
"Kita hanya sepasang luka yang berharap lupa."
🔥🔥🔥
"Ses. Ke mana aja lo?" Vina menyapanya saat Andara sudah duduk di kelas. Cewek itu mengambil posisi di sampingnya dan ikut duduk.
Andara hanya tersenyum. "Biasa, cari angin segar. Thanks, ya, udah absenin gue."
"Iya, santuy. Cari angin ke mana sampai nggak ada kabar ke yang lain? Laki lo nyariin lo panik gitu." Vina tersenyum kecil.
Andara menoleh, mencoba mengerti maksud Vina. "Laki gue?" tanyanya dengan alis berkerut. "Buana maksud lo?"
Vina mengangguk. "Dia kaget gitu waktu tahu gue absenin lo. Katanya dia nggak dapat kabar lo, sampai dia tanya lo di mana sama gue."
"Lo jawab apa?"
"Ya, gue jawab nggak tahu. Kan memang gue nggak tahu." Vina mengeluarkan buku dari tas. Suasana kelas tidak begitu ramai karena hari masih pagi. "Ninja juga lo ya, Ses. Bisa hilang-hilang." Dia terkekeh pelan. "Kalian ada masalah, ya? Gue jadi nggak enak waktu dia tahu lo ngabarin gue tapi nggak ngabarin dia."
Andara terdiam sebentar, melirik samar ke pintu kelas berjaga-jaga. "Gue sama dia udah putus, Vin."
Muka Vina langsung berubah drastis. Kegiatan mengeluarkan perlengkapan perang untuk belajar terhenti. "Beneran?" tanyanya mengamati Andara lantas menemukan kebenaran di ucapan barusan. "Astaga. Sori, gue nggak tahu. Aduh, salah dong gue bilang kalau lo kirim pesan ke gue? Pantes Buana pakai pinjam hape gue buat telepon lo."
"Jadi, yang telepon gue dari nomor lo itu si Buan?"
"Iya, sori, ya." Vina menunjukkan penyesalannya.
"Nggak apa-apa, Vin. Kan gue juga nggak kasih tahu lo." Andara mengangguk paham. "Memang anak kampus nggak banyak yang tahu, sih. Palingan teman-teman band dia aja."
Dengan tanpa banyak tanya, Vina mengangguk. Cewek itu mengerti kalau Andara tidak mau cerita mengenai hal tersebut. Anggukan Vina kemudian berhenti dan mata menyorot kaku ke arah pintu. Andara mengikuti pandangan Vina dan menemukan Buana masuk ke kelas. Pandangan mereka beradu. Buana menyambangi Andara dan duduk di bangku sebelah kiri yang kosong.
Vina langsung memberesi bukunya. "Gue pindah aja, ya?"
"Nggak usah, kayak apa aja." Andara menahan buku Vina. "Lagian gue ketinggalan minggu lalu, biar sekalian lihat catatan lo." Dia mengambil buku Vina dan mulai membuka bukunya sendiri. Ada dua lembar catatan yang didapat Vina, minggu lalu.
"Pulang jam berapa tadi malam?" Buana berusaha bertanya baik-baik. Dia melirik Andara yang berpura-pura sibuk menyalin catatan Vina.
"Ra," panggil Buana, menahan tangan Andara. "Sampai kapan sih mau kayak gini? Dewasa dikit, Ra."
Kalimat terakhir Buana, membuat Andara menoleh dan tersungging sinis. "Dewasa? Yang nggak dewasa itu siapa? Lo kali," jawabnya sambil mengembalikan tatapan ke buku dan lanjut menulis.
"Ada siaran hari ini?"
"Nggak urusan lo."
Buana menarik pena Andara hingga terlepas dari tangan cewek itu. "Aku tahu kamu sok sibuk. Catatan itu bisa difotokopi." Dia menggenggam lengan Andara. "Dan jadi urusan aku, Ra. Karena apa pun yang berurusan sama kamu itu urusan aku! Kamu harus ingat kalau antara kita berdua, ada yang belum selesai," desis Buana menekankan kalimatnya.
Memang, memang harus diselesaikan. Andara juga sudah membawa uang Buana. Syukurlah tadi pagi ada dana masuk dari pembayaran hasil di ngemsi bulan lalu, sehingga di tasnya ada sepuluh juta kontan. "Wow. Lo ini amnesia atau habis kebentur di kepala?"
"Ra..." Buana bergumam kesal.
"Jangan ribut di kelas deh, Buan. Bikin malu. Habis kuliah ntar gue kabarin kita bicara di mana."
