
Itu tidak sepenuhnya kesalahan dia, itu juga kesalahan saya.
π₯π₯π₯
Vina merenggangkan pelukan sambil menepuk-nepuk punggung Andara. Cewek itu dapat melihat kesedihan yang menyelimutinya. "Sabar, Ra. Lo harus belajar buat ikhlasin dia. Ini bukan cuma buat lo, tapi buat dia juga. Gue yakin Buana pasti sedih kalau tahu lo kayak gini."
Andara mengangguk pilu. Tangannya berulang kali mengusap tangis. Benar kata Vina, jika Buana tahu cowok itu pasti sedih. Andara berusaha memadamkan isak dan menarik napas dalam. Dia harus baik-baik saja untuk dirinya sendiri, untuk Buana, untuk Kaluna. Oh, iya. Bagaimana kabar Kaluna? Dia bahkan belum sempat berbicara dengan adik kecil itu sedari bertemu di rumah Buana. Apakah Kaluna masih menangis terus-terusan seperti dirinya?
Pandangan Andara menyapu sekitar. Dia ada di mana sekarang? Kamar ini seperti tidak ditempati. Ranjang, lemari, isi kamar yang berwarna serasi, tetapi meja rias yang kosong menandakan kamar ini tidak berpenghuni.
Pintu yang sedari tadi renggang terketuk, seseorang datang dari baliknya. Sosok berpenampilan rapi yang terasa tidak asing mulai menghampiri mereka. Andara rasa pernah melihat wajah itu. Dia mulai berusaha mengingat-ingat.
"Andara sudah sadar? Boleh saya berbicara sebentar dengan Andara?" tanya pria itu meminta izin ke Vina.
Vina mengangguk dan bangkit menjauh, meninggalkan mereka berdua yang bersisian. Kursi kosong yang ditinggalkan Vina mulai ditempati pria itu.
"Saya ... papanya Buana," ujarnya mengenalkan diri dengan suara yang terdengar serak. "Maaf kalau saya memaksa kamu untuk bicara sekarang, tapi saya nggak punya banyak waktu luang lagi. Ini saja hanya dikasih waktu dua belas jam untuk melayat anak saya sendiri."
Ada titik yang rebas di ujung mata lelaki itu dan langsung dihapusnya. Andara memilih diam dengan badan yang masih terasa lemas. Dia deg-degan menunggu kelanjutan kalimat yang menggantung tadi.
"Saya tahu apa yang terjadi antara kamu dan Buana. Sejauh apa kesalahan yang telah kalian lakukan," jelas pria itu tenang, tetapi terasa meledakkan ulu hati Andara, apalagi saat pria itu menatap lurus ke dalam mata dia. "Saya mau bilang sama kamu kalau saya dan keluarga akan bertanggung jawab atas apa yang sudah Buana lakukan."
Kebekuan mulai merambat di badan Andara. DiaΒ tidak pernah mempersiapkan diri untuk berbicara dengan orang tua Buana apalagi membahas hal serius seperti ini. Dia tahu sekali mulutnya sering lancang dan Andara takut salah bicara.
"Karena Buana sudah tidak ada, maaf, saya tidak bisa membuat Buana membayar kesalahannya dengan menikahi kamu, tapi jika kamu perlu bantuan moril maupun materiil, saya pasti akan tanggung jawab." Pria itu lantas menarik napas yang sangat panjang, berusaha meredakan risau hatinya sendiri.
"Andara jangan takut. Kalaupun ada benih yang ditanam Buana, dan kamu tidak mau untuk merawat atau membesarkannya. Lahirkanlah untuk kami. Saya dan keluarga yang akan merawat anak itu. Juga tentang ganti rugi, jika ada kerugian yang kamu rasa perlu diganti, beritahukan kepada kami."
Hati Andara terasa teremas sesuatu. Dia menatap pria itu dengan mata yang kembali basah. Ada garis mata yang sama dengan milik Buana di sana. Tatapan yang mampu membuatnya jadi menunduk. Andara menggeleng sebab dia tidak perlu ganti rugi. Dia hanya ingin Buana. "Saya nggak hamil, Om."
