
Saya pikir karena sering jatuh, hati akan kebal dan mati rasa. Ternyata, malah makin rapuh, sekali sentuh langsung meluruh.
🔥🔥🔥
"Gue putus sama Kin," ujar Andara saat Natha mengangkat telepon.
Natha terdengar terperangah. "Hah? Terus?"
Ya, mau bagaimana? Tidak ada terusannya, kisah mereka selesai sampai batas itu.
"Ya, gitu aja," balas Andara sembari melirik jam dinding. Pukul setengah satu dini hari, ruangan tengah sepi, sesepi hidupnya.
Dia mendengar Natha berbicara dengan seseorang, dan dalam sekejap terdengar suara Rossa. "Chu, Natha lagi sama gue. Ke mana kita?" tanya Rossa terkekeh. Cewek itu sepertinya sudah diberitahu Natha bahwa dia baru putus dengan Kin.
Andara meringis sedikit dan tak menjawab. Memangnya kalau dia bilang mau ke mana, ada yang bisa kabulkan? Dia pengin bisa menghilang dari semua kenyataan ini, pengin pergi jauh-jauh dari semua ketidakpastian yang sering kali mengecewakan. Bisa nggak?
Mungkin karena tidak mendengar jawaban, Rossa langsung memutuskan sendiri. "Kami jemput lo, ya. Lo tunggu di depan, deh. Bentar lagi sampai."
Setelah telepon itu, Andara meninggalkan ruang tengah dan pamit kepada penyiar malam yang bertugas, melambai melalui jendela. Kakinya menuruni tangga dengan lemah. Badannya masih terasa tak bertenaga. Dia duduk di pos satpam, dan benar saja, dalam waktu lima belas menit mobil Rossa singgah di pekarangan depan Best FM.
"Selamat malam, Sobat Galau!" sapa Natha riang ketika Andara melangkah masuk mobil. "Perlu kita seimbangkan hidup ini ke Splash seperti biasa?"
Dalam gelap, Andara hanya tersenyum kecut. Dahulu, dia yang pernah bilang ke Kin kalau mabuk adalah upaya menyeimbangkan hidup. Sebab prinsip The Wolves, jika jadian harus makan-makan maka putusan wajib minum-minum. Namun, dia juga ingat Kin pernah berkata apa. Saat itu, Kin bilang kalau tidak ada masalah yang benar-benar hilang dibawa mabuk. Andara menggaruk kepala, mengutuk ingatan.
"Jadi, gimana? Minum-minum ke mana kita?" goda Rossa sambil tetap menyetir, membelah keheningan jalan di sekitar Best FM.
"Warkop, minum wedang jahe!" balas Andara asal. Dia menyandarkan punggung penuh beban di jok. "Gue lagi nggak ada duit."
"Santuy!" balas Rossa tersenyum manis kepada Natha dan Andara ketika mobil berhenti di lampu merah. "Devan lagi ada di sini. Biar dia aja yang bandarin kita. Lagian gue jemput kalian kan biar kita senang-senang bareng."
Natha berdecak keki. Cewek yang duduk pada bangku penumpang di sebelah Rossa sepertinya sudah tahu akal bulus sang pengemudi mobil. "Halah, terus aja jadiin kami alasan," dengkusnya membalas gelak Rossa. "Jadi, perlu persiapan apa lagi kita buat ngibulin Roni? Mau ke IGD tengah malam atau sekalian kantor polisi pura-pura keciduk?"
"Weits, kalem dong, Chu!" Rossa membuka dan memberikan ponsel kepada Natha. Di benda pipih itu ada banyak foto Natha dan Andara yang pernah diambil tanpa sadar. "Gue udah punya banyak stok barang bukti girls time kita," kekehnya. "Ntar nitip mobil di kosan, ya? Hape juga bakal gue matiin di titik itu."
Andara hanya diam tanpa respon, menunggu Rossa bicara lagi.