***
Andara memasuki sebuah kedai kopi baru yang lokasinya tidak jauh dari kampus. Dia belum pernah datang ke sini, tetapi sering dilewati saat pulang dan pergi kuliah. Seperti dugaannya, tempat ini nyaman dan menarik. Ruko yang terdiri atas dua lantai ini belum ramai pengunjung. Memang tempat seperti inilah yang dia cari untuk bisa berbicara dengan Buana.
Pandangan Andara mengeliling dan menemukan Buana di suatu sudut. Cowok itu sudah duduk di bean bag berwarna cokelat yang tersebar di lantai dua, dengan dua gelas teh tersaji. Buana datang lebih cepat dari waktu yang Andara tetapkan.
Dia datangi meja Buana dan duduk di hadapan. Gelas berwarna merah itu tampak mencolok di antara interior berwarna kalem. "Oke. Kata lo, kita harus bicara. Sebagai pihak yang mengundang, gue mempersilakan lo untuk bicara duluan," ujarnya sambil melipat tangan.
Buana mengetuk-ketuk meja dengan jari. Matanya memandang sendu sosok yang selalu dia rindu. "Jadi ... selama hilang nggak ada kabar, kamu lagi sama Kin?"
"Kenapa?" Andara bertanya balik. "Dia kan pacar gue."
Buana mengangguk-angguk, berusaha menekan badai yang berontak di hatinya. "Minum dulu," ajaknya menyodorkan segelas teh.
Andara mengiakan dengan kedikan dagu. Matanya terus menunggu Buana untuk berbicara.
"Jadi ... Kamu udah ngapain aja sama dia?" sindir Buana sembari meneguk pelan teh yang masih hangat. "Yang enak-enak lah, ya."
"Pendek banget pemikiran lo," balas Andara sinis. "Kalau pikiran lo di seputar puser ke bawah aja, belum tentu yang lain begitu. Jangan disama-samain."
Jawaban Andara membuat Buana terkekeh lirih. Cowok itu menaruh kembali gelas di meja. Badan Buana bersandar penuh pada bean bag yang nyaman sambil ikut melipat tangan di dada. "Pada dasarnya, semua laki-laki itu sama, Ra. Nggak ada kucing yang nolak dikasih ikan."
"Wah, baru kali ini gue dengar yang sebutin kalimat itu malah laki-laki. Sama? Sama-sama tukang bobo-bobo lucu terus tinggalin, maksud lo? Mimpi, sih. Kin nggak kayak gitu."
Buana mengangkat alis sembari tersenyum mencela. Dia kembali meneguk tehnya. "Masa? Kalau kalian nggak sempat bobo-bobo lucu, nggak mungkin dia sampai bilang bakal tanggung jawabin kamu."
"Kin bilang gitu?" tanya Andara. "Lo ada ngehubungin Kin? Ngapain, sih?!" Mata Andara membulat. Kira-kira kapan Buana menghubungi Kin? Pantas saja Kin terlihat aneh.
"Kenapa?" Buana bertanya balik. "Salah aku tanya di mana ibu dari anak aku?"
Andara refleks mencengkeram gelas. Ingin sekali bisa menyiram Buana lagi, tapi ditahannya. Ini harus diselesaikan dan menyiram seperti dulu tidak menyelesaikan masalah. "Gini ya, Buan. Sebagai anak yang sedang menuntut ilmu di perguruan tinggi, coba lo berpikir logis. Faktanya, gue udah sama Kin, lo udah sama Nina. Jadi ... tolong lo pahamin kalau antara kita udah nggak ada apa-apa dan lo nggak ada hak tanyain gue di mana, paksa gue buat angkat telepon atau balas pesan lo. Itu yang pertama," terangnya sambil mengangkat telunjuk.
"Yang kedua. Lo udah punya kehidupan sendiri dan gue juga udah punya kehidupan sendiri. Oke, gue akuin kemarin gue salah karena pernah jalan sama lo waktu lo udah punya pacar. Tapi, gue udah mundur. Gue nggak akan ngelakuin kesalahan itu lagi. Gue nggak akan ganggu lo dan Nina lagi. Gitu juga lo, jangan ganggu hidup gue dan Kin lagi."
Buana hanya tertawa mendengkus. "Nggak saling ganggu? Impossible, kita udah punya janji berdua. Ingat itu!"
Andara meringis. "Janji bullsh*t itu? Sori, janji itu nggak berlaku lagi, Buan. Satu detik dari sms lo mutusin gue waktu itu, janji itu cuma omong kosong taik kucing."
