
Kamu dengar saya? Kalau kamu dengar, kamu harus bangun.
🔥🔥🔥
"Jadi, Kakak beneran udah putus sama Kin itu?" Kaluna berusaha mencari tahu lagi saat mereka berdampingan di koridor. Suasana sekitar sudah mulai menggelap.
"Yang namanya mantan berarti udah putus ya, Kaluna," cibir Andara. Kalau dia masih pacaran, buat apa dia mau menemani Kaluna di sini? Apalagi untuk bersama cewek itu untuk menjaga Buana yang jelas-jelas mantan. Sepintas, Andara terpikir juga. Seandainya dia belum putus, pasti saat ini dia dilema sekali, antara rasa kemanusiaan bin nggak tega sama kesadaran diri perlu menjauh untuk kebaikan perasaan pacar.
"Putusnya karena Abang?"
"Enggaklah." Andara memandang lorong panjang yang terasa dingin dan suram. Kenapa yang namanya rumah sakit itu, sebagus apa pun tetap saja auranya nggak enak, ya?
"Tapi mukanya aneh waktu dengar nama Abang," selidik Luna sambil senyum-senyum. Astaga, di balik muka polos ini, Kaluna sebenarnya sangat lihai memperhatikan orang.
"Udah ah, Lun. Nggak usah bahas itu."
Mereka yang sedang memasuki bangsal VIP melirik ke sebuah kamar di mana seorang cowok duduk di kursi bawah jendela sambil memetik gitar. Petikannya pelan dan nada-nadanya terasa dalam. Andara kenal muka itu, tetapi saat dia ingin menegur, vokalis salah satu band Indiebest itu malah menunduk.
"Kenal?" bisik Kaluna saat mereka melintas.
Andara mengangguk. "Adit, vokalisnya The Tahan Banting."
"Kok nggak ditegur? Kenalin sama Kaluna harusnya tadi, Kak." Mata Kaluna membesar, menunjukkan tanda-tanda protes. Mereka berjalan ke ruang Buana yang terletak di ujung.
"Di kepala isinya cowok mulu, gue kasih tahu sama Buana, nanti."
Kaluna tertawa sambil bergelayut di lengan Andara. "Ngadu-ngadu, udah kayak Kak Nina," ejeknya memasang muka mengesalkan.
"Kesesatan macam apa sampai gue disama-samain sama dia. Ogah!" Langkah Andara berhenti di depan pintu. "Gue pulang aja, deh."
"Ya, ya. Gitu aja marah." Giliran Kaluna yang sekarang menyeretnya masuk. "Padahal kata Abang, Kakak itu orangnya lucu, suka bercanda, suka ketawa."
"Habisnya, situ mulai fitnah akhir zaman." Andara menuju sofa dan menaruh ransel. Dia menyalakan televisi agar ruangan tidak terlalu sunyi. Ponselnya berdering lagi, kali ini, panggilan dari Rossa masuk. Namun, Andara enggan menjawab. Dia tahu apa yang akan dikatakan Rossa jika cewek itu tahu dia sedang di ruang rawat Buana. Atau mungkin Rossa sudah tahu kalau dia bersama Kaluna? Andara lantas mematikan nada dering tanpa menjawab panggilan.
"Kok nggak dijawab, Kak?" Kaluna melirik ke dia yang menaruh ponsel di atas meja. Layar ponsel yang masih berkedip-kedip menyala jelas sekali memberitahu kalau ada panggilan masuk.
"Malas, ah. Lagi malas ladenin wartawan," jawab Andara asal.
Kaluna mengusap dada sambil bergidik. "Nggak boleh ngehujat, Luna. Nggak boleh. Dosa!"
"Bagus!" Andara menaikkan jempol. Sudut bibirnya tertarik. "Gitu, dong. Udah mulai sopan sama majikan."
"Kakak..." Kaluna mencubit lengan Andara gemas untuk menyalurkan kekesalan. Andara hanya bisa terkekeh geli sambil menepis hingga cubitan itu lepas. Mereka tertawa berdua sembari bersandar di sofa. "Kak, bawa charger nggak?"
"Bawa, kenapa?"
__ADS_1
Kaluna beranjak ke dekat tempat tidur Buana dan mengambil sebuah ponsel dari laci meja. "Hape abang lowbat, aku cari di kamar Abang tapi nggak ketemu charger-nya. Boleh pinjam?"
"Nggak gratis, sih," cetus Andara sembari meraba laci ransel dan mengeluarkan gulungan kabel.
