
Ruko dua lantai itu banyak berubah. Beberapa interior bergeser dari tempatnya dahulu, tetapi penataan tersebut membuat kedai kopi ini terlihat lebih luas. Lantai dua ternyata masih memakai konsep lesehan. Namun, di sana, tidak hanya ada bean bag saja, ada busa duduk ala Jepang atau juga sofa tanpa kaki. Pengelola kedai kopi tentu ingin pengunjung nyaman apa pun aktivitas yang akan dilakukan di meja-meja itu.
Meski waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, Andara dapat melihat masih ada beberapa meja yang terisi. Mulai dari seseorang yang tampak sibuk berkutat dengan laptopnya hingga sekelompok mahasiswa yang terlihat sedang berdiskusi. Suasana tempat ini terasa hangat, dan entah mengapa, Andara yakin ada campur tangan Kin dalam menangani semua perubahan yang ada.
Seseorang bercelemek menghampiri meja dan meletakkan wadah logam berwarna kekuningan. Samovar itu berdesain antik, berukir melekuk di pegangan kanan kiri juga keran airnya. Pelayan menaruh dua cangkir dengan tatakan, teko kecil, sendok berwarna kuningan yang elok juga biskuit-biskuit kecil dalam toples dan sebuah mangkuk yang berisi gula-gula berbentuk kotak. Lantas dengan ramah, sang pelayan mempersilakan Andara dan Kin menikmati sajian.
Kin bergerak membuka keran, mengucurkan air panas ke dalam teko kecil yang sudah dituangkan banyak bubuk teh. Kemudian menuang teh pekat itu ke dalam dua cangkir yang ada. "Jadi ... sekarang lo stay di Medan, Ra?" tanya Kin sembari menyuguhkan secangkir teh untuk Andara.
"Yaps," jawab Andara pendek. Tangannya memegangi piring tatakan cangkir yang bermotif ramai dan berwarna-warni. Dia yakin sekali, ini motif khas Turki. Ruangan yang polos, dengan perabotan bermotif. Nice idea.
Kin mengangguk dan mengisi cangkir miliknya dengan air teh. "Dari waktu itu, lo nggak balik-balik ke sini lagi?"
Andara menenggelamkan dua bongkah gula kotak ke dalam teh. Pertanyaan Kin itu masih belum dijawabnya. Seharusnya dia tahu apa maksud Kin dari balik ajakan yang ada. Namun, Andara jadi bingung kepada diri sendiri. Mengapa akhirnya dia tetap mengikuti Kin padahal tahu apa saja yang akan dibahas di meja? Seharusnya dia ikut Lisa dan Katya saja pulang ke hotel. Jika saja tadi dia pulang, pasti saat ini, dia sudah rebahan di kasur yang embuk sambil malas-malasan.
"Ra..." panggil Kin. "Gue dikacangin. Terus kuliah lo gimana?"
Kin tampak meneliti inci per inci wajahnya, membuat Andara jengah dan membuang tatapan ke jendela yang ada di samping mereka.
"Sempat cuti satu semester, sih." Dia mendecap pelan. "Habis itu ngejar ketinggalannya ngap-ngapan," tambah Andara meringis.
"Berarti lo balik lagi ke Jakarta?"
Andara mengangguk.
"Kok kata Natha nggak balik ke kosan?"
Lagi, pertanyaan Kin membuatnya terdiam, kebingungan memilih kata. Tidak mungkin kalau dia bilang dia memang membatasi diri dari mereka semua. Tidak mungkin juga dia menuduh lingkungannya toksik jika dia sendiri mau saja ikut-ikutan menjadi toksik. Mata Andara menatap malam sebentar lantas kembali menekuri teh.
"Ya... Gue pindah kos." Dia mengangkat bahu. "Gue kan banyak ketinggalan, jadi gue pikir gue perlu satu kos sama teman kuliah juga. Supaya fokus dan semangat buat ngejar semua yang ketinggalan."
"Block gue, pindah kos, terus ganti nomor hape. Weird, huh?" Kin mengangkat alis. Bola mata kecil itu menatap dalam.
