Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Give Me A Shot


__ADS_3

"Bukankah kesempatan selalu ada selagi mata terbuka?"


🔥🔥🔥


Andara tetap kokoh dengan niat bulat untuk tidak tidur di kamar tamu. Beberapa alasan sudah dia persiapkan jika Kin melihatnya tidur di sofa. Dan tertidur adalah alasan dia kepada Kin, pagi ini.


Kin berjalan ke sofa dan duduk di dekatnya saat Andara kembali memejam. "Masih ngantuk? Sana pindah tidur ke dalam."


Sebenarnya Andara memang masih mengantuk, tetapi rasa itu pasti hilang jika Kin di sampingnya. Apalagi Andara sudah mengetahui kebiasaan Kin yang selalu ke toilet setiap bangun tidur, entah untuk mandi atau minimal mencuci muka dan menyikat gigi. Wangi pasta giginya itu, lho, bisa membuat keinginan yang aneh-aneh. Aduh, kenapa bisa berpikir seperti ini sih?


"Ra..." Kin menepuk pelan bahu dia yang masih melingkar berselimut. Andara hanya bergumam malas. "Bangun, Kamerad. Musuh ada di depan."


"Lo aja yang hadapin, gue mau hibernasi dulu."


Dia dapat mendengar decakan Kin karena jawaban tadi. "Bangun lo, busuk."


Andara kembali bergumam tanpa bergerak. Bukan tidak mau bangun, hanya saja tidak sanggup melihat muka bantal Kin yang menggemaskan itu.


"Cuci muka sana." Pipinya dicubit Kin.


"Bodo!" balas Andara tak peduli. Buat apa cowok itu menyuruh dia cuci muka? Kalau mereka nanti sama-sama wangi pasta gigi, lalu apa yang terjadi? Andara tetap tidak lupa bagaimana lembutnya bibir Kin saat dia pagut di parkiran Splash. Ciuman yang awalnya hanya untuk keperluan akting itu sangat menyenangkan, dan Andara merasa Kin juga ikut andil. Tangan Kin yang menahan pinggangnya membuat badan mereka tidak berjarak. Bahkan dia melihat bibir Kin terbuka ketika dia menarik ciumannya.


Tanpa sadar Andara menelan ludah sendiri. Gila, kenapa terpikir kejadian itu sih? Padahal dia tidak mengonsumsi alkohol semalam tetapi kenapa otaknya mendadak kotor pagi ini? Ini berbahaya, ingatan itu bisa memantik sisi impulsif.


Sekitar terasa hening, tidak ada suara Kin lagi, perlahan dia membuka mata. Yang pertama kali terlihatnya adalah wajah Kin. Entah kapan cowok itu membuat wajah mereka sejajar dengan dagu menopang di sofa. Kepala Andara mundur secepatnya dan menabrak punggung sofa. Jarak mereka terlalu dekat, dan Kin semakin dekat, semakin dekat, semakin dekat membuat Andara memejam tegang. Cowok itu mengecup kelopak matanya lagi.


"Morning, sleepyhead."


Kin tampak tersenyum setelah mencium mata dia. Ini cuma dicium di mata lagi, nih? Enggak yang lain? Aduh, Andara ingin menepuk kepala sendiri. Sepertinya dia butuh kopi hari ini agar tidak kebanyakan bermimpi. "Lo dulunya marbot masjid, ya? Bangunnya pagi banget."


Kin tertawa pelan. Wajah mereka masih sejajar karena cowok itu duduk di bawah. "Bukan. Gue malaikat subuh."


Dari balik selimut, Andara mencibir. "Mana ada malaikat riya? Iblis itu, sih."


"Jangan dipanggil-panggil, nanti dia nongol gawat," bisik Kin mengerling. Andara dapat merasa kalau tatapan Kin meninjau sudut-sudut mukanya. Ternyata gigi Kin putih dan rapi sekali jika dilihat dari jarak sedekat ini. Cowok itu meniup mukanya. "Bangun. Mau sarapan apa?"


Andara beranjak duduk. Tidak baik terlalu berdekatan dengan Kin. Apakah para cowok tidak tahu kalau perempuan juga bisa menerkam? Jangan coba-coba membangkitkan sisi liar kaum hawa, deh. "Apa aja boleh, apalagi kalau lo yang siapin."


Kin bangkit dan tertawa pelan. Andara melirik. Cowok itu menuju kulkas dan mengeluarkan kentang, daging dan sayuran beku. Kin ternyata serius menanggapi candaan tadi, mau tidak mau Andara beranjak dari sofa untuk lekas mencuci muka dan menggosok gigi. 


