Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Tell Me It's Just A Nightmare


__ADS_3

"Tolong, siapa pun kamu. Bangunkan saya dari mimpi buruk ini."


🔥🔥🔥


"Andara, sibuk?"


Panggilan dari suara yang sedikit berat membuat Andara menoleh. Cowok yang sering jadi bahan pembicaraan beberapa cewek di kelas, mendekat ke arahnya. "Kenapa?" tanya Andara mengedik dagu, berusaha meredakan keterkejutan.


"Sibuk apa enggak?"


"Kalau lo yang tanya, nggak sibuk pun jadi sibuk gue," ujar Andara memutar bola mata sambil mengisap teh botol. "Apa lo? Apa lo?"


Cowok itu berdengkus pelan sambil mengantongi kedua tangan di saku celana. "Gitu lo, ya. Orang mau minta tolong aja sombong banget. Besok kalau lo mau buru-buru ke Best, gue pura-pura nggak bisa juga!"


Tawa Andara lepas. Matanya menyapu sosok Buana yang berdiri menjulang. "Ancaman lo nggak asyik! Mau minta tolong apaan?"


"Ada nggak sih yang mau minta tolong sama lo kalau lo tanyanya kayak gini?"


"Baguslah, gue juga nggak demen nolong orang," balas Andara menampilkan seringainya. "Buruan. Apaan?"


King Ospek angkatan mereka itu menggeleng-geleng lantas duduk di bangku samping seraya menaruh sebelah earphones ke telinganya. "Ini, siapa yang nyanyi?"


Andara mencibir sejenak. Ternyata Buana minta tolong memberi tahu judul lagu. Cowok itu sudah beberapa kali seperti ini. Heran juga sih, bukannya sekarang ada aplikasi cek lagu online ya? Telinga Andara berusaha menyimak lagu yang mengalun pelan lalu tak lama dia berdecak. "311, judulnya Love Song."


"Oh, Love Song." Kepala Buana terangguk-angguk paham.


Giliran Andara yang mengirimkan pandangan mengejek sekarang.  "Lo kan rocker, harusnya lo dengar versi originalnya. Ini lagunya The Cure."


"Masa?" Buana lalu mengutak-atik ponsel dan menemukan lagu yang dimaksud di YouTube. Cowok itu menyetel lagu tersebut dan didengar oleh mereka berdua. "Tapi ... lebih enakan versi 311 menurut gue. Dapat aja romantisnya," ulas Buana setelah lagu berakhir.


"What? Romantis? Nggak salah lo ngomong gitu?" Kaus Buana yang hitam kemudian ditunjuk Andara dengan tatapan hina. "Noh, malu sama kaus hitam lo."


"Si geblek!" Buana memukul pelan lengan Andara. "Baju boleh hitam, hati tetap pinky," kilah cowok itu bangga. Rahang keras Buana tampak berkilau jika sedang bergaya sombong seperti ini. Mirip-mirip pemeran cowok antagonis di film yang gayanya terlihat angkuh tapi menawan.


Sudut bibir Andara terangkat. Berbeda dengan cewek-cewek sekelas yang kabarnya berusaha mencari topik pembicaraan untuk bisa berbicara dengan Buana, dia malah yang dihampiri cowok itu duluan. Dari awal masuk kelas setelah ospek, Andara tidak ada berusaha mendekat ke siapa-siapa. Jikapun dia dekat dengan Zaki dan Akbar karena sudah kenal dari pertama kali masuk kelas sedangkan yang lain, termasuk Buana, Andara hanya kenal nama saja.


Andara sadar, sosok ini menjadi perhatian beberapa cewek apalagi Buana proaktif di kelas. Seperti sekarang, ada beberapa pasang mata di kantin yang memperhatikan dia dan Buana.


"Pinky? Najis!" Dia terkekeh sambil melepas earphones dan mengembalikan ke Buana. "Sono jauh-jauh sebelum gue sepak!"


"Galak! Pantes jomlo."


"Ngomong lagi lo, ngomong, biar tahu rasanya keselek botol terus masuk berita," ujar Andara tidak mau kalah sambil menaikkan botol teh yang sudah kosong ke udara.


Buana tersenyum menjauh, mulai memunggunginya. Diam-diam, selain rahang Buana, dia juga mulai mengagumi punggung cowok itu. Bagian yang selalu ditatap dia jika dibonceng Buana. Punggung yang lebar, kokoh dan terlihat nyaman. Sepertinya enak berumah di tempat itu.


"Ra, Ra, bangun."


Bau minyak kayu putih yang tajam tercium di hidung Andara. Hangat juga terasa di tengkuk dan leher. Dia berkemam, berusaha menjawab panggilan. Dibukanya mata, kepalanya pusing dan semua masih terlihat mengabur.