"Apanya yang weird sih? Biasa aja kali." Andara mengibas tangan sekilas lantas kembali meneguk tehnya.
"Ngehindarin banget, Ra. Kita kan berteman."
Andara menganggukan kepala lagi, paham sekali pembicaraan mereka akan mengarah ke mana. "Iya, iya, memang teman. Sama semua juga gue berteman," balasnya santai sambil mengembus napas sekilas. Ditantangnya pandangan menyelidik yang Kin berikan. "Kin, gue melewati banyak hal dan banyak waktu untuk bisa ke titik ini. Kalau lo ngajak duduk cuma buat ngehakimin gue, sori, gue nggak punya waktu untuk itu. Dan, gue rasa, semua juga terlalu panjang buat diceritain. That's so last century."
Andara dapat menangkap gestur kaget pada Kin. "Lo marah?" tanya lelaki yang sudah menggulung lengan kemejanya sesiku.
Andara menggeleng. Kin lantas mengangkat kedua tangan dan mengalihkan pembahasan. "Cakep nggak samovar-nya? Hasil gue hunting langsung. Setiap pergi ke Eropa atau Timur Tengah, gue pasti mampirin pasar."
Sebagai jawaban, Andara hanya berdeham, mengiakan. Teko logam ala Rusia dan negara-negara di Eropa lainnya itu memang khas. Pantas saja cangkir ini bergaya antik, mungkin hasil pencarian Kin langsung.
"Unik," tambah Kin.
Andara melengkungkan bibir, kembali mengangguk. Memilih sibuk dengan teh yang rasanya enak dengan aroma menenangkan.
"Kayak lo."
Refleks, sorot mata Andara kembali naik dan pandangan mereka bertemu. Meski sudah diingatkan, ulasan Kin tetap akan kembali ke jalurnya dan entah kenapa, jantung yang berukuran sekepalan tangan mendadak tertabuh.
"Gue setiap ketemu samovar, ketemu teh kismis, pasti langsung ingat lo." Kin terdiam sesaat sambil menyentuh samovar di meja. "Di Jakarta, baru di sini yang tehnya pakai samovar, Ra. Banyak yang datang cuma buat foto sama samovar ataupun buat ngeteh langsung dari samovar. Kadang, gue berpikir, kok bisa ya waktu itu ide lo sampai sejauh ini."
"Lo tahu aja, coffee shop udah banyak banget. Gue pikir, penyuka teh itu sedikit. Toh, teh enak bisa diseduh di rumah. Tapi ternyata, penyuka teh itu banyak dan masih sedikit kafe yang sajiin menu teh penuh variasi. Tempat ini bisa survive karena tehnya, karena samovar-nya."
Andara tidak tahu mau berkata apa. Dia hanya memperhatikan Kin yang bergeming sesaat. Tidak banyak berubah, pesona lelaki itu masih sama kuat meski sedang berbicara serius.
"Memang sih ini bukan main income gue, tapi ini usaha pertama gue yang murni nggak pakai bantuan keluarga. Dengan tempat ini bertahan, gue membuktikan ke keluarga kalau gue bisa berdikari ... dan semua ini ada, karena ide lo," jelas Kin. "Sebenarnya, gue selalu cari kabar lo, Ra. Walaupun gue nggak tahu langsung gimana kabar lo, kalau lihat lo posting foto, entah sekadar pemandangan atau cuma cangkir teh. Gue cukup yakin kalau kabar lo baik dan gue senang tahu lo baik-baik aja."
Sudut mata Andara menjadi terpicing. Lelaki ini melihat unggahan fotonya? Bukankah akun Kin sudah diblok?
"Selama akun lo nggak private, mau lo blok gue juga. Gue tetap bisa lihat dari browser, Ra." Kin seperti mengerti arti lirikannya. Teh di tangannya kemudian dihirup sebelum melanjutkan obrolan. Obrolan monolog sebab sedari tadi Andara tidak berkomentar.
