibir. Dia sekarang menjadi nyonya Dhananjaya. Cengiran Andara lepas sendiri dan dia menggeleng-geleng bodoh. Sebelah otaknya menganggap ini mimpi tetapi sebelah lain mengingatkan kalau ini adalah fakta.


Dia nyonya Kin Dhananjaya. Isi kepalanya berbisik lagi. Andara menutup kedua mata dan berusaha tidak memekik. Acara mandinya sengaja dibuat lama. Andara nggak tahu harus bagaimana di depan Kin, nanti. Jangan lupa, mereka sudah lama nggak ketemu. Sekali bertemu langsung diajak menikah.


Kin bodoh.


Dia bodoh.


Mereka bodoh.


Eh, bodoh apa pintar, sih? Andara menggaruk kepala sambil meratakan sampo. Ini sampoan kedua yang dia lakukan demi memperlama acara di kamar mandi. Dia sudah sabunan lima kali, sampoan dua kali dan sudah tidak terhitung berapa kali menenggelamkan wajah ke bathtub.


Andara teringat Natha dan jasanya mengenalkan mereka berdua. Mantan homemate-nya itu tidak bisa kembali ke Indonesia untuk menghadiri acara dia dan Kin baik yang di Medan maupun di Jakarta. Tapi, tak apa. Dia dan Kin yang akan mendatangi Natha. Jadwal honeymoon mereka sudah Kin atur setelah acara di Jakarta. Kin mengajaknya tur keliling Eropa dan Jerman pasti akan mereka sambangi.


Suara bel pintu berdenting. Andara menajamkan telinga. Dia mendengar Kin membuka pintu kamar hotel mereka dan berbicara entah kepada siapa. Tak lama, pintu kembali ditutup. Ya ampun, ternyata Kin belum tidur? Aduh, dia harus bagaimana?


"Ra?" Kin mengetuk pintu kamar mandi. "Masih mandi atau udah pingsan?"


Andara memejam kaget. Dia bakal pingsan sebentar lagi kalau Kin terus mengetuk pintu. "Masih. Lagi mulas," jawabnya tanpa berpikir panjang. Bohong, sih. Eh, enggak ding. Memang di dalam perutnya seperti ada yang berputar, tetapi bukan keinginan membuang hajat. Lebih tepatnya seperti ada ribuan kupu-kupu berterbangan ke segala arah.


"Perlu dibantuin nyabunin punggung?" tanya Kin terdengar iseng.


Andara melengos. Dirinya masih waras untuk nggak membiarkan singa masuk ke sini. Ya, kali, niat membantu itu tulus dan murni. Modus-modus lelaki di mana-mana sama. "Nggak usah," jawabnya.


"Ya udah, jangan lama-lama. Nanti bisa sakit."


Andara menahan kedut di bibir. Nanti bisa sakit apa nanti bisa sakit? Dia keluar cepat-cepat juga akan membikin sakit. Sakit sembilan bulan, coy.


Refleks, Andara menepuk jidatnya sendiri. Gawat. Otaknya sudah dalam level gawat. Setelah berbilas, Andara memakai piama lengan panjang. Bagus, alih-alih menjadi malam pertama, penampilan mereka berdua malam ini cocoknya seperti hendak pajamas party.


Andara mengancingkan piamanya sambil menerawang. Dia sengaja membawa baju dan lain-lain ke kamar mandi. Sedetail itu dia menyiapkan semua saking nggak kuat berhadapan dengan Kin. Diambilnya hair dryer dan mulai mengeringkan rambut. Ya ampun, alasan apalagi ya yang bisa bikin dia lebih lama di kamar mandi? Nggak mungkin sikatin WC, 'kan? Housekeeper kali, ah.


Mau tak mau, mendekati empat puluh menit berlalu, Andara keluar dari kamar mandi. Suasana kamar hening, hanya sayup suara televisi yang dinyalakan. Benda itu menontoni Kin yang sudah terlelap. Syukurlah Kin sudah tidur.