Wajah Buana mengeras dengan pandangan menilai. "Berarti benar kamu udah ngapa-ngapain aja ya sama Kin. Udah dapat yang enak ya dari dia? Kapan kalian ngelakuinnya? Kemarin waktu di Malaysia? Atau jangan-jangan sebenarnya udah ngelakuinnya jauh hari di belakang aku?"
__ADS_1
"Hati-hati mulut lo!" bentak Andara. Tangannya sudah gatal sekali ingin melempar sesuatu.
"Lho, benar, 'kan? Buktinya aja kamu bisa cium dia di depan aku waktu kita habis putus, Ra. Dia nginep di rumah kamu, angkat telepon kamu. Aku aja semasa pacaran nggak pernah angkat-angkat telepon orang di hape kamu. Udah jauh banget ya hubungan kamu sama dia? Yakin kamu pacaran sama cowok kayak dia? Cowok baik-baik mana sih yang ngajakin pacarnya dugem, Ra?" tuduh Buana sambil menepuk meja. Air teh yang ada di dalam gelas ikut bergejolak.
Andara melengos. Apa hak Buana mau menilai pacarnya? Dia saja tidak pernah menghakimi Nina langsung di depan Buana, kok. Buana tidak boleh menilai Kin seperti itu. "Kalau lo nilai orang berengsek cuma karena dia dugem. Harusnya lo pikir, definisi apa yang tepat buat orang yang mutusin dengan alasan klasik kayak lo? Aku bukan orang baik buat kamu," tekan Andara menirukan isi sms Buana. "Iya, lo bukan orang baik karena lo memang seribu kali lebih berengsek dari orang biasa! Dan kenapa juga saat gue udah bisa move on dari diputusin lo, malah lo yang kebakaran jenggot?!"
"Karena aku benar-benar sayang sama kamu, Ra."
"Pret! Itu ucapan paling nonsense sedunia saat putus, tahu nggak lo?! Nggak ada orang sayang yang mutusin sepihak! Udah, nggak usah banyak alasan. Gue udah tahu kok akhirnya kenapa lo putusin gue. Gue balikin omongan lo waktu itu, yang namanya bangkai bakal tercium juga, dan benar dong dugaan gue. Lo balikan sama Nina." Andara mengulas senyum dingin. "Selamat, ya," tambahnya.
"Aku balikan sama Nina setelah kamu jadian sama Kin." Buana membalas dengan tatapan pilu.
Andara mengeja tawa mencemooh. Cowok ini memutar balik fakta. "Buan, mungkin Nina bisa lo bohong-bohongin, tapi nggak berlaku di gue. Memang gue diam, tapi gue tahu lho apa yang lo lakuin di belakang gue. Lo jemput Nina, jalan sama Nina, telepon Nina. Gue tahu semua, Buana Semesta." Senyuman Andara berubah manis namun matanya berkilat. Seperti binatang buas hendak menerkam mangsa. "Jujur, gue benci banget sama lo waktu itu sekaligus ngerasa bodoh sama diri sendiri. Kok bisa gue berurusan sama cowok sampah kayak lo? Ya, tapi, mungkin Tuhan punya maksud. Kalau bukan karena kita selesai, mungkin gue nggak akan bisa ngelihat yang lain."
Buana menghela napas dalam. Semua jawaban pedas Andara terasa menghantam dadanya. "Kalau aku bilang aku tahu gimana? Aku tahu kalau kamu tahu, dan aku sengaja. Gimana?" tanya Buana menantang mata bengis Andara dan cewek itu terdiam.
Dia menggeleng sambil tersenyum pedih. "Kadang aku sampai mikir, Ra. Apa cuma aku ya yang sayang sama kamu? Apa cuma aku ya yang pengin selalu sama kamu? Apa cuma aku yang nggak suka kalau kamu dekat sama cowok lain? Sedangkan kamu nggak kayak gitu. Kamu tahu aku jalan sama Nina, tapi kamu santai aja, Ra. Aku tunggu kamu protes. Aku tunggu kamu cemburu. Aku tunggu kamu marah dan kita akan bahas sama-sama. Tapi apa? Kamu nggak ada marah atau cemburu sedikit pun karena aku tuh nggak ada arti di mata kamu."
Buana mendesah sembari memijat tulang lunak di pangkal hidung. Dia melanjutkan penjelasan karena Andara bergeming. "Aku berusaha untuk cari tahu perasaan kamu sama aku. Dan ... benar, aku cuma bertepuk sebelah tangan. Cuma aku yang gila sama perasaan aku sendiri. Aku udah kayak orang nggak waras, selalu mau tahu di mana kamu, selalu larang-larang kamu, selalu pengin tahu kabar kamu, tapi kamu enggak, Ra. Aku cinta banget sama kamu, dan kamu biasa aja, 'kan?"