"Gue nggak maksud mau bahas-bahas yang lalu, tapi gue rasa lo perlu tahu. Waktu itu, Ocha datang ke Johor dan ngehubungin gue. Dia numpang di apartemen. Katanya suasana di Jakarta nggak kondusif, dan dia minta gue jangan kasih tahu ke lo atau Natha."
"Gue nggak mau ikut campur juga urusan dia, sampai akhirnya gue tahu sendiri kalau dia dicari-cari orang karena ... ya, lo pasti tahulah."
Hanya kelopak mata Andara yang mampu bereaksi: mengerjap pelan, lalu otaknya mulai menyatukan keping cerita. Berarti saat ketahuan oleh istri Devan, Rossa lari ke Johor. Kasus itu memang ramai sekali di sosial media, sebab diangkat langsung oleh istri Devan yang merupakan anak dari seorang tokoh penting di Indonesia. Kekuasaan istri Devan pasti bisa meneror Rossa sampai ke lubang semut.
"Selama di apartemen, Ocha selalu ngeluh sakit sampai-sampai kakinya bengkak. Waktu gue ajak periksa ke rumah sakit, baru ketahuan kalau dia udah stadium lanjut. Nangis kejer dia, Ra."
Andara dapat membayangkan jalan ceritanya. Kin membawa Rossa ke rumah sakit, lalu diperiksa, kemudian keluar hasil yang mengejutkan itu. Rossa pasti menangis, dan Kin pasti menenangkan. Mungkin dipeluk, mungkin diusap punggungnya atau digenggam tangannya Entahlah bagaimana cara Kin menenangkan Rossa. Namun yang jelas, dia yakin, Kin tidak diam saja.
__ADS_1
"Gue udah bilang sama dia untuk kasih tahu salah satu teman dia, minimal lo atau Natha, tapi dia tetap nggak mau. Katanya, tempat serigala sakit itu di belakang, dia nggak mau jadi omega. Dia selalu kepengin jadi alfa."
Alfa female? Andara berdecap pelan. Dari dahulu, memang Rossa selalu bilang kalau semua harus tenang, cukup cewek itu yang atur segala-galanya. Namun, rencana-rencana Rossa itu berbahaya, juga cara-caranya menyelesaikan sesuatu tidak didasari akal sehat. Seekor alfa female harusnya selalu memikirkan kawanan dan tidak bertindak gegabah.
"Di saat-saat terakhir, dia selalu ingat lo sama Natha. Sering banget cerita tentang kalian, tentang The Wolves."
"Kin," potong Andara tiba-tiba. Dia mendapat segenap kekuatan untuk meningkahi cerita Kin. Rasa-rasanya, semua tentang Rossa tidak perlu Kin beritakan secara lengkap. "Setiap orang pernah salah, pernah khilaf dan itu memang harus dilewati supaya orang itu jadi dewasa dengan seharusnya. Begitu juga Ocha, gue ataupun Natha. Kami menghadapi persoalan masing-masing yang akhirnya sadarin kami kalau apa yang pernah kami bikin akan kembali ke kami juga."
Selama mereka pernah berteman, Kin tidak pernah menceritakan kisah-kisah wanitanya selengkap tadi. Kehilangan memang menunjukan wujud asli suatu perasaan. "Gue berharap Ocha bahagia di sana, bebas dari semua rasa sakit dan juga kekecewaannya sama dunia yang nggak selalu bersahabat," tambah Andara.
Kali ini, Kin yang memilih bungkam. Seakan ceritanya sedari tadi memang api di dalam sekam yang diam-diam membakar reaksi Andara.
"Gue tahu apa yang lo rasa. Kehilangan orang yang berharga memang kelihatannya biasa aja, tapi sebenarnya enggak. Lo, gue, kita perlu waktu untuk penyembuhan dari rasa kehilangan orang terdekat yang kita sayangi. Ya, diingat-ingat ajalah, Kin. Kalau pada akhirnya, semua bakal pergi. Nggak ada yang abadi, 'kan?" Andara berusaha untuk melukiskan senyum. Tahun-tahun yang berlalu membangun penerimaan dalam dirinya. Dia sudah tidak menangis kala teringat Buana.