Kepalanya dipangku seseorang. Andara menoleh ke perempuan itu. Vina menatap prihatin ke arahnya. "Pusing?" tanya Vina sambil berusaha membantu duduk. "Minum dulu, Ra."


Setelah menerima gelas dan meneguk dua kali, Andara mengamati sekitar. Dia berada di sebuah ruangan kosong dalam sebuah rumah yang tidak dia kenali. Andara mengerjap, mencoba mengingat-ingat.

__ADS_1


Tadi, dia bermimpi. Mimpi Buana. Mimpi memandang punggung itu. Punggung kokoh yang akhirnya bisa dia peluk dan merumahkan semua penat di sana. Punggung yang kemudian berjalan membelakangi dia dan menjauh.


"Vin, Buana...." Dia kemudian ingat bagaimana kakinya melemas melihat Buana terbaring di tengah rumah. Ini rumah Buana. Rumah bergaya Eropa Selatan yang tadi membuatnya bergetar saat melangkah masuk. Rumah yang selalu ditolak ketika Buana mengajak dia datang untuk dikenalkan ke keluarga cowok itu. Rumah yang akhirnya dia datangi, bukan untuk dikenalkan sebagai pacar cowok itu melainkan untuk mengantarkan cowok itu tidur selama-lamanya.


Vina mengusap-usap bahu Andara, berharap temannya yang tadi menangis histeris itu dapat kuat. "Dia lagi dibawa ke masjid buat disalatin."


Isak Andara lepas lagi. Ternyata itu bukan mimpi. Dia berusaha untuk bangun. "G-gue mau ke sana."


"Oke, oke, tapi lo harus tenang." Vina berusaha memapahnya, meninggalkan ruang tamu yang sudah kosong. Mereka berjalan keluar, ke arah masjid tempat Buana disalatkan. Lokasi masjid itu hanya berbeda blok dengan rumah Buana.


Andara menguatkan kaki yang terasa tak bertulang. Dia berjalan terseok-seok. Ketika mereka tiba di depan masjid, para pelayat sudah keluar dari sana. Keranda bertutup hijau sudah diangkat dan masuk di sebuah ambulans. Dia menurut saja saat Vina mengajak masuk ke sebuah mobil yang akan berangkat ke pemakaman.


Masih bolehkah Andara berharap semua ini hanya mimpi? Sebab setelah Causa dan Opung, Buana-lah sandarannya. Tanpa dia sadari, dia dapat bertahan di Jakarta karena bantuan Buana. Cowok itu menyediakan punggung sebagai tempat dia bersandar. Tanpa dia sadari, dia sudah ketergantungan kepada Buana. Cowok itu selalu ada di sekitarnya dan membantunya. Mulai dari sekadar mengantar pulang, mengirimkan makanan, mengingatkan kuliah atau merawatnya saat dia tidak sadarkan diri.


Air mata Andara menetes lagi saat melihat usungan itu diangkut melewati blok-blok pemakaman. Dia usap tangisnya. Adakah yang bisa membangunkan dia dari mimpi-mimpi buruk yang ada selama ini? Namun, tanah merah nan gembur yang ada di sela kaki benar-benar jelas sekali. Bagaimana jasad Buana diturunkan dan ditutupi papan membuat dia benar-benar tidak berkedip. Dia berharap Buana bergerak bangun, tetapi sampai pusara dipenuhi taburan bunga, Buana tidak jua bangun. Cowok itu sudah tidur bersama tanah di kedalaman satu setengah meter dari tempatnya berdiri.


Matahari siang ini sangat menyengat. Panasnya bukan hanya membakar kulit, tapi juga menghanguskan hati menjadi abu. Andara menatap hampa nisan kayu yang sudah tertancap. Nama Buana jelas sekali di sana meski mata dia dibanjiri air. Seandainya bisa, Andara ingin buta huruf saja saat ini. Ini pasti salah. Dokter pasti salah, Buana harusnya belum meninggal.


Andara berusaha redakan tangis, tapi semakin dilawan rasa itu seperti ingin meledakkan dadanya. Dia mulai mengerang pelan, terduduk di tanah, lepas dari tangan Vina.


Ada banyak yang belum selesai antara dia dan Buana. Ada yang belum sempat dia beri tahu. Ada cerita yang masih dia tunggu. Kenapa jadinya seperti ini? Buana bahkan belum pamit, belum mengucapkan kalimat perpisahan kepadanya. Bagaimana bisa Buana semudah itu saja pergi? Semua pertanyaan bertubi-tubi menyerang benak Andara. Seharusnya tidak seperti ini, seharusnya Buana sadar, seharusnya dia bisa bicara dengan cowok itu. Andara merintih nyeri sebab sengguk menekan jalan napasnya.


