Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
A Hope


__ADS_3

"Sebuah harapan sering kali bercerita banyak."


🔥🔥🔥


Natha menjadi bagian dari orang-orang yang ada di ruang tengah saat Bang Anco membentak Andara. Music Director yang biasanya sabar dan santai terlihat meledak-ledak. Sebenarnya, hal ini juga mau Natha bahas di perjalanan pulang, tetapi sudah kejadian lebih dulu. Dia membenarkan apa yang diprotes Bang Anco, memang belakangan ini Andara selalu memutar Mr. Brightside setiap siaran. Entah apa motivasinya, yang jelas itu aneh dan bukan Andara yang selama ini dia kenal.


Atas dasar asas persahabatan, dirinya menunggu Andara selesai siaran dan kembali ke rumah bersama-sama. Cewek itu sepertinya masih tidak terima. Mukanya ketat sepanjang perjalanan pulang di taksi online. "Setting default muka lo jangan begitu banget. Seram!" gurau Natha membuka pembicaraan.


"Gini-gini gue ada darah Batak jadi memang kayak gini muka gue," desis Andara masih dalam mode muka datar yang terlihat menyeramkan bagi penglihatnya. Dia melenguh sembari sandarkan kepala di  kursi, menatap langit-langit mobil. Masih tidak percaya Bang Anco bisa membentaknya apalagi disusul Surat Peringatan Kesatu. "Gue tahu sih gue salah, tapi kenapa mesti SP coba? Kayak nggak bisa diselesaiin dengan pakai ngemeng aja."


"Lagian, Ra, lo kenapa bisa begini, sih? Sejak kapan lo fanatik sama satu lagu? Kalaupun lo ngefans sama The Killers kan lagu mereka juga banyak, nggak cuma Mr. Brightside aja. Lagi pula menurut gue cakepan Adam Levine deh daripada Brandon Flowers."


Andara melirik Natha dengan tatapan maut. Dia memutar lagu tanpa ada hubungan dengan ketampanan para vokalis. Walaupun Andara menyukai band-band tersebut, dia tidak se-bucin itu apalagi sampai menyanjung hanya karena tampang. "Cih! Sejak kapan gue mengagung-agungkan muka doang?"


Tawa Natha meledak, cewek itu mengabaikan pengemudi taksi yang kaget dan refleks menoleh ke belakang. "Nggak mengagungkan muka kata lo? Apa kabar waktu lo jatuh cinta ke Buana? Lo bilang dia tampan. Gue masih ingat lo sendiri yang bilang 'rahangnya menawan, bibirnya seksi dan senyumnya itu kayak ngajak ikut senyum menatap masa depan'. Itu yang lo bilang!" jelasnya sengit, "jangan bilang lo lupa! Gue aja masih ingat!"


Mau tak mau, Andara ikut tersenyum. Itu kan perkataan nggak jelas saat alkohol memengaruhi badan. Harusnya Natha tidak mengambil serius pembicaraan orang yang sedang mabuk. "Yang begituan lo anggap serius. Nggak ada itu, semua hanyalah debu, semua hanyalah pasir!"


"Denial! Jangan pernah sangkal kalau lo pernah suka, sayang dan cinta sama dia. Itu nggak bikin mati, Ra. Malah bisa bantu lo berdamai sama kenyataan."


"Kenapa jadi bahas Buana, sih? It's done." Di pikirannya kali ini sudah tidak ada Buana lagi. Kisah itu sudah mati dimakan rayap.


"Yang gue tahu, Bang Anco banyak kena kritik belakangan ini. Orang kan mikirnya lagu itu dari dia. Dia yang taruh di playlist. Wajarlah kalau dia marah sama lo," tambah Natha.


Memang ada benarnya, sih. Tanggung jawab semua lagu ada di Music Director, termasuk mencari, memilih, menyediakan dan menentukan lagu yang sesuai dengan waktu atau jenis program yang lagi on air. Daftar putar disediakan agar formatnya pas, sebab tidak mungkin Best FM memutar lagu berketukan kencang pada tengah malam kecuali malam Minggu atau lagu slow pada pagi hari. Bang Anco juga yang selalu update selera para Besties, lagu mana yang lagi hits, informasi yang berkembang juga label mana yang bekerja sama agar masuk ke dalam kategori Radio Anak Muda. Sekali lagi, Andara paham benar kalau dirinya memang salah. Hanya saja dalam hatinya berontak.


