
"Pilihan keliru jika ingin bermain-main bersama saya."
🔥🔥🔥
Malam ini, di depannya sudah terbentang panggung kokoh dengan kotak-kotak speaker tergantung tinggi mengarah ke segala arah. Berwarna-warni lampu latar dengan tambahan asap buatan membuat panggung itu sangat hidup. Sinar kebiru-biruan ada pada langit-langit terlihat seperti taburan bintang. Dua pembawa acara yang sedang di atas pentas tampak ceria, dan menyenangkan. Lampu sorot mengarah tepat ke mereka sehingga menyita perhatian penonton.
Andara bersandar pada salah satu tiang besi yang ada di belakang panggung. Di tangannya ada kertas yang sudah lecek dan tercoret-coret. Sebelah telinganya tersumpal earphone untuk memudahkan dia berkomunikasi dengan yang lain. Kaus hitam itu sudah lembab dan dia tidak peduli rambut pendek yang dipaksanya terikat menjadi terlihat acak-acakan karena keseringan digaruk. Ulang Tahun Best FM kali ini dibikin cukup meriah, mengingat ini adalah ulang tahun perak.
Andara ingat, tahun lalu, acaranya tidak sebesar ini. Kali ini, ada banyak sekali pengisi acara. Mulai dari performa band-band indie, battle rapper, sampai penampilan grup band papan atas. Di acara puncak detik-detik pergantian hari akan ada DJ sampai selesai. Jika biasanya pada setiap acara semua urusan akan diurus oleh Best EO, ulang tahun kali ini banyak melibatkan penyiar Best FM. Bang Rodi menurunkan penyiar sebagai panitia, entah itu sebagai MC, sebagai LO yang menangani para artis ataupun sebagai kru panggung.
Bekerja sama dengan manajer panggung dari Best EO, Andara bertugas mengecek, mempersiapkan dan memberi tahu pengisi acara jika sudah waktunya bersiap-siap. Seharusnya itu enak, dia bisa duduk dan ngadem di tenda para talent yang lengkap dengan AC. Namun, Andara tidak ingin lama-lama berada di dalam tenda itu. Ada Buana juga Rexy di sana, dan dia sudah menjadi olok-olokan sedari tadi.
"Eh, Andara... Lama nggak kelihatan, tambah cantik aja sekarang." Tadi, Indra menegurnya seperti itu lengkap dengan senyum-senyum simpul ke arah Buana.
Beda lagi dengan kelompok rapper yang ada di sudut sebaliknya. Mentang-mentang bajunya sama dengan milik Rexy saja menjadi guyonan.
"Kok gue lihat baju kalian mirip?Wah, baju couple-nya masih dipakai," gelak salah seorang rapper berkalung tebal yang rasanya ingin Andara tarik sampai jatuh.
Dia tidak ada niat apa pun memakai baju pemberian Rexy. Ya, mana Andara tahu kalau baju itu kembar. Mereka saja tidak sempat memakai baju kembar tersebut karena dia lebih dahulu memutuskan Rexy tidak lama setelah baju itu diberikan. Dia sudah mengembalikan tetapi ditolak Rexy, dan selama ini pemberian cowok itu ditaruhnya di loker tanpa peduli ada yang akan mengambil. Sampai tadi sore, saat Andara memerlukan baju ganti, dia menemukan baju itu masih ada di loker.
Dia bahkan tidak menyadari gambar belakang baju itu terhubung dengan baju si Rexy. Bagian depan yang polos dengan tulisan kecil pada dada kanan membuatnya berpikir kalau baju itu aman. Setelah diledek temannya Rexy, dia baru sadar kalau bagian belakang baju yang bergambar sepasang sayap besar berbulu halus seperti malaikat kontras dengan bagian belakang baju Rexy yang bersayap kelelawar dan bergambar ekor seperti perwujudan iblis. Iblis kok ngaku.
Ketika giliran Marionette untuk bersiap, Andara memilih untuk memberitahukan itu kepada Indra. Walaupun dia atau Buana bersikap seolah-olah biasa saja, sepertinya yang lain juga tahu kalau mereka sudah tidak bertegur sapa.