Pertahanan diri Andara lepas saat orang-orang sudah beranjak pulang. Dia mendekati pusara Buana. Di sampingnya, ada Kaluna yang juga tersedu-sedu. Mereka berjuang atas kesedihan masing-masing. Seolah menanyakan mengapa takdir begitu tega menampar orang-orang yang sudah tidak berdaya.


Bibirnya mulai memanggil nama cowok itu lagi seperti mantra yang diulang-ulang tanpa lelah. "Buan," desisnya perih. "Buana."


Andara mengemam. Hatinya terasa ngilu dan dia hanya bisa berteriak dalam diam kalau dia tidak benar-benar membenci Buana. Dia tidak benar-benar ingin Buana pergi. Ucapan waktu itu hanyalah hasil dari emosi semata sebab pada kenyataannya, dia tidak pernah berhasil bisa membenci Buana. Andara terisak-isak penuh penyesalan.


Dia ingin Buana kembali. Dia ingin Buana sembuh. Dia ingin Buana bangun karena masih banyak yang ingin dikatakannya langsung.


***


"Ra, Ra... Woy, Andara."


Andara berdecak karena lengannya diguncang pelan oleh Buana. Cowok itu mengganggu acara makan siangnya saja. Andara menarik sebelah juntaian earphones lalu bertanya dengan tatapan malas. "Apa?"


Buana menyengir. Andara pernah menggambarkan senyum itu sebagai jenis senyum yang mampu mengajak orang lain tersenyum menatap masa depan, apalagi kalau Buana sudah tergelak dan rahangnya bergerak-gerak. Cowok itu menawan dengan garis bibir yang melekuk bagus.


Buana menarik sebuah kursi dan ikut duduk di sampingnya. Tubuh cowok itu menguarkan keharuman laut yang segar dan menenangkan. "Kata teman gue, lo sekarang yang handle Indiebest, ya?"


Andara mengangguk sambil mengirup kuah sotonya. Kantin ini serasa di pinggir pantai kalau ada Buana di sebelahnya, tinggal kasih kipas angin sama es kelapa biar suasana pantainya dapat banget.


"Gimana caranya daftar ke Indiebest?"


Mata cowok itu seperti memperhatikan dia menyendok nasi dan mengunyah. Andara mengusap kuah tersisa di ujung bibir. "Ya, lo kirim demonya ke Best FM-lah, masa kirim ke kantor Gubernur?!"


Buana berdecak. "Itu sih gue juga tahu. Maksud gue, bisa nggak lo lulusin kami biar jadi band indie-nya Best?"


Andara mendengkus terkekeh. Piring dan mangkuk soto yang ada di meja dia sisihkan ke samping, lalu dia meneguk isi teh botol. "Memangnya gue siapa bisa ngelulusin band? Gue cuma kacung, Buan. Yang milih tuh tetap petinggi-petinggi Best. Palingan kalau band-nya bagus, gue kasih rekomendasi."


Cowok itu terdiam seperti sedang berpikir. Ujung mata yang runcing itu terangkat dan seolah meneliti langit-langit. Cara berpikir Buana terlihat lucu. Kurang cocok sama muka sadisnya. "Kalau nggak, lo kasih kisi-kisi. Gimana caranya biar bisa lolos, kabarnya kan seleksi kalian susah banget."


Andara mulai menimbang-nimbang. Dia tidak ingin membocorkan tahap audisi, tetapi mungkin tidak ada salahnya jika memberi petunjuk kepada band Buana. Selama ini, mereka juga kesusahan mencari band yang diinginkan.

__ADS_1


"Sebenarnya kuncinya ada di demo CD. Bikin demo harus niat. Jangan direkam asal-asalan hasil live gitu, doang. Isi demo dengan lagu yang benar-benar kalian rekam bagus di studio, terus surat pengantarnya juga jangan lupa. Ada tuh yang ngasih demo cuma taruh CD doang, memangnya kami cenayang mau ngehubungin orang lewat langit?" jelasnya sambil menerima sebotol teh tambahan dari Buana.


"Terus, terus, apa lagi?" tanya Buana makin tertarik.


"Bila perlu kalian kasih CV juga. Isinya bisa ceritain sejarah terbentuknya band, bermain di genre apa, terus alasannya apa pilih genre tersebut. CV kan kayak usaha menjual diri juga, kalau mau laku ya mesti ditunjukin hal-hal yang menarik dari kalian. Lagian kalau CV-nya sampai dibacain penyiar, itu kan bisa jadi ajang promosi gratis."


Buana mengangguk-angguk sambil tersenyum puas. "Dapat juga gue bocorannya padahal lo cuma disogok teh botol."


"Sialan!" Andara memandang teh yang sudah dia habisi. "Yah, udah keburu habis lagi."