"Kok lo jadi kayak Kin sih suka la..." Kalimat Natha terputus. "Kin nge-request terus, ya? Jangan diputerin terus juga kali. Nggak setiap request mesti kita putar, 'kan?"


"Enggak, kok." Andara menatap lalu lalang jalanan pukul setengah sepuluh malam. Ah, Kin. Belum apa-apa Andara sudah rindu cowok itu lagi.


"Eh, ya ampun. Gue lupa, Kin balik hari ini." Natha bergegas meraih ponsel. Rapat tadi membuat dia lupa mengucapkan selamat jalan kepada sahabatnya itu.


"Udah take off, palingan bentar lagi landing," balas Andara.


"Kok lo tahu?" tanya Natha sembari mengantongi kembali ponsel. Lalu sejurus kemudian, Natha menoleh ke Andara, seperti menyadari sesuatu. "Jangan bilang yang tadi chat sama lo itu Kin. Sampai-sampai Reload keputar dua kali."


Tidak menyangka Natha akan sadar secepat itu, Andara hanya bisa kedikkan bahu. Natha tertawa lagi. "Ah, beneran Kin? Kalian ..."


"Enggak kayak gitu! Ah, udah. Mikir lo pasti kejauhan."


"Memang gue mikir apaan?" tantang Natha sambil menjawil dagu Andara. "Ciye... Udah akrab, nih?"


Beruntunglah suasana mobil remang-remang, Natha tidak menyadari perubahan warna di wajah Andara, termasuk rasa ingin tersenyum sendiri yang ditahan-tahannya. "Apa, sih?! Teman lo, teman gue juga kali."

__ADS_1


"Lha, lo yang kenapa? Ya, gue kan senang-senang aja kalau lo bisa dekat sama teman gue. Kayak lo ngenalin Rossa ke gue. Jangan-jangan lo nih yang nethink. Hayo..."


"Habisnya lo ngejodohin melulu. Udah kayak Opung gue aja."


"Memangnya lo nggak suka dijodohin sama Kin?" tanya Natha menyelidik lalu tersimpul. "Udah gue bilang, Ra. Yang gue jodohin ini berkompeten, kalau lo nggak mau biar gue kasih ke yang lain."


Andara tersedak ludah sendiri. Jangan, dong! Hatinya seperti ingin teriak begitu walaupun mulut bungkam. Natha menyengir ke arahnya sambil menangkupkan kedua tangan di depan dada, berlagak seperti Biarawati santun.


"Mohon maaf, sekadar mengingatkan. Kin itu sahabat gue dari SMA. Dari S-M-A," ujar Natha mengeja kata SMA, "lebih baik lo jujur sama gue, karena bagaimanapun gue banyak tahu tentang Kin dan lo nggak perlu susah-susah berjuang sendiri."


Andara menutup muka, tidak bisa lagi mengendalikan raut yang ingin tersipu sedari tadi. Harusnya rahasia ini dia simpan sendiri, tetapi Natha yang sehari-hari bersamanya sedikit banyak tentu bisa mengerti dia.


Reaksi Andara membuat seringai lebar di muka Natha. Mata cokelat itu sampai membulat. "Jadi? Lo beneran suka sama Kin?!" pekiknya.


Andara mengerang malu sambil mengentak-entak kaki. Kelakuan mereka berdua membuat pengemudi kembali kaget dan menoleh ke belakang. Sesungguhnya Andara enggan untuk mengakui, tetapi tebakan Natha benar.


Setelah kejadian itu, hari-hari Andara terasa sepi. Semua terasa membosankan, dan dia jadi sering memandangi foto-foto dirinya hasil tangkapan Kin, foto mereka berdua yang sengaja diambil memakai kamera depan atau yang difotokan oleh Natha.


Andara seperti serigala kesepian yang melolong saat melihat bulan, menyadari bahwa kasihnya hanya bertepuk sebelah tangan. Dia juga lebih banyak diam apalagi ketika di Best FM. Kejadian konyol yang melatarbelakangi dikeluarkan peraturan baru tentang ponsel membuat para penyiar merutuk, siapa coba yang tahan berjam-jam tidak memegang ponsel? Beberapa penyiar tidak tanggung-tanggung melimpahkan kekesalannya dengan Andara langsung.