Andara kaku tidak berani bergerak. Iris matanya melebar. Ditatapnya ekspresi penuh keruh di muka Buana.
"Aku nggak tahu lagi harus gimana hadapi kamu. Aku kasih tahu keberatanku, kamu bilang ngelarang-larang. Aku ingatin, kamu bilang ngatur-ngatur. Aku marah, kamu bilang emosian. Dan dari semua nasehatku, nggak ada yang kamu dengerin. Kamu tetap aja nggak mikir buat berubah," terang Buana kacau. Dia kesulitan untuk menjelaskan apa yang dia rasa.
"Aku nggak ada selingkuh dengan siapa-siapa. Nina juga cuma aku anggap teman, karena kami udah kenal lama. Beda sama kamu yang dengan santainya bisa buka hati buat semua cowok. Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu sering bohong? Kamu sering bilang mau tidur, tapi ternyata dugem. Kalau kamu pikir selama ini aku nggak tahu kebohongan kalian bertiga, kamu salah. Aku berusaha nggak larang-larang kamu karena kamu selalu bilang kalau kamu nggak mau dilarang, Ra. Terus hasilnya apa? Kamu main sama Kin di belakang aku!"
"Kapan?! Nggak usah ngarang cerita!" Kini giliran Andara yang menepuk meja. Apa pun alasan Buana, cowok itu tidak berhak menuduhnya selingkuh. Dia tidak pernah selingkuh.
"Aku pernah ikutin kalian. Aku lihat kamu pelukan sama Kin. Entah pelukan, entah ciuman. Aku pun nggak tahu, tempatnya gelap." Buana berdecak pelan, menyamarkan gundah.
"Gue nggak pernah pelukan sama Kin. Dan kalau waktu itu gue cium Kin di depan lo, case-nya kita udah putus, ya."
"Sebelum itu, Ra. Ada jauh sebelum itu aku lihat kalian pelukan. Kin ada usap-usap kepala kamu. Kamu taruh kepala kamu di bahunya."
"Nggak mungkin, fitnah!" balas Andara keras kepala.
"Kamu nggak sadar karena kamu mabok! Aku udah tarik tangan kamu waktu kamu keluar dari toilet, tapi kamu malah sentak tangan aku dan balik ke meja. Jelas, 'kan? Kamu memang udah ada apa-apa sama Kin di belakang aku."
Andara mencoba mengingat-ingat kembali, dan dia tidak ingat apa-apa. Jika tangannya ditarik orang saat keluar dari toilet dan diempasnya, Andara pun sudah lupa karena kadang-kadang ada pengunjung Splash yang iseng jika melihat cewek mabuk. Mereka pelukan? Tidak pernah. Paling-paling Kin menahan badannya kala mau terjatuh saat mabuk atau menjauhkan gelas dari tangannya, itu saja. Tololnya Buana. Kalaupun dia mabuk, alasannya kan karena lelaki ini.
"Lo tahu nggak gue mabok karena apa? Karena lo, pintar! Karena lo jalan diam-diam sama Nina di belakang gue. Menurut lo, gue nggak sakit hati dibohongin lo?! Coba lo pikir, tiba-tiba pacar lo berubah terus diam-diam jalan sama mantan di belakang lo. Apa yang ada di pikiran lo? Dan nggak lama dari itu, semua berjalan sesuai dugaan lo. Pacar yang teramat lo sayangi itu putusin lo cuma dari sms. Anj*ng, nggak tuh?!"
Buana terkekeh getir. Dia bingung, entah harus terkejut atau sedih mendengar pengakuan Andara. "Apa? Aku nggak salah dengar, nih? Kamu sayang sama aku? Kalau kamu sayang sama aku, kenapa sms aku waktu itu nggak ada kamu balas sama sekali?"
"Memang gue harus balas apa? Oh, oke, harusnya gue ucapkan terima kasih, ya? Terima kasih Buana telah memutuskan aku, gitu?"
Buana berdecak dengan rasa kecewa yang berhamburan. "Ra... Ra... Kalau kamu tanya balik ke aku. Apa yang akan kulakuin kalau aku diputusin kamu? Aku tahu jawabannya karena aku punya perasaan besar sama kamu. Bukan kayak kamu." Buana menatap Andara berharap cewek itu mengerti apa maksudnya. "Aku pasti datangin kamu. Aku pasti minta penjelasan dari kamu. Minimal aku bakal telepon kamu. Aku bakal pertahanin hubungan kita, tapi kamu enggak, 'kan? Niat buat pertahanin aja nggak ada, Ra."