Bibir Buana membentuk simpul yang manis dengan mata yang menatap dalam. Andara tidak tahu bagaimana bisa Buana dianugerahi tatapan yang sangat mematikan oleh Tuhan. "Kalau biar bisa lolos jadi pacar lo, ada kisi-kisinya juga?" bisik Buana menampilkan wajah serius.


"Najis, Buan! Sono pergi sebelum gue gebuk!"


Cowok itu tergelak lepas. Mau senyum, tertawa atau sekadar diam, Buana adalah makhluk yang beruntung karena memiliki pesona gagah. Kulitnya yang cokelat makin menambah ketampanan cowok itu. Jujur, Andara sudah jatuh hati. Dia diam-diam jatuh hati dengan Raja yang sudah memiliki Permaisuri. Jatuh hati pada saat yang tidak tepat. Jatuh hati lagi dengan sahabat.


Lengannya terasa diguncang lagi, Andara menoleh. Namun, sekitar gelap sekali. Dia tidak tahu berada di mana. Ini bukan kantin kampus dan Buana tidak ada. Suara-suara memanggilnya dan lengannya terus saja bergoyang keras.


"Andara..."


"Andara..."


Sesuatu seperti mendorong dia dari selubung kelam. Andara membuka mata dengan napas terengah-engah.


Dia mimpi. Dia mimpi lagi. Dahinya basah oleh keringat. Kepala masih terasa berdentang. Dia berusaha duduk dan mengingat. Vina yang masih di sebelahnya membuat Andara meneguk ludah. Sebenarnya yang mana yang mimpi, yang mana yang nyata?


"Buana," desisnya sembari melihat ke sekeliling. Dia berada di sebuah kamar yang tampak asing. "Buana mana, Vin?"


Vina hanya mengembus napas. Tangannya mengusap bahu Andara. "Ra, tenang dulu. Lo tuh udah berkali-kali pingsan dari tadi. Waktu ketemu Buana, lo pingsan. Waktu ikut pemakamannya juga lo pingsan. Waktu sampai sini lo pingsan lagi. Badan lo pasti capek banget."


Andara melenguh. Dia sudah lelah menangis dan matanya terasa bengkak. Sekujur badan dia juga pegal-pegal. Lehernya kaku dan pinggangnya sakit. Namun, semua itu tidak penting jika Vina meyakinkan dia kalau dia hanya bermimpi. "Vin, Buana ... beneran meninggal?"


Dia berharap Vina meralat ucapan. Dia berharap Vina mengatakan kalau semua hanya mimpi buruk. Sayang, Vina tidak bilang begitu. Cewek itu meringis sambil mengangguk. "Lo harus ikhlas, Ra."


Ikhlas? Ikhlas? Bagaimana dia bisa ikhlas jika masih ada yang belum selesai? Dia bisa mengikhlaskan Buana seandainya Buana sadar barang sekejap dan mereka sempat berbicara atau minimal bertatap. Bukannya seperti ini, Buana pergi tanpa berkata apa-apa.


Andara mencengkeram selimut yang motifnya tidak dia kenali. Isi kepalanya kacau. Semua ini di luar bayangan atau rencananya. Dia selalu ingin membalas Buana, tetapi bukan berakhir seperti ini. Ini bukan bagian dari skenario jahatnya.


Andara kembali memanggil Buana. Bukankah cowok itu sudah berjanji akan selalu datang? Buana berjanji tanpa dia minta. Seharusnya Buana datang. Andara bergegas mencari ponsel, berusaha membuka blokir dan menghubungi nomor Buana seperti kesetanan. Sekali, dua kali, tiga kali, nomor itu masih juga tidak aktif. Dia berdecak dan menekan tombol panggil lagi.


"Ra. Andara." Vina merampas ponsel di genggaman dan memeluknya. "Sadar, Ra. Gue tahu ikhlas itu susah, tapi lo harus ikhlas. Buana udah nggak ada, Ra. Buana udah nggak ada."


Andara sudah lelah menangis, tetapi air mata itu jatuh lagi tanpa permisi.


🔥🔥🔥


Target di akhir 2019 adalah merampungkan buku ini, tetapi menulis tidak semudah rencana, Kamerad. Mohon bersabar.


Aku membaca semua komentar kalian. Percayalah, pembaca hanya bisa berharap, penulis yang berkehendak. Tidak ada mati suri di sini, memangnya ini sinetron? Ini Mangatoon tauk! 🤣


Oh, iya. Makasih buat Mangatoon yang udah kirim merchandise. Kalau ada readers yang mau kirim surat cinta berupa parsel, voucher belanja atau tiket liburan tentu juga akan aku terima dengan senang hati. OWKWKWK.


__ADS_1


XOXO,


Nadya yang memang suka melihat kalian kesal.


__ADS_2