"Ra, gue nggak pernah pacaran sama Ocha, lho." Kin menatap tepat ke iris matanya. Aura itu cukup serius dan mungkin, inilah yang ingin dijelaskan kepada Andara, sedari tadi. "Ocha yang main ambil hape gue, dan langsung balas DM lo. Awalnya, dia bilang ke gue kalau lo masih spesialin gue. Gue bilang enggak mungkin. Soalnya lo sendiri yang bilang ke gue kalau lo masih punya rasa sama Buana. Tapi Ocha ngeyel, dia bilang dia tahu perasaan lo. Dia tantangin gue buat upload foto, katanya kalau lo langsung komen berarti lo perhatian sama gue."
Ruangan yang ditempati beberapa orang itu mendadak sunyi dan penjelasan Kin mampu memaku Andara dalam kebekuan.
"Gue paham. That's so last century, so last summer, so last decade atau apalah. Gue juga nggak berbesar hati kok sama apa yang dibilang Ocha, tapi gue juga nggak mau lo jadi musuhin gue." Kin menerangkan sesuatu yang membuat dada Andara berdesir. "Bertahun-tahun, Ra. Bertahun-tahun gue dianggap nggak ada, lo hapus gitu aja dari hidup lo. Bukan cuma gue, sama Natha dan Ocha. Lo ngejauh dari kita semua. Gue rasa nggak ada yang telat untuk membetulkan sejarah. Lo mesti tahu cerita yang sebenarnya. Pasti asumsi lo aneh-aneh ke gue."
"Sok tahu." Jawaban Andara lepas begitu saja dan langsung menandaskan teh untuk kembali menetralkan suhu tubuh. Diliriknya jam tangan kemudian bergegas membereskan tas. Lama-lama di dekat Kin mampu membolak-balik pertahanan. "Kin, udah malam. Gue harus balik."
"Lo marah?" tanya Kin.
Andara menggelengkan kepala sembari menghela napas kembali. Dari pertama kali dia melihat foto Rossa bersama Kin, dia tidak marah. Hanya muncul perasaan tak terdefinisi, antara tidak percaya dan tidak terima. Natha bilang kalau dia cemburu. Entahlah, Andara sukar menerjemahkan rasa di dadanya sendiri.
"Yakin nggak marah?" ulang Kin memastikan.
"Kenapa sih tanya gue marah apa enggak melulu dari tadi? Lo mau gue marah? Gue kalau marah seram lho, bisa nyesal lo nanti," imbuh Andara tersenyum kecil lalu mulai berdiri dari tempat duduk, memandang ulang ruangan lantai dua. "Gue udah bisa balik, kan?"
Kin ikut berdiri tanpa kata, membukakan pintu geser kedai kopi. Mereka berjalan ke parkiran. Lelaki itu masih diam saat membukakan pintu mobil untuknya. Kendaraan Kin masihlah mobil SUV kelas atas. Tahun bisa berlalu, tetapi selera tidak bisa bergeser jauh.
"Kenapa lo?" tanya Andara melirik Kin yang mendadak bisu. "Gue nggak marah kok. Santai aja. Iya, gue juga salah udah mengasingkan diri dari kalian, tapi sekali lagi, gue nggak marah."
Jemari Kin tertahan di rem tangan. Mata lelaki itu benar-benar memusatkan seluruh perhatian kepada Andara. Membuat badannya terasa dikuliti tipis-tipis. "Kata Ocha, kalau lo marah berarti lo masih cinta."
"Nggak semua omongan orang bisa lo percaya, Kin."
"Iya, memang, tapi gue kan melihat bukti. Gimana lo dulu sama Buana, jelas banget. Lo marah sama dia dan lo masih cinta sama dia." Rem tangan mulai dilepas dan Kin mulai menjalankan mobil keluar dari parkiran, menuju jalan raya yang mulai sepi. Begitu mendengar tarikan napas Andara yang sangat dalam, lelaki itu menoleh. "Masih belum bisa move on juga?"