"Ra, bajunya keren," ujar Indra kala berpapasan di depan tangga panggung. Andara hanya mengangkat sebelah alis dengan masa bodoh.
Choky yang ada di belakang Buana ikut menimpali, "Yoi, cakep. Kembaran sama mantannya."
Meningkahi tawa Choky dan Indra yang terlepas, Andara langsung memukul bahu Choky. "Nggak sengaja ini! Baju gue tadi basah. Waktu cari baju ganti, cuma baju ini yang ketemu di loker."
"Percaya gue, percaya." Choky menaikkan telunjuk dan jari tengah dan masih tergelak samar. "Sengaja juga nggak apa-apa, kok, Ra."
"Auk ah gelap. Bidadari diam aja, deh," ujarnya santai.
"Iya, deh, yang angel," balas Indra terkekeh sambil membaca tulisan kecil di bagian depan baju itu. "Rexy yang devil, ya? Eleuh, eleuh." Anggota Marionette yang lain ikut tertawa, kecuali Buana. Cowok itu seolah tidak mendengar apa-apa.
Andara menggaruk kepala. Duo Ti-Ta yang ada di panggung masih mengajak penonton untuk bersorai agak ramai, sehingga Marionette masih ada di belakang panggung. Aduh, dia ingin segera menendang band ini agar lekas tampil saja di depan.
Dengan bas yang tergantung di badan, Indra mendekati Andara. "Lo tahu nggak kalau kami ada lagu baru lagi?"
"Kagak."
Tidak peduli diabaikan Andara, Indra terus bercakap. "Judulnya Mantan Nomor Satu. Yang ciptain Buana."
Bodo amat! Mata Andara berputar pelan, sebenarnya dia malas menanggapi. "Oh, gitu. Biasanya kalau ada nomor satu, pasti ada nomor dua, tiga, sampai seratus, tuh," balasnya pelan tetapi menusuk.
"Tapi kan yang nomor satu nggak terlupakan."
"Belum tentu. Kadang yang nomor satu itu cuma hasil dari kebodohan sesaat." Andara tersenyum miring.
"Eaaaak... Gas terus sampai mesinnya panas," timpal Choky berusaha meredam tawa, sadar kalau Buana mendengar mereka.
Indra menyengir. "Jadi ... kapan kalian balikan?"
Untung suasana belakang cukup gelap. Muka Andara yang memanas tidak terlihat oleh yang lain. "Balik mana, nih? Balik kanan apa balik kiri?"
Lagi, semua kecuali Buana ikut tertawa.
__ADS_1
"Kayaknya enak punya pacar penyiar, ya, Chok? Bawaannya happy melulu." Indra mengerling Choky dan lawan bicaranya mengerti maksud dia.
"Andara udah punya pacar. Cari yang lain aja lo!" balas Choky terkekeh-kekeh.
"Justru yang udah punya orang itu yang lebih menarik, lebih tertantang."
Andara yang sudah menerima tanda dari pihak Best EO langsung memotong pembicaraan itu. "Udah, udah nanti aja lo pada konferensinya. Siap-siap sono. Good luck!" ujarnya meninggalkan mereka dan beranjak masuk ke tenda. Tidak baik untuknya dan Buana jika berlama-lama di sana. Kadang-kadang, bercandaan teman bisa setajam silet.
Beberapa rapper yang akan tampil setelah Marionette sudah dia konfirmasi. Di antara mereka sibuk sendiri-sendiri. Ada yang memakai headset, ada yang bercengkerama bareng pengisi acara lain, ada juga yang bermain ponsel. Andara menuju sebuah kursi kosong yang ada di depan AC. Dia kepanasan.
"Hai, Andara." Rexy menghampirinya dengan senyum lebar. "Apa kabar?"
"Baik," jawab Andara cepat.
"Minum?" Rexy menyodorkan sebuah kaleng yang belum terbuka.
"Nggak, thanks." Dia menggeleng. Kaleng berembun itu sepertinya enak, tetapi dia malas berbasa-basi dengan Rexy.