"Lo pada tahu, nggak? Ternyata ... Roni tuh ngintai gue dari GPS hape gue."
"Oh, pantesan dia mudah tahu lo di mana," gumam Andara.
"Udah lama sih gue curiga. Makanya yang skenario aborsi kemarin, gue ngajak kalian ke kafe dekat rumkit. Titik GPS kan kadang ngaco-ngaco dikit, kalau jaraknya masih dekat, masih bisa ngeles kalau titik itu nggak akurat. Dasar laki! Buaya kok dikadalin!"
"Lo buaya? Bukannya lo serigala?" potong Natha.
"Eh, iya juga, ya. Ah, pokoknya gitu, deh." Rossa mengibaskan tangan, kesusahan mencari perumpamaan yang pas. "Serigala kok dianjingin."
__ADS_1
Natha tertawa. "Tumben pintar padahal belum kena alkohol. Terus, kalau nanti Roni ngintai kosan gimana?"
"Doi lagi di Hongkong, turnamen sama grupnya. Kalau dia juara, dia janji mau beliin gue Samsung Galaxy Fold."
Umpatan pelan terdengar dari Natha. Ponsel pintar keluaran terbaru itu sangatlah mahal. "Gila, ya! Lo pakai susuk apaan, sih? Mujur amat hidup?" tanya Natha heran.
"Julid kayak tetangga komplek," jawab Rossa mengejek dan mereka berdua tertawa. "Kan udah pernah gue bilang: Harta, Tahta, Wanita. Lo kalau dibilangin batu sih, Nath. Lo itu cakep, masih banyak cowok yang lebih baik, lebih tajir, lebih oke daripada Putra. Ntar gue minta Devan kenalin teman-temannya buat lo berdua deh, ya."
"Yang bisa beliin Samsung Galaxy Fold juga, ya?" pinta Natha.
Giliran Rossa yang memaki Natha. "Eh, botol kecap. Kalau mau metik itu, lo harus tanam dulu, rawat dulu. Kalau baru kenal mau ini itu, namanya sih ngerampok."
"Iya, ntar gue rampok. Rampok hatinya sama dompetnya!" tukas Natha percaya diri.
Melihat itu Andara mulai tersenyum. Setidaknya, sampai saat ini, dia masih punya dua serigala betina yang sama-sama gila, yang suka mengatai-katai, tetapi juga menghiburnya.
"Devan itu memang tinggal di mana?" tanya Andara saat pembahasan merampok kantong cowok sudah mereda. "Gue pikir dia tinggal di Jakarta."
"Ya lord! Kan waktu itu Devan cerita," decak Rossa. "Usahanya memang di Jakarta. Dia stay-nya di Bali. Dulu, kata dia, kadang-kadang aja dia jenguk usahanya tapi semenjak pacaran sama gue, dia jadi rajin ke sini."
"Jadi ... secara nggak langsung lo mau bilang kalau lo membuat kecenderungan positif buat Devan?" timpal Natha mencibir.
Rossa menyengir. "Ya, iyalah. Sebenarnya enak nggak enak sih kalau gitu. Gue jadi kucing-kucingan sama Roni. Dia juga mesti kucing-kucingan sama bininya."
Natha dan Andara hanya bergumam, dan masih mendengar. Ternyata baik Devan ataupun Rossa saling mengetahui posisi masing-masing.
Natha menoleh ngeri ke Rossa sedang Andara melotot. Kata 'Bini' tadi terdengar biasa karena mereka sering kali menyebut itu untuk kata ganti pacar, tetapi 'Anak' bukan kata yang biasa mereka dengar.
"Anak?" desis Natha. "Devan udah married?"
"Iya, anaknya dua."