Andara mengusap muka lelah. Berhadapan dengan Buana banyak menyita energi. Bukan mulut saja yang pegal, jiwa dia juga penat.
"Ra, ingat! Kamu harus pegang janji kamu." Buana mencoba untuk menggapai tangan Andara.
Dengan cepat, Andara menjauhkan tangan. "Cari cewek lain aja yang bisa lo bayar. Toh, selama ini gue nggak lebih dari cewek gampangan buat lo, tempat lo kosongin gentong."
Buana berdesis dengan suara mengandung luka. "Harusnya kamu berpikir, Ra. Nggak ada cewek gampangan yang diperlakukan seperti rumah. Kamu itu rumah buat aku, Ra. Kalaupun kita ngapa-ngapain waktu itu, kita ngelakuinnya berdua, Ra. Mau sama mau, nggak ada yang paksa. Karena memang kenyataannya nggak ada cinta yang nggak ngelibatin gairah."
Andara tertawa sinis. Kepalan hatinya berdenyut. "Rumah? Oh, maaf-maaf aja, ya. Gue nggak sebaik hati itu buat nampung balik orang yang udah ninggalin gue. Cari rumah lain aja lo, yang bisa lo putusin tiba-tiba tanpa alasan kalau lo lagi pengin. Cari cewek lain yang bisa lo bohong-bohongin karena Andara Ratrie nggak selugu itu."
"Tanpa alasan? Aku udah jabarin dari tadi alasanku. Aku putusin kamu karena dua hal, Andara. Waktu itu aku capek sama usahaku sendiri, Ra. Sementara kamu bebas aja tebar pesona. Aku berusaha untuk selalu ada supaya kamu cinta sama aku, tapi harus aku akui. Aku gagal. Kamu nggak cinta sama aku, Andara. Aku cinta sendirian."
Mata Buana terlihat berkaca-kaca. Bahu tegak itu melengkung. "Cuma aku yang kepengin kita terus samaan, kamu enggak, Ra. Cuma aku yang kepengin kamu bagus, kamu sehat-sehat terus. Kamu enggak, Ra. Sama diri kamu sendiri aja kamu nggak sayang. Buat apa sih aku ngelarang kamu ngerokok sama minum? Buat aku? Nggak, Andara. Itu semua buat kamu. Kenapa aku selalu nggak kasih kamu keluar malam kalau nggak sama aku? Kalau kamu ada apa-apa di jalan, gimana?"
"Aku putusin kamu juga dengan maksud supaya kamu mikir, minimal introspeksi setelah kita putus. Tapi apa? Bukannya mikir, kamu malah semakin liar. Semakin bebas bisa nunjukin hubungan kamu sama Kin ke semua orang. Pakai acara cium Kin di depan semua anak-anak Marionette. Udah mulai berani ngerokok dan minum langsung di depan aku. Astaga!"
"Whoa... Ini makin ke sini, lo makin playing victim. Pintar banget lo bikin seolah-olah gue yang salah. Lo catat ya, Buan. Asal muasal masalah ini dari lo putusin gue tiba-tiba tanpa kabar berita."
"Ra... Coba kamu pikir dulu. Sebelum sms itu datang, semalamnya kamu sama siapa? Ngapain aja? Bilangnya apa sama aku? Kamu bilang, kamu mau tidur di Best FM. Aku kepikiran dan berusaha jemput kamu ke Best, Ra. Ternyata kamu pergi sama teman-teman kamu ke Splash. Oke, aku kasih waktu kamu buat girls time. Tapi ternyata Tuhan mungkin mau tunjukin kebenaran di mata aku, ya. Nggak lama datang si Kin-Kin itu," jelas Buana perlahan.
"Aku ini laki-laki, Ra. Dia juga laki-laki. Aku paham gerak tubuh cowok yang tertarik sama cewek. Dia ngedeketin kamu terus, di samping kamu terus buat cari-cari kesempatan. Dan kamunya juga kayaknya suka sama dia, ya? Nempel-nempel gitu."
"Gue nggak ada nempel-nempel sama Kin! Gue waktu itu murni berteman sama dia!"
"Oh, ya? Berteman, ya? Berteman yang gimana? Berteman yang akhirnya jadian dan ciuman di depan mata aku? Atau berteman yang akhirnya liburan bareng berdua jauh dari keluarga? Kamu semakin liar, Ra. Sampai berani-beraninya kamu aborsi nggak bilang dulu sama aku."
