Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Critical Hit


__ADS_3

"Remember that. Hungry dogs are never loyal."


🔥🔥🔥


Duo Ti-Ta masih mengudara. Topik pagi ini adalah membahas pelakor. Beratus sms juga mention Twitter masuk.


Andara sedang duduk di ruang tengah sambil membaca. Dia menunggu jadwal siaran pukul sepuluh sehabis Duo Ti-Ta siaran. Di depannya ada Irvin, Operator Best FM itu sedang menghubungi satu Besties yang mengaku habis diselingkuhi. Setelah telepon tersambung, Irvin mengode Tirto yang ada di balik jendela kaca untuk menyalakan saluran telepon di studio agar dapat on air.


"101 Best FM, The Best Hits Radio Station. Wake Up Call - Maroon 5. Kira-kira ada nggak sih yang pernah menemukan pacarnya sedang di tempat tidur dengan orang lain seperti Adam Levine di lagu ini?" tanya Tirto membuka suara setelah lagu-lagu diputar. Ini salah satu keahlian penyiar, mampu menjembatani antara lagu yang diputar dengan informasi yang akan disampaikan.


Tata memotong, "Gils! Percaya nggak percaya, adegan sinetron itu ternyata ada di dunia nyata, Besties. To, lo percaya nggak kalau di line telepon sekarang, ada seorang Besties yang mengaku dua hari yang lalu dia baru saja menggerebek pacarnya dengan cewek lain?"


"O em ji! Serius?!" Suara Tirto melengking terdengar terkejut dan tidak percaya. Besties yang sedang mendengar pasti merasa penasaran. Mereka mungkin tidak tahu kalau Tirto sekarang sedang santai sambil memainkan mouse, memilih-milih lagu di komputer, dan Tata duduk menggoyang-goyangkan kaki di bangku sambil membuka saluran telepon yang disambungkan Irvin.


"Iya, ini penelepon terakhir kita untuk sesi Curcol Pagi-Pagi, ada Nina di sana. Hai, Nina," sapa Tata kepada sang Besties. Nama itu membuat Andara menajamkan pendengarannya, apalagi setelah Nina membalas sapaan Tata. "Ceritain dong, Nin. Gimana kronologisnya lo bisa menemukan kejadian itu?"


Penelepon yang bernama Nina menceritakan kisahnya. Bagaimana si cewek berjuang menembus rintik-rintik pagi untuk ke rumah pacarnya hanya demi membuktikan pengaduan seseorang. Nina itu juga menceritakan bahwa sang pelakorlah yang membuka pintu, mengenakan kaus kesayangan pacarnya dan ketika dia masuk ke kamar, dia menemukan pacarnya tidur tanpa busana.


Andara menutup buku Il Principle yang sedang dibaca. Dia menaikkan alis, dan mencocokkan cerita. Badannya bangkit menuju meja operator, meminta Irvin membuka data sang penelepon. Dari nomor ponsel yang Irvin hubungi, jelas sekali bahwa orang yang sedang on air dengan Tirto dan Tata adalah Nina. Karenina Julianti.


"So, kalau lo bisa menyampaikan pesan dan akan didengar pacar lo juga selingkuhannya. Pesan apa nih yang bakal lo sampaikan, Nin?" tanya Tata.


"Buat pacar gue, gue cuma mau sampaikan kalau cewek itu makhluk sensitif jadi mau lo sembunyiin gimanapun yang namanya selingkuh bakal ketahuan," ujar Nina.


"Ajib!" sela Tirto. "Kalau buat selingkuhannya?"


"Kalau pesan gue buat selingkuhannya; Mbak, lo jangan bangga dengan cowok yang lo curi dari seseorang yang tersakiti."


Baik Tirto maupun Tata tampak prihatin. "Semoga mereka dengar ya, Nin. Lo ada request nggak? Kami akan putarin spesial buat lo dan orang-orang yang baru saja diselingkuhi."


"I Know What You Did Last Summer - Shawn and Camilla, ya. Thanks, Ti—Ta." Setelah kalimat terakhir itu, sebuah jingle Best FM masuk dan lagu permintaan Nina langsung dikabulkan.


Andara tersimpul sinis. Benar kata Rossa, si Nina ini suka cari gara-gara. Setelah kemarin Nina mengenali Instagram-nya, mustahil Nina tidak menyadari kalau dia adalah penyiar Best. Ada banyak foto Andara dengan seragam hitam Best, ada juga foto-foto saat acara off air-nya Best. Lalu, kalau saat ini Nina muncul untuk menceritakan kasus itu di Best, maksud cewek ini apa? Andara merasa cewek itu sedang mendeklarasikan perang.


Pertanyaannya adalah ... Seberapa kuat Nina sampai berani mengajaknya berperang? Apakah cewek itu nggak tahu jika dia berhadapan dengan Andara yang tidak akan peduli mengenai hukum humaniter dalam perang? Tidak berlaku apa itu Konfrensi Jenewa atau Den Haag yang menjadi landasan hukum sebuah perang. Aturan atau rambu-rambu juga akan diabaikannya karena tujuan perang seorang Andara hanyalah satu yaitu kemenangan.


