Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Be Grateful of Your Life


__ADS_3

Kalau tidak mengalami langsung, mungkin saya tidak akan pernah belajar.


🔥🔥🔥


Waktu bukan Betadine, tidak pernah bisa menyembuhkan luka. Namun, waktu juga memberi kesempatan untuk rasa-rasa yang lain ikut masuk lantas meramaikannya. Selama di Medan, Andara menjalani banyak kegiatan. Dia menemani Nia untuk urus perusahaan keluarga yang nyaris bangkrut. Sebisa mungkin sempatkan diri untuk memeriksa semua laporan keuangan, mengecek seluruh aset, meninjau langsung kebun-kebun yang ternyata selama ini tidak pernah dikunjungi direktur pengganti Opung semenjak lelaki itu tiada. Lelah, tetapi terbayar dengan hasil yang sepadan.


Lucunya, Lisa, perempuan yang bertemu di pesawat, ternyata merupakan pengganti sekretaris komisaris yang direkrut Nia. Karena Lisa juga, Andara belajar untuk lebih mengerti dan memahami orang lain. Dia mengizinkan Lisa membawa anak dan pengasuh ke kantor jika Lisa sedang lengang. Menjadi sekretaris komisaris tidak sesibuk sekretaris direksi atau sekretaris umum.


Begitu pun ruang laktasi. Ruangan memerah dan menyusui yang selama ini tidak pernah ada di kantor, didirikan di sebelah musala atas prakarsanya agar Lisa dan karyawati yang lain dapat memenuhi kebutuhan untuk bayi mereka. Anaknya Lisa itu lucu, Andara sering menyempatkan diri bermain dengan bayi menggemaskan itu.


Sebelum dia terbang ke Medan, Vina memberikan CD Kunto Aji yang berjudul Mantra-Mantra. Lagu-lagu itu kerap menemani setiap harinya Andara. Awal mendengar, Andara masih sering menangis, tetapi lama kelamaan, lagu itu menjadi teman menjalani kesibukan. Keseringan diputar, membuat Andara memahami makna-makna implisit dari lirik yang ada. Dia lantas menyadari kalau seterpuruk apa pun dia, dia masih memiliki support system yang membantu. Ada Vina, ada Nia, ada Lisa dan sekitarnya yang tanpa mereka sadari, sering menjadi alasan Andara untuk tersenyum.


"Dara, gimana menurut kamu?" tanya Nia, menyadarkan Andara dari lamunan. Wanita itu tersenyum hangat, seperti memaklumi Andara yang sedari tadi diam dengan pikiran menerawang. "Pak Waskito berpendapat, tidak ada salahnya lahan kita dijadikan proyek percontohan untuk ditanami sorgum selagi menunggu replanting."


Andara balik melukiskan senyum di wajah. Meski pikirannya dari tadi ke mana-mana, dia tetap mendengar pemaparan Pak Waskito dan mengangguk. "Setuju aja. Pak Waskito pasti juga sudah mempertimbangkan dengan baik tawaran GAPKI, sebelum mengajukan di rapat ini. Iya, 'kan, Pak?" tanyanya.


Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI mengajak perusahaannya untuk meneliti penanaman sorgum di sela peremajaan kelapa sawit. Pemaparan Pak Waskito tadi menunjukan kalau tanaman tersebut diindikasikan cocok sebagai tanaman sela dalam peremajaan kelapa sawit karena masa panen yang singkat. Bagian perusahaannya hanyalah merelakan lahan yang sedang ditanami ulang kelapa sawit, untuk ditanami sorgum juga. Tidak banyak yang tahu sorgum, tanaman itu adalah makanan pokok di Asia Selatan dan Afrika sub-sahara. Produk pangan kelima yang dicari manusia setelah gandum, padi, jagung dan jelai.


Pria yang ditanya Andara lantas tersenyum dan mengangguk hormat. Semenjak Benzo ditahan dan para pemegang saham melakukan RUPS-LB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa), Pak Waskito didaulat menjadi direktur pengganti. Menurut Andara, tidak ada salahnya mempekerjakan orang lain sebagai direktur di perusahaan itu, selagi bisa membawa kejayaan kembali. Kecenderungan sok tahu hanya akan menuntun sebuah usaha menuju kerugian yang sangat besar. Jadi, lebih baik tampuk kepemimpian dipegang oleh orang yang mengerti di bidangnya. Dia dan Nia yang duduk di bangku komisaris berusaha untuk aktif memantau juga belajar dari Pak Waskito yang puluhan tahun mengabdi dan sangat paham mengenai perkebunan kelapa sawit.


