Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
The Culmination


__ADS_3

"Dan semua berada pada titik tertinggi dari peredaran rasa."


đŸ”„đŸ”„đŸ”„


Andara memutar-mutar ponsel. Sedari tadi, dia membaca pesan Natha. Cewek itu memberitahu bahwa Kin sedang ada di Jakarta dan mengajak mereka bertiga jalan seperti biasa.


Wait. Seperti biasa? Seperti biasa yang dahulu nggak ada apa-apa di antara mereka berdua? Jelas itu mustahil.


Jari-jari Andara masih memainkan benda pipih itu dengan pikiran berkelana tanpa henti. Dia ingin bertemu Kin, ingin sekali, tetapi bukan dengan pertemuan ala teman, duduk-duduk cantik ngopi tanpa masalah. Ada yang perlu dibicarakan antara mereka berdua, 'kan? Dia pengin tahu apa yang menjadi alasan Kin memutuskan dia, setidaknya ini untuk meyakinkan semua hipotesis yang Andara buat selama sebulan terakhir. Namun, Kin tidak ada mengabari kedatangannya, Andara bahkan tahu dari kabar Natha.


Dia masih belum menjawab pesan dan panggilan dari Natha mulai masuk ke ponsel. Andara gelisah. Kalau selama ini dia bisa menipu The Wolves, dia tidak yakin apakah dia bisa berakting santai di depan Kin. Di depan keindahan mata dan senyum lelaki yang selalu disukanya.


Televisi di hadapan masih hidup, menampilkan berita terbaru tentang seorang pejabat yang tertangkap basah menyimpan uang hasil korupsi. Andara tidak peduli akan berita itu. Dia nyalakan televisi agar ruangan tidak sepi saja, tanpa ada niat menonton. Panggilan kedua Natha mulai datang lagi membuat Andara gigiti jempol. Aduh, dia harus jawab apa?


Setelah dering berakhir tanpa diangkat, Andara membuka fotonya dengan Kin. Memandangi wajah cowok itu lekat-lekat. Dia bisa membayangkan bagaimana lengkung senyum itu terjadi bertepatan dengan pipi yang tertarik ke atas dan gerak mata menutup. Andara mendesah. Tidak, dia tidak bisa bersandiwara di depan Kin, yang ada malah nanti cowok itu tahu dan mereka semakin tambah kaku.


Akhirnya, Andara putuskan untuk tidak ikut. Dia membalas pesan Natha kalau ada tugas kuliah yang harus diselesaikan. Natha langsung menelepon saat pesan balasannya terbaca.


"Apa, Nath?" jawab Andara berusaha santai.


"Kerjain tugas 'kan bisa nanti, bentaran doang kita nongkrongnya. Kita udah lama nggak kumpul-kumpul, lho."


Rasanya Andara ingin membalas kalau yang lama nggak bertemu itu Natha dan Kin, sedangkan dia sendiri dua bulan lalu masih berkasih mesra dengan cowok itu. Dia berdecak. "Penting ini, ini tugas kelompok jadi ngerjainnya mesti sama-sama dan mesti kelar."


Natha terdengar menggumam seperti membahasakan sesuatu. Sebenarnya Andara paham maksud Natha. Cewek itu sepertinya ingin memberitahu kalau saat ini dirinya sedang bersama Kin. Sebenarnya dia bisa membuat pertemuan mereka berakhir dengan tujuan lain yaitu mendengar penjelasan Kin. Namun, kalau Kin-nya sendiri tidak mau menjelaskan, masa mau dipaksa?


"Ya udah, deh. Ntar kalau lo sempat kabar-kabari gue, ya," tandas Natha sebelum menutup panggilan.


Ponsel itu diletak asal, dan Andara menaruh kedua tangan di muka. Kenapa jadi plinplan seperti ini? Dia yang meminta supaya terus berteman dengan Kin, tetapi dia juga yang tidak bisa menjalaninya. Andara mengarahkan dua telunjuk untuk menekan ujung dahi. Isi kepalanya penuh.


"Ra...."


Sebuah panggilan datang dari arah pintu masuk, mengejutkannya. Buana ada di sana. Cowok itu menoleh ke televisi yang berkoar-koar lalu kembali memandang dia. Ada sebuah senyum di bibir itu. Senyum aneh yang tidak bisa Andara artikan, seperti gabungan senyum pedih dan senyum haru.