Wajah yang tampak kusut di hadapan Andara itu terdiam, lantas membuang napas pelan sebelum mengangguk. "Sebelum sampai ke rumah, saya dengar laporan kalau kamu pingsan terus. Maaf kalau saya jadi berpikir yang enggak-enggak apalagi dulu Nina pernah cerita tentang keintiman kalian berdua," terang papa Buana jujur.
"Saya atas nama keluarga, mohon maaf jika ada perilaku Buana yang tidak baik, kata-kata yang menyakitkan atau tingkah yang merugikan. Apa pun kesalahannya, semoga Andara mau memaafkan almarhum agar dia bisa tenang di sana."
Andara mengangguk-angguk dengan air mata yang kembali meluncur jatuh. Seharusnya dia yang minta maaf. Kesalahan bukan murni miliknya Buana saja. Ada peran dia juga di situ. Dialah aktor intelektual dari hal-hal yang menimpa Buana. Dia yang harus bertanggung jawab atas semuanya, tetapi harus bagaimana? Buana sudah tidak ada.
Pria itu menoleh ke arloji di pergelangan tangan. "Walaupun begitu, jika kamu butuh bantuan beri tahu saja asisten saya. Nanti beri tahu nomor kamu ke dia. Kalau ada apa-apa kabari dia saja. Saya dan keluarga akan tetap membantu kamu, Andara."
Andara mengangguk dengan lidah kelu. Bukan hanya Kaluna, papanya Buana juga baik sekali. Tidak semengerikan perkiraannya.
"Saya permisi dulu. Saya harus bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak saya perbuat," ujar pria itu mengulas senyum pahit dan berbalik membuka pintu.
"Lho? Kaluna?" tegur papa Buana kepada seseorang yang bersandar pada kusen pintu. "Luna nguping, ya?"
Kaluna hanya diam tak berkomentar sambil terus melipat tangan di dada. Raut muka perempuan itu ketat dan melirik dia dengan sorot murka.
"Lun, Papa harus pergi. Kamu jaga diri baik-baik ya." Sang papa lantas memeluk Kaluna sebentar lalu mengacak puncak kepala perempuan itu sebelum pergi, meninggalkan mereka berdua dalam kekakuan.
Andara tidak tahu harus berkata apa saat Kaluna mulai menghampiri dia dengan pandangan tidak suka. Mata sembap cewek itu merajamnya.
"Apa benar yang aku dengar tadi?" selidik Kaluna sembari mengusap hidung yang masih merah. "Pantesan Kakak sedih banget. Apa ini karena yang pernah Abang bikin ke Kakak?"
"Jadi ... Kakak sedih bukan karena Abang meninggal. Kakak sedih karena takut nggak ada yang tanggungjawabin Kakak. Gitu?" berondong Kaluna ke arah Andara. "Apa betul kayak gitu, Kak?"
Andara mengembus napas berat. Kenapa harus membahas hal ini sedangkan dia sedang tidak bisa konsentrasi?
__ADS_1
"Nggak, Lun. Ini nggak kayak yang kamu pikir," tolak Andara. Meski bukan waktu yang tepat, ada yang harus dimengerti oleh Kaluna, saat ini. "Aku memang sedih karena dia meninggal. Ini masih kayak mimpi, aku nggak percaya."
Dia menatap balik mata Kaluna yang berkalang tangis. "Aku akui kami udah melakukan kesalahan itu, tapi aku nggak pernah menambah kesalahan lain, Lun," jelasnya. "Kisah aku dan Buana ini memang rumit. Susah buat dijelasin ke kamu. Yang pasti, cerita ini memang bukan hal yang patut kamu contoh."
Sudut mata Kaluna masih saja runcing meski berair mata. Andara menarik kaki untuk turun dari tempat tidur. Dia meraih tas dan ponsel yang tadi sempat direbut Vina. Hari sudah semakin sore, dia ingin pulang.