"Mau buat apa?" tanyanya setelah keluar dari kamar mandi. Andara mendekat ke Kin yang mulai sibuk di dapur.


"Steak," jawab Kin sambil menaikkan tangan saat dia hendak memegang wajan. "Jangan sentuh. Biar gue aja yang masak."


Steak? Andara kembali mengamati barang-barang yang diturunkan Kin, memang seperti kebutuhan membuat steak. "Jadi, gue bisa bantu apa?"


"Hari ini, lo yang bikin teh."


"Gue lagi pengin kopi. Kita ngopi aja, ya." Andara melihat-lihat beberapa jenis kopi koleksi Kin dan mulai mengoperasikan coffee maker. Sepanjang membuat kopi memakai alat itu Andara menjadi banyak tanya, harus berapa takaran kopi, air yang diperlukan berapa mili dan lain-lain. Hingga saat tetes demi tetes hitam itu terkumpul dan dia menuangnya ke dalam gelas, Andara merasa seperti baru saja menyelesaikan sebuah misi. 


"Tara! Espresso buatan Barista Andara." Dia berseru puas ke arah Kin yang sudah menata steak buatannya di piring bersamaan dengan kentang goreng dan sayur. Wangi daging itu menggoda lambung sekali. Kin meletakkan sepiring steak di hadapan Andara.


"Kuliah jam berapa lo?" tanya Andara sembari menerima pisau dan garpu dari tangan Kin.


"Hari ini kosong. Ayo, kita jalan-jalan."


"Serius?!"


Kin mengangguk sambil tersenyum. Cowok yang sedang membelah bistik itu mengingatkan Andara akan tokoh film Korea kesukaan Natha.

__ADS_1


"Lo mirip Goblin. Pagi-pagi sarapannya steak." Matanya menyapu wajah Kin. "Pas, mirip."


"Goblin? Siapa itu?"


"Salah satu drakor kesukaan Natha." Andara mulai mengiris daging. Dagingnya yang empuk dan enak. Kin ternyata pintar masak. Itu sulit untuk dibayangkan jika tadi tidak melihat langsung. Bukankah memasak itu merepotkan? Untuk Kin akan lebih mudah menghubungi layanan pesan antar daripada mengotori tangan di dapur, bukan?


Tawa Kin membuat daging di lidah terasa lebih sedap. "Lo suka nonton drakor juga?"


"Kagak," jawab Andara sambil terus mengunyah. Dia perlu makan sebagai asupan energi. Untuk menjelaskan kalau dirinya tidak menyukai drama Korea itu 'kan memerlukan gerak bibir dan pergerakan itu memakan energi lebih banyak. Siapa nama pemeran utamanya saja dia tidak tahu. Yang Andara ingat hanya tokohnya cowok, putih, ganteng, bermata sipit, dan suka makan steak.


"Nggak usah malu-malu gitu, dong. Gue nggak masalah kok kalau lo suka drakor." Kin masih menyajikan muka gelinya. "Pasti lo suka sama artisnya ya karena mirip gue?"


"Ngimpi!" dengkus Andara sambil memutar bola mata. Dipandangi Kin seperti itu membuat duduknya tidak nyaman. Ampun, jantungnya kenapa, sih? Apa efek jantung berdebar-debar bisa membuat tenggorokan lebih cepat kering? Dia menyesap kopi. "Kopi buatan gue enak, 'kan? Awas aja kalau lo bilang nggak enak."


"Iya. Enak kok, enak."


"Lo belum cicip, Bambang!"


Kin kembali tertawa. "Apa yang lo buat selalu enak kok, Ra."


Andara mendengkus lagi. Benar kata Einstein, gravitasi tidak berlaku bagi orang yang sedang jatuh cinta. Kalimatnya Kin mengandung helium, dia butuh tali agar tidak terbang.


Kin mulai menyeruput kopi lalu berdecap. "Beneran, enak kok. Lebih enak lagi kalau dibikinin tiap hari."


Helium di tubuhnya makin penuh! Tangan Andara menggenggam pisau lebih erat. Takut kelepasan dan melempar bilah itu ke arah Kin seperti di Hago.


Hari ini, mereka benar-benar mengelilingi Johor. Kin memarkir mobil di ujung dan mereka berjalan kaki menyusuri jalan Tan Hiok Nee. Daerah itu berisi bangunan-bangunan tua gaya kolonial ala Eropa yang sepertinya sengaja dipertahankan. Meski jalan itu kecil tetapi rapi. Dinding-dinding yang menua ditutup dengan lukisan bergambar dan warna yang menarik. Kin beberapa kali menyuruhnya berhenti dan menghadap ke kamera cowok itu, tetapi bukan Andara jika bergaya baik ke kamera. Dia lebih suka pura-pura di-candid.