Andara menganga lebar lalu menggigit ujung jempol sendiri. Keberatannya sudah di ujung lidah. Mungkin mendua terdengar biasa. Dia bahkan pernah menjadi selingkuhan Buana. Akan tetapi, masuk ke dalam rumah tangga seseorang dan bermain di balik status resmi yang direstui Tuhan terasa sangat bejat. Meski tidak setuju, Andara memilih diam. Dia tidak pantas menjadi hakim atas hidup orang lain, 'kan? Sepanjang pulang, Andara hanya menerawang pandangi jalanan. Begitu pun saat Devan menjemput mereka di rumah, Andara tidak berkomentar apa-apa.
"Dari tadi ngelamun melulu lo!" Rossa menepuk bahunya sambil menyodorkan minuman. Dia sudah sampai Splash dari tadi dengan jiwa yang mengawang ke mana-mana. "Udah, laki-laki memang begitu. Harga jantung di black market mahal, lo jangan mau ngasih cuma-cuma ke pacar."
Devan yang baru tiba dari toilet, duduk di samping Rossa. "Kenapa, Beb?"
"Andara baru diputusin cowoknya," ucap Rossa sambil menuang minuman. Mereka berada di deretan sofa-sofa yang ditutupi kelambu. Ini berbeda dari biasanya. Jika dahulu mereka hanya mampu menyewa meja di depan DJ, saat ini lokasi mereka lebih mewah. Sofa VVIP yang melingkar itu masih dekat dengan meja DJ, tetapi lebih privat. Hanya tamu-tamu berkocek tebal yang dapat duduk di sana. Biasanya tempat ini dipakai oleh para artis yang ingin dugem tanpa terbidik kamera.
"Yang resek kemarin?" tanya Devan. "Belum lo bogem, Ra?"
Andara terkekeh pelan. Ucapan Devan mengingatkannya pada Buana dan tinjuannya ke muka cowok itu. "Bukan yang itu. Ini beda lagi."
"Wah, banyak juga cowok lo." Devan tertawa lalu mengajak Andara, Natha dan Rossa untuk mengangkat gelas. "Udah lupain. Kita hepi-hepi aja."
__ADS_1
Mengangguk, Andara menyesap sedikit minuman. Lampu-lampu yang bermain di lantai dansa membuatnya melamun. Ingar bingar musik tidak mampu mengusik keterdiaman Andara. Bolehkah dia teriak sekuatnya kalau saat ini dia sangat merindukan Kin? Nama cowok itu terus bersorai di kepala, sekencang ketukan musik yang membuat pengunjung tidak sadar dalam mabuk. Seharusnya dia tidak ke Splash, seharusnya dia ke Ancol atau pantai terdekat agar bisa meneriakkan nama itu sekeras mungkin kepada deru angin dan berharap hilang bersama ombak.
Dia memandang kosong keriuhan yang ada di seberang sana. Hal itu malah mengingatkannya kepada Kin. Mengingatkan pada momen Kin memeluknya saat dia hampir terjatuh menangisi Buana.
Bibir Andara terus berdecak tanpa sadar. Bisakah dia melupakan cowok itu di saat hatinya benar-benar jatuh? Kisah mereka memang sebentar. Namun, Kin mampu melenyapkan semua rasanya kepada Buana tanpa sisa. Dia bersumpah kalau dia sangat mencintai Kin. Dia berani bersumpah kalau di kepalanya hanya ada senyum semringah dan mata sipit itu.
Andara berdesis, kembali menyesap sedikit cairan kecokelatan yang berembun. Hukum karma apa yang sedang dijalani sehingga percintaannya selalu begini? Diselingkuhi, dibohongi lalu ditinggal sesuka hati. Apakah seluruh cowok memang seperti ini sekarang? Atau apakah orang senista dia memang tidak pantas merasa cinta seumur hidupnya?
Dia melirik Rossa yang mulai terang-terangan bermesraan dengan Devan, lalu mengalihkan pandangan pada Natha yang sudah jatuh tertidur tidak sadar. Sudah berapa lama dia di sini? Andara melirik jam tangan. Sudah pukul tiga dini hari, berarti sudah dua jam dia di sini, tetapi dia masih sepenuhnya dalam kondisi sadar.
