Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Wolf in Sheep's Clothing


__ADS_3

"Pembunuh paling sadis bukan pisau atau senapan, tetapi perkataan dan perbuatan tanpa berpikir panjang."


🔥🔥🔥


"Makasih, ya, Lun. Lain kali, jangan repot-repot. Kakak bisa pulang sendiri," ujar Andara ketika mobil Kaluna memasuki perumahannya. Dia jadi menginap di rumah Buana. Tadi malam, bersama Kaluna, mereka berdua cerita ngalor-ngidul, memandangi pesta kembang api dari balkon dan tidur setelah itu.


"Sans, Kak. Aku kan gabut, jadi cari keriangan, deh." Kaluna tampak menyengir.


"Heh," potong Andara cepat. "Jangan yang aneh-aneh, ya, Lun."


"Suuzon nih, suuzon. Memangnya aku ngapain?" cela Kaluna terkekeh dan menghentikan mobil di depan rumah. "Next time, kita jalan bareng ya, Kak."


"Sip. Hati-hati." Dia melambai untuk iringi kepulangan cewek itu. Matahari panas tepat di atas kepala, dirinya baru diizinkan pulang setelah menemani Kaluna makan siang. Ketika Andara masuk ke halaman rumah, seseorang tampak keluar dari mobil yang parkir di depan. Sosok itu memanggilnya. 


"Ra, Ocha mana?"


Demi awal tahun yang baru setengah hari, kenapa Roni bisa sampai kemari? Dan sepertinya Roni juga melihat dia diantar Kaluna. Mobil yang dipakai Roni sudah parkir sebelum dia sampai. Andara menggaruk kepala yang mendadak gatal. Dia nggak bisa berkelit spontan. Jika Roni hanya menelepon, mungkin dia bisa bilang kalau Rossa sedang tidur atau sedang di kamar mandi. Kalau datang langsung seperti ini, ini sih penggeledahan namanya. "Masuk dulu deh, Ron. Nggak enak ngobrol di depan. Sangka orang ada apa-apa."


Roni mengangguk lalu duduk di teras. Andara coba menyibukkan diri dengan memberi makan kucing-kucing yang sudah menunggu kedatangannya seraya berusaha memikirkan jalan keluar. Tidak kunjung mendapat jawaban, dia izin ke belakang. "Sebentar, gue kebelet banget," ujarnya sembari masuk ke rumah.


Di dalam kamar, Andara berusaha menghubungi nomor Rossa tetapi tidak aktif. Ketika dia menghubungi Natha yang terdengar baru bangun setelah semalaman ngemsi tahun baru, cewek itu juga tidak tahu di mana Rossa.


"Sori, lama. Lo mau minum apa? Teh apa kopi?" tanya Andara ketika kembali ke teras, ikut duduk di kursi kosong yang dipisahkan oleh sebuah meja kecil.


Roni menggeleng. "Gue tadi udah ngopi waktu sampai di bandara. Udahlah, Ra. Nggak usah ditutup-tutupi, gue tahu semuanya. Dia bilang, dia masih sibuk temanin lo jaga Buana. Dia pikir gue nggak dapat kabar kalau Buana meninggal, seminggu yang lalu? Semua orang nge-tag Buana di Facebook, kan masuk juga di home FB gue."


Andara diam dan memijat pelipis. Belakangan ini, dia makin susah mengerti jalan pikiran Rossa beserta rencana-rencana cewek itu. Apalagi setelah melihat siapa lelaki yang bersama dengan mama Buana, dia yakin Rossa tahu tentang hal itu. "Kalau lo tanya gue, di mana dia? Jujur, gue sama Natha juga nggak tahu. Belakangan, gue sibuk jagain Buana. Waktu Buana pergi juga, gue di rumah aja. Malas ngapa-ngapain."


"Ocha nggak temani lo, 'kan?" timpal Roni tenang. "Dia bisa matiin hape supaya gue kehilangan jejak dia, tapi dia nggak bisa atur CCTV rumah sakit dan jalanan."


Andara menelan ludah kalut. Tentu saja Roni bisa melakukan semua itu, kenapa Rossa bisa bodoh sekali? Apa dia lupa kalau Roni ahli sekali urusan memantau seperti ini?


"Ya udah, gue cabut dulu. Yang jelas, gue udah tahu kalau dia bohong sama gue." Roni bangkit dari tempat duduk.


Andara mengangguk canggung, kebingungan bagaimana cara untuk membuat Roni tidak berprasangka buruk. "Sori, bukannya nggak mau bantu, tapi gue benar-benar nggak tahu."


Roni hanya menghela napas dalam dan menepuk pundaknya sekilas. "Nggak apa-apa. BTW, Gue tahu kepergian Buana pasti berat buat lo. Stay strong."


