Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Fall Through


__ADS_3

"Tidak ada yang meriah dari tepukan yang hanya sebelah."


🔥🔥🔥


Andara berdecak ketika memeriksa layar ponsel setelah keluar dari studio. Dia meninggalkan Duo Ti-Ta yang masih siaran hanya untuk melihat apakah ada kabar dari Kin.


Sejak malam ulang tahun Best FM kemarin, Kin makin asing. Bukan Andara tidak mencoba berbicara dengan cowok itu, tetapi baru sesaat menelepon, Kin yang lebih dahulu mengakhiri dengan alasan ada kuliah, mau kerjakan tugas atau lagi bersama teman. Penolakan halus itu terasa kok oleh Andara. Bagaimana upaya Kin menghindarinya membuat Andara bingung. Mereka tidak pernah secanggung ini ketika berteman dahulu. Bukankah dahulu Kin adalah teman asyik yang bisa diajak kompakan menjalani semua skenarionya? Tapi, sekarang, untuk sekadar menyampaikan rindu saja sulit sekali.


"Kenapa sih lo?" tanya Natha saat didatanginya. Cewek itu melihat keresahan di matanya. "Kin masih nggak balas pesan lo?"


Andara hanya bisa mengangguk lesu sembari ikut duduk di samping Natha. Diraihnya kotak rokok dan mengambil sebatang. Belakangan ini dia sudah jarang merokok, saking terlalu sibuk.


"Kin nggak ada tanya tentang lo dan nggak ada cerita apa-apa ke gue," jelas Natha. "Apa perlu gue tanyain kabar dia?"


"Nggak usah, nggak usah." Andara menggeleng kuat-kuat. Melibatkan orang lain dalam masalah internal dua insan bukan jalan keluar yang baik. Dia yakin bisa menyelesaikan masalah ini sendiri. Andara mengembus asap dan menatapi gumpalan putih itu mengawang lalu hilang.


"Lo selama ini kirim pesan apa ke dia?"


"Ya, kayak biasalah. Say hi, tanya dia di mana, lagi ngapain." Dia menoleh sebentar ke Natha sebelum mengembalikan tatapan ke langit.


Natha bergumam setelah meneguk teh manis. "Coba lo kirim gini: 'Selamat pagi pacar Andara. Lagi apa, sih? Andara kangen.' Gitu coba."


"Ih, geli," tukasnya sembari mengembus lagi. Dia tidak yakin dengan ide Natha yang terdengar aneh. Dari awal dirinya berpacaran dengan Kin memang tidak ada hal-hal manis dan romantis di antara mereka. Panggilan saja tidak berubah masih Lo-Gue. Andara ragu, apakah Kin bisa menerima dengan baik pesan seperti itu. Bagaimana jika malah jijik dan menganggapnya norak?


"Idih ini anak, coba dulu! Ingat, lo jadian sama Kin karena ide gue. Ide gue ini paten-paten tauk!" Natha meletakkan cangkir tehnya dan membuka kemasan roti. Makanan tidak boleh dibawa ke ruang tengah, sehingga mereka menyingkir untuk sarapan di teras atas Best FM. 


Lama menengadah pandangi awan, Andara lalu mengangguk. Mau tak mau dia akui kalau antara dia dan Kin berpacaran karena ide aneh Natha. Akhirnya, Andara mengikuti ide cewek itu sekali lagi. Toh ide Natha tidak sejahanam ide Rossa. Ya, tidak ada salahnya dia coba. Dia lalu mengetik pesan untuk Kin.


Andara Ratrie: Selamat pagi pacar Andara. Lagi apa? Andaranya kangen. 😊


"Gimana? Gimana?" tanya Natha.


"Belum dibaca," ujarnya sambil meletakkan ponsel. Benda mati itu semakin tambah mati sekarang. Terlalu sepi dan sering kali mengecewakan harapannya yang tinggi. Keseringan memantau sosmed juga berdampak buruk untuk dia. Jujur, Andara ketakutan atas dugaan-dugaan yang tidak bisa dia klarifikasi kepada Kin. Dia waswas Buana bertingkah gila dan mengirim video sialan itu. Apalagi komunikasi antara dia dan Kin sedang tidak baik.