Selama beberapa bulan, fokusnya hanya kepada perusahaan keluarga. Jadwal-jadwal teratur yang dibuat Lisa, mau tak mau membuat sedihnya teralih. Ingatan tentang Buana tentu saja akan terus melintas, tetapi dia sudah berdamai dengan hati sendiri. Termasuk berdamai dengan rasa bersalah akan kematian Buana.


Kisah dia dan Buana merupakan pelajaran berharga dalam hidup. Pelajaran yang nggak bisa dipetik jika tidak menjalani langsung. Pelajaran penting untuk lebih peduli, pelajaran untuk memanusiakan manusia, pelajaran untuk mengedepankan komunikasi daripada asumsi, pelajaran untuk berpikir matang-matang sebelum memutuskan sesuatu. Sehingga seperih apa pun ingatan yang datang hingga kini, selalu disikapinya dengan menyelipkan doa agar bisa bertemu Buana kembali, minimal di dalam mimpi.


Bulan lalu, kabar tentang Rossa memenuhi notifikasi sosmednya. Andara tidak tahu dengan pasti dari mana asal muasalnya, yang jelas tiba-tiba istri Devan dapat mengendus kehadiran cewek itu ke kehidupan rumah tangganya. Nama Rossa Indira disebut-sebut sebagai pelakor, fotonya dipajang di akun-akun gosip tanpa sensor.


Apakah Roni ada andil dalam peristiwa itu? Andara tidak peduli, dan tidak ingin mencari tahu. Dia sudah cukup terganggu oleh pesan-pesan atau mention kepadanya yang meminta klarifikasi karena tahu kedekatannya dengan Rossa.


Andara memilih diam, pura-pura tidak tahu dan membiarkan Rossa menanggung semua yang telah diperbuat. Masing-masing mereka harus menjalani akibat dari perbuatan yang pernah dikerjakan. Seperti dia menghadapi semua, Rossa juga perlu menghadapi seluruh masalahnya tanpa campur tangan atau bantuan dia.


Rapat kemudian diakhiri dengan kesepakatan memberikan setengah lahan milik mereka di daerah Tebing Tinggi untuk penanaman benih sorgum. Andara mengemas tasnya dan beranjak keluar lebih dahulu.


"Sa, kalau Tante Nia cari, bilang saya ke Starbucks depan, ya," ujar Andara kala melewati meja Lisa.


Dia yang merasa perlu asupan kafein lantas menyeberangi jalan di depan kantor dan memesan satu gelas kopi susu. Barista yang sudah mengenali dia menyapanya dengan ramah dan menyelesaikan pesanan dengan cepat.


Hari ini, dia kelupaan membawa tumbler. Andara meletakkan cangkir plastik, kue, dan ponsel di meja. Dihidupkannya bluetooth earbuds, dan kembali diputarnya lagu Kunto Aji. Saat akan duduk, dia meringis membaca pesan yang ada di cangkir plastik.


Andara, be grateful of your life.



Bersyukur. Kapan dia terakhir kali bersyukur? Andara menekur. Tulisan itu seperti tangan yang menampar keras pipinya. Dia sudah lupa kapan dia terakhir kali mensyukuri hidup.


Dia tidak pernah bersyukur disayangi Buana sedemikian rupa. Dia tidak pernah bersyukur memiliki Nia yang memperhatikan diam-diam. Dia tidak pernah bersyukur diberikan keluarga besar seperti hama sehingga dia banyak belajar bagaimana cara tetap bisa bertahan hidup tanpa mereka. Dia lupa bersyukur dilahirkan ke dunia. Dia lupa bersyukur akan banyak hal.

__ADS_1


Karena tidak bersyukur juga dia selalu merasa kurang. Karena selalu mendongak ke atas, dia selalu berpikir kalau dirinya merupakan korban takdir paling teraniaya. Padahal jika dia bersyukur, dia masih memiliki hal baik di dalam hidup.


Andara mengaduk kopi lalu menyesap pelan. Ketika dia memotong kue cokelat yang tersaji di piring putih, notifikasi ponselnya berbunyi. Notifikasi yang selama ini tidak pernah datang. Andara sendiri sudah lupa pernah mengaktifkan pemberitahuan jika akun Instagram Kin mengunggah foto.


Dengan ringan, tangannya mengetuk pemberitahuan yang terlihat. Sudah lama tidak mendengar dan melihat kabar Kin, membuatnya jadi ingin tahu. Tampilan di layar mulai masuk ke aplikasi Instagram dan Andara menyedokkan kue ke dalam mulut.