"Idih, bayaran." Kaluna menerima gulungan kabel itu dan mulai menyambungkan ke listrik untuk mengisi daya.
"Ya ampun." Andara melenguh. "Pengin banget gue hilangin ini anak, sayang bukan Tim Mawar."
"Hah? Gimana maksudnya?"
Andara terbahak sambil mengibas tangan ke udara. "Nggak usah, nggak usah. Jokes lo nggak sampai situ levelnya."
"Takabur," cela Kaluna.
Perhatian Andara kembali ke ponsel yang sudah dikirimi pesan dari Rossa. Cewek itu menanyakan dia di mana dan berpesan kalau sampai Roni menanyakan keberadaannya, Andara diminta bilang kalau Rossa ikut menjaga Buana. Senyum yang membingkai muka Andara punah.
Menjaga? Tulang rusuk yang menyelubungi paru-parunya terasa memanas. Menjaga apaan? Menongolkan diri ke sini saja, Rossa tidak pernah. Udara dalam dada mulai berontak. Jadi ... Rossa menelepon berulang kali hanya untuk ini? Padahal cewek itu selalu protes kalau dia ke sini, tapi mengapa saat perlu bantuan nama Buana dipakai juga?
"Kak, mau makan apa? Biar Luna pesan," panggilan Kaluna memotong perhatian Andara.
"Apa aja boleh, asal jangan harta anak yatim."
"Sabar, Kaluna, sabar. Jangan dibalas, biar Allah aja yang balas." Kaluna kembali mengusap dada sembari mengutak-atik ponsel, memesan layanan antar untuk mereka berdua.
Andara menoleh, memastikan kalau Kaluna sudah benar-benar pulas. Sedari tadi dia diajak membahas semua perandaian oleh Kaluna. Cewek itu berulang kali bertanya bagaimana seandainya Buana bangun nanti, kira-kira apa yang mau dia bikin? Cewek itu juga menanyakan apakah ada kemungkinan mereka kembali lagi. Kaluna juga bertanya bagaimana perasaannya saat ini terhadap Buana. Anak itu banyak tanya sekali.
Di ruang dingin yang semakin dingin, Andara menarik napas dalam-dalam. Pukul sebelas dan situasi benar-benar sunyi. Di luar, hujan membasahi malam. Sesekali gemuruh terdengar menggelegar di langit.
Pandangan Andara terpaku sama barang yang teronggok di atas meja. Ponsel Buana. Diam-diam dia berdiri dan menghampiri ponsel itu. Sebelum Kaluna memeriksa isi ponsel, dia terlebih dahulu harus membersihkan data-data berbahaya yang ada. Jangan lupa, Buana pernah bilang kalau video mesum mereka disimpan cowok itu. Dia harus bisa menghapus bukti.
Setelah ponsel dihidupkan dan dia memasukkan pin, Andara langsung meluncur ke bagian terpenting yaitu galeri foto. Dia melirik waspada ke Kaluna juga Buana. Meski Buana dalam keadaan selalu tertidur, bukan tidak mungkin kalau cowok itu tiba-tiba sadar. Jempolnya secepat mungkin masuk ke folder video, dia menggeser ke bawah sambil meneliti.
Ada banyak video di ponsel Buana. Namun, semua rata-rata video lama, yang terbaru hanya ada video performa Marionette. Jempol Andara berhenti sampai ujung.
Andara berusaha berpikir. Mustahil video itu tidak ada. Dia mengulik ponsel Buana, mencari folder-folder tersembunyi, tetapi nihil. Tangannya menekan tombol kembali, dia lalu membuka folder foto. Foto mereka berdua masih banyak di sana, ada juga swafoto dia yang sengaja dia ambil dengan memakai ponsel Buana. Dasar Buana bodoh. Pacaran sama Nina tapi isi ponsel muka Andara semua. Dia memang mendapati beberapa foto Nina di sana, tetapi tidak ada yang berdua. Seperti foto hasil kiriman orang di grup saja, bukan dari foto sengaja.
Andara terdiam dan melirik Buana sedikit. Dibukanya Google Foto Buana, tetapi video itu juga tidak ada di sana. Dia mulai membuka WhatsApp cowok itu tanpa membaca pesan-pesan yang masuk. Dia mencari nama Kin atau nama mencurigakan di sana, tetapi kosong. Dia mencoba membuka daftar nomor yang diblokir Buana, tetapi tidak ada yang diblokir cowok itu. Langkah terakhir Andara adalah membuka Instagram dan mengintip pesan yang ada. Di sanalah dia membaca pesan-pesan antara Buana dan Kin.