Rexy mengangguk. Tangannya membuka penutup kaleng dan menyesap sedikit. Cowok itu melirik Andara yang sok sibuk membaca jadwal-jadwal dan berbicara dengan walkie talkie-nya. "Gue nggak nyangka lo masih simpan baju itu," gumam Rexy saat kesibukan Andara sudah selesai.
"Sama. Gue juga nggak nyangka baju ini masih selamat sentosa padahal gue biarin di loker," balas Andara. Dia ingin mematahkan persepsi Rexy agar cowok itu nggak berpikir kalau dia masih menyimpan baik-baik pemberiannya.
Rexy meringis, kembali meneguk minuman. "Gitu amat sih ngomongnya, Ra." Rexy memutar badan ke arah kanan, menghadap Andara. "Lo masih marah ya sama gue?"
Marah sih tidak, tetapi Andara nggak tertarik kenal dengan cowok seperti Rexy. Dia lalu terkekeh berdengkus dengan muka datar. "Nggak, ah. Biasa aja."
"Dulu, waktu kita masih temenan, lo nggak sejutek ini." Mata Rexy terarah ke matanya. "Jadi mantan kan nggak mesti musuhan."
Tanpa perlu diajari, Andara tahu jika putus tidak berarti harus bermusuhan. Semua mantannya diposisikan pada tempat khusus di mana tidak berteman juga tidak musuhan, sekadar kenal saja, dan prinsip itu terpatahkan oleh dua orang: Rexy dan Buana. Dengan Buana, meski mantan, dia pernah masih berhubungan dengan tujuan balas dendam. Akan tetapi, dengan Rexy, dia memang tidak ingin mengenal cowok itu. Sebab dari beberapa laporan orang terpercaya yang pernah dia dapat, Rexy kerap kali menjelek-jelekkannya di luar sana.
"Jadi mantan juga nggak mesti jelek-jelekin mantannya, 'kan?" cetusnya menyeringai. Memberi kode agar Rexy jangan berpikir kalau dia tidak tahu kelakuan cowok itu di belakang.
"Nggak perlu," tolak Andara sambil berdiri. "Gue duluan ya, ada urusan lain."
Dia lantas meninggalkan tenda. Ini yang membuat Andara awalnya menolak menjadi asisten panggung. Berurusan dengan Buana, berurusan dengan Rexy, semuanya sama-sama menjemukan. Memang dia lebih mengenal banyak para talent dibanding penyiar lain. Hampir dua tahun memegang Indiebest membuatnya banyak mengenal band, rapper, sampai solois.
Sesampai di luar tenda, dia membuka ponsel. Memeriksa apakah ada kabar dari Kin. Pesan-pesannya sering kali lambat dibalas, dan balasan Kin semuanya singkat. Seperti saat Kin di Singapura kemarin, cowok itu membalas pesan Andara hanya dengan tiga kata: 'Lagi sama teman-teman' dan saat Andara tanya apakah sudah makan, hanya dijawab 'Iya'.
Andara mengipas-ngipaskan kertas. Keringatan membuatnya gerah. Musik yang menggema dan melarutkan penonton tidak membuatnya riang sedikit pun. Dia hanya berharap pesta ulang tahun Best ini cepat berakhir sehingga satu urusan besarnya selesai. Dia ingin bisa leluasa menelepon, berbicara apa saja, cerita panjang lebar bersama Kin. Dia ingin mendengar tentang reuni SMA kemarin dari mulut Kin langsung. Sebab belakangan ini, Andara sekuatnya melawan keberatan yang ada dengan berusaha afirmasi positif kalau Kin tidak berbohong. Yang dimaksud teman-teman oleh Kin ya teman-teman yang ada di foto yang ditunjukkan Natha, termasuk Ririn.
