Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Little Surprise


__ADS_3

"Singa memang raja hutan, tetapi serigala tidak pernah bermain sirkus."


🔥🔥🔥


Suara ketukan pintu yang berulang-ulang datang sangat mengganggu. Andara menangkup kedua telinga. Siapa sih yang mengetuk? Dia masih mengantuk. Semalam, Buana meneruskan lagi pertempuran sesampainya mereka di kamar.


Dia menggelung kembali badan, merapatkan selimut. Tampak Buana juga masih tidur di samping. Ini pukul berapa? Andara meraih ponsel guna melihat waktu. Dia membaca pesan singkat dari Rossa yang menyuruhnya bersiap. Pesan itu masuk lima belas menit yang lalu. Bersiap untuk apa? Andara berdecak, Rossa ini mabuk atau bagaimana? Menulis pesan kok tidak jelas.


Hujan yang mengguyur kota dari semalam masih meninggalkan rintik mendung, sehingga pukul sepuluh masih terasa pagi dan matahari sama sekali tidak tampak. Siapa coba yang memilih bertamu dalam cuaca seperti ini? Enakan juga di rumah. Lagi pula tempat ini acap kali kosong. Dahulu, jika tidak sempat pulang, Buana lebih sering menginap di rumah dia daripada di sini. Sebagaimana rumah singgah, isi rumah ini tidak banyak hanyalah sebuah karpet di ruang tamu dan sebuah meja makan. Yang lumayan lengkap hanya isi kamar, ada kasur, lemari dan televisi. Tidak ada kompor atau penanak nasi di sini sebab Buana selalu memesan layanan antar.


Ketukan itu terdengar lagi. Seolah tahu penghuni rumah ada di dalam, sang tamu mengetuk lebih kencang. Andara mengguncang pelan tubuh Buana, tetapi cowok itu bergumam pelan dan balik terlelap.


Setelah mengenakan kembali baju kaus dan bokser yang dipinjamkan Buana semalam, Andara juga sempatkan mencuci muka sebelum mengintip sang tamu dari jendela. Dia tertegun sesaat melihat siapa di depan. Ternyata ini arti sms Rossa barusan. Dengan menyembunyikan senyum simpul, dia memutar anak kunci dan menatap tamunya dengan wajah seolah terkejut.


Tentu saja Nina yang berdiri gemas di depan rumah sedari tadi menjadi diam tidak berkutik melihat Andara. Tadi saat dia menanyakan Andara kepada Rossa, cewek itu malah memberitahu kepadanya kalau saat ini Buana sedang bersama Andara. Dia tidak percaya dan bergegas datang untuk membuktikan kebenaran ucapan cewek itu.


Nina hafal kaus yang melekat di badan Andara. Itu kaus band kesukaan Buana. Pacarnya membeli kaus berharga mahal itu dengan menitip kepada jasa titip beli di London. Dia menatap kaus yang lecek di badan Andara dan muka bangun tidur cewek itu. Kaus ini dipakai Andara tidur? Tidak mungkin.


"Buana mana?" tanyanya dingin dan masuk ke dalam tanpa permisi. Nina mencoba menahan emosi, dikutinya telunjuk Andara yang mengarah ke kamar saat dia berjalan masuk.


Nina terus berharap Rossa bohong dan hadirnya Andara hanyalah kebetulan saja, tetapi pakaian Buana yang tercecer di lantai juga sosok yang tidur bertelanjang dada masih bergelung di balik selimut membuatnya memekik.


"Buana!" Nina menjerit marah sambil menutup bibir.


Seperti mengenali suara, Buana langsung bangun dan terduduk. Dia terkejut mendapati Nina di sana. Kepalanya menoleh ke sebelah, Andara tidak ada. Di mana Andara? Buana panik dan berdiri dari tempat tidur hendak mencari Andara. Dia lupa kalau sedang tidak memakai pakaian.


Andara mengintip sedikit melalui celah pintu. Dia melihat Buana beranjak, dan Nina memalingkan muka histeris. Cewek itu pasti terguncang mendapati pacarnya berada di dalam rumah bersama cewek dan dalam keadaan tanpa busana. Kasihan.


Nina berlari meninggalkan rumah sembari menangis, menyisakan Andara yang berlagak bodoh di ruang tamu dan Buana yang terburu-buru memakai baju.


"Ra! Kenapa kamu buka pintunya?!" Buana menariknya masuk ke kamar. Surai-surai Buana masih berantakan, sudah seperti singa. Wajah keras itu menekuk masam. Cowok itu tampak panik, marah, mungkin juga tidak terima.