"Finally, I found you," desis cowok itu mendekat.


Andara berdiri sigap. Apa-apaan I found you, I found you?! Dia memantau pergerakan Buana dengan defensif. "Ngapain lo ke sini?!"


Buana terdiam di tempat. Terdengar helaan napasnya. "Gue perlu lo, Ra."


Andara dapat melihat muka cowok itu kebiru-biruan seperti habis dipukul, tetapi sekali lagi, dia tidak mau peduli. Dia berdecak penuh ejek. Matanya menatap Buana dengan tajam dan dingin. "Bagus lo pergi," ujarnya sambil mengibas tangan ke udara. Ya, dia mengusir cowok itu.


Buana menggeram rendah. Buku-buku jarinya mengepal. Cowok itu mengembus napas berkali-kali seolah-olah sedang menemui kesukaran hidup. "Ra, please. Sekali ini aja, gue butuh lo."


Sebelah alis Andara terangkat sinis. Butuh dia? Memangnya dia IGD yang bisa didatangi sewaktu-waktu saat butuh? Tawa Andara meledak lalu sudut bibirnya menyeringai kejam. "Tenyata percuma lo disekolahin tinggi-tinggi kalau nggak ngerti bahasa manusia. Mesti diajak ngomong pakai bahasa apa? Bahasa setan? Gue udah pernah bilang sama lo, jangan ganggu gue."


Andara kembali mengibas tangan ke udara. Kepalanya pusing dan kedatangan Buana makin membuat pusing.

__ADS_1


"Gue datang ke sini bukan mau ganggu, gue ...."


"Lo ganggu! Tolong dipakai otaknya ya, Buana Semesta! Lo datang ke sini aja, lo udah ganggu hidup gue!" Pekikan Andara lepas. Sakit di kepalanya makin menjadi. "Lo tahu? Gue muak sama lo. Jadi, gue nggak mau dengar satu kata pun dari mulut lo, Buana!"


"Raaaaa," desis Buana putus asa.


Andara langsung meraih kerambit yang ada di laci dan mengacungkan ke arah Buana. Ditatapnya Buana dengan bengis. Darah di seisi tubuh sudah menggelegak. Seolah siang ini matahari sedang berada pada titik kulminasi, suhu sekitar semakin panas dan emosi Andara sudah tak terbendung. "Pergi, Buana. Pergi! Batas kesabaran gue udah abis dan lo jangan remehin apa yang bisa gue bikin ke lo sekarang!"


Dia mengabaikan Buana yang mematung dengan ekspresi  penuh luka. Dirinya lebih terluka dari cowok itu, jadi apa pun yang ditampakkan di muka Buana saat ini, dia tidak akan teperdaya. Buana hanya seorang penipu kawakan yang selalu mendongeng atas nama cinta.


Melihat Buana belum beranjak, Andara mulai mengubah siasat. "Gue nggak peduli lagi apa pun tentang lo, dan kalau lo nggak mau pergi, gue yang bakal pergi." Andara menghunus kerambit ke lehernya sendiri. "Sekarang lo pilih, lo pergi atau gue yang pergi."


"Ra...."


Andara menekan mata kerambit. "Berhenti di situ, jangan maju! Gue bisa berbuat apa pun Buana. Trust me, I'm a good executor."


"Turunin pisaunya, Ra." Buana memohon sambil menangkupkan kedua tangan di depan muka.


Bajingan memang cowok itu. Dia yang merusak, dia pula yang saat ini bertindak seolah pahlawan.


Tangis Andara meleleh dan dia terkekeh di antara linangan lembap. Tangannya mulai menggerakkan kerambit, menggurat leher sendiri. "Pergi lo! Pergi! Pergi sejauh mungkin dari hidup gue. Lo mau ke Pluto kek, ke Mars kek, ke antah-berantah terserah lo. Tolong pergi yang jauh sebisa lo!"


Ketakutan mulai merambati Buana, ucapan Andara seperti tidak main-main. Mata cewek itu berkilat lantang meski berair mata.