Andara mengembus napas berat. Ternyata benar kata orang-orang, hubungan jarak jauh itu memang menyulitkan pelakunya. Kapan ya dia bisa ke Johor lagi? Andara menerawang menatap langit malam. Rindunya penuh dan sebentar lagi akan membunuh, sementara menjalankan konsekuensi akibat perbuatannya belum selesai dia jalankan. Laser berwarna-warni yang tertembak ke langit mengingatkan pada satu malam panjang dengan Kin di Singapura.
Tangannya bergerak mengetik pesan untuk sang pacar. Berulang kali dia ketik, hapus, ketik, hapus hingga akhirnya terkirim satu kata yang tidak bisa didefinisikan maknanya.
Andara Ratrie: Hi. 🙂
Tak disangkanya, pesan itu langsung terbaca dan dibalas Kin.
Kin Dhananjaya: ?
Kin Dhananjaya: Salah kirim?
Andara membelalak, lantas cepat memberi balasan.
Andara Ratrie: Nggak. Memang mau say hi.
Kin Dhananjaya: Tumben.
__ADS_1
Dia menatap layar heran. Tumben? Itu jawaban Kin? Ditunggunya perubahan di layar, siapa tahu ada pesan tambahan. Sekitar dua menit dia menunggu, tidak ada tanda-tanda Kin mengetik balasan lagi.
Ponsel Andara bergetar saat Marionette memainkan lagu terakhir. Dia bergegas mengabari talent yang harus tampil setelah band Buana tersebut. Setelah beberapa rapper yang akan tampil sudah bersiap, Andara lantas memeriksa ponsel. Kin tadi menelepon di saat dia tidak bisa mengangkatnya. Di sini terlalu berisik dan dia tidak bisa menjauh dari belakang panggung.
Andara Ratrie: Lagi di back stage, nggak bisa angkat telp. ☹️
Pesannya itu hanya dibaca Kin tanpa dibalas hingga Andara hanya bisa menggigit bibir kesal. Dia kembali mengantongi ponsel dan mengawasi talent yang akan berganti. Para lelaki yang berpakaian kebesaran mulai melangkah maju saat Choky menepis simbal tanda Marionette berakhir. Seolah tidak ada jeda, pertunjukan di panggung terus berjalan. Marionette mundur dan rapper masuk mengisi acara.
Satu per satu anggota Marionette yang bersimbah keringat langsung menuruni tangga dan menuju tenda, tetapi ada satu yang berhenti di hadapannya.
Buana. Cowok itu juga tidak kalah basah dengan yang lain. Bulir-bulir air jatuh di pelipis Buana. Mata tajam itu menatapnya, dan Andara dapat melihat senyum sinis Buana yang tersemat sebelum menyindir dia. "Katanya sayang dan cinta sama pacar, tapi baju kembar sama mantan dipakai juga."
Kontan Andara memelotot. Sudah bagus dari tadi mereka tidak bertegur sapa. Kenapa sekalinya menegur Buana jadi cari gara-gara?
"Bukan urusan lo," balas Andara sambil kembali menyibukkan diri dengan kertas di tangan. Berharap Buana lekas berlalu menuju tenda.
"Kasihan Kin. Dia nggak sadar bakal jadi korban selanjutnya," desis Buana terkekeh mencela.
Andara tidak tahu kenapa tangannya tiba-tiba merenyukkan kertas yang berisi rundown acara dan melempar tepat ke muka Buana. "Udah masuk tenda aja lo sana. Nggak usah ngurusin urusan orang!"
Tidak hirau atas balasan Andara, cowok itu malah maju sambil menyengir. Buana berbisik di depan muka Andara. "Ciye, yang main api sama Rexy."
"Nggak usah sok tahu!" Tangan Andara sudah naik dengan telunjuk mengarah ke Buana. Rasanya pasti lega jika bisa memukul bajingan itu.
Buana tertawa mengejek dan memosisikan dadanya tepat di depan telunjuk Andara. Gestur menantang lengkap dengan nada mencemooh juga diberikan Buana. "Kenyataannya gue memang lebih tahu tentang lo daripada yang lain, 'kan?" tanya Buana sembari mengedip pelan. Cowok itu menyeringai sembari menyapukan pandangan di dirinya dari ujung rambut ke ujung kaki. "Dalam-dalamnya juga gue tahu."