Saat Irvin memintanya untuk menjaga sebentar meja operator karena cowok itu hendak ke toilet, Andara menghubungi Nina dari telepon Best FM. Nina mengangkat teleponnya. Mungkin cewek itu mengira dihubungi Ti—Ta kembali.


"Hai, Nin," sapa Andara.


"Ya. Ini siapa?"


Andara berdengkus samar. Jika cewek itu mendeklarasikan perang, maka Andara yang akan menyerang lebih dahulu. Tanpa menjawab siapa dia, Andara kembali berkata, "Gue cuma mau bilang sama lo kalau pesan lo udah sampai langsung ke gue."


Andara lalu tertawa pelan tetapi terdengar mengerikan bagi siapa saja yang mendengar. "Ternyata lo tipe orang yang hobi menjual kisah sedih untuk mendapatkan simpati, ya?" imbuh Andara. "Lo pengin lebih tenar lagi nggak? Gue bisa suruh teman gue yang vlogger buat jadiin kisah lo ini konten populer."


Nina terdengar berdecak. Cewek itu menyadari kalau Andara yang menelepon. "Jauh sebelum ini, gue udah bilang sama Buana kalau gue perlu bicara sama lo, tapi dia nggak pernah sampein itu ke lo. Gue DM lo dan lo nggak pernah balas. Gue tanya sahabat lo itu dan dia malah kasih tahu kebenarannya."


"Oh, lo mau ngomong sama gue? Fine. Kita ngomong."


"Cuma kita berdua aja, nggak usah ada Buana."


Tanpa Buana? Permintaan itu terdengar aneh untuk orang yang memerlukan sebuah klarifikasi. "Oke. Jam tiga sore ini di taman perpustakaan pusat, di depan kolam. Gue tunggu," sahut Andara menyanggupi tantangan itu lalu mematikan telepon. 


Hari ini Andara ada praktek peradilan semu. Dia dan Buana berada dalam satu kelas. Jika Nina tidak ingin Buana tahu, tentu mudah. Dia akan keluar di tengah kuliah dan Buana tetap terkurung dalam ruang sidang.

__ADS_1


Ruang yang dipakai sebagai tempat praktik persidangan mulai ramai. Andara yang telah duduk sedari tadi hanya memainkan ponsel sembari melihat-lihat Instagram. Melalui akun palsu, dia melihat Snapgram Nina. Hanya status yang berisi barisan kata dengan latar hitam.


Orang yang kuat adalah yang mampu bertahan meski dalam badai sekalipun.


Tanpa berkomentar, Andara membuka profil Nina. Semua foto yang pernah diunggah tampak hilang, mungkin diarsipkan dan cewek itu sendiri mengosongkan foto profil Instagram. Jadi Nina merasa diserang badai, nih? Yang kemarin itu badai bagi Nina? Padahal baginya itu hanyalah angin sepoi-sepoi.


Ada rasa geli dan Andara ingin sekali tergelak besar-besar menertawai kelakuan labil pacarnya Buana itu. Sekali luka lalu ditunjukan ke dunia raya, dipikirnya semua akan bersimpati? Nina tidak tahu jika ada orang yang akan tersenyum dan tertawa melihatnya sakit hati. Setahu Andara, Nina sedang menyusun skripsi. Berarti cewek itu sebentar lagi wisuda, 'kan? Tetapi kelakuan seperti anak SMP-SMA sedang patah hati.


Setelah puas membaca status Nina, Andara kembali ke akun pribadinya dan dia menemukan DM dari Nina.


Nina.Julianti: Andara, kita perlu ketemu dan bicara. Kasih tahu gue kapan lo bisa menemui gue. Thanks.


Oh, ini yang dimaksud Nina. Ya, mohon maaf saja, Andara jarang membuka DM. Bola matanya mengawang ke atas dengan heran. Kenapa Nina bersikeras sekali ingin bertemu dia? Ada hal apa? Apakah Nina juga sudah sejauh dia dengan Buana? Jika tidak, kenapa cewek itu seperti belum jera juga berurusan dengan dia? Cewek itu mungkin tidak tahu kalau Andara ini mahatega.


Dia mengantongi ponsel kembali saat dosen mulai masuk. Saat ini, Andara bertugas sebagai Saksi Pertama. Dia memprediksi setelah tugasnya memberi kesaksian, dia dapat mendatangi Nina. Dalam praktik kali ini, Buana bertugas sebagai Hakim Anggota I. Cowok itu nggak akan bisa keluar dari ruangan sampai sidang selesai.