Awal membuat video, Andara sangat yakin kalau video itu tidak akan ditemukan di galeri ponsel, sebab hanya dia simpan di Google Foto. Namun, Andara benar-benar lupa jika dia dan Buana pernah mengaktifkan galeri foto bersama. Itu mereka lakukan karena baik di ponsel Buana dan ponsel Andara banyak sekali foto mereka berdua dan terlalu ribet untuk kirim-kirim foto. Fitur canggih di aplikasi itu bekerja otomatis sampai sekarang dengan cara mencocokkan wajah orang tertentu dan mengelompokkan untuk dibagi sesuai setelan. Salahnya lagi, Andara sudah sempat menonaktifkan notifikasi karena berisik sekali. Malam kemarin, setelah Buana beritahu, Andara langsung membuka akunnya, mengelola setelan, dan menghapus Buana sebagai partner. Akan tetapi, foto dan video yang sudah disimpan Buana tidak akan bisa terhapus kecuali ponsel itu dihancurkan sekalian.


Andara mengisap asap kembali untuk menenangkan gundah. Apa Kin sudah melihat video itu? Tetapi mengapa tidak bertanya kepadanya? Berbagai tuduhan hilir mudik di kepala Andara. Bukannya Andara tidak berusaha berpikir positif, dia selalu berusaha. Akan tetapi, sikap Kin membuatnya sangsi. Sebagai cewek yang punya banyak mantan dan mengenal banyak tipe manusia, tentu Andara percaya intuisinya. Dia yakin Kin menjauh dan ini jelas mengganjal.


Hubungan mereka dapat dikatakan berada dalam fase mengambang. Andara ingin memberitahu mengapa dia membuat video itu, ingin menjelaskan perilaku Buana belakangan ini, tapi giliran Kin yang sekarang tidak punya waktu. Bagaimana Andara bisa bercerita kalau Kin saja tidak memberi celah? Jika Kin sudah tahu, kenapa menghindar? Mau Kin sebenarnya apa? 


Itu menjadi pertanyaan besar untuk Andara sampai cowok itu menghubunginya keesokan malam. Sepuluh menit tepat sebelum Andara on air Reload edisi khusus. Reload edisi khusus adalah memutarkan lagu lama satu musisi saja, dan kali ini adalah Peterpan, band yang hits di tahun 2000-an.


Andara menatap layar ponsel dengan gamang. Rindu, bingung dan terkejut tidak menyangka akan ditelepon Kin bercampur menjadi satu. Kakinya berhenti di depan pintu studio dan berdiri di dekat dinding yang menjadi sekat ruang tengah dan tempat siaran.


"Halo," sapa Andara bergetar. Rasanya ingin sekali teleponan lama dengan Kin tetapi situasi benar-benar tidak mendukung.


"Halo, Ra."


Ya Tuhan. Andara memegang dadanya saking bahagia tak terkira. Suara itu sampai membuat dia menggigit bibir sendiri. Ternyata bejana rindunya penuh sekali dan meluap-luap. Andara masih diam menunggu kelanjutan, dan Kin di seberang juga tidak ada suara. Mereka membisu.


"Ra..." panggil Kin pelan, dan Andara menggumam untuk jawaban. Ternyata ide bodoh Natha berhasil. Andara kembali mengingat isi pesannya dan seketika dia merasa malu. Kenapa dia sampai kirim pesan alay seperti itu, sih?


Namun, rasa malu Andara musnah seketika saat Kin menjatuhkan bomnya. "Kita putus aja, ya?"


Serpihan-serpihan pecahan bom itu terasa runcing dan menancap pelan di sekeliling jantungnya, membuat Andara berkunang-kunang. Lututnya goyah. Sebelah tangannya memegang dinding, mencari kekuatan. Ini yang paling dia takutkan dari asumsi kemarin. Dia khawatir jika hubungan mereka kandas. Dia curiga Kin terprovokasi Buana, tapi ... Kin tidak ada bertanya apa pun.


Hebat sekali. Bagaimana bisa satu kalimat itu mampu meluluhlantakkan semua usahanya. Seharusnya dia tahu apa maksud dari Kin menghilang selama ini. Seharusnya dia sudah menyiapkan diri untuk hal terburuk yang akan ada.


"K-kenapa?" tanya Andara berusaha tidak terdengar parau. Dia melihat Irvin melambai dari jendela ruang studio, memberitahu kalau ini sudah jadwalnya Andara untuk opening. Andara menaikkan telapak tangan untuk memberi tahu kalau dia lagi dalam panggilan penting, dan mengode Irvin untuk putarkan lagu pembuka.


Kin masih bungkam dan detik-detik selanjutnya terasa sangat lama bagi Andara. Dia memejam dengan debar tak terkendali.


"Gue ..." ujar Kin menyeret kata seperti tidak yakin dengan ucapan sendiri. "Gue lagi pengin sendiri."