Mata Andara menjelajah. Sekitar jalan banyak diisi dengan restoran dan kafe bergaya retro. Mereka juga mampir ke salah satu kafe untuk mencicipi penganan dan kembali mengopi.


"Kita ke mana lagi?"


"Ada apaan di sana?"


"Cuma kuil, tapi bangunannya semua berlapis kaca. Mau nggak?"


"Memang faktor U nggak bisa bohong, ya. Kalau udah tua pasti sukanya kunjungin bangunan tua juga." Andara jadi ikut-ikutan Kin, menghirup wangi kopi yang menguar sebelum meneguknya.


Kin tersenyum sambil mencubit pipi Andara. "Lo mau ke Thomas Town? Sanrio Town? Atau Angry Birds Town? Karena gue nggak yakin kalau lo mau ngemal."


"Ya udah, kuil itu aja. Masa diajak ke tempat anak-anak?" Andara menjulurkan lidah.


"Siapa tahu waktu kecil kurang puas mainnya," dalih Kin terkekeh.


Namun, senyum Andara meluntur karena kalimat itu. Dia memang tidak pernah bermain ke wahana bermain saat kecil, selain karena jarang ada juga karena Opung lebih sering mengajaknya ke pedalaman dibanding ke tengah kota. Tengah kota untuk orang-orang seperti Opung adalah rapat di hotel atau bangunan-bangunan tinggi. Mana ada tempat bermain di sana? Dahulu, bangunan tidak terlalu bersahabat kepada anak-anak. Berbeda sekali dengan sekarang, tempat bermain ada di mana-mana, termasuk ruang tunggu bank atau rumah sakit.


"Kenapa, Ra?" Kin mengamatinya yang tertunduk sambil memainkan jari berputar di bibir gelas kopi. 


"Nggak apa-apa. Gue ke belakang dulu, ya." Andara mungkin perlu mencuci muka agar segar. Ingatan pedih itu datang saat dia ingin liburan.


***


Kuliah sudah berjalan setengah jam, tetapi Andara juga tidak datang. Sebenarnya ada apa dengan cewek itu? Apa Andara sakit sendirian sampai tidak bisa mengangkat telepon? 


Hampir seminggu tidak menemukan Andara, dia merasa ada sesuatu yang kurang di hidupnya. Saat mereka putus, meski tidak bertegur sapa, tetapi Buana masih melihat Andara di koridor kampus atau di kantin atau di perpustakaan. Meski tidak berteleponan lagi, Buana masih dapat mendengar suara Andara dari radio yang diputar, dan itu cukup untuk menggenapi kerinduan yang menyesakkan. Namun, Andara tidak pernah selenyap ini tanpa kabar.


Beberapa kali Buana ke Best FM, dia tidak menemukan Andara. Kabarnya anak itu cuti mendadak. Di kampus tidak ada, dan setiap Buana ke rumah selalu kosong dengan anak kunci tidak ada di tempat biasa. Dia coba bertanya ke Zaki dan Akbar, mereka menjawab tidak tahu. Harapannya tinggal ke Natha dan Rossa, tetapi kedua sahabat Andara itu tidak menggangkat telepon dia. Mereka seperti bersekongkol menutupi jejak Andara.


Seseorang mencoleknya. Orang di samping sodorkan absen manual, membubarkan lamunan Buana. Dia tandatangani bagiannya, lalu melihat nama Andara yang tidak jauh dari namanya. Mata Buana memicing heran sebab absen Andara terisi. Dia mengedarkan tatapan ke seluruh penghuni kelas. Siapa yang dititipi pesan oleh Andara? 

__ADS_1


Pandangannya bersilangan dengan beberapa mata, tetapi penghuni kelas cuek-cuek saja, sampai bertemu dengan mata Vina. Cewek itu memainkan alis, seolah paham arti isyarat mata Buana dan Buana lekas menghampirinya saat kuliah berakhir.


"Vin, lo yang absenin Andara?"


Vina mengangguk. "Lagi aman, ya gue absenin aja."


"Memangnya Andara ke mana, Vin?"


Cewek itu membelalak heran ke arahnya. "Lho, kalau lo aja nggak tahu apalagi gue? Gue cuma dititipi absen, ya udah gue absenin."


"Kapan dia bilangnya sama lo?" Buana mendapat secercah harapan atas kabar Andara.


"Hari Sabtu minggu lalu, dia WA gue. Kemarin juga tanya gimana absennya, gue bilang aman." Vina mulai menelitinya dan tertawa kecil. "Kalian berantem?"