"Panjang amat urusan! Udah kayak sinetron!" Andara mengeluarkan bungkusan koran dan menaruhnya di meja. "Ini duit lo, gue balikin. Dan sekarang, mari kita selesaikan semuanya. Biar hidup kita tenang. Lo nggak capek teror gue? Gue sih capek, dan kalau lo masih gitu lagi besok, jangan salahin gue kalau gue block lo di mana pun."
"Kamu kejam banget sama aku, tapi sama mantan kamu yang lain enggak." Buana menggeleng tidak terima. "Itu uang punya kamu. Cowok berengsek ini berusaha sebisa mungkin tanggung jawab sama perbuatannya, walaupun dia anj*ng."
"Gue nggak perlu tanggung jawab lo! Dan untuk lo ingat, ya. Bukan cuma lo aja, tapi semua. Semua mantan bakal dapat perlakuan yang sama dari gue tanpa terkecuali."
"Masa?" tanya Buana sangsi. "Sama Kaka enggak, tuh."
"Sama aja. Semua sms atau teleponnya nggak pernah gue tanggapin. Lagian kenapa sampai ngerambat ke mana-mana masalah ini? Lo tuh memperpanjang masalah yang nggak ada, Buan. Toh, Kaka nggak pernah lagi ngehubungi gue."
"Itu karena nomornya aku block dari hape kamu. Mantan macam apa yang masih kirim-kirim pesan bilang kangen, bilang pengin ketemu, bilang pengin ngulang semua?! Kamu nggak ada cerita sama aku, 'kan? Aku yang lihat di hape kamu."
"Ngaca coba! Diri sendiri nggak kayak gitu waktu udah jadi mantan?" balas Andara skakmat. "Lagian buat apa gue cerita sama lo? Gue nggak ada perasaan apa-apa lagi sama Kaka. Kalau dia mau sms, mau telepon sampai pegal itu urusan dia karena nggak akan gue balas. Matilah dia dengan penyesalannya sendiri."
Buana tertawa tanpa suara. Tawa getir menertawai diri sendiri yang begitu mengenaskan. "Nggak ada perasaan apa-apa lagi? Kemarin, dia mau ulang tahun aja kamu bela-belain beli kado, Ra. Kamu lupa waktu itu minta temanin aku buat beli kadonya? Pantes sih Kaka agresif gitu, kamunya kasih harapan. Pantes Kin maju terus, kamunya kasih pintu masuk. Cowok-cowok di hidup kamu itu kayak mainan aja ya, Ra?"
Andara ingin sekali menepuk kepalanya dengan gelas. Kenapa waktu itu teringat nama Kaka, sih? Jadi panjang ceritanya. "Waw... Udah melebar ke mana-mana aja pembahasan lo! Memang benar ya kata orang, semua yang dimulai dari nggak baik, nggak akan berakhir baik-baik. Kita dari awal memang nggak baik-baik, jadi wajar kalau akhirnya begini."
__ADS_1
"Nggak baik-baik gimana?"
Andara tersenyum miring. "Udahlah, lo pikir gue nggak tahu? Lo kan masih pacar Nina waktu nembak gue. Lo datang malam itu ke rumah gue juga karena Nina, 'kan? Gue tahu kok hari itu ultahnya bokap si Nina. Dari awal aja, lo tuh udah jadiin gue pelarian lo dari kekecewaan lo sama Nina. Gue selalu lo jadiin cadangan."
"Ya, Tuhan. Jadi ini alasannya kenapa kamu nggak sesayang itu sama aku? Nggak balas semua perasaan aku?" Buana menggeleng keras-keras. Mendung tebal menggantung di wajahnya. "Kamu salah, Ra. Aku udah putus sama Nina. Memang aku datang ke acara keluarga Nina, tapi karena keluarga aku kenal keluarganya. Aku datang sama papa mama. Kalau kamu tanya kenapa malam itu aku ke rumah kamu, itu karena postingan Zaki di IG-nya."
Buana mendesah. "Mungkin kamu nggak sadar. Mungkin juga buat kamu biasa aja, tapi aku nggak bisa terima lihat foto kalian bertiga rangkulan mesra kayak gitu. Aku capek mesti tutupin perasaan aku lagi sama kamu. Aku nggak peduli lagi waktu itu kamu hanya anggap aku teman. Di pikiran aku cuma harus jujur kalau aku suka kamu. Aku kepengin kamu jadi pacar aku."