Darah seperti sudah tidak mengalir di wajah Andara. Alasan klasik seperti itu tidak pernah berhasil diterimanya. Alasan tidak masuk akal itu terasa makin membuat tikaman tak tampak yang tertancap di jantungnya berputar ke segala arah, memperbesar lubang luka.


Andara mematung. Sekitar terasa kosong dan dingin. Dia berharap ini mimpi. Ini mimpi. Dia pasti sedang bermimpi buruk. Apakah ada yang bersedia bangunkan dia dan yakinkan jika ini semua hanyalah bunga tidur?


"Ra..." Kin memanggilnya, sadarkan Andara kalau ini bukanlah mimpi. "Gimana?"


Bagai bintang di surga dan seluruh warna


Dan kasih yang setia


Dan cahaya nyata

__ADS_1


Oh, bintang di surga berikan cerita


Dan kasih yang setia


Dan cahaya nyata


Andara membuka mata, menyesapi kesakitan yang terasa nyata. Memangnya dia bisa jawab apa? Dia ingin menolak. Dia tidak ingin hubungan mereka berakhir, tapi bagaimana bisa dia memaksa orang yang sudah tidak ingin bersamanya? Bukankah belakangan ini Kin sudah menunjukkan keengganannya kepada dia?


Memangnya dia bisa apa? Kin sudah tidak mau, dia bisa apa? Mudah saja bagi seorang Kin untuk mendapat perempuan lain yang lebih segala-galanya dari dia. Sedang dia tidak bisa, Kin terlampau berharga baginya. Namun, memohon-mohon agar hubungan ini jangan berakhir jelas bukanlah sifat Andara. Itu belum tentu dikabulkan Kin dan hanya membuatnya terlihat murahan.


"Ya udah," bisik Andara pasrah.


Satu lagi yang ditakutkannya jika mereka putus, hubungan pertemanan mereka akan rusak juga.  "Tapi ... kita masih temanan, 'kan?" pintanya.


Tinggal itu yang dapat diminta kepada Kin. Tidak mungkin dia bisa meminta agar mereka jangan putus.  


Mustahil.


Imposibble.


"Iya," jawab Kin lalu diam lagi.


Lagu Bintang di Surga sebagai lagu pembuka yang diputar Irvin sudah hampir habis. Andara sekuat mungkin berusaha menelan ludah. Di tenggorokan terasa seperti ada akar-akar halus yang tumbuh merambat dan menghalangi jalan napasnya. Matanya terasa panas. Dinaikkannya pandangan agar panas tersebut tidak mengembun. Seperti mengerti apa yang sedang dihadapi Andara dari balik kaca, Irvin berinisiatif memutarkan satu lagu Peterpan yang lain sebagai tambahan.


"Ya udah, udah dulu, ya. Take care," tukas Andara mengakhiri pembicaraan. Tenggorokannya terasa perih.


"You too."


Andara langsung mematikan panggilan setelah jawaban Kin tersebut dan masuk ke studio. Mengempaskan badan ke kursi yang biasa terasa nyaman, namun sekarang terasa berduri, dia meletakkan kepalanya di meja. 


"Lo nggak apa-apa?" Irvin melirik khawatir. Cowok itu melihat mendung yang sangat kentara di wajahnya.


Andara hanya mengangguk pelan sambil menghirup udara dalam-dalam. Tenang. Tenang. Dia harus tenang.


"Gue balik, ya." Irvin kemudian permisi pulang. Seharusnya jam kerja Irvin hanyalah sampai jam lima, tetapi operator lain yang bertugas malam sedang cuti sehingga Irvin bertugas lebih lama.


"Thanks, Vin," balas Andara lemah.


Dia berusaha meraih mouse, dan membaca informasi tentang Peterpan. Band yang sudah berganti nama menjadi Noah ini ternyata memiliki banyak lagu bagus dengan lirik-lirik yang dalam. Keseringan mendengar lagu Barat, Andara bahkan telat sadar kalau banyak lagu Indonesia yang bagus. Lirik yang ringan tetapi bermakna, suara vokalis yang khas menjadi salah satu keunggulan Peterpan. Selain sang vokalis memang tampan, tentunya.


Dulu, Andara tidak begitu respek dengan band itu. Dia menganggap pendengar hanya suka karena tampang Ariel, tetapi setelah dia mendengar dua lagu mereka, semua pemikiran Andara bergeser sendiri. Peterpan ini band yang dahsyat, pantas untuk melegenda dan disukai banyak orang.