"Aku tahu kamu pasti kecewa banget sama kami, tapi tolong jangan pernah benci aku sama Buana, ya. Bencilah kesalahannya, bukan orangnya. Jadiin kesalahan kami ini pelajaran buat kamu tanpa kamu perlu mencoba juga," pinta Andara lirih. "Seandainya bisa, aku juga nggak pengin buat kesalahan-kesalahan yang ada. Salahku banyak banget, tapi waktu nggak pernah jalan mundur, 'kan?"
***
Ruas tol menuju Bandara Soekarno Hatta cukup padat pukul sebelas ini. Beberapa mobil berkejar-kejaran dengan jadwal penerbangan yang mepet hingga tampak seolah hendak terbang jika memungkinkan. Di mobil Deni, Natha berulang kali mengeluh dan menyindir Kin yang tidak biasa-biasanya minta diantar sampai bandara.
"Udah tiga tahun setengah lo kuliah di Johor, baru kali ini manja banget. Berangkat aja pakai minta diantar segala. Ngeselin banget, ya?" rutuk Natha sambil menoleh ke Diska yang di sebelahnya. Cengkareng itu jauh, meski ada jalan tol ya tetap saja jauh.
"Baru sekali aja gue minta anterin, lo bawel setengah mati," decak Kin sambil menyalakan pemutar musik. "Nggak jadi deh gue beliin Bvlgari Omnia-nya."
"Kagak usah, Kin. Kagak usah! Keburu basi tahu nggak?!" balas Natha yang ditimpali dengan kekehan Deni. "Itu buat makan-makan jadian lo sama Andara, ya. Minum-minum putusan aja udah, masa makan-makan jadian belum?"
"Kapan gue bikin acara minum-minum buat ngerayain putusan?" Kin menoleh ke bangku di belakangnya.
"Minggu lalu, yang lo ngajak ke Splash. Itu bukan minum-minum putusan?"
Kin berdecak. Itu sama sekali bukan untuk merayakan putusan. Rencananya kan dia mengajak ke Splash dengan harapan Andara bisa ikut bergabung dengan mereka. Yah, sekadar usaha untuk bisa kembali berkawan. "Asal aja lo nuduh. Gue mana pernah ngerayain putus kayak lo pada," tukasnya sembari membesarkan volume.
Lagu Pemuja Rahasia dari Sheila On 7 sedang terputar dari radio yang sedang mengudara dan setelah lagu itu reda, Natha terkikik geli saat mendengar suara Andara di sana. "Udah kasih tahu mantan yang lagi siaran belum kalau lo balik hari ini?" godanya.
Jelas belum. Kin hanya bisa menatap ke jalanan di depan dan mengabaikan pertanyaan Natha. Buat apa memberi tahu Andara? Cewek itu tidak akan peduli dia datang atau pergi dari Jakarta. Waktu Andara hanya tersita untuk Buana, apalagi semenjak Buana kecelakaan. Kin tidak pernah bertemu Andara lagi di Best FM atau di kosan mereka, cewek itu pasti selalu menghabiskan waktu di rumah sakit.
Suara Andara masih terdengar mengisi kekosongan di mobil, menemani Deni yang serius dengan jalanan, Diska bermain ponsel, sedang Natha sedari tadi kerjanya hanya mengejek dia saja. Kin suka dengan warna suara Andara, jenis suara yang agak serak tetapi tetap terdengar riang. Cewek itu memang cocok menjadi penyiar radio anak muda, orang yang mendengar Andara siaran pasti bisa tertarik dengan sendirinya.
"Memangnya di penghujung 2019 ini masih ada di antara kalian yang memuja orang diam-diam? Karena mikir jatuh cinta sama orang yang nggak akan mungkin bisa dimiliki jadi akhirnya memilih memendam aja. Banyak kayaknya, ya? Tapi ... orang nggak akan tahu lho perasaan kamu kalau kamu nggak ngaku, Besties. Semuanya balik lagi ke kamu, sih. Mau memberitahu atau enggak, itu adalah pilihan. Seenggaknya kamu pikirin juga, jangan sampai semuanya terlambat dan kamu jadi nyesal," tukas Andara masih berceloteh renyah.