Andara mempertahankan muka tidak bersalah, berpura-pura meratapi kejadian yang sebenarnya sangat menghibur. "Gue udah bangunin lo waktu diketok-ketok, tapi lo molor aja. Gue nggak tahu kalau dia yang datang," dalihnya. Jelas itu bohong. Dia membuka pintu dengan senang hati karena Nina yang datang. Namun, jika yang datang orang lain, malah tidak akan dia bukakan, apalagi kalau sampai teman sekampus. Gile aje lo, Ndro!


Sosok di hadapan dia menjambak rambut frustasi. Buana segera memakai jaket dan celana panjang lalu menyalakan motor, pergi meninggalkannya. Cowok itu pasti mengejar Nina. Nina selalu nomor satu dan didahulukan. Nina, Nina, Nina.


Andara menatap kepergian punggung Buana dengan pedih. Lagi-lagi dia tidak dipilih. Padahal pengorbanannya lebih banyak dari Nina. Siapa coba yang memuaskan Buana semalam? Siapa coba yang memberikan kehangatan ke cowok itu? Dan siapa yang rela didatangi meski cowok itu sudah tidak menjadi pacarnya lagi?


Andara mengembus napas pilu dan tertawa getir. Buana memang bajingan sejati. Sampai seperti ini pun dia tetap merasa terluka karena cowok itu. Berbondong-bondong air matanya turun tanpa


diminta.


Sialan. Dia masih saja menangis untuk cowok itu. Bodoh Andara, Bodoh! Andara mengusap basah di pipi dan berdeham untuk menyamarkan isaknya. Mencintai Buana adalah ketololan yang nyata. Otaknya sudah disfungsi. Kenapa dia selalu berpikir Buana akan memilihnya setelah apa yang dia berikan? Hanya karena Buana kembali datang, dia pikir dia sudah menang. Dia tidak lebih dari stasiun persinggahan. Bukannya Rossa berulang kali mengingatkan kalau cowok adalah makhluk penuh ego?!


Andara berjalan ke dapur, memeriksa pakaiannya yang dijemur kemarin malam. Pakaian itu masih sedikit lembap tetapi sudah bisa dipakai. Dia mengganti baju sambil menatap tubuh di cermin. Di sana tampak ada beberapa tanda kemerahan bikinan Buana. Ini tubuhnya. Tubuh yang seharusnya dia sayangi. Tubuh yang selama ini menjadi sarang dia hidup. Kenapa dia jahat sekali dengan tubuh sendiri?


Buana hanya menjadikan dia cadangan, menjadikannya sebuah barang; jika butuh dipakai, tidak butuh dibuang. Dia kembali menyeka tangis. Orang saja bisa jual diri senilai delapan puluh juta dan dia memberikan secara cuma-cuma. Murahnya dirimu, Andara!


Andara menegakkan kepala. Serigala tidak boleh bodoh. Serigala itu pintar dan gigih. Oleh karena itu, dia tidak ingin menjadikan dirinya pelampiasan nafsu Buana lagi. Andara berikrar dalam diri kalau semalam adalah yang terakhir. Dia tidak akan pernah melakukan kesalahan bodoh itu lagi. Mahasiswi hukum kok melanggar banyak norma?


Andara berjanji jika dia akan melakukan kembali hubungan seks hanya kepada suaminya kelak, bukan dengan pacar, selingkuhan apalagi orang yang baru diketemui kemarin malam. Causa atau Opung pasti melaknatnya di dalam kubur. Dia bukan murahan, dan dia tidak akan memberikan tubuhnya hanya demi cinta atau kasih sayang. Jika lelaki benar-benar mencintai wanita, maka lelaki itu akan menunggu sampai waktunya tiba.


Sebelum meninggalkan rumah, Andara sempatkan memberesi kamar Buana, merapikan meja makan dan menyapu rumah itu. Dia pastikan tidak ada satu pun jejaknya tertinggal di sana. Andara menutup pintu rumah dan menaruh anak kunci di bawah keset. Dia kembali menatap rumah itu untuk terakhir kali karena dia tidak akan pernah lagi mau menginjakkan kaki ke sini.

__ADS_1


Selamat tinggal, Buana. Selamat tinggal masa lalu.


***


"Chu, pahlawan perangnya datang!" seru Rossa memberitahu Natha saat melihat dirinya sampai. Cewek itu langsung menarik sebuah kursi dan mempersilakan Andara duduk dengan sedikit menunduk, persis yang dilakukan pelayan di restoran. "Silakan, Yang Mulia."


"Halah, tai!" balas Andara. Dia tahu sekali perbuatan Rossa barusan hanyalah ejekan. "Lo bikin apa tadi? Kenapa si Nina bisa nge-gep kami gitu?"