"Gue ini iblis, Buana. Gue lebih iblis dari yang lo tahu, dan gue bisa balas apa pun yang lo udah bikin ke gue." Andara mengulas senyum, tak peduli air masih jatuh di sudut mata. "... dan iblis ini benci banget sama lo!"


"Dulu, lo buang gue, terus lo pungut lagi, Buana. Lo bagi-bagi hati lo seolah-olah gue ini cuma kamar mandi, tempat lo ngebuang hal yang lo nggak bisa buang sama orang lain. Kenapa saat gue mau hidup baik, hidup beradab, lo malah ngacak-ngacak, sih?!" sembur Andara. "Dan setelah lo puas ngehancurin apa yang gue punya, lo pikir gue bakal balik ke lo? Sori, gue bukan kayak lo yang demen jilat air liur sendiri!"


Ujung kerambit yang ada di leher Andara mulai mengoyak kulit. Rembesan cairan merah mulai tampak. Buana tercekat melihat adegan seram barusan.


"Pergi!" usir Andara. "Atau lo memang senang ngelihat gue mati?"


Buana memejamkan mata sembari menarik oksigen sekuat dia bisa. Dia memang sudah menghancurkan semuanya, merusak Andara, dan melenyapkan kepercayaan papa. Kakinya bergetar dan dia paksa untuk mundur. Tidak ada rumah untuk Buana pulang. Tidak dengan rumahnya sendiri ataupun Andara. Semua  orang hanya ingin dia pergi.


***


"Kaku amat mukanya, Bang!" goda Natha terkekeh lebar ketika selesai menutup telepon.


Kin hanya mendengkus sambil serius memandangi jalanan ibu kota. Heran, siang hari saja jalanan sepadat ini. Bagaimana jika jam pulang kerja? Kin bersumpah tidak akan keluar pada jam-jam rawan seperti itu. "Dia gimana habis putus dari gue?" tanyanya setelah diam-diam menajamkan pendengaran ke pembicaraan Natha dan Andara.


"Hah? Apanya yang gimana?" Natha memasukkan ponsel ke laci tas.


Sebenarnya dari lama Kin ingin bertanya ini dengan Natha, tetapi setiap mereka berkirim pesan tidak pernah membahas hal tersebut. "Dia sedih?"


Natha terbahak ketika memahami maksud Kin. "Wuih, ngarep! Sayangnya, enggak tuh. Agak pendiam sih tapi kayaknya biasa aja. Kenapa memangnya?"


"Gue putusin dia pakai alasan basi. Gue bilang lagi pengin sendiri."

__ADS_1


"Anying!" umpat Natha. "Lo kalau mau sendiri, masuk lubang kuburan aja. Sendirian juga, Kin!"


"Andara nggak ada cerita?"


Natha terlihat berpikir sejenak lalu menggeleng. "Kenapa sih sebenarnya? Serius, gue nggak tahu. Dari awal kalian jadian juga Andara nggak banyak cerita sama gue."


Kin hanya berdecak pelan sambil mengangkat alis. Ada banyak hal yang susah untuk dijelaskan kepada Natha, mengapa dia memilih mundur. Semua itu adalah akumulasi dari pengamatan Kin.


Natha menggumam setelah mengamati Kin. "Kayaknya gue mulai paham, nih. Lo nggak pengin ketemu empat mata dengan Andara? Buat ... yah sekadar ngobrol gitu?"


Kin terdiam. "Pengin sih," jawabnya setelah lama menatap depan. "Jadi ini gimana? Ngopi berdua aja kita?"


Natha kembali meraih ponsel. "Gue hubungi Ocha, deh. BTW, coffee shop lo udah jadi?"


"Udah, udah soft opening juga dua bulan yang lalu. Kita ngopi di sana aja, ya." Kin mengarahkan kemudi mobil ke arah kampus. Warung kopi yang pernah dia rencanakan memang sudah beroperasi. Kin juga mengikuti saran Andara, waktu itu. Dia memasukkan variasi menu teh lebih banyak daripada warung kopi biasa. Sayang, sebelum dia sempat mengajak Andara menikmati tempat itu, Andara lebih dahulu menikmati sajiannya bersama Buana.