Pada akhirnya semua sama saja. Tidak Buana, tidak Kin, mereka hanya lelaki yang meninggalkannya setelah tidak berguna. Dia tidak pernah jadi rumah tinggal. Dia hanya kontrakan yang bisa sesukanya ditinggal pergi.
Andara memutar-mutar gelas kosong. Dia tidak nafsu menambah minuman dan merebah pada sisi sofa yang kosong. Tangannya membuka pesan-pesan lama antara dia dan Kin.
Rasa rindu dipanggil 'Beb' oleh Kin bahkan masih menggumpal di relungnya. Andara lalu membuka galeri, memandangi foto-fotonya bersama Kin yang belum sempat dia unggah ke akun sosial media. Tak lama dia teringat sesuatu dan langsung membuka akun Instagram Kin. Benar saja, foto mereka berdua yang pernah diunggah Kin sudah tidak ada, foto-foto siluet dirinya juga tidak ada. Entah hanya disembunyikan atau sudah dihapus permanen.
Andara meringis geli di antara kekecewaan yang membuncah, bermaksud menertawai kebodohan sendiri. Dia lupa memagari hatinya sendiri agar tidak sakit lagi.
Jatuh cinta adalah jenis kedunguan yang masih saja berkembang biak dengan pesat, dengkusnya.
Bosan dengan aktivitas memutar gelas, dia lalu menarik tisu, mengambil pena dan menuliskan makian di sana.
Bedebah. Kin bedebah.
Kata orang, yang paling sakit adalah ditinggal saat sedang sayang-sayangnya. Iya, ditinggal jatuh sendirian kala belum bersiap akan kejatuhan itu sangat mengagetkan. Dahulu, Andara pikir karena sering jatuh, hatinya akan kebal dan mati rasa. Ternyata hatinya malah makin rapuh, sekali sentuh langsung meluruh.
Bedebah. Kin bedebah.
Apakah sebenarnya ada yang disembunyikan Kin di belakangnya? Apakah Kin akan kembali menjalin hubungan dengan Ririn atau malah sudah memiliki kedekatan dengan perempuan lain lagi? Andara tidak tahu, yang bisa dia lakukan adalah duduk, menunggu dan mengamati. Dia percaya, jika ada kebohongan yang ditutupi maka secepatnya akan terbuka sendiri, dan di saat itu dia harus berterima kasih karena Kin sendiri membuka topeng kejahatannya.
Tangannya masih saja bergerak-gerak dengan pikiran yang mengawang ke satu orang. Tisu-tisu tak berdosa itu menjadi sandaran sampai Rossa mengajak pulang dan dia membopong Natha yang sempoyongan. Tidak ada dari penghuni sofa itu yang tahu apa saja yang tertulis di serakan tisu-tisu. Mungkin jika ditanya, Andara pun lupa atau tidak sadar apa yang tangannya perbuat. Hanya petugas kebersihan yang melihat sebentar sebelum membuang semua tisu itu ke kotak sampah.
Dari semua tisu, rata-rata tulisannya: Kin, rindu.
🔥🔥🔥
Eh, apa kabar? Lagi ngapain? Apa? Nungguin Andara? Aduh, jadi enak sayanya. *dikepruk pembaca*
Oke, sori baru update. Soalnya sekalian mau umumin tiga komentar yang berhak kukirimin buku. Sebagai catatan ya, komentar ini bukanlah komentar terbaik, terhebat atau bagaimana. Semua komentar kalian bagus, lucu, pedas, dan aku berterima kasih atas kerjasamanya. 🙏
Bagi yang merasa memiliki akun dan komentar itu, silakan DM ke Instagram aku @nadyasiaulia.stories ya. Yang belum beruntung, tenang. Ntar kita bagi-bagi yang lain lagi. ❤️
__ADS_1