Andara memandangi kepergian Roni. Ada gamang menyelip di hulu hati. Kenapa cowok yang tidak begitu dia kenal yang mengucapkan 'stay strong' seolah tahu apa yang dia rasa? Dia memiliki dua sahabat dekat dan dua-duanya tidak ada yang mengucapkan kalimat itu kepadanya. Natha mungkin menghibur dengan cara yang cewek itu bisa. Namun Rossa? Hilang, sibuk dengan Devannya, tanpa memedulikan bagaimana dia terpuruk setelah kepergian Buana.


Pada akhirnya, persahabatan adalah nomor kesekian dalam hal prioritas.


***

__ADS_1


Awal Januari yang basah. Hujan kembali turun dan membuat Andara bergelung dalam selimut. Dia tertidur cukup pulas setelah kepergian Roni sampai ponselnya berdering panjang. Sebuah pesan berantai masuk dari Nia. Tantenya itu mengabarkan bahwa Kalbir dan Benzo dibawa ke kantor polisi. Mereka berdua dituduh menjadi dalang dari pembunuhan aktivis lingkungan yang terkait dengan penggarapan lahan.


Tangan Andara menjadi dingin. Dia memang pernah mendengar selenting berita tentang pembunuhan aktivis yang berhubungan dengan kebun kelapa sawit di Sumatera Utara. Pembunuhan berencana itu dilakukan oleh oknum-oknum yang dibayar. Namun, Andara tidak pernah menyangka jika keluarganya ada di balik semua itu.


Melihat pesannya terbaca, Nia berusaha untuk menelepon. Namun, Andara sedang tidak ingin mengangkat telepon. Isi kepalanya terasa penuh.


"Dara perlu pulang. Kita harus RUPS-LB, dan kali ini, Tante minta Dara ikut menentukan masa depan perusahaan kita. Opung mewariskan ini untuk dikelola bersama." Tulis Nia di dalam pesannya kemudian. "Kabari kapan Dara siap, biar Tante belikan tiket pulang."


Andara masih memandang layar ponsel dengan risau saat ketokan berulang-ulang datang ke jendela dan pintu rumah. Malas-malasan dia bangkit, dan menatap datar sang tamu.


"Roni tadi ke sini?" tanya Rossa mengabaikan muka Andara yang masih mengantuk. Andara mengangguk. "Lo ada bilang apa sama dia?!"


Ditanya seperti itu, Andara mengenyit bingung. "Bilang apa?"


"Kenapa lo bilang gue nggak ada di sini? Lo memang nggak bisa diharapin buat bantu orang," desis Rossa melipat tangan. Alisnya berkerut dan pandangannya menyapu dari atas ke bawah. "Kenapa sih bantu gitu aja nggak bisa?"


"Nggak bisa gimana?" Andara membeo. Rossa tidak tahu sih bagaimana Roni menangkap basah tidak ada siapa-siapa di rumah ini. "Roni datang ke sini, dan nggak ada siapa-siapa."


Rossa berdecak. "Gue selama ini kurang bantu lo apa? Lo sedih, gue datangin. Lo sampai, gue jemput. Dan lo, cuma nge-back up rencana gue aja nggak bisa?!"


Andara mengawangkan alis, dan diam mencerna kata-kata Rossa. Ada yang tidak bisa dia terima atas kalimat barusan. Seharusnya pertanyaan itu dibalik, dia juga selalu membantu Rossa tanpa berharap kata terima kasih. "Gue nggak bisa back up rencana lo? Kalau lo lupa, gue selalu terima-terima aja lo jadiin bantalan lo buat bohongin semua orang. Itu yang lo anggap nggak bisa back up?" balas Andara. "Dan lebih teganya lagi, nyawa orang udah di ujung hidung, lo masih pakai nama dia buat nutupin semua kepentingan pribadi lo."


Rossa mendengkus. "Masih aja lo belain Buana, jadi orang kok dibodoh-bodohin sama perasaan. Buana udah nggak ada juga."


"Terus, gue harus apa? Kirim karangan bunga gitu? Kan udah gue bilang, gue nggak minat buat ngejenguk Buana lo itu." Cewek itu mengelak sambil mengangkat kedua bahu.


"Kenapa lo segitu bencinya sama Buana?" tebak Andara menaikkan alis. "Yang harusnya benci banget itu gue, karena yang pernah disakiti Buana itu gue. Kenapa juga lo yang kayak ada masalah paling besar sampai-sampai antipati banget sama dia? Kayaknya ini nggak mungkin masalah cinta, deh."


Rossa terdiam, mukanya kaku. Apa yang Andara duga sepertinya menuju kebenaran. Dia perlu membahas ini.