Semua terjadi di luar rencana Kin, saat Rizki bilang kalau dia seperti melihat Andara, Kin yang saat itu sedang di depan komputer langsung membuka CCTV online. Iya, Kin tahu Andara sedang duduk di bean bag lantai dua dengan dua gelas teh bersama Buana. Meski keberatan, Kin masih berusaha untuk berpikir jernih. Dia sempatkan diri untuk menelepon Andara, tetapi bukannya memberitahu, Andara malah seperti menutupi kejadian itu dari dia. Andara pasti tidak tahu kan bagaimana rasanya ingin meledak kala melihat pacar sendiri dicium cowok lain?


Dia mendiamkan Andara karena menunggu cewek itu bercerita. Namun, Andara tidak pernah membahas malah semakin sibuk sendiri. Setiap kali Kin menelepon, Andara selalu mengakhiri lebih dahulu. Yang lebih mengesalkan adalah seluruh foto berdua antara Andara dan Buana masih saja ada di semua sosial media cewek itu, sedangkan dia tidak diperbolehkan Andara mengunggah foto mereka. Ini jelas membuat Kin bertanya-tanya, sebenarnya Andara anggap apa hubungan mereka?


Kin berhenti di depan kedai kopinya, mengenalkan Natha dengan Rizki yang mengelola tempat itu secara langsung. Dia menghabiskan menit-menit dengan tidak banyak bicara, dibiarkannya saja Natha bercengkerama dengan Rizki. Lantas tiba-tiba Kin ingin menjernihkan sesuatu, dia berpamitan dengan Natha.


Tanpa menghubungi lebih dahulu, Kin putuskan mendatangi kosan Andara. Setir diarahkannya ke tempat tinggal cewek itu. Dia hendak menemui Andara dan mereka perlu klarifikasi. Andara juga perlu menjelaskan kepadanya hal-hal yang cewek itu tutup-tutupi dari dia beserta alasannya. Kin tahu kedatangannya ini gambling, kalaupun nanti Andara masih di luar, dia tetap akan menunggu cewek itu pulang.


Namun, saat Kin sampai, apa yang dilihat berbeda dari prediksinya. Dari balik kaca, Kin melihat Buana keluar dari pintu rumah. Cowok itu menghidupkan motornya terburu-buru lalu melaju dengan kencang. Mata Kin masih mengikuti hilangnya Buana hingga suara pintu rumah terbanting mengagetkannya. Kin menekur sambil mencengkeram setir, berarti memang ada Andara di dalam. Andara bohong, dia tidak kerja kelompok seperti alasannya ke Natha tadi. Bisa jadi juga, tadi Andara menolak ikut karena sedang bersama Buana.


Dengan berat hati, Kin harus mengakui. Ternyata benar pernyataan Buana di DM Instagram, saat itu. Dia pikir Buana membual, ternyata tidak.


Kin menyandarkan kepala di jok. Dia masih saja berusaha menampik padahal Rexy telah mengiriminya video apa yang terjadi antara Buana dan Andara saat ulang tahun Best FM. Rekaman yang menayangkan mereka berdua bertengkar, tetapi berakhir dengan pelukan, persis seperti di kedai kopinya.


Kin berdecap. Lidahnya terasa pahit, tetapi kenyataan tetap lebih pahit. Memang benar, di antara Buana dan Andara ada hal yang terikat dan pertalian itu tidak bisa lekang sampai kapan pun. Hadirnya dia tidak bisa menghapus nama itu dalam hati Andara.


Apakah dia masih perlu turun? Kin ragu. Namun, semua tidak ada jawaban jika tidak dicoba, 'kan? Dia lalu mengetuk pintu. Belum sempat Kin memanggil, Andara sudah menyahut dari dalam. "Pergi! Gue nggak mau ngelihat lo!"


đŸ”„đŸ”„đŸ”„


Apasi, apasi?


- Klarifikasi Kin? ☑


- Kenapa Kin putusin Andara? ☑


- Siapa dalang semuanya? ☑


- Kapan Buana bahagianya? Nah, sebenarnya semuanya nggak ada yang bahagia. Karena di dunia nggak ada kebahagiaan yang abadi. Buana udah lebih dahulu bahagia, kan waktu pacaran hampir setahun sama Andara mereka bahagia-bahagiaan sih. Walaupun yha gitu deh. 😆


Gimana? Emosi bacanya? đŸ€­

__ADS_1


__ADS_2