Tenggorokannya terasa tercekat ketika membaca pesan Buana kepada Kin. Cowok itu bilang kalau dia hamil. Meski Kin sendiri menampik, tetap saja Andara merasa isi kerongkongannya pedih. Memang sampai ujung percakapan mereka tidak ada membahas tentang video. Namun, Andara baru tahu mengapa Buana kekeuh sekali mencarinya saat dia bersama Kin. Buana pasti merasa sangat bertanggung jawab dengan kehamilan rekayasa buatan Rossa.
Dia memeriksa beberapa aplikasi pesan yang lain. Di tanggal yang berdekatan, dia lihat bagaimana Buana mencoba menjual barang-barang dengan alasan butuh uang. Ya Tuhan, Buana dungu! Andara mendesah pelan. Kenapa sih Buana masih saja mau percaya dengan Rossa? Padahal cowok itu sendiri yang sering bilang kalau ragu sama Rossa.
Dua hal terakhir yang diperiksa Andara adalah riwayat pencarian di Google juga buku telepon cowok itu. Dari riwayat pencarian di browser ponsel Buana, tiga teratas adalah ide nama bayi, nama dia dan nama Kin. Kepala Andara seperti dihantam batu. Dia memijit pelipis seraya membuka daftar buku telepon. Nama dia di situ masih Andaraku. Tidak ada nama Kin, tidak ada nomor cowok itu.
Gelombang kegelisahan bergolak di dadanya. Dia meletakan ponsel Buana di meja dan duduk mendekat. Buana masih saja tidur, nyenyak sekali. Di belakang kepala berbalun perban ada banyak alat-alat canggih yang bagaimanapun canggihnya tetap membuat miris orang yang melihat.
__ADS_1
Dari semua pertanyaan Kaluna tadi, banyak yang tidak bisa dijawabnya. Dia hanya bisa memutar pertanyaan itu menjadi pertanyaan kembali. Jujur, Andara bingung dengan perasaan dia sendiri, apalagi setelah memeriksa isi ponsel Buana. Dia menyadari kalau Buana tidak mengirimkan video mesum mereka ke Kin. Perasaan bersalah merambat. Andara menyesal sudah menuduh Buana yang tidak-tidak.
Ditatapnya perban yang masih membalut sekujur tubuh Buana. Apakah dia masih sayang dengan cowok ini? Entahlah, tapi dia ingin Buana sembuh. Namun, jika ditanya apakah dia mau kembali saat Buana sudah pulih? Jujur, sepertinya tidak mungkin.
Setelah mendengar penuturan dari Kaluna beberapa hari ini, Andara semakin menyadari kalau antara dia dan Buana itu rumit. Cinta Buana dahsyat dan cinta dia begitu spektakuler. Mereka terjebak dalam hubungan yang berlebihan dan menjadi toksik. Cinta yang luar biasa itu belum bisa benar-benar terlepas dan berjalan jauh dari masa lalu masing-masing.
Buana yang terbiasa diancam Nina, menjadi sering mengancam dan memaksa untuk memuluskan keinginan. Cowok itu sering diam-diam membuntutinya seperti yang dilakukan kepada sang mama. Begitupun Andara, dia yang belum bisa berdamai dengan diri sendiri karena dikhianati Kaka. Itu menjadikan dirinya tidak mudah percaya kepada orang-orang termasuk pacar sekalipun. Mereka terperangkap dalam labirin yang melelahkan dan tidak berujung. Cinta mereka melukai satu sama lain. Sejahat itu cinta yang berjalan tanpa kedewasaan.
"Buan," panggil Andara pelan. "Nggak capek tidur terus?"
Dia kembali menggenggam telunjuk Buana. Satu-satunya jari yang tersisa. "Akhirnya aku tahu dan kenal sama Kaluna. Benar kata kamu waktu itu, dia lucu, ngeselin tapi juga buat ramai." Andara mengulas senyum datar. "Kaluna banyak cerita tentang kamu. Kok aku ngerasa kalau cerita dia itu benar, ya? Kamu nggak kepengin jelasin gitu ke aku?"
