Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Far Away


__ADS_3

"Saya tahu apa yang kamu pikir saya tidak tahu."


🔥🔥🔥


Selain nama Kin, ada satu nama yang Buana lebih dahulu tidak suka. Kaka. Iya, Buana tidak menyukai nama itu. Meski Andara tidak pernah cerita, Buana tahu kalau Kaka adalah masa lalu Andara.


"Kaka. Kadonya buat Kaka."


Seperti ditembak rudal, mood Buana langsung hancur. Baru saja dia merasa senang ketika Andara lebih dahulu ingin berfoto dengannya, mengusap dan memeluknya selama di jalan, juga meminta dia menemani cewek itu mencari kado.


Ternyata kadonya untuk Kaka. Buat apa Andara membelikan Kaka kado? Setidaksukanya dia dengan Kin, akan lebih masuk akal jika Andara mencari kado buat pacar, bukan buat mantan.


Rahang Buana mengetat, mungkin Andara tidak sadari pergantian ekspresi mukanya. Yang mana sih yang namanya Kaka itu? Cowok itu selalu saja berusaha menghubungi Andara. Saat pacaran dulu, Buana sering mendapati Kaka mengirimi Andara pesan. Saat dia tanya, dengan santai Andara bilang kalau yang mengirim pesan adalah temannya di Medan. Memang Buana tidak melihat Andara menjawab pesan tersebut, tetapi tetap saja ada kemungkinan lain. Bisa saja Andara menelepon cowok itu saat tidak bersamanya, 'kan?


Bukan sekali dua kali isi pesan si Kaka-Kaka itu menjijikkan. Kaka selalu mengirimi pesan dengan mengungkapkan kerinduannya kepada Andara. Tanpa Andara sadari, Buana akhirnya sering membaca pesan Kaka lebih dahulu dan menghapusnya sebelum dibaca Andara. Dia sampai memblokir WhatsApp Kaka agar pesan itu tidak lagi masuk.


Berarti setelah putus dari dia, Kaka kembali mendekati Andara? Buana berdeham tidak terima. Tangannya menggeser-geser gantungan baju di hadapan dengan kasar. Apa waktu pacaran dengannya, Andara juga seperti ini memperlakukan mantan? Pikiran itu datang memenuhi kepala Buana dan membuatnya jengkel. Toh saat ini di belakang Kin, Andara diam-diam membeli kado buat mantan. Berarti waktu pacaran dengannya juga seperti ini? Kaus-kaus yang seliweran di depan mata Buana tidak benar-benar dia perhatikan, dia hanya menggeser sampai habis.


"Nggak bagus, ya?" tanya Andara dan hanya dibalasnya dengan anggukan. Andara beralih ke gantungan yang lain di belakang mereka. Sepertinya Andara serius sekali ingin mencari kado buat cowok itu dan ini jelas sekali membuat Buana makin tidak terima. Apa Andara juga excited seperti ini waktu mencari kado untuknya dahulu?


Ketidakterimaan kedua Buana adalah sosok Kaka yang terdengar sangat sempurna dari penjelasan Andara tadi. Binar mata Andara terlihat lebih menyala saat menceritakan Kaka. Itu cowok umur berapa? Seumuran dia atau sudah jadi Om-Om?! Rasanya Buana ingin muntah di tempat mendengar cerita Andara. Cowok itu dengar musik pakai gramofon? Hari gini dengar musik itu melalui Spotify Premium dengan wireless earbud! Milenial bukan, sih? Astaga.


"Kira-kira bagusan yang mana?" Andara sudah memilih dua kaus hitam. Satu bergambar piringan hitam, satu bergambar headphone.


"Nggak tahu. Cewek lebih tahu kayaknya." Buana memilih duduk di sebuah sofa. Dia tidak perlu ikut campur dalam memilih kado itu daripada nanti dirinya sampai menunjuk baju terjelek yang ada di toko ini. Ingatkan dia untuk mencari tahu seperti apa rupa cowok kampret yang buat Andara masih tidak bisa move on.


Tiga puluh menit berlalu dan Andara masih tidak selesai juga memilih apa yang akan dibeli untuk kado. Buana mengetukkan kaki dengan gusar. Tadi, Nina bilang Silvia menunggu dia, adik kecilnya itu rindu ingin bercerita. Namun, Buana tidak bisa juga menolak ajakan Andara. Jarang-jarang Andara minta temani seperti ini, selama berpacaran saja rasa-rasanya tidak pernah.


Ada hal-hal yang berbeda antara Nina dan Andara. Andara sangat mandiri. Dia bukan tipe orang yang merasa aneh kalau harus jalan sendiri. Kemandirian Andara juga kadang membuat kehadirannya seperti tidak berguna. Jika saja dulu dia tidak memaksa untuk menjemput Andara setiap selesai siaran malam, mungkin dirinya akan terlihat biasa saja seperti cowok-cowok lain dan akan diputuskan Andara di bulan pertama. Kabarnya Andara mendepak Rexy dalam waktu seminggu saja. Padahal siapa coba yang nggak mau jadi pacar Rexy? Sang rapper terkenal yang sering kolaborasi dengan DJ.