Mungkin saja rasa itu telah pergi


Dan mungkin bila nanti


Kita akan bertemu lagi


Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali


Rasa yang kutinggal mati


Seperti hari kemarin


Saat semua di sini


Setelah debar di dada terasa membaik, Andara menggumam sebentar untuk senam muka. Dia berusaha keras memperbaiki mood agar terdengar baik-baik saja saat siaran. Sayang, lagu-lagu Peterpan malah seperti merangkul perihnya, seakan mengajaknya untuk meringkuk dan nikmati luka.


Setelah opening dan sedikit menceritakan sejarah band tersebut, Andara banyak mendapat request dari Besties. Tanpa banyak pertimbangan, semua permintaan Besties yang memang ada di daftar putar langsung dia putar. Ada banyak pesan yang masuk, rata-rata bercerita tentang pengalaman mereka baik sedih, senang ataupun lucu dengan lagu-lagu Peterpan dan mau tak mau membacakan cerita mereka membuat Andara jadi tersenyum simpul. 


Ada pendengar request lagu Kukatakan Dengan Indah. Sang Besties mengaku dia selalu merasa mirip Ariel jika mendengar lagu itu sambil duduk di pinggir jendela. Pesan tersebut membuat Andara tertawa kecil. Dia kemudian memutar lagu yang dirilis tahun 2004 dan laku 350 ribu kopi dalam dua minggu pertama. Tak lama terdiam, merasa tertohok dengan isi lagu.


Tetapi hatiku selalu meninggikanmu


Terlalu meninggikanmu


Selalu meninggikanmu


Kau hancurkan hatiku tak tertahan lagi


Kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu


Kau terangi jiwaku, redupkan lagi


Kau hancurkan hatiku 'tuk melihatmu

__ADS_1


Tidak ingin terpaku lama-lama dengan lagu yang tepat dengan perasaannya, Andara kemudian memutarkan lagu Peterpan yang lain dan membacakan pesan berikutnya.


"Ada Bram yang request lagu Semua Tentang Kita. Kata dia, lagu ini mengingatkan gue tentang perpisahan sekolah. Awalnya gue nggak mau ikut perpisahan, tapi dipaksa sama yang lain. Teman-teman sampai jemputin gue ke rumah. Terus waktu di gedung, beberapa teman yang punya band, gantian ngisi acara. Sampai pada waktunya, adik-adik kelas nyanyiin lagu ini dan kami yang dengar jadi terharu. Gue sendiri jadi ingat, kalau selama tiga tahun di sekolah, banyak banget dosa yang gue bikin. Malak adik-adik kelas, godain cewek-cewek, madol, pura-pura sakit buat tidur di UKS, tawuran. Tapi keingetan juga gimana solidnya kami waktu salah seorang teman mau dipecat sekolah, satu angkatan kami mogok belajar dan berhasil bikin Kepsek batalin pemecatannya," ujar Andara membaca sms yang masuk sembari tersenyum pelan. Masa SMA-nya juga indah, tetapi yang buat nggak indah diingat adalah ada Kaka di sana.


Matanya teralih ke pesan yang lain. Pengirimnya seorang cewek. "Lagu Peterpan yang paling berkesan itu judulnya Yang Terdalam. Lagu itu mengingatkan gue gimana gue nunggu seseorang selama tiga tahun, dan nggak berani ngungkapin karena kami sahabatan. Sampai waktu lulus-lulusan, dia mau berangkat kuliah ke luar dan akhirnya gue beraniin diri buat ungkapin perasaan gue. And you know? Dia bilang belum bisa jawab perasaan gue. Dia minta waktu." Andara diam sebentar karena syok membaca lanjutan pesan itu. "Gue kasih dia waktu. Gue bilang gue bakal nunggu kedatangan dia, bakal nunggu kabar dia, tetapi ... ternyata kabar dan kedatangan dia nggak akan pernah ada. Dia hilang bersama pesawat MH 370, dan sampai sekarang gue nggak pernah dapat jawabannya."


Andara nggak sanggup berkata-kata lagi. Setelah membaca pesan tadi, dia langsung memutarkan Yang Terdalam, dilanjutkan dengan lagu Chrisye yang dinyanyikan ulang oleh Peterpan, Kisah Cintaku. Pasti pendengar itu nangis darah, soalnya Andara saja yang membaca pesan itu ketularan sedih. Ternyata banyak yang lebih tragis daripada kisah cintanya.