Ini bukan tentang move on, melainkan berdamai dengan diri sendiri. Bagaimana hari demi hari, bulan demi bulan, tahun demi tahun Andara berjuang keluar dari segala rasa bersalah yang menenggelamkan. Membangun kembali dunia kecil miliknya, berusaha memercayai orang lagi meski sulit, dan belajar dari semua kesalahan yang ada.
"Déjà Vu, ya?" Kin tertawa kecil lantas senyap, memfokuskan perhatian kepada jalanan. "So, is it just a greeting?"
Andara berdecap terkekeh, berusaha menyembunyikan ketukan jantungnya yang makin tidak harmonis. Sekian tahun mereka tidak bertemu, kenapa Kin masih ingat pembicaraan ringan itu? Pembicaraan ngalor-ngidul tanpa faedah kala Kin menjemputnya setelah dia siramkan Coca-Cola kepada Buana.
Pandangan Andara menyapu luar, suasana sekitar kampus sudah banyak yang berubah. Plang, gapura dan taman-taman banyak yang diperbaharui. Mereka melewati bagian depan Fakultas Ekonomi, tempat banyak cerita tercipta di sana. Tak lama, andara sadar dengan musik yang didengarnya. Walaupun hanya denting akustik, ketukan melodi lagu tersebut sangat khas. Dia tersenyum tipis. "Masih suka lagu Mr. Brightside?"
"Selalu." Kin menarik lengkung cerah di bibirnya. "Apalagi bagian ini."
Kin lalu ikut bersenandung sesuai lagu. "And I just can't look, it's killing me and taking control. Jealousy, turning saints into the sea. Turning through sick lullabies. Choking on your alibis."
"But it's just the price I pay. Destiny is calling me. Open up my eager eyes.'Cause I'm Mr. Brightside," sela Andara ikut bernyanyi sembari menyengir. "Deni masih sama Diska?"
"Mereka udah married tahun lalu. Mereka juga sempat tanyain lo, mau kasih undangan."
"Woooh. Terus ... Deni tahu nggak lo suka lagu ini karena Diska?"
Kin membulatkan mata, tidak menyangka Andara mengetahui ihwal lagu kesukaannya. Tak lama tersenyum kembali, sudut matanya mengecil. "Dulu, memang karena Diska. Dulu banget dan udah lama berubah. Setiap dengar lagu ini gue bukannya ingat Diska, tapi ingat lo."
AC mobil ini memang dingin, tetapi ucapan Kin barusan yang mampu membuat tengkuk Andara berdiri. Syukurlah, mobil Kin mulai memasuki pekarangan hotel. Alih-alih menurunkannya di depan lobi, Kin malah memarkir mobil di tempat terdekat tak jauh dari lobi.
"Ra, gue nggak tahu kita bakal ketemu lagi atau enggak. Gue nggak tahu lo bakal menghilang lagi atau enggak, tapi boleh nggak gue minta sesuatu sama lo?"
Apakah ada yang bisa bantu redakan kebas di muka Andara?
"Gue cuma minta peluk. Boleh?"
Mata itu menatapnya dengan tatapan yang lebih mengharukan dari anak kucing yang kehujanan di tepi jalan. Pelan, Andara mencengkeram tali tas dan mengangguk. Mempersilakan Kin merengkuh tubuhnya masuk ke pelukan sukacita itu.
"Glad to see you here," bisik Kin dengan tangan yang mengacak pelan pucuk kepala Andara.
"Kin," desis Andara melepaskan diri. Kalimat itu membuatnya ingat ketika mereka bertemu di Bandara Senai dan saat itu, hatinya terlalu berisik untuk dijelaskan. Persis seperti sekarang, tubuhnya semakin gugup, dan dia canggung setengah mati. Belum lagi, entakan jantung yang terlalu keras seperti badai. Mengalah-ngalahkan ketukan cepat lagu Mr. Brightside.
Senyum Kin masih terukir di wajah. "Ingat sesuatu?"
Andara mengangguk dengan anggukan yang entah sudah ke berapa untuk malam ini.
__ADS_1
"Syukur kalau ingat. Gue memang sengaja mau ngetes aja, apa lo masih ingat juga apa enggak," timpal Kin semringah.