Kue cokelat itu tersangkut di tenggorokan saat matanya melihat foto yang ada. Kedua jarinya refleks memperbesar foto itu. Andara berharap matanya salah melihat, tetapi tidak. Itu benar Kin sedang merangkul Rossa. Rossa? Debar jantung Andara terasa keras sekali, mungkin kafein dari kopi sudah meluncur dengan cepat di tubuhnya. Atau kandungan cokelat sudah memicu gangguan irama jantung.


Dia memegangi dadanya, seperti sedang berusaha menenangkan anak yang lagi rewel. Dia tidak mau berasumsi dengan asal, sehingga rasa ingin tahu yang ada mengantarkan Andara kirimkan pesan untuk Kin.


Andaratrie: Hai, Kin. Apa kabar?


Pesannya dibaca oleh Kin, terlihat tiga tanda titik yang menggambarkan bahwa cowok itu sedang mengetik jawaban.


Kin.dhana: Hai, Ra. Kabar baik, kabar lo gimana?


Andaratrie: Baik. BTW, itu Ocha? Lo jadian sama Ocha?


Andara lalu mendesah. Menyesali jempolnya yang mengetik begitu cepat. Padahal dua tangannya gemetar. Apa benar Kin sekarang bersama Rossa? Untuk pose seperti itu, rasa-rasanya terlalu intim jika hanya sekadar teman. Dia kembali pandangi foto yang ada. Dia masih ingat bentuk sofa, warna interior dan barang-barang yang ada di apartemen cowok itu. Jelas sekali foto itu diambil di apartemen Kin.


Balasan Kin kemudian masuk dan membuat Andara terhenyak.


Kin.dhana: Ini Ocha. Iya, Chu. Kin sekarang pacar gue dan gue minta lo nggak usah DM-DM pacar gue lagi.


Mata Andara masih membelalak. Dia hafal bagaimana ketikan Rossa dan cara membalas pesan cewek itu. Itu benar Rossa.


Tangannya masih bergetar. Tanpa membalas, Andara berbalik ke akun Instagram Kin kemudian memilih mematikan notifikasi. Akun itu juga berhenti diikutinya. Tidak berteman dengan Kin, tidak akan apa-apa. Kin sudah bahagia dengan Rossa, dan dia turut bahagia untuk kebahagiaan mereka berdua.


Tidak ada balas dendam lagi, tidak ada. Masa-masa bertindak gegabah dan brutal sudah lewat. Pembalasan yang terbaik adalah milik Tuhan. Jika akhirnya dia unfollow dan block akun Kin, Rossa dan Natha, semata-mata lebih bertujuan untuk kebaikan dirinya sendiri. Dia menarik diri dari lingkar pertemanan itu. Dia tidak takut tidak punya teman. Ada banyak hal yang bisa dia lakukan sendirian, seperti yang dia jalani belakangan ini.


Andara mulai dapat berpikir logis dan sadar kalau ada hal-hal yang tidak bisa dipaksakan dalam hidup, sekuat apa pun berusaha, dan hal-hal yang membuat luka memang harus dia lepas, demi kebaikan diri sendiri. Seperti mantra Kunto Aji yang sedang mengalun berulang-ulang di telinga.


Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu.


Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu.


Cukupkanlah ikatanmu, relakanlah yang tak seharusnya untukmu.


Dia sekarang paham kalau dirinya dan hatinya mesti dijaga dengan baik. Sudah cukup dia hampir gila saat ditinggal Buana dan perlu banyak waktu untuk bisa kembali bersemangat menjalani hidup. Hal-hal yang menimbulkan drama, bertambahnya masalah dan keruwetan, dijauhi oleh Andara.


Yang sebaiknya kau jaga adalah dirimu sendiri.


***


"Sayang..."

__ADS_1


Sebuah panggilan datang. Suara itu sangat familier. Andara menoleh lalu seluruh tubuhnya terasa membatu. "Buan?" desisnya tidak percaya.


Yang dipanggil hanya mengangguk sembari membuka kedua lengan, dan Andara berusaha untuk berlari secepat mungkin ke pelukan itu. Langkah beratnya langsung ditangkap tangan Buana. Cowok itu mendekapnya seerat mungkin sambil menciumi pucuk kepala.


"Buan? Buan?" panggil Andara sambil melingkarkan tangan di leher Buana. Air matanya mendesak dan tumpah kala harum laut kembali memasuki penciuman.


"Iya, sayang," jawab Buana lembut. Cowok itu merenggangkan pelukan untuk melihat muka Andara kemudian mengusap pipinya. "Kenapa nangis?"