"Well, gue mau bacain request yang masuk di Twitter Best FM. Buat Winda dan Kiki yang tadi minta Sheila On 7, udah diputarin ya. Jangan galau lagi, udah mau 2020 keleus."
Intonasi Andara yang sedang menyindir itu buat Kin tersenyum sesaat. Andara ini kalau bercanda cenderung satire dan sarkas, tapi malah itu yang membuat cewek itu beda.
"Halo, Wita. Apa kabar? Kamu mintanya Maroon 5 yang Memories. Cielah, masih ingat aja sama memori masa lalu apa gimana, nih? Move on itu memang gampang-gampang susah ya. Kadang, orang yang disukai udah move, tapi hati kamu masih on sama dia."
Kin kembali mengatupkan bibir ketika mendengar tawa geli Andara. Tawa itu terasa dekat di telinganya. Tawa menyenangkan yang rasa-rasanya seakan Andara terkekeh langsung saat bersama dia. Kin masih menajamkan pendengaran untuk menyimak siaran Andara.
"Ada juga Indra. Woy, Bro! Tumben ngetweet? Katanya dia mau kasih kabar kalau vokalis Marionette..." Suara Andara menggantung, Kin dapat mendengar cewek itu tercegat. Tidak ada lanjutan lagi padahal lagu pengiring masih terputar.
Kin mengerutkan alis heran. Ada apa? Kenapa jedanya cukup lama? Dia seperti menangkap isak samar di antara lagu pengiring.
Natha juga menyadari keganjilan barusan. Cewek mendekat ke depan dan makin mengencangkan volume radio, menunggu Andara melanjutkan bicara. Akan tetapi yang datang kemudian adalah suara lelaki yang tidak asing bagi pendengar setia Best FM.
"Besties, gue Tata. Gue mau kabarin kalau barusan sahabat kita, teman kita, salah satu vokalis kebanggaan Indiebest, Buana Semesta sudah berpulang ke sisi Allah SWT. Semoga amal ibadahnya diterima Allah dan semua dosa-dosa yang ada dihapuskan. Kami dari keluarga besar Best FM turut berduka cita sedalam-dalamnya dan sangat merasa kehilangan."
Natha memekik kaget dan berpandangan dengan dia yang masih coba mencerna apa yang dikatakan Tata barusan. Siapa yang meninggal? Buana Semesta?
"Kin, Buana meninggal," desis Natha yang sudah buru-buru memeriksa ponsel. Tangan cewek itu melemas dengan menggenggam ponsel yang layarnya masih menampilkan status-status dari orang yang dikenal.
Kin tergerak untuk meraih ponsel Natha. Dia ikut melihat Snapgram para penyiar Best yang rata-rata mengabarkan hal yang sama: Buana meninggal dan siang ini akan dikebumikan.
Dia masih rancu dengan berita itu hingga mendapati sebuah foto. Kin yakin itu Andara dan cewek itu terlihat sangat berduka. Ada sesuatu yang berisik menabuh dadanya, merontokkan segala pertimbangan panjang yang bisa selalu Kin lakukan.
__ADS_1
Kin menoleh ke Deni yang menyimak mereka berdua. "Den, putar balik aja."
"Serius?" desis Deni tak percaya. "Dimakamin di mana, Nath?"
"TPU Tanah Kusir," jawab Natha sambil menyandarkan kepala ke jendela. Cewek itu masih terlihat terguncang.
"Jadi, kita ke Tanah Kusir, nih? Memangnya kekejer?" ujar Deni masih menggeleng-geleng takjub kala mendapati Kin mengangguk pasti sebagai jawaban.
"Ya, kejerinlah. Percuma lo pembalap," balas Kin mendesak.