Suara gelembung dari regulator oksigen menemani mereka. Seperti musik yang mengalun pada ruang sepi. "Buana... Aku terlalu liar, terlalu susah diatur. Aku banyak bohongin kamu, termasuk aku pernah bohong waktu bilang perasaan aku ke kamu. Aku bohong kalau aku nggak pernah cinta ke kamu."
"Sebenarnya, aku pernah sayang dan cinta banget sama kamu. Terlalu sayang dan cinta sampai-sampai rasa itu bikin aku hampir gila sendiri. Aku terlalu parno, terlalu posesif. Aku diam-diam juga mengintai kamu, mencari tahu kamu dengan caraku sendiri. Aku nggak sadar kalau caraku itu salah dan malah membuatku selalu pengin balas dendam ke kamu karena kuanggap kamu berkhianat. Kamu juga kenapa mesti ditanyain lagi perasaanku? Satu-satunya hal yang berharga di diri aku udah aku kasih ke kamu, Buana! Itu apa namanya kalau bukan karena aku cinta banget sama kamu?"
"Kamu yang putusin aku duluan, Buan. Kamu tahu nggak rasanya diempas orang yang paling disayang? Sakit, Buana. Sakit banget, tapi aku nggak mau tunjukin ke kamu. Aku nggak mau memohon-mohon ke kamu supaya tetap sama aku. Bukannya perasaan orang itu nggak bisa dipaksa? Kalau kamu udah nggak suka sama aku, memangnya aku bisa paksa apa?"
"Tapi aku nggak bohong kalau awalnya aku cuma pura-pura pacaran sama Kin. Kami cuma akting, Buan. Pada akhirnya, kesalahanku adalah jadi suka beneran, tapi aku nggak berkhianat. Aku suka sama Kin, di saat aku udah memutuskan mundur dari kehidupan kamu. Karena aku nggak pernah kamu pilih, saat itu, aku pikir, aku nggak akan pernah menang dari Nina di mata kamu. I just trying to head up, stay strong, sweep my tears, stand alone, and keep moving."
Ujung telunjuk Buana bengkak dan biru. Separah apa sih malam itu? Buana sebenarnya dari mana?
"Aku baru tahu penjelasannya dari Kaluna. Bangun, Buan. Kamu harus jelasin ke aku dan aku juga mau kasih tahu kamu sesuatu supaya kamu lega." Andara beranjak mendekat ke kepala Buana, dia berbisik, "Bayi itu nggak pernah ada, Buan. Aku nggak pernah hamil. Kamu cuma dikerjain Ocha."
Buana masih saja diam. Matanya tetap tertutup, seolah enggan untuk bangun. Seolah bermimpi lebih indah daripada melihat kenyataan. "Kamu dengar, 'kan? Kalau kamu dengar, kamu harus bangun. Aku minta kamu bangun, Buan. Kaluna pasti kangen banget sama abangnya."
Andara mereguk ludah dan menaruh kepalanya di samping bantal Buana. "Aku juga. Aku juga kangen kamu. Maafin aku, ya. Maafin semua kesalahan aku. Aku akhirnya sadar kenapa kamu nggak suka kalau aku dugem. Kamu takut aku kayak mama kamu, ya?"
Dia mengusap pelan perban Buana. "Aku lahir dari anak yang nggak punya waktu lama bersama ibunya, Buan. Aku nggak akan tinggalin anak-anak aku walaupun aku hancur dan sakit sekalipun."
"Bangun, ya? Kamu harus sembuh dan ceritain semuanya ke aku."
🔥🔥🔥
Mengenai Adit The Tahan Banting ceritanya ada di lapakku judulnya Matahari Api. Tenang gaes, masih direvisi. Sabar, sabar.
Kalau kalian sampai bab ini masih membenci Buana, mohon maaf dengan berat hati aku harus mengatakan kalau kalian adalah orang yang terhasud. Kenapa? Silakan kembali ke bab awal. Di awal, aku memang sengaja membombardir kalian dengan hal-hal yang membuat kalian membenci Buana. Itu mengapa jarang sekali POV Buana, 'kan? Juga jarang sekali POV Kin. Sebenarnya malah di awal aku mau bikin POV Andara semua biar klean kesal. 😆
Eh jangan kesal dulu, soalnya aku sekalian mau minta bantuan kalian untuk meluncur ke link yang tertulis di gambar, kalau nggak punya akunnya kalian bisa masuk melalui FB atau Gmail.
Terus ... vote Hablur, ya. Owkwkwk.
Oke, oke sayang-sayangku? Iyoyu, all. ❤️😘
__ADS_1