Seperti Tirto yang mengejek di depannya saat ini. "Ini nih, gara-gara Bocah Caur ini kita nggak boleh bawa hape. Pengin gue kemplang rasanya. Gue tuh lima menit aja nggak ngeliat foto Zara JKT48, hati gue langsung merana."


"Dia ini kayak lagi berusaha menjegal kedekatan gue sama Maudy Ayunda. Nggak tahu apa ngejagain hati cewek itu payah?! Kalau nggak benar-benar ngejagain, nanti cuma dapat bagian jaga aja, orang lain yang milikin," tambah Tata yang disahuti 'Huuu' dari yang lain.


Akan tetapi, ada juga yang diam dan melirik dia tajam. Itu sih yang lebih Andara khawatirkan. Ketidaksukaan yang ditutupi dengan diam, akan melahirkan lonjakan emosi yang lebih dahsyat.


Andara bangkit dari kursi, mengikuti Natha turun. Semenjak dibentak minggu lalu, antara dia dan Bang Anco jadi berjarak. Dia segan untuk menegur, dan pilih menunduk kalau berpapasan sedangkan Bang Anco seolah-olah tidak melihat dirinya. Mereka perang dingin. Itu juga yang membuat Andara memilih dibonceng Tirto daripada harus berboncengan dengan Bang Anco.


"Apa kabar pacar lo?" tanya Tirto sambil menjalankan motornya ke arah Starbucks Diponegoro.


"Baik. Udah balik ke Johor." Karena Tirto hanya tahu Kin itu pacarnya, mau tidak mau Andara akan tetap menjalankan skenario yang ada.


Tirto mengangguk. "Dia baik orangnya."


"Kalau nggak baik, gue nggak mungkin suka, Bang."


Tirto membelokkan setang menuju parkir premium khusus motor. Moto Guzzi-nya begitu disayang sehingga tidak keberatan untuk parkir valet. "Bukan gitu. Sebenarnya gue mau bilang, kok bisa dia dapat cewek kayak lo? Kelilipan linggis kayaknya," tawa Tirto membubung kemudian.


Ejekan itu hanya ditanggapi Andara dengan mencebik. Dia tahu kok dirinya bukan kriteria Kin. Cara membaca kriteria cowok gampang, lihat saja mantan-mantannya. Meski Andara hanya tahu satu mantan Kin, kriteria cowok itu tertebak. Jarang memang cowok yang suka sama cewek bergaya aneh seperti dia. Rata-rata cowok tuh sukanya sama cewek cantik nan lembut, berkulit putih mulus dengan rambut panjang dan wajah flawless manja. Persis seperti pujaan Kaka, waktu itu. Cewek yang bikin Kaka berkhianat.


"Ra, Bang Anco mau ngomong empat mata sama lo," bisik Natha ketika mereka berempat sudah memegang gelas kopi masing-masing.


Mungkin perang dingin mereka berdua memang harus diselesaikan. Andara harus minta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Oleh karena itu, setelah diberitahu Natha, dia lalu mengikuti bayang Bang Anco, ikut duduk di sebuah meja kecil yang berada di teras.

__ADS_1


"Tumben lo minum Espresso." Bang Anco mulai membuka percakapan. Cowok itu menyodorkan kotak rokok di meja. "Kalau mau ngerokok, ambil aja."


Mereka lalu terdiam. Andara menyibukan diri dengan meneguk kopi dan menyalakan sebatang rokok. Dia tahu ada hal lain yang lebih penting akan dibicarakan Bang Anco. Buktinya cowok itu mengajak ke Starbucks, bukannya membicarakan di ruang rapat.


"Lo suka banget sama lagu Mr. Brightside?" tanya Bang Anco mulai menyenggol masalah yang ada di antara mereka. "Kalau lo suka, bilang sama gue. Gue punya banyak versinya."


Andara menghentikan kepulannya dan menatap Bang Anco. Rokok yang masih setengah langsung dimatikan, dia memulai berbicara serius. "Bang, gue minta maaf masalah kemarin. Gue sadar gue benar-benar salah, dan gue nggak akan ulangi lagi. Maaf kalau gue membuat lo jadi dikritik orang-orang karena wawasan musik gue yang segitu-gitu aja."