Rossa tergelak. Tawanya keras sekali sampai mukanya memerah. "Dia yang duluan cari gara-gara, Chu. Sumpah! Jadi ceritanya gue lagi ngudut di kantin, eh, dia datengin gue tanyain lo."


Rossa berdiri, memeragakan diri jadi Nina. Cewek itu berjalan kemayu mendekat ke meja makan. "Hai, lo kan temannya Andara. Gue boleh minta nomornya Andara nggak? Ada perlu," ujar Rossa dengan suara mendayu-dayu.


"Hampir aja gue sundut rokok mukanya!" tambah Rossa geram.


"Terus?" tanya Andara penasaran. Natha di sebelah hanya diam, sepertinya cewek itu sudah dapat cerita lebih dulu.


Rossa meraih ponselnya dan berakting menelepon. "Nggak mungkin dong gue kasih nomor lo. Ya udah gue pura-pura telepon lo. Terus gue bilang, 'Kalau lo mau ngomong sama Andara ke rumahnya Buana aja. Dia lagi di sana'. Jadi, dia ke sana?"


Andara mengangguk, meneruskan cerita versi dirinya. Diceritakannya dengan detail bagaimana raut terkejut Nina dan kalang kabutnya Buana.


"Anjir, untung dia nggak pakai bawa Pak RT sama Pak RW!" potong Natha berdecak tidak habis pikir.


Rossa terkekeh geli sambil menunjuk Andara. "Bisa diarak massa lo!"


Andara mencibir. Sepanjang perjalanan ke rumah tadi, dia berusaha mengembalikan mood agar terlihat santai. Hasilnya, tidak ada yang tahu jika dia tadi menangis. "Ya, gue nggak bego juga keleus. Kalau waktu gue ngintip ada orang ramai-ramai, nggak gue bukain pintu, woy! Bunuh diri itu namanya!"


"Terus habis ini ngapain?" Natha menatap kedua sahabatnya. "Kan kemarin kata lo bikin Nina menyadari mereka selingkuh di belakang. Berarti tinggal Andara empas Buana aja? Ya, 'kan?"


Tatapan Rossa dan Andara menyatu, lalu alis mereka terangkat sebelah. "Bentar dulu, lo iya-iya nggak semalam?" tanya Rossa coba menebak.


"Tinggal jawab 'iya' aja, Kampret!" Rossa tertawa lagi. Dia sudah menduga sih kalau antara Andara dan Buana tetap ada tersisa perasaan yang bisa jadi alasan untuk berbuat aneh-aneh. "Goyangan Buan masih payah nggak, Chu?"


"Bangsat!" Muka Andara memerah ditanya seperti itu. "Fungsi lo tanya ini buat apaan, sih?"


"Selow dulu. Dia pakai pengaman nggak?" tanya Rossa yang dibalas dengan gelengan Andara. "Keluarin di dalam atau di luar?"


"Di dalam."


Natha sudah memekik sambil mendorong kepala Andara. "Ra! Lo gila?!"


"Tenang, tenang!" Rossa mengangkat tangan untuk menengahi. Dia menatap Andara lekat. "Lo selalu bawa pil di tas, 'kan? Lo minum nggak semalam?"


Senyum Andara menaik. Dia mulai mengonsumsi pil kontrasepsi semenjak kembali bersetubuh dengan Buana minggu lalu. "Minum, dong. Sebelum Buana selesai ganti baju, gue udah minum duluan. Gue juga taruh hape di kitchen set terus gue rekam video. Udah kebacalah apa niat Buana bawa gue ke rumahnya."


Rossa bertepuk tangan gembira. "Mantul! Mantap betul. Lo benar-benar The Wolves sejati. Jadi ... Liat dong videonya."


"Setaaaan!" Andara mengibas-kibas tangan. "Enggak, ding. Gue bohong masalah video. Ya kali gue rekam-rekam begituan. Ekshibisionis amat, ya?" ralatnya sambil mencoba tertawa.


Natha tersenyum simpul sambil mengerling. "Tapi sensasinya beda lho, Ra." Cewek itu mengabaikan ejekan Rossa dan desisan Andara. "Bolehlah suatu saat kalian cobain, tapi jangan di-upload juga, deh."


"Hati-hati juga, sih. Roni pernah bilang sama gue, kalau ada orang yang bisa memeriksa isi galeri hape orang dari jauh. Kalau ada begituan di hape lo pada buruan hapus," tandas Rossa.


Andara dan Natha mengangguk-angguk. Andara sendiri juga menyimpan video itu hanya sementara saja. Dia akan menghapus secepatnya jika tidak dibutuhkan lagi.