__ADS_1


Andara meraih ponsel dan memeriksa notifikasi. Sudah pukul sepuluh malam. Semua pesan yang masuk belum sempat dibalasnya. Nanti sajalah, dia sudah letih. Memakai sepatu lima belas senti itu sangat menyiksa, betisnya terasa sangat pegal. Dia merapat ke tempat tidur, mengambil posisi di samping Kin. 


Badan lelaki itu miring ke arahnya, membuat Andara mengamati dalam diam. Muka Kin kalau lagi tidur ternyata polos sekali. Perasaan bersalah tiba-tiba menyisip dalam relung Andara. Kin kan nggak tahu apa yang dia pikirkan dan dia rasa. Kenapa dia tega membuat suaminya menunggu dia mandi begitu lama di malam pertama?


Andara membuang napas pelan sekali, takut Kin terbangun. Tangannya mematikan lampu utama dan televisi lalu meraih selimut. Berusaha untuk tidur meski kepalanya terasa penuh.


Sosok di samping bergerak. Andara dapat merasakan busa di tempat tidur bergolak kala Kin merapat. Sepertinya terbangun karena dia.


"Udah mandinya?" tanya Kin dengan suara serak.


Andara mengangguk kaku. Lantas dia merasa itu kesalahan karena remang lampu tidur tentu tidak akan memperlihatkan pergerakan kepalanya.


"Kamu udah cantik, Ra. Nggak perlu mandi lama-lama juga tetap cantik."


Kin menelusupkan lengan di belakang leher Andara dan mencium pipinya. Jantung Andara mendadak berisik lagi dan bulu kuduknya berdisko.


"Tadi Mama datang dan kasih itu." Tangan Kin menunjuk kotak berpita yang ada di atas meja. "Katanya buat kamu."


"Apa itu?" Andara melirik pelan tanpa menatap mata Kin.


"Buka aja." Kin mengangkat pelan alisnya.


Andara beringsut turun dari ranjang, mencari-cari aktivitas untuk menstabilkan detak jantung. Kado dari mama Kin dibukanya dan dia terhenyak begitu mengetahui isi kado.


"Apa, Ra?"


Andara mulai keringat dingin. Tangannya mengepal di benda dingin yang menjadi kado. Permukaannya sangat halus, pasti terbuat dari sutra.


"Apa, sih? Angkat, dong," pinta Kin dan dijawab gelengan dari Andara. Suaminya itu ikut turun dan mendekat. Begitu melihat isi kado, Kin tertawa lepas.


Tangan Andara langsung mencubit perut Kin. "Kan diketawain...."


Kin mengeluarkan isi kado. Ada beberapa baju tidur khusus wanita dengan potongan yang cukup menggiurkan. "Lucu aja, Ra."


Kin tertawa lagi lantas mengaduh minta maaf karena cubitan Andara yang bertubi-tubi. "Iya, iya. Maaf. Aduh, sakit, Sayang."


Kin meraih tangan yang dari tadi mencubit dengan pedas. "Nggak harus dipakai sekarang juga, kok. Kan belum dicuci. Nanti badan kamu gatal-gatal," ujar Kin terkekeh. Dia membimbing Andara kembali ke tempat tidur. "Ngantuk. Tidur, yuk?"


"Tidur? Ngantuk?" Kali ini, akhirnya Andara menoleh. Itu pun karena dia penasaran, tidak menyangka kalau Kin mengantuk.


Kin mengangguk.


"Kenapa nggak tidur duluan aja waktu aku mandi?"