"Wait. Kemarin dia ada hubungi lo?" Buana mengulangi perkataan Vina, dan cewek itu kembali mengangguk. "Pakai WA?"


"Iya."


Buana langsung duduk menyamping ke arah Vina. Jalan menuju Andara mulai terlihat. "Boleh gue pinjam hape lo sebentar, Vin? Dia nggak angkat telepon gue."


Vina meringis. "Dasar lo. Nih, jangan lama-lama, gue mau liputan sebentar lagi."


Melalui WhatsApp Vina, dia berusaha untuk menelepon WhatsApp Andara. Tiga kali panggilan tidak diangkat juga. Buana hampir kembali putus asa jika tidak membaca pesan masuk dari Andara. Cewek itu mengirimi pesan ke Vina agar sampaikan melalui kotak pesan karena dia sedang di jalan.


"Udah?" Vina menghampiri.


"Nggak diangkat, tapi dia bilang chat aja." Buana mengembalikan ponsel Vina. "Vin, bantu gue dong. Bisa nggak lo tanyain, dia lagi di mana?"


Vina kembali tertawa pelan, tetapi mengiakan. "Iya, ntar gue tanyain. Cie, khawatir ya ceweknya hilang? Makanya jadi cowok itu harus lebih peka, Buan."


"Peka gimana lagi, sih?" Buana mengembus napas berat. "Gue selalu berusaha ngertiin dia, Vina."


Vina mengantongi ponsel dan mengedikkan bahu. "Cewek kadang hilang karena pengin dicari, pengin didatangi, pengin diyakinkan. Ya udah, gue cabs dulu. Ntar kalau dapat kabar, gue kabari."


Buana berulang kali mengucapkan terima kasih ke Vina. Setidaknya dia tahu jika Andara masih  baik-baik saja, buktinya bisa mengetik pesan dan sedang di jalan. Tapi kenapa Andara tidak membaca pesannya dan mengangkat teleponnya? 


Vina tadi bilang kalau cewek hilang karena ingin dicari. Bagaimana Buana bisa mencari jika Andara melenyapkan semua jejak? Bagaimana Buana bisa datang jika dia saja tidak tahu Andara ada di mana? Cewek pernah berpikir nggak sih kalau kaum cowok itu bukan paranormal yang tahu semua tanpa diberitahu dengan kata-kata?


Entah berapa kali Buana sudah mengacak rambut karena bingung. Perasaan tidak nyaman masih berkutat membuat Buana terpikir untuk mengambil jalan lain. Jika Natha dan Rossa tidak mau mengangkat telepon, dia harus menghampiri langsung sehingga mereka tidak bisa menghindar. 


Kaki Buana setengah berlari ke arah Fakultas Ekonomi. Dia harus menemukan Rossa dan memaksa cewek itu beritahu di mana Andara berada. Mustahil Rossa atau Natha tidak tahu. Minimal salah satu dari dua orang itu pasti tahu.


Mata Buana memindai semua wajah yang berpapasan dengannya. Dia juga mengintip kelas yang sedang berjalan, melihat-lihat apakah Rossa ada di dalam. Belum juga menemukan sosok itu, Buana terus berjalan dan bertanya kepada orang-orang yang dikenal. Langkahnya berakhir di kantin fakultas, dan dia melihat Rossa di pojokan sedang santai mengisap rokok sambil bermain ponsel.


Buana biasanya tidak suka berada di sekitar perokok selain Andara. Dia tidak sudi menjadi perokok pasif. Dia tidak sudi mengotori paru-paru karena rokok orang lain, tetapi perihal Andara lebih besar daripada urusan itu. Kehilangan Andara sama saja seperti kehilangan paru-paru. Dia sama-sama tidak bisa bernapas.


Dia berhenti sebentar di pintu kantin dan menarik dalam-dalam oksigen agar rileks. Didatanginya Rossa yang terkejut melihat langkahnya yang kian mendekat.


"Hai, Cha. Gue lihat hape lo mulus, paten dan baik-baik aja. Tapi sayang, kenapa hape secanggih itu nggak ada tombol buat jawab panggilan, ya?!"


🔥🔥🔥


Jadi, udah bisa gue kasih tahu satu per satu fun fact naskah ini nggak?


Satu, naskah ini sudah ditawari sebagai naskah premium which is berbayar di satu aplikasi baca. Tapi, aku sayang sobat gratisku. I feel you, Sista.


Jadi masih aku pertimbangkan, bukan kutolak, sih. WKWKWKWK.


Satu dulu aja, ah~ 🤪

__ADS_1


__ADS_2