"Kemarin, gue lihat bokap lo di rumah Buana, lagi ngejemput nyokapnya," tambah Andara pelan namun sangat jelas sambil menunggu perubahan reaksi Rossa. "Kalau dari cara kita selama ini, mustahil lo nggak tahu siapa pelakor bokap lo. Jadi ... pelakor yang lo maksud itu nyokapnya Buana? Kalau lo benci sama nyokapnya, jangan anaknya juga lo bawa-bawa. Itu kan yang bikin lo nggak suka sama Buana?"


Rossa melengos tapi tak menolak. "Tahu apa sih lo rasanya bokap diambil? Lo nggak punya bokap dan juga nggak lama hidup sama nyokap. Jadi, lo nggak tahu gimana sakitnya lihat air mata nyokap sendiri. Kalau Buana itu anak yang baik, nyokapnya nggak bakal jadi pelakor dan ngerusak rumah tangga orang lain!"


Berusaha mengabaikan dada yang berdegam, Andara coba tenang. "Dan kalau lo anak yang baik, lo juga nggak akan masuk ke rumah tangga orang sekadar buat pacarin laki-laki beristri, Cha. Nyokap lo bakal nangis kalau tahu."


Rossa tertawa hambar seraya memutar bola mata. "Gue sih memang bukan orang baik," ulasnya masa bodoh. "Harus ada balasan setimpal, Chu. Mata dibayar dengan mata. Nyokapnya udah ambil kebahagiaan di rumah gue, dan karma berlaku. Kebahagiaan nyokapnya juga diambil. Karma has no deadline."


Andara menggeleng-geleng. "Sekarang gue tanya, lo udah tahu nyokapnya Buana yang rebut bokap lo dari kapan? Bukannya kejadian itu udah lama? Dan kenapa lo nggak cerita sama gue?"


"Buat apa gue cerita?"


"Kalau lo nggak cerita kayak gini, gue malah makin suuzon. Jangan-jangan semua ini memang setting-an lo." Andara mengangguk tidak menyangka. Selama ini dia termakan adu domba. "Lo ngadu kalau Buana sering ke FE, lo idein semua rencana busuk supaya gue balas dendam ke Buana. Iya, 'kan? Gila, nggak nyangka gue! Selama ini, lo jadiin gue alat buat mencapai tujuan dan ambisi lo supaya lo nggak susah payah kotorin tangan sendiri?! Lo sutradara canggih yang patut gue acungi seribu jempol."

__ADS_1


Sudut bibir Rossa naik, menyeringai, persis seperti serigala yang mendapati buruannya sadar. "Nggak juga, sih. Nyokapnya jahat sama keluarga gue, Buana juga jahat sama lo. Ya, dia pantes aja dapat balasannya. Sayang, semua terlalu cepat. Buana terlalu terpukul waktu gue kasih tahu kalau nyokapnya yang ngerebut bokap gue."


Mata Andara membola. "Jangan bilang lo kasih tahunya waktu malam itu?!"


Dengan memasang muka tidak bersalah, Rossa mengangguk. "Jangan salahin gue, dong. Gue udah ingetin dia buat nggak emosi. Lo tahu sendiri laki lo gimana? Saban emosi pasti langsung pergi sambil marah-marah."


"Lo ini manusia atau bukan, sih?!" pekik Andara parau. Jadi setelah mendapati sang papa dituduh korupsi, diusir pergi oleh dia, Buana juga diberitahu kalau mamanya itu pelakor?


Rossa kembali tertawa lirih. "Lo lupa kita siapa? Gue Mbak Serik, serigala bukan anjing," tandasnya sambil menepuk dada. "BTW, lo sebenarnya nggak cocok jadi serigala, Chu. Terlalu berperasaan, terlalu naif."


Ya, naif. Dia memang kadang terlalu naif sampai tidak sadar kalau berada di dalam lingkaran racun. Lingkaran yang dia banggakan namun menenggelamkan. "Gue ini manusia, Cha. Bukan serigala! Gue masih punya perasaan."


"Of course, stupid feeling that makes you idiot and easy to be fooled. Trust me, there's no place for stupid people in Jakarta."


Andara nyaris akan memukul Rossa jika tidak ingat kebaikan yang pernah cewek itu perbuat. "Keluar dan jangan pernah lo datang lagi ke sini!" seru Andara menunjuk pintu rumah. Rossa langsung pergi meninggalkan dia tanpa permisi. 