"Aku pikir dengan aku jadian sama kamu. Cowok-cowok yang pengin dekatin kamu jadi tahu diri. Aku pikir setelah Zaki dan Akbar nggak dekat lagi sama kamu, kamu berubah. Nyatanya enggak, makin banyak aja teman-teman cowok kamu yang aku nggak kenal. Memang nggak bakal ada asap kalau nggak ada api, sih. Kamu yang kasih jalan cowok-cowok itu buat masuk ke kehidupan kamu walaupun kamu udah pacaran sama aku. Benar kata teman-temanku, aku tuh cuma mainan aja buat kamu. Cuma ajang bercanda, bisa nggak ya si Buana ditaklukin? Buat lucu-lucuan kamu dan geng kalian bertiga."
"Apa-apaan bawa geng segala?"
"Semua juga tahu gimana sepak terjang kalian. Apalagi Ocha, siapa yang nggak pernah ditaklukkannya? Gitu juga kamu, mudah-mudah aja buat kamu putusin Rexy, 'kan? Kalian tuh cuma jadiin cowok mainan yang kapan kalian bosan main terus kalian tinggalin."
"Tadi bahas Kaka, sekarang bahas Rexy. Panjaaaaangnya! Lo mau tahu kenapa gue putusin Rexy?" Andara menarik alis naik. "Karena dia paksa gue buat ena-ena! Dia pikir gue cewek apaan?"
"Karena habit kamu begitu, Ra. Orang akan selalu nilai miring cewek yang suka minum, suka ngerokok, suka dugem. Kamu kalau dibilangin nggak pernah mau dengar, sih. Kita ini hidup di dunia timur, kriteria penilaian orang itu kayak gitu. Aku selalu ingatin kamu supaya nggak usah terlalu ikuti Ocha sama Natha, tapi kamu selalu bilang kamu udah kenal mereka duluan sebelum aku," ungkap Buana. "Aku serius sama kamu. Lucu sih jadinya. Lucu karena aku serius, kamunya enggak. Lucu karena aku benar-benar nggak bisa untuk nggak jatuh hati sama kamu, tapi kamu malah mainin hati aku. Buktinya baru putus sama aku, langsung publish pacar baru."
Andara terkekeh ngilu. "Gue langsung jadian? Nih gue kasih tahu, gue tuh dulu pura-pura jadian sama Kin. Udah deh, nggak usah ngeles. Lo duluan kok yang merayakan kita putus dengan kencan sama Nina, ya, kan? Perlu gue guyur Coca-Cola lagi biar lo ingat?"
"Pura-pura jadian yang mana? Pura-pura jadian yang selalu jemput-jemput gitu, ya? Pura-pura jadian yang pelukan sama ciuman, gitu? Terus ... masih pura-pura jadian sampai sekarang? Nggak, 'kan? Jangan-jangan itu alasan kamu aja pura-pura jadian, padahal kalian udah jadian lebih dulu."
"Udahlah, Buan. Gue capek. Serius. Pembahasan lo mutar-mutar!" Andara mengempas badan ke bean bag dan mulai meneguk teh yang sudah dingin.
Buana meringis keji. Tatapannya berkelana menjelajahi wajah Andara. "Kira-kira ... Kin sama Roni tahu nggak ya kalau kemarin pacar-pacar mereka jalan sama cowok lain?"
Andara meletakkan gelas teh dengan kasar. "Jangan macam-macam ...."
"Telat, Ra. Udah aku rekam." Buana tersimpul penuh makna. "Kamu pikir cuma kamu aja yang bisa pakai cara itu? Aku juga bisa."
"Sampai lo kirim itu ke Kin, lo lihat aja apa yang bakal gue bikin!" Andara berdiri karena ponselnya bergetar dan nama Kin terpampang di layar. Gila! Apakah semua pembicaraan tadi langsung terkirim ke Kin atau bagaimana? Oh, iya. Kenapa dia abai dengan ponsel Buana yang tergeletak menelungkup di meja?
Andara beringsut ke arah toilet, untuk mengangkat telepon Kin. "Halo?" sapanya waswas. Dia berusaha mendeteksi Kin dari nada suara.
"Di mana, Ra?" tanya Kin. Suara itu terdengar biasa saja. Tidak ada kemarahan atau intonasi menyelidik.
"Di coffee shop dekat kampus," jawab Andara. Tidak, dia tidak ingin berbohong dengan Kin. Namun, dia juga perlu waktu yang tepat untuk memberi tahu Kin.
"Oh... Jadi suka ke coffee shop, nih. Ngopi atau ngeteh?"