Sialan! Andara mendorong badan Buana. Suasana bising yang ada menutupi ucapan cowok itu sehingga tidak terdengar oleh yang lain. Seandainya tidak ingat kalau dia sedang dalam pengawasan khusus dari petinggi Best, ingin sekali Andara memukuli Buana. Jangan Buana pikir dia tidak berani untuk melawan meski dia perempuan. "Kalau lo pikir lo bisa ngedekatin gue dengan cara-cara norak bin kampungan lo itu, lo salah. Belajar lagi sana biar mulut sama otak lo pintar!" sentaknya.
Gelap yang ada di samping tenda itu tidak mampu menutupi senyum bengis yang terpatri di muka Andara. "Dan jangan coba-coba ngancam gue, Buana. Lo nggak ingat gue pernah bilang apa? Jangan ganggu gue karena gue bisa lebih brutal dari yang lo tahu."
Buana tersimpul dengan raut angkuh. Sikap menyebalkan khas Buana ketika mengetahui dirinya menang. "Kayaknya lo lupa sesuatu deh, Ra. Google Foto di hape lo masih ter-setting shared library ke gue, jadi setiap foto dan video yang ada muka lo dan muka gue, otomatis masuk ke Google Foto gue."
Senyum kemenangan Buana benar-benar lepas saat muka Andara memucat. "Gue juga baru sadar sih waktu buka akun gue kemarin. Doh, banyak amat foto sama pacarnya. Sayang, nggak ada yang di-publish. Kenapa? Lo bukan lagi jadi selingkuhan kayak sama gue dulu, 'kan?"
Rahang Andara benar-benar keras. Apalagi saat melihat lengkung bibir Buana yang sangat jahat dan penuh dendam.
"Oh, iya. Video kita di meja makan juga ke-share ke gue. Lo suka nontoninnya ya buat bahan?" tebak Buana menaikkan sebelah alis dengan sorot mata sepele.
Andara sudah tidak peduli lagi akan apa pun. Cowok itu harus diberi pelajaran. Dia melayangkan tangan ke muka Buana. "Lo punya dua kepala, tapi sama-sama nggak beradab!"
"Nggak beradab? Bukannya lo suka sama nggak beradabnya dia?" cemooh Buana. Cowok itu mengeluarkan ponsel dan menyetel sebuah video yang bahkan sudah Andara hapus dari ponselnya. Layar itu sengaja diarahkan Buana di depan mukanya, menyinari wajah Andara yang sudah tanpa rona. "Yakin nggak pengin dihajar si Nggak Beradab kayak di video?" desis Buana sembari menyapu lidah ke bibir dengan gaya merendahkan. "Atau lo kangen di atasnya?"
Kurang ajar. Andara sudah muak dengan tingkah abusif Buana. Dia gelap mata dan melayangkan kepalan tangan ke muka juga dada Buana.
Pukulannya ditangkap Buana. Cowok itu memeluknya.
Andara mengerang. Kakinya bergerak menendang Buana. "Jangan berani-berani lo nyentuh gue!" ancamnya dan berlalu. Kebodohan terbesar dia adalah pernah jatuh cinta ke Buana. Kenapa sih orang seperti berengsek itu masih ada di dunia? Benar kata Natha yang lalu, harusnya Buana diracun saja sampai tewas.
🔥🔥🔥
Selama kisah ini masih on going, jadwal publish adalah Rabu dan Sabtu. Rabu supaya mewarnai hari kalian yang suram di tengah minggu dan Sabtu agar menyemarakkan akhir pekan yang kelabu. Eh, tapi, kalau gue good mood, ya. WKWKWK.
Aku tanya dongs sama kalian.
"Apa yang kalian bikin jika ada di posisi Andara saat ini?"
Ada tiga buah buku buat kalian, judulnya kupilih random dari stok buku baruku. Jawaban ditunggu satu minggu dari sekarang, dan akan kuumumkan di postingan Rabu depan.
__ADS_1
See you. 😘