Badan Andara tersuruk di kursi tamu. Lidahnya merutuki segala kebodohannya yang mau saja dilibatkan dalam rekayasa Rossa. Dari awal, dia sudah tahu kalau Rossa itu licik, tetapi mengapa dia tidak pernah berjaga-jaga kalau dirinya bisa saja suatu saat menjadi korban cewek itu? Dia sudah memilah-milah orang terdekat, tapi itu juga ternyata tidak menjamin apa-apa. Memang benar musuh dalam selimut itu mengerikan, sebab kita tidak tahu kapan ditikam saat tertidur.


Dia mencoba berdiri dan membereskan beberapa benda penting ke dalam ransel. Rumah terasa sesak dan Andara perlu berpikir jernih. Dia berjalan sambil menunduk menyusuri trotoar. Tetes gerimis dingin jatuh di kepala, dan luruh ke aspal tempat dia memijakkan sepatu. 


Selama ini, mereka bertiga didekatkan dengan ikatan kuat atas dasar senasib sepenanggungan. Ada yang berontak liar di dadanya saat Rossa tadi menyebutkan bagaimana dia tidak memiliki ayah dan tidak tahu bagaimana rasanya melihat ibu menangis. Itu memang benar, tetapi kenapa mesti dilontarkan lantang? Dia selalu menjaga lidah ketika Rossa membahas keluarga. Kenapa Rossa tidak bisa bersikap yang sama?


Rossa sudah mengetahui bahwa orang yang merusak keluarganya adalah mama Buana. Mungkin jauh lebih lama sebelum wanita itu memutuskan pergi meninggalkan rumah. Lantas segala tipu daya apa saja yang sudah dilancarkan Rossa untuk membalas Buana? Pantas saja Rossa memberi tahu lokasinya kepada Nina tanpa kompromi lebih dahulu atau membuat cerita bohong tentang aborsi. Tujuan Rossa hanya ingin membalas semua perlakuan mama Buana kepada anaknya.


Andara mencengkeram tali ransel dan berjalan tanpa arah. Jika lelah, dia masuk sebuah miniswalayan hanya untuk membeli air mineral dingin lantas pergi lagi. Dia naik turun bus TransJakarta dengan pikiran kusut. Tatapannya kosong dan langkah tersaruk-saruk. Matahari sudah sembunyi di barat sedari tadi. Dia hanya mengikuti ke mana kaki ingin berjalan tanpa berpikir hingga ujung sepatu itu berhenti di tempat yang tidak dikira sebelumnya: gerbang pemakaman.


Setelah tersadar berada di mana, Andara menelan ludah bingung. Apa dia sudah gila datang ke kuburan malam-malam? Ada banyak orang dimakamkan di sini, bagaimana jika ada jin atau hantu yang menampakkan diri? Pikiran itu langsung ditepisnya sembari melangkah masuk, menyusuri aspal yang basah. Manusia dengan dendam bersemayam di dada lebih mengerikan daripada makhluk halus atau orang mati.


Warung yang biasa berjualan bunga segar rata-rata sudah tutup, hanya ada satu yang masih buka. Ada penjaga kios sedang  bercengkerama dengan seseorang teman sembari menghirup kopi. Melihat Andara memasuki gerbang makam, lelaki itu memanggil Andara untuk menawari bunga.


Andara memilih kuncup-kuncup melati yang wangi juga seikat bunga mawar, kemudian kembali berjalan menuju blok tempat Buana dimakamkan dengan sebuah senter kecil gantungan kunci. Tanah-tanah basah dan lengket di sepatunya. Begitu juga pusara Buana yang masih terlihat baru, tanahnya masih terlihat gembur dan belum ada ditanami rumput.


Dia menaruh mawar tak jauh dari nisan kayu, menyusun melati di bagian atas pusara membentuk tanda hati. Seperti ingin menyampaikan bahwa perasaan itu masih tertinggal di dada hingga kini. Lama dia diam sampai hujan kembali turun. Andara tetap tidak beranjak. Hanya langit yang menangis, dia tidak. Ya, hanya langit yang menangis. Basah di wajahnya itu karena air hujan. Air hujan yang terkecap sangat asin.


Dipeluknya nisan kayu sambil berlutut. Benar kata Buana, habit-nya itu tidak sehat, tidak bagus dan tidak normal. Dugem, merokok dan mabuk-mabukan bukanlah perilaku orang baik-baik. Benar kata Buana kalau dia terlalu membela Rossa dan Natha hanya karena lebih dahulu mengenal mereka. Benar kata Buana bahwa dia terlalu mengikuti Rossa dan mempermainkan perasaan orang.


"Kamu benar, kamu benar," bisiknya tertahan dan meringis. Penyesalan selalu datang di akhir. "Harusnya aku jangan terlalu percaya Ocha."


🔥🔥🔥


Ketik THE END-nya sekarang apa nanti?


__ADS_1


__ADS_2