"Gue belum amnesia." Andara merotasikan bola mata. Gila ya, jantung dia seperti hendak lepas dari tempat. Sudah lama sekali organ pemompa darah ini denyutnya tidak berkejar-kejaran. "Ya udah, gue turun dulu. Makasih jamuan tehnya. Sukses terus buat coffee shop lo. Eh, coffee apa tea shop sih?"
Kin mengedikkan bahu.
"Yah, apa pun itu. Thanks, Kin." Andara menggenggam tas dan membuka pintu mobil. Hari ini terasa panjang sekali, beberapa jam saja mampu membuat perasaannya berpetualang ke masa lalu. Mengingat bagaimana gabungan rasa bisa sebegitu indah, sebegitu aneh, sebegitu tidak masuk akal, tetapi tetap terjadi. Menyadarkan Andara kalau jantungnya masih sangat sehat dan berfungsi. Juga hatinya belum mati rasa.
Karena Andara pernah berpikir kalau dia tidak bisa lagi tersenyum malu-malu kepada pria. Dia pernah mengira kalau jantung tidak akan berdebar-debar akibat pria. Namun, semua itu terbantahkan oleh Kin. Orang lama yang pernah ada di kisah menggantung bertahun-tahun.
"Ra..." Kin meraih tangan dia. Menghalangi Andara untuk turun.
Andara menoleh.
"I swear, I really miss you. Really really miss you ... so bad."
Andara kembali menatap wajah itu. Mata sipit yang kalau tersenyum akan hilang. Lengkung bibir yang selalu mudah tertawa. Rambut lemas yang terlihat rapi meskipun tidak diberi apa-apa dan tatapan penuh pengharapan yang tidak ingin dia lewatkan begitu saja.
Sebab setiap orang layak dapat kesempatan kedua, setiap orang layak menjelaskan dan membetulkan kesalahan. Sebab setiap momen hanya menunggu saat tepatnya dan ketika saat itu tiba, tidak perlu alasan panjang untuk memulai apa pun. Maka Andara yang kali ini bergerak maju, merentangkan tangan terbuka dan menerima pelukan Kin kembali. "I miss you, too," balasnya setelah menutup kembali pintu mobil.
Bukan cuma Kin saja, dia juga sangat rindu. Diam-diam, dia masih menyimpan semua fotonya dengan Kin, masih sekali dua kali sempatkan melihat sosial media Kin sekadar untuk mengetahui kabar Kin baik-baik saja. Dia juga selalu berharap Kin bahagia, dan turut senang jika Kin gembira.
Kin mendekapnya erat. "Really?"
Andara hanya mengangguk, menenggelamkan kepala ke dada Kin. Membiarkan tangan Kin menyisir surai-surainya dengan halus.
"Pacar lo sekarang siapa, Ra?" Pertanyaan Kin terdengar dari atas kepalanya. Andara hanya menggeleng. Dia tidak punya pacar dan lebih tertarik dengan detak jantung Kin yang menenangkan. "Udah cantik gini nggak ada yang mau?" cela Kin.
Andara hanya melengos. Hari-hari sepeninggal Buana dijalani untuk mengurai kekusutan benang hidup, juga menggunting yang tidak perlu. Dia bahkan sulit untuk membuka hati setelah itu hingga berpikir bahwa hatinya mati rasa.
"Lo?" Andara menegakkan kepala. Dia lupa memastikan apakah Kin tidak sedang dalam suatu hubungan dengan seseorang. Kin menggeleng dan Andara berdesis untuk membalas, "Udah seganteng ini masih nggak ada yang mau?"
Dihina seperti itu, Kin menjepit pelan hidung Andara. "Kita mulai dari awal lagi, yuk? Kita mulai dari komunikasi yang baik, hubungan yang dewasa dan asumsi yang dijelaskan."
"Nggak mau, ah. Nanti diputusin dengan alasan lagi pengin sendiri." Andara mencibir penuh ejek. Tidak lupa menaikkan sedikit dagu agar terlihat sombong.