Buana meraih ponsel dan menghidupkan benda itu. Dia perlu mengabari Silvia agar tidak menunggu karena dia akan telat, tetapi telepon dari Nina lebih dahulu masuk. Sekilas, Buana melirik keberadaan Andara yang masih tidak peduli sekitar, hanya peduli kepada kado saja. Dia berjalan keluar toko dan mengangkat telepon.


"Di mana?" tanya Nina terdengar kesal. "Guna hape buat kamu itu apa sih sampai susah banget dihubungi? Kamu bisa latihan tapi nggak bisa kasih kabar? Kamu tahu nggak kalau kamu ditunggu?!"


Cewek itu langsung menghujaninya dengan kemarahan ala perempuan; bertanya yang tidak butuh jawaban. Buana tahu dia salah tidak mengabari Nina, tetapi kata-kata cewek itu terlalu tajam. Bermenit-menit Nina terus mengoceh hingga telinganya sakit dan akhirnya Buana memilih menutup semua ceramah tak bertitik Nina dengan kalimat pamungkas.

__ADS_1


"Bilang sama Silvi, nggak usah tunggu aku. Aku nggak datang," tuturnya sambil mematikan telepon dan kembali nonaktifkan ponsel.


Buana meremas benda pipih di tangan. Ini yang tidak disukanya dari Nina. Rasa khawatir yang terlalu berlebih membuatnya tidak nyaman. Kalau Andara seperti tidak pernah khawatir, Nina terlalu kelewat khawatir. Kenapa dua orang itu nggak bisa dijadikan satu kolaborasi manusia saja, sih?


Tatapannya beralih ke dalam dan terlihat kesibukan Andara yang tidak jua selesai. Kado kampret!makinya dalam hati. Kalaupun si Kaka itu ulang tahun, ya cukup ucapkan sajalah. Salah dia memang, harusnya kemarin jangan WhatsApp saja yang dia blokir, kontak cowok itu juga dia blokir atau hapus dari ponsel Andara. Bila perlu diam-diam dia factory reset-kan ponsel Andara saat cewek itu tertidur. Asshole!


Kekesalan yang semakin menumpuk membuat Buana merangsek masuk ke toko dan menarik tangan Andara agar keluar. Cewek itu tampak terkejut.


"Buan, gue belum selesai," protes Andara.


Buana berhenti dan melirik tajam ke sebelah, menyuguhkan muka tidak senang. Kenapa sih semua yang ada di sekitar Andara selalu membuatnya tidak nyaman? Jadi pacar ataupun jadi mantan Andara tetap saja sama-sama tidak mengenakkan karena ada saja yang mencoba mendekati cewek ini.


"Lo kenapa?" Wajah Andara ikut miring mengamatinya. Muka heran itu terlihat lucu. Alis itu menaik dan bola mata indah itu membundar. Dan inilah kelemahannya, Andara hanya mengucapkan dua kata tetapi pertanyaan itu berhasil membuat titik didih Buana turun. Si cuek Andara kalau sekalinya terlihat peduli selalu saja mampu menggetarkan relung hati Buana.


Buana menghela napas, coba menetralkan emosi. Ini hari spesial untuknya dan Andara yang belum tentu bisa diulangi. Dia harus menikmati kebersamaan ini. "Nope. Nonton, yuk?" ajaknya sambil menarik Andara ke lantai atas, ke arah bioskop.


"Nonton?" Andara malah terlihat bingung. Sampai mereka tiba di bioskop, cewek itu masih terlihat tidak percaya. "Nonton apa?" tanya Andara lagi.


Buana melihat film-film yang tayang. Dia tahu selera Andara. Cewek itu menyukai film action dan thriller. "Charlie Angels?" tawarnya. Andara pasti suka film action ini. Gabungan geng mereka bertiga sudah mirip Charlie Angels. Sayang, kelakuan mereka bukannya menyelamatkan dunia tetapi mengguncang dunia.


Pilihan itu membuat Buana tersenyum. Andara dan segala sisi tidak tertebaknya. Dia lalu mengangguk, menggandeng Andara untuk membeli tiket. Persetan dengan Kaka atau Kin, saat ini Andara adalah milik dia.


Saat film berputar di awal, Buana berpikir film ini ada hubungan dengan Batman. Yang dia tahu, Joker adalah musuh Batman. Akan tetapi, rupanya film ini adalah spin off dari film Batman. Sepanjang cerita yang menjadi tokoh utama adalah sang Joker bernama Arthur Fleck, komedian yang sakit mental. Tokoh itu psikopat, selalu tersenyum untuk menyembunyikan kesakitan dan pada akhirnya rasa sakitlah yang membuatnya tersenyum sehingga tokoh itu mulai menebarkan rasa sakit dan mencelakakan orang lain. Buana sampai bergidik menonton itu. Ada ya orang yang menjahati orang sambil tertawa?