Mobil Deni yang sudah masuk ke arah bandara lantas memutar balik menuju tol bandara kembali. Pengemudinya berdecak-decak kala mendapati jalan padat. Sebelah tangan Deni memegang persneling, benar-benar seperti sedang berjibaku di sirkuit.
"Buana itu siapa?" tanya Diska di sela deru mobil yang coba menyalip sana-sini. Baik Deni, maupun Diska tentu tidak mengenal Buana.
"Buana itu ...." Natha mendengung, bingung sendiri mau menjelaskan tentang Buana ke Diska.
"Mantannya Andara," tukas Kin. "Cowok yang kemarin gue bilang masih disayangi Andara."
Mobil menjadi hening. Deni tidak berani komentar dan Diska hanya membulatkan bibir tanda mengerti. Masing-masing mereka tidak ada berkata apa-apa lagi, sibuk dengan pikiran yang ada.
Kin sendiri memilih membuka ponsel, melampirkan beberapa kebutuhan untuk pembatalan tiket. Saat ini, keinginan bertemu Andara sangat besar, mengalahkan apa pun.
Dalam satu jam mobil Deni sudah mendekat ke daerah pemakaman yang dimaksud, hanya saja kendaraan banyak sekali sehingga mereka terhenti di jalan masuk ke arah makam.
"Kalian turun dulu sana. Biar gue cari parkir." Deni mengangguk ke arah Kin, memahami bagaimana sepupunya itu resah sedari tadi.
Kin menepuk pundak Deni sesaat sebelum melompat turun. Setengah berlari, dia menuju ke blok yang sedang dipadati orang-orang. Sepertinya dia belum terlambat, Buana masih dalam proses dikuburkan. Di belakangnya, Natha dan Diska juga ikut menyusul turun.
Kepala Kin menoleh ke kanan dan ke kiri, mencari sosok Andara. Namun, pelayat terlampau ramai. Dia tidak bisa mendekat ke pusara.
"Itu Andara," ujar Diska menunjuk ke seorang cewek yang terduduk di tanah.
Kin menajamkan pandangan ke arah yang dimaksud Diska. Benar itu Andara. Akhirnya terlihat juga yang dicari setelah para pelayat berangsur meninggalkan makam.
Mereka bertiga mendekat ke arah Andara. Cewek itu sedang menangis terisak di samping pusara yang sudah penuh tertabur bunga.
Kala Kin mendekat ke pusara, dia dapat mendengar Andara merintihkan nama Buana. Jelas sekali cewek itu terpukul karena suaranya tidak lagi riang seperti biasa. Erangan Andara terdengar parau, lepas dari lubuk hati terdalam dan setelah itu, badan Andara terkulai jatuh tepat di kakinya.
π₯π₯π₯
Selamat Tahun Baru 2020.
Tahunnya sudah ganti, isi hatinya masih sama. Heu~
Salah satu fungsinya dari kita membaca novel adalah mendapat pelajarannya. Iya nggak, sih? Di awal, aku suka ketawa kalau orang udah komentarin tokoh aku.
β Ih, Andara perokok, tukang minum, tukang dugem.
β Nggak ada lembut-lembutnya jadi cewek.
β Terlalu liar, dlsb.
Nah, sebenarnya kita bisa lihat dari banyak sudut pandang. Kenapa si tokoh bisa kayak gitu? Apa latar belakangnya jadi dia kayak gitu?
Dari situ juga kita kayak belajar sifat-sifat manusia di sekitar kita. Karena cerita fiksi banyak diambil dari kisah nyata, penulis biasanya mengamati sekitar. π
__ADS_1
Andara memang jelek buanget! Aku nggak bikin tokoh Cinderella atau Mary Sue. Cerita Pembalasan Andara memang bukan cerita religi, temans. Itu cerita roman dewasa. π€
Harapanku ya tetap, ada hikmah yang bisa diambil di ujung-ujungnya. Jangan klean contoh yang nakal-nakalnya, woy. π