Tangan Kin merengkuh Andara ke dalam pelukan, mencium puncak kepala wanita yang akhirnya menjadi milik dia. Dia selalu ingat saat-saat pertama bertemu Andara. Hati kecil dia berbisik inginkan Andara yang menjadi bagian dari hidupnya dan Tuhan mengabulkan. Lewat proses pertemanan yang berliku, masalah yang menjauhkan mereka berdua lalu pertemuan kembali yang penuh takdir. "Aku pengin tidur sambil memeluk istri, nggak boleh?"


Andara yang kembali menatap langit, hanya mencibir. Gabungan rasa nggak percaya sekaligus malu. "Yakin cuma itu?"


"Yakin, sih." Kin mengendus-endus kepala Andara. "Tapi kalau kamu nggak yakin juga nggak apa-apa. Kamu mau yang lain?" ledeknya pelan. "Jujur aja nggak apa-apa, sama suami sendiri kok, Ra."


Ya Tuhan. Dia juga lupa kalau Kin itu jagonya meledek. Andara merasa mukanya memanas. "Ngomong apaan, Pakcik?"


"Bahasa cinta." Kin menyengir. Sudut-sudut matanya mulai hilang.


Aduh, si Kin katanya mengantuk tapi kenapa nggak tidur-tidur coba? 


"Ra..." Tangan sang suami mulai memainkan ujung rambut Andara dan tatapannya berubah serius. "Makasih ya, udah mau jadi istri aku. Aku nggak pernah menyangka kamu mau terima ajakan spontan aku, waktu itu. Padahal nggak ada persiapan sama sekali, nggak ada manis-manisnya, nggak ada romantis-romantisnya. Makasih ya, Ra."


Andara sepertinya mulai memerlukan napas buatan. Kin kalau mengajak bicara serius tuh rasanya setiap kata yang terucap tembus ke ulu hati. "Aku tahu kok kamu nggak romantis," gumamnya pelan.


"Kamu tahu nggak, Ra? Semua foto-foto kamu dari zaman kamu minta difoto buat test drive, kita di Green Canyon sampai foto-foto zaman kita pacaran masih aku simpan lho." Kin tersenyum kecil. "Flash disc yang isinya mixing kamu juga masih ada. Masih suka aku putar, apalagi kalau kangen kamu."


Andara melirik ke sebelahnya. "Kena azab, ya? Azab seorang pacar yang memutuskan kekasih secara sepihak."


Kin memandang muram. "Iya, aku salah. Makanya aku minta kesempatan kedua sama kamu."


Mau tak mau, Andara mulai tersenyum. Suara Kin terdengar manja, nggak cocok sama tampang artisnya. Dia sendiri mulai luluh. "Iya. Kan udah dikasih kesempatan. Udah ah, ayuk tidur. Maaf ya bikin kamu tungguin aku mandi lama banget sama maaf juga bikin tidur kamu keganggu karena aku datang."


"Nggak apa-apa. Kamu mandi lama kan buat aku." Kin masih memandangi muka Andara dari samping. "Kalau diajak ngomong orang, lihat mukanya dong, Sayang."


Andara menahan napas dan terpaksa menoleh. Apalagi Kin menarik tubuhnya agar mereka berhadapan.


"Aku nggak keganggu kok, Ra. Senang-senang aja kalau digangguin kamu." Sudut bibir Kin tersenyum jail. Matanya meneliti semua lekuk muka Andara yang hanya berjarak beberapa senti. "Kamu kenapa dari tadi kayak susah bernapas gitu? Perlu dikasih napas buatan? Perlu CPR?"


Mata Andara membelalak, tetapi dia tidak bisa menghentikan wajah Kin yang semakin mendekat, embusan yang terasa di depan muka juga kecupan yang lembut dan manis.


---- 🌹🌹🌹----


OFFICIALY END.


Terima kasih semuanya. Terima kasih.


Untuk cerita-ceritaku yang lain kamu bisa lihat di profile. Jangan lupa untuk follow aku dan rekomenin ceritaku ya.


Semoga sehat, banyak rezeki dan panjang umur semua kalian.

__ADS_1


__ADS_2