Andara menarik bibir, mencoba tersenyum dengan tangis yang masih saja deras. Dia tenggelamkan kepala di dada Buana. Dada yang hangat dan nyaman, tempat segala pengaduannya bersarang.


"Kangen kamu," isaknya terseguk. "Aku kangen banget sama kamu."


"Aku juga. Aku juga, Ra." Cowok itu kembali menciumi pucuk kepalanya, menata rambutnya yang acak-acakan. Tangan Buana menyapu air matanya yang sederas lautan. "Jangan nangis. Jangan nangis. Aku selalu sedih kalau melihat kamu nangis."


Andara menarik oksigen sebanyak mungkin dari hidung dan menggigit bibir agar tangisnya berhenti. "Tapi aku nangis karena kangen kamu. Kangen banget," sungutnya dengan suara parau.


Buana menempelkan pipinya di sebelah pipi Andara dan berbisik, "Seandainya kamu tahu kalau aku juga kangen sama kamu, pasti kamu nggak akan nangis. Kamu nangis karena kamu nggak percaya sama aku. Kamu nggak percaya kalau aku selalu kangen sama kamu. Kamu nggak percaya kalau aku akan selalu ingat kamu apa pun yang terjadi."


Tenggorokan Andara tercekat. Matanya kembali panas. "Buan, maafin aku. Maafin semua kesalahan aku, maafin semua keegoisan aku. Aku bodoh dan tolol. Aku...."


Buana sudah menaruh telunjuknya di depan bibir Andara agar diam. Cowok itu tersenyum pelan dan menggeleng. "Kamu nggak bodoh, kamu nggak tolol, Ra. Kamu selalu jadi kebanggaan aku sampai kapan pun," ujarnya sembari menjawil ujung hidung Andara. "Apa yang pernah terjadi, sudah seharusnya dijadiin pelajaran supaya bisa lebih baik."


Mata tajam yang dirindukan Andara itu menatapnya dengan pandangan yang tidak berubah, dari dahulu. "Kamu tuh salah seorang yang aku minta untuk selalu bahagia, selain Kaluna. Kalau kamu sayang aku, jadikan aku alasan kamu untuk tetap berbahagia, Ra."


Andara memandangi muka Buana yang terlihat lebih bersih dari biasa dengan tidak berkedip sampai cowok itu kembali menarik senyum. Cowok itu menyisir rambut Andara dengan jari-jarinya dan menyelipkan anak rambut dia yang mulai memanjang ke belakang telinga.


"Kamu selalu cantik dalam kondisi apa aja, sekalipun marah. Tapi ... aku selalu kepengin kamu senyum. Jangan lupa bahagia ya, Ra. Karena di sana, ada harapan yang selalu kutitip lewat doa."


Buana kembali memeluknya erat. Harum segar menenangkan yang Andara suka membuatnya menutup mata dan tersenyum. Dia terus tersenyum hingga terbangun, dengan jejak air mata yang masih ada.


Andara menatap kosong langit-langit kamar. Mimpinya terasa nyata dan hangat pelukan Buana masih tersisa. Dia menghela napas sembari berusaha keras menyunggingkan senyum. Akhirnya, setelah sekian lama menitip pesan kepada Causa, Buana datang juga ke mimpi. Pasti mamanya sudah berkenalan dengan Buana.


Badannya bergerak. Andara duduk dan menatap jendela yang gordennya tidak ditutup. Matahari pagi mulai tampak mewarnai di langit yang tadinya hanya berwarna biru gelap.


Andara meraba dada. Jantungnya masih berdetak meski sering kali jatuh dan tersakiti. Terima kasih Tuhan, dia masih hidup. Selalu ada harapan baru di dalam hidup, 'kan? Manusia dapat belajar menjadi lebih kuat dari luka-luka yang ada, dan dia juga akan seperti itu.


Segala sesuatu yang tidak berhasil membunuh dia, sudah seharusnya akan menjadikan dia lebih kuat ... dan juga lebih asing.


Namun, dia berjanji akan tetap menjalani hidup dengan baik-baik. Bukan hanya untuk Buana, untuk Causa, untuk Opung atau lain, tetapi juga untuk dirinya sendiri.


Dia akan terus berbahagia dengan ataupun tanpa alasan pasti. Sebab dia yakin, akan ada yang bersukacita jika melihatnya sehat, baik dan gembira.


--- THE END ---


Epilog akan menyusul nggak tahu kapan. Aku mau tirakat dulu nulis epilognya.

__ADS_1


Ditunggu segala cercaan dan caci maki. 🤧


__ADS_2