Setelah satu jam duduk di studio, dia menyadari kalau lagu-lagu Peterpan yang dirilis dari rentang waktu 2003 sampai 2008 banyak yang bagus-bagus. Andara selama ini tidak pernah dengar lagu-lagu itu. Dia sampai penasaran dengan film Alexandria yang soundtrack-nya diisi Peterpan.


Sembari membaca resensi film tersebut, dia menyesapi lagu yang terputar. Diam-diam, Andara takjub saat merasa lagu-lagu yang ada di daftar putar ini sesuai dengan keadaannya sekarang. Betapa magis sebuah penggalan nada dan pesan yang disampaikan sang penulis lirik.


Seperti lagu 2DSD yang sedang mengalun, sukses membuat Andara kembali terpaku.


Kumenatap langit yang tenang, dan takkan menangisi malam. 'Tuk tetap berdiri, kumelawan hari. Ku akan berarti, ku takkan mati.


Dia menjadi teringat fakta yang menghampirinya tadi. Untuk kesekian kali, dia terbuang lagi. Dengan nyeri yang masih terasa, Andara berusaha tegakkan kepala. Iya, menunduk hanya akan membuat mahkotanya jatuh. Meski pada akhir semua akan sama saja, dan dia tetap menjadi pecundang, tidak pernah menjadi pemenang.


Tidak, Andara tidak menangis. Dia tidak akan menangisi ini. Toh, baik Buana ataupun Kin, mereka hanya lelaki yang meninggalkannya setelah tidak berguna. Andara meringis tipis. Dia tidak pernah jadi rumah tinggal. Dia hanya hotel yang terlihat menarik untuk disinggahi kemudian bisa sesukanya ditinggal pergi. 


Mereka bias, tidak abadi. Datang hanya untuk menaruh luka dan melenggang begitu saja. Hatinya dianggap taman hiburan. Padahal, taman hiburan saja pakai aturan. Tidak sembarang orang bisa memasuki satu wahana. Andara tersenyum masam. Memang sepatutnya dia sesantai Rossa saja, membiarkan bagaimana para lelaki merangkak di kakinya, dan menikmati kebodohan mereka. 


Biar Sally mencariku


Biarkan dia terbang jauh


Dalam hatinya hanya satu


Jauh hatinya hanya 'ku


Kalau tahu dia mencarinya, kenapa dibiarkan? Padahal tahu, di dalam hati dia cuma satu.


Katakan 'ku takkan datang


Pastikan 'ku takkan kembali


Lalu biarkan dia menangis


Lalu biarkan dia pergi


Apa memang semua cowok seperti ini, ya? Sudah tahu ditunggu, tetapi malah membiarkan cewek menunggu dan menangis.


Sally, kau selalu sendiri


Sampai kapan pun sendiri


Hingga engkau lelah menanti


Hingga engkau lelah menangis


Andara menelan ludah agar tenggorokannya tidak kembali perih. Iya, dialah Sally Sendiri versi 2019. Kin berarti sengaja dengan perlakuannya pada Andara belakangan ini? Andara menggeram rendah. Apa dia harus melakukan pembalasan lagi, seperti yang pernah dibuatnya kepada Buana?


Akan tetapi, Kin tidak memutuskan sepihak. Cowok itu tadi masih bertanya kepadanya.


Sebelah hati Andara kembali mendebat. Pertanyaan Kin tadi hanyalah basa-basi, bukankah dia paham itu? Kin tidak benar-benar menyukainya, tidak benar-benar atas perasaannya. Mereka bahkan baru menjalani hubungan itu sekitar satu bulan.


Andara mengeraskan volume lagu di studio. Dia membenamkan kepala yang berkecamuk di meja sambil ikut bernyanyi bersama Ariel.


Aku menunggumu, menunggumu, menunggumu


mati di depanku, di depanku, di depanku.


Mungkin, Kin memang sebenarnya tidak pernah ada rasa. Dia hanya pecinta yang bertepuk sebelah tangan. Tidak ada yang meriah dari tepukan yang hanya sebelah, bukan? Dia sedang menjalani kisah cinta kelapa dan kejadian di Johor hanya sebuah kekhilafan saja. Bukankah tidak ada kucing yang menolak disodorkan ikan?


🔥🔥🔥


Hiyaaaa....


Gimana coba Andara bisa cerita kalau Kinnya yang nggak kasih celah?


Lagi pula, lelaki ternyata sama saja, Beb.


Jahat.


Aku jadi pohon ajalah.

__ADS_1


☹️☹️☹️


Kalau udah kayak gini, Andara harus gimana?


__ADS_2