"Enggak akan, beneran." Kin kembali memencet gemas hidung Andara. "Kesalahan terbesar kita waktu muda adalah berselisih lalu lari, nggak menyelesaikan dengan kompromi."
Andara mulai berpura-pura menguap. "Aduh berat banget pembahasan ini, nantilah dibahas lagi. Udah malam, ngantuk. Gue belum packing, besok first flight."
"Enggak mau. Mau jawabannya sekarang, nanti lo hilang lagi." Kin kembali mengetatkan pelukan. "BTW, sekarang gue tahu kenapa waktu itu Buana berkali-kali hubungin lo, cari-cari lo. Ternyata, kehilangan lo itu nggak enak ya, Ra. Sepi gitu rasanya."
"Maksud lo, gue rame kayak toa Kamtib gitu?"
Kin terkekeh. "Nggak maksud bilang gitu, sih, tapi kalau dianggap gitu ya udahlah mau gimana."
Andara mencebik, mulai mencubit perut Kin yang hanya tertawa panjang. Pelukan mereka masih erat dan hangat. Tanpa perlu banyak bujuk rayu, dia percaya dengan Kin. Segala sesuatunya memang perlu dikomunikasikan, dikompromikan, dijelaskan karena perasaan sendiri sukar dimengerti, dan mereka menyadari kekurangan masing-masing di waktu lampau. Berpegang pada pelajaran hidup yang pernah dipetik, tidak ada salahnya memulai kembali, bukan? Buana juga pasti tidak keberatan, karena melihatnya bahagia adalah keinginan cowok itu.
Andara mulai mendengung, "Tapi, gue malas pacar-pacaran, sih. Apalagi LDR."
"Ya udah, langsung nikah aja. Gimana?"
--- 🌹🌹🌹 ---
Alhamdulillah Ya Allah. Cerita super duper ngejelimet ini selesai juga. 🥳
Maaf ya kalau lama banget. Seriously, ini cerita roman dewasa pertama aku. Aku tuh dulu selalu nulis teenlit, teenfic alias cerita anak muda. Anak berumur 17 tahun ini akhirnya coba-coba nyeburin diri dalam konflik gila, tokohnya gila, masalahnya gila. Ya lord. 🤭
Oke, oke. Kenapa sih masih banyak aja yang tanya kisah ini aseli apa enggak?
Gini... Setengah dari kisah ini bersumber dari konflik nyata. Tokoh yang benar-benar ada ya Andara, Buana, Kin, Natha dan Rossa.
Tapi ... ceritanya nggak murni lagi, sudah penulis olah-olah, Kakak. Semuanya udah nggak sama plek dengan kisah nyatanya. Penulis mengambil beberapa cerita dari hal-hal yang menarik dalam hidup Andara, Buana dan Kin. Ceileh.
Di dunia nyata juga endingnya nggak seperti ini. Buat kalian yang tanyain Buana, tokoh Buana sebenernya masih hidup, dan baru saja berulang tahun. Dia hidup sehat walafiat, masih single dan menjalani hidup dari pelajaran yang dia petik.
Andara? Hohoho. Dia bahagia, walaupun nggak sama mereka berdua. Masih sesekali menertawai kebodohan masa muda dan menceritakannya ke saya.
Kin? Kin juga bahagia, sudah punya dua anak. Tidak menikah dengan Rossa ataupun Andara.
Yang jelas, semua bahagia dengan jalan hidup masing-masing, semua belajar dari pengalaman hidup masing-masing.
Terima kasih kepada Andara, kepada Buana yang bisa dimintakan klarifikasi tambahan, kepada Kin yang mau bantu juga. Sehat-sehat selalu kalian ya, cerita ini aku persembahkan kepada kalian bertiga.
Aku juga sangat berterima kasih kepada pembaca yang suka, yang dukung, yang sabar menanti sampai yang rekomendasikan cerita ini ke mana-mana. Semoga Tuhan membalas semua kebaikan kalian, Zheyeng.
Jangan lupa pantengin cerita-cerita aku yang lain, ya? Okeh.
__ADS_1
Aku sayang kalian. ❤️