Bang Anco menyesap Java Chip-nya. "Selain Mr. Brightside, lagu The Killers yang lo tahu apa?" tanya cowok itu seakan mengetesnya.


"Human, Somebody Told Me, When You Were Young, Read My Mind."


Bang Anco menepuk meja. "Nah, lo nggak cuma tahu satu lagu itu aja, kan?"


Andara mengangguk. Matanya menangkap ada gestur gemas sekaligus lega di wajah lelaki berumur tiga puluh tahunan itu. "Iya, Bang. Sori."


"No, no. Ini bukan masalah sori atau nggak sekarang. The Killers dari Amerika atau Inggris?"


Andara mengusap dagu. Dirinya terasa dijebak, seperti sedang wawancara calon penyiar. Ya ampun, itu kan sudah dua tahun yang lalu. Dia bergumam ragu, tatapan Bang Anco menunggu jawaban seperti menekan paru-parunya. "Mr. Brightside ini British pop tapi setahu gue mereka bukan dari Inggris. Dari Amerika kayaknya."


"Mr. Brightside is a mix between the pop styles of British music and the lo-fi fuzz of modern indie rock," koreksi Bang Anco, "and yes, they're from Las Vegas."


Seperti ada bantuan oksigen datang tiba-tiba, Andara merasa bisa bernapas kembali. Syukurlah tebakannya benar, The Killers berasal dari Las Vegas, negara bagian Nevada, Amerika Serikat.


"Kalau The Cure, lo tahu lagu-lagunya? Mereka dari mana?"


Tentu saja. Salah satu lagu The Cure kan mengingatkannya dengan Buana. Lagu yang pernah dinyanyikan Rossa dan Natha di KTV sambil berniat menyinggung dirinya. "Friday I'm In Love, Boys Don't Cry, dan gue suka Love Song-nya. Mereka band Inggris."


Meja ditepuk lagi, Andara hampir melompat saking kagetnya. "Andara... Lo tuh banyak tahu tentang musik! Gue heran kenapa lo kemarin-kemarin kayak orang bodoh?!"


"Maaf, Bang."


Tangan Bang Anco mengibas udara. "Ra, gue bersikeras ke Bang Rodi supaya memilih lo daripada calon penyiar lain karena gue yakin sama lo. Selera musik lo oke, suara lo khas, terus gaya lo juga nyentrik. Satu lagi yang penting; lo terlihat mau belajar banyak tentang broadcasting. Gue jagoin lo dari dulu, Ra."


Seketika Andara menunduk. Ada rasa menyesal sudah merusak ekspektasi Bang Anco selama ini tentang dirinya. "Sekali lagi, gue minta maaf, Bang."


"Gue bahkan udah sounding ke Bang Rodi supaya tahun depan lo yang ngegantiin gue jadi host Best Weekly Top 40 Countdown."


Kali ini, Andara benar-benar bungkam. Best Weekly Top 40 Countdown adalah program mingguan yang berisi informasi jajaran 40 lagu teratas dan terbaru, biasanya dibawakan oleh penyiar senior. Rata-rata yang membawakan program itu di sebuah stasiun radio adalah Music Director itu sendiri. Namun, beberapa stasiun radio ada juga yang tidak memakai Music Director sebagai host. Mereka memakai penyiar senior yang luwes dan sangat menguasai dunia musik. Tentu saja, itu program bergengsi, seperti pengakuan kepada sang penyiar akan jam terbangnya. Ini yang namanya karena nila setitik, rusak susu sebelanga.


"Reputasi lo sebagai penyiar yang gaul dan up to date kandas. Kesempatan lo untuk gantiin gue di Best Weekly juga dikaji ulang manajemen, Ra."


Bang Anco melihatnya lekat-lekat dan Andara hanya mampu mengangguk paham. Dia tidak bisa berbuat apa-apa, membangun imej amatlah mudah, begitu juga dengan menghancurkannya.

__ADS_1


"Tapi, kalau lo berminat, gue rencana mau ngelepas Reload. Lo mau jadi host-nya? Kan lo udah nggak pegang Indiebest lagi."


🔥🔥🔥


__ADS_2