__ADS_1


Ponselnya bergetar, nama Kin tertera di layar. Natha yang lebih dahulu melihat nama Kin di layar ponsel Andara lantas cengar-cengir bahagia. "Angkat buruan. Ada yang kangen tuh."


Sejenak Andara menjauh dari kericuhan yang diakibatkan dua serigala betina di meja makan. Dia juga memerlukan udara agar terdengar tenang saat menjawab telepon itu. Andara masuk ke kamar. "Halo, Kamerad!" sapanya riang.


"Bahagia bener kayaknya," ujar Kin.


"Iya, dong. Gue kan selalu bahagia ditelepon lo. Hahahasu!" Andara mengeja tawa yang terdengar mencemooh. Kin pasti tidak sadar kalau yang dibilangnya barusan bukan bercanda. "BTW, kenapa, Beb?"


"Apanya yang kenapa? Memang gue nggak boleh telepon lo karena kangen?" tanya Kin sambil tertawa lepas.


Sialan. Botol Chivas mana botol Chivas? Mau Andara taruh di rongga dada biar nggak lembek. Dia sampai menjauhkan ponsel sebentar dan menutup muka di bantal agar tidak terdengar berteriak.


"Ape banget, Bang. Memang gue anak ingusan yang mempan digombal?" dengkus Andara sambil diam-diam menyengir.


Tawa Kin mereda. Cowok itu lantas berbicara serius. "Lo jadinya berangkat kapan, Ra?"


"Secepatnya. Kayaknya Sabtu, deh, Kin. Gue besok sama lusa ada praktek peradilan semu. Belum ajuin cuti, belum lihat-lihat tiket dan booking hotel. Ntarlah gue kabarin."


"Oke, Sabtu, ya." Kin lalu diam. Cowok itu seperti sedang sibuk dengan sesuatu. Andara dapat mendengar suara Kin mengetik di papan kibor. "Ra, coba periksa email. Udah gue forward ke lo."


Andara membuka beranda ponsel dan mengecek surel. Sebuah surat masuk dari Kin yang berisi e-tiket dan kode booking penerbangan ke Johor Bahru atas namanya. Jantungnya seperti tersetrum.


"Kabarin nomor paspornya ya biar gue input di data lo," tambah Kin santai. "Lo nggak usah booking hotel. Pakai kamar tamu di apartemen gue aja, Ra."


"Kok lo beliin tiket, sih?" Andara yang tergagap akhirnya bisa kembali berbicara.


"Kan lo yang minta kemarin?"


"Ya, ampun. Gue bercanda, Beb." Andara berdecak tidak enak hati. Nanti bisa-bisa Kin menyangka dia mengejar materi cowok itu. Kan gawat.


"Nggak gratis, ya!" Kin menyindirnya. "Cariin gue pacar."


Andara lantas tertawa terkekeh. "Gue aja masih jomlo. Pakai mau cariin buat lo pula. Lo tuh yang cariin gue pacar."


"Lho, iyakah? Gue pikir lo balikan sama Buana."


Andara paham sekarang kenapa Kin menayakan perihal buket itu kepada Natha. Cowok itu menyangkanya sudah berpacaran kembali dengan Buana. "Is... Nggak percaya bener. Gue ini jomlo. Nanti di sana kenal-kenalin gue sama teman-teman lo, ya, Kin. Siapa tahu ada jodoh."


Kin terkekeh. "Kenapa kita berdua nggak pacaran aja?"


Andara juga terkekeh. Dia takut Kin hanya bercanda jadi dia menjawab dengan nada berseloroh. "Bungkus, Beb."


🔥🔥🔥


Dear, all. Mohon dibaca author note ini karena gue jarang-jarang bikinnya. 🤭


Setelah gue membaca ulang, gue baru sadar kalau di cerita ini ada 1 bab yang terselip.


Jadi antara bab 18 berjudul Defying Gravity seharusnya bab 19 berjudul A Hope, dan bab 20 berjudul Disclaiming.


Kesalahan gue adalah setelah Defying Gravity, langsung masuk ke Disclaiming. Jadi, jika kalian sadar ada plot hole. Plot kenapa Andara tiba-tiba jadi host Reload, kenapa Andara bisa berbaikan kembali sama Bang Anco dan kenapa Natha bisa tahu Andara suka Kin. Itu kalau lo sadar, sih.


Mood gue asli ambyar dan gue edit, timpa, save ulang. Hiks. Makanya mohon maaf kalau Rabu kemarin gue nggak update, gue fokus merevisi.

__ADS_1


Buat kalian yang belum baca bab berjudul A Hope, waktu dan tempat gue persilakan. ❤️


__ADS_2