"Ngeteh aja." Andara canggung. "Ng... Kin, gue lagi ada urusan sebentar. Nanti gue telepon balik, ya. Boleh?"
"Oke, siap. Take care, ya."
"Iya.You too." Andara mengakhiri panggilan dan berbalik. Jantungnya terasa melompat dari rongga dada begitu tahu Buana sudah ada di belakangnya. Cowok itu tersenyum miring.
"Nggak. Belum aku kirim, kok," tandas Buana tanpa ditanya. Cowok itu seperti dapat melihat ketakutannya.
"Jangan coba-coba lo kirim itu. Gue bisa hancurin lo lebih dari yang kemarin. Gue nggak main-main!" Andara menunjuk Buana dengan ujung ponsel. Lantai dua ini lengang. Bahkan tidak ada satu pegawai pun di sini.
"Boleh, tapi ada syaratnya." Buana menyeruak maju, menyudutkan Andara ke dinding putih di samping wastafel. "Balikan sama aku, Ra. Kita mulai semuanya lagi dari awal," bisiknya sambil tiba-tiba mencium bibir Andara penuh perasaan. "Aku nggak bisa ngelupain kamu. Perasaanku masih sama, nggak berubah."
Andara menolak badan Buana yang terus mendorongnya. Terlalu rapat sehingga tangan Andara hanya bisa berusaha menepis pinggang Buana. "Lepas!"
"Nggak akan kulepas sampai kamu mau balik ke aku. Aku akui, aku salah putusin kamu," ucap Buana sengau sembari mengurung Andara di dinding. Dia sadar, dia salah langkah saat itu. Reaksi yang dia harapkan dari Andara tidak jua datang. "Putusin Kin, Ra. Kamu masih sayang juga kan sama aku? Nyatanya, kita pernah beberapa kali jalan dan tidur bareng di belakang Kin."
"Dengar gue, dengar!" tutur Andara setelah berhasil mendorong Buana kuat-kuat. "Gue sayang sama Kin. Gue cinta sama dia. Jadi, apa pun yang terjadi, jangan pernah ganggu gue, Buana. Jangan pernah sekali pun! Lo catat itu seumur hidup lo!"
Buana hendak maju, tetapi Andara mengancam. "Berhenti di situ. Lo maju selangkah lagi, gue bakal teriak."
"Ra..."
"Pembicaraan kita udah selesai ya, Buan. Sekarang case closed!" Andara kembali ke meja untuk mengambil tas, lalu beranjak menjauh. Meninggalkan Buana yang masih bersandar di dekat wastafel sambil menjambak rambut sendiri.
"Ra..." panggil Buana saat Andara melewatinya. Dia ingin tahu apakah dirinya pernah dipertahankan seperti Andara mempertahankan Kin. Dia ingin tahu apakah Andara pernah mengucapkan kepada orang lain yang mengganggu kalau cewek itu mencintainya. "Aku cuma pengin tanya satu hal. Tolong dijawab untuk terakhir kali."
Andara berhenti di dekat tangga turun, tanpa menoleh.
"Apa kamu pernah benar-benar cinta sama aku, bukan cuma formalitas balasan buat nyenengin hati aku? Apa kamu pernah bilang ke orang kalau kamu sayang dan cinta sama aku, kayak kamu bilang tentang Kin tadi? Tolong jawab, Ra."
Andara berusaha mempertahankan ekspresi angkuh meski matanya melembab. Dia tengadah sedikit agar tidak ada air yang jatuh. "Nggak," jawabnya datar dengan sebisa mungkin menyembunyikan nada yang mengandung duka.
"Nggak pernah," tekannya sembari melangkah turun, menyudahi urusan yang ada di antara mereka berdua.
🔥🔥🔥
Hiya... Ini cerita bisa buat dua bab saking panjangnya. BTW, Paguyuban orang-orang yang suka memaki Buana mana suaranya? ðŸ¤
Selama menulis, aku sering polling dan sedikit sekali yang membela Buana. WKWKWKWK.
Sekarang, kalian udah tahu kan kenapa Buana putusin Andara?
Dari bab sebelum ini dan bab ini. Gimana kesimpulan kalian? Jadi yang bener yang mana? Dan kalian di pihak siapa?
Oh, iya. Mungkin pembaca Mangatoon/Noveltoon belum banyak yang tahu fun fact Andara. Jadi ... cerita ini sebenarnya adalah KISAH NYATA. 🥳
Andara, Kin, Buana, Natha dan Rossa itu ada, tapi aku pulas lagi biar nggak totally sama.
XOXO,
Nadya yang masih seneng sama cover baru Andara.
__ADS_1