Dia menoleh ke Andara. Dari kegelapan bioskop, Andara malah tampak tenang menonton film tersebut tanpa berkedip. Sorot mata di sebelahnya tidak ada tatapan takut, muka itu malah menyunggingkan senyum samar. Senyuman yang terlihat aneh dan mengerikan sama seperti sang Joker. Refleks Buana langsung meraih tangan Andara dan menggenggamnya. "Ra, serius banget."


Andara malah menaruh telunjuk di bibir, memintanya diam. Pandangan cewek itu kembali ke layar, menatap Joker yang sepertinya lebih menarik dari dia. Buana mendesah frustasi. Menit ke menit terasa sangat lama dan melelahkan untuknya. Dia berharap film ini cepat selesai.


"Keren banget filmnya, sesuai ekspektasi," decak Andara setelah keluar dari bioskop.


"Jelek, psycho!" bantahnya.


Andara malah tertawa. "Ada kalanya kita mesti berpikir kayak dia. Hal-hal yang menyedihkan dalam hidup kadang nggak perlu selalu ditangisi, ada kalanya diketawain aja."


Kalimat itu membuat perhatian Buana bulat kepada Andara yang masih asik bercerita. "Gue suka quote-nya. I used to think that my life was a tragedy. But now I realize it's a comedy."

__ADS_1


"You think this is funny? Is this a joke to you?" ujar Buana mengikuti perkataan Wayne, dan Andara kembali tertawa. Cewek itu malah tidak sadar kalau Buana sudah merangkul dan mendekatkan diri.


"Kalau di film The Dark Knight, quote Joker yang gue suka itu, I believe, whatever doesn't kill you, simply makes you..."


"Stronger?" sela Buana.


Andara menggeleng. "Stranger," katanya sambil menyengir.


Senyuman yang Buana selalu suka meskipun dia kadang tidak bisa mengartikannya. "Aku senang lihat senyum kamu, Ra," ungkap Buana mengetatkan rangkulan. "Happy Anniversary."


Andara menengadah, menatap matanya lalu tersenyum lagi. Cewek itu terlihat cantik dengan muka datarnya, semakin cantik jika sedang marah dan luar biasa cantik jika tersenyum. "Buan, makasih ya masih ingat buat merayakan ini. Walaupun seharusnya ini bukan anniversary."


"Bagi aku, hari ini kita tetap anniversary," ujar Buana mengusap kepala Andara dengan lembut, mengecup pelan di dahi. Dia mengajak makan malam ke restoran kesukaan Andara. "Pepper Lunch, yuk."


Andara mengangguk saja ketika digiringnya.


"Mau pesan apa? Salmon and chicken?" tanyanya memastikan menu kesukaan Andara dan cewek itu kembali mengangguk. Buana mulai memesan kepada petugas. "Beef pepper rice satu, salmon and chicken combo satu pakai nasi."


"Nggak usah pakai nasi." Andara memberitahu petugas.


"Nggak. Bikin pakai nasi, Mbak," potongnya lagi. Petugas tampak bingung tetapi akhirnya menuruti permintaan Buana.


"Buan, nanti nggak habis," desis Andara ketika mereka mulai duduk.


Buana menggeleng dengan tegas. "Kamu makin kurus. LDR bikin pacar lupa ingatin buat makan, ya?" guraunya. Muka Andara kembali datar. Buana dapat merasakan aura yang melingkupi mereka terasa beda.


"Gue nggak perlu ngadu ke lo 'kan kalau gue diingetin makan atau enggak sama dia?" tandas Andara. Hidangan mengepul yang datang membuat perhatian dia turun ke pinggan panas di meja. Tangan kurus itu mengaduk-aduk tauge dan butiran biji jagung setelah diberi sedikit saus bawang.


Berusaha menetralkan suasana yang mendadak kaku, Buana coba untuk tidak membahas Kin. "Aku senang bisa ngehabisin 24 jam sama kamu," ucapnya tulus sembari menyuap daging ke mulut.


Ada ekspresi mencebik yang tergambar di wajah Andara. Bola mata yang sempat mengawang ke atas menunjukan keraguan meski cewek itu seolah masa bodoh dengan ucapan Buana dan menyibukkan diri dengan potongan salmonnya.


Buana hanya memandangi itu lekat. Andara tidak pernah percaya dengan semua yang dia bilang. Cewek itu nggak pernah percaya jika rasa yang dimiliki Buana hanya untuknya. Dari dahulu juga seperti itu, dia hanyalah sesuatu yang tidak penting dalam hidup Andara. Apa yang pernah dibuatnya, tidak pernah berarti lebih untuk Andara. Terlalu banyak lalat yang ada di sekitar Andara sehingga cewek itu tidak bisa melihat kupu-kupu.


Andara memang tidak pernah merendahkannya seperti Nina, tetapi setiap melihat senyum tipis sebagai jawaban saat dia mengatakan sesuatu, dia dapat merasa senyum itu begitu dingin dan jauh, lebih jauh dari jarak mereka sesungguhnya. Buana sadar dia hanyalah satu dari banyak cowok yang dipermainkan Andara dan gengnya. Sekarang sudah ada Kin yang lebih bersinar, dan dia sudah tidak berguna lagi untuk Andara.

__ADS_1


🔥🔥🔥


__ADS_2