Semua peserta mulai diminta berdiri ketika para hakim memasuki ruangan dan mulai duduk. Yang bertugas menjadi panitera lalu menyerahkan berita acara kepada hakim. Sang Hakim Ketua mengetuk palu tiga kali dan membuka peradilan. Terdakwa dipanggil dan Hakim Ketua mulai mewawancarai dia.


Andara menatap teman-temannya yang sedang berakting dalam diam. Jaksa Penuntut Umum mulai menanyai terdakwa yang dalam kasus ini berperan sebagai tersangka pembunuhan. Mata Andara mengamati semua dengan saksama. Terdakwa berusaha membela diri dan berkata bahwa dia membunuh untuk membalas serangan yang dilakukan oleh sang korban.


Mendengar itu Andara tersenyum kecut, teringat buku yang tadi pagi dibaca. Machiavelli berpendapat bahwa manusia itu riskan, pilihannya hanya dua; dicintai atau dihancurkan. Jangan pernah melukai manusia hanya dengan luka ringan, karena itu akan membuat mereka menuntut balas dendam. Namun, balas dendam tidak akan pernah ada jika mereka terluka parah, dihancurkan sampai kandas. Oleh karena itu, luka yang kita sebabkan harus sebesar-besarnya sehingga kita tidak harus takut akan balasan mereka.


Teori Machiavellian itu melekat di otaknya sehabis membaca Il Principle. Benar saja, lihat saja Nina. Cewek itu masih bisa membuat cerita seolah-olah dirinya adalah korban. Sepertinya shock therapy kemarin belum sukses juga kepada Nina. Cewek itu belum tahu ya bagaimana rasanya jadi korban yang sebenar-benarnya? Atau Andara perlu beri dia pengalaman bagaimana jadi korban?


Andara maju ke mimbar ketika namanya dipanggil. Sesuai skenario, dia memberikan kesaksian di sana, ditanya-tanya oleh jaksa juga hakim lalu kembali ke tempat duduk. Sesekali Andara memantau sekitar, melirik Buana yang sedari tadi hanya diam, melirik jam dinding, menatap gestur dosen.


Pukul tiga kurang lima menit, dia mengantongi dompet dan ponsel. Agar tidak menimbulkan kecurigaan, tasnya ditinggalkan. Isi tas hanyalah hanyalah sebuah buku tipis dan pena saja. Jika tas itu sampai tidak selamat, Andara nggak berkeberatan sama sekali.


Buana terlihat mengamatinya ketika Andara menghampiri dosen yang duduk di sebelah hakim guna meminta izin.


"Kenapa?" tanya Buana saat Andara melintas.


"Perlu ditemani?"


Andara menggeleng. Cowok itu harus tetap mendekam di kelas ini agar dia bisa bicara leluasa dengan Nina. "Gue bisa sendiri," tandasnya.


Dan, di sinilah Andara sekarang, duduk di sebuah bangku semen, di bawah pohon akasia yang berbunga kuning. Angin sore berembus tenang. Dia sudah memasang earphone dan hendak menyalakan Spotify saat sebuah suara menegurnya.


"Andara."


Andara menoleh, merekam jelas bagaimana langkah Nina mendatanginya. Gaya cewek itu persis seperti yang ditirukan oleh Rossa. Andara tersenyum menertawai ingatannya. Tatapannya naik ke cewek yang mengenakan skinny jeans dan kaus ketat tanpa kerah. Cewek ini mau kuliah atau mau senam?


"Hai, Nin." Andara menunjuk ke bangku di sebelah agar Nina duduk. Dia berusaha sesantai mungkin dan mengenyahkan ejekan yang ada di kepala. "Apa nih yang mau diomongin?" tembaknya tepat sasaran sambil memainkan kabel earphone.


Nina terlihat berusaha tersenyum, tetapi Andara dapat melihat luka dari senyum yang tampak dipaksakan itu. Cewek di sampingnya sedang tidak baik-baik saja. Of course. Mata bengkak tidak bisa ditutupi hanya dengan sebuah senyuman sok tegar, Kamerad.


Sebelum berbicara, Nina beberapa kali mengambil napas. "Sebenarnya lo sama Buana itu gimana, sih?"


"Kami?" Andara memutar mata sebentar. Yakin cewek ini bisa tahan kalau mendengar ceritanya? "Gimana ya bilangnya? Ya, kami dekatlah bisa dibilang. Kayak yang lo lihat kemarin," tuturnya melihat ke samping sambil menekankan kata 'kemarin'. "Walaupun sudah putus, kami masih berteman."


Mereka lalu terdiam. Andara sendiri berusaha bersimpati karena mata bengkak itu. Bagaimanapun mereka sesama cewek. Cuma cewek yang mengerti sesama cewek.


"Andara... Gue sama Buana kenal hampir lima tahun. Dia dekat sama seluruh keluarga gue bahkan sudah dianggap cucu oleh kakek. Walaupun dahulu kami sempat putus, dia tetap dianggap anak sama orang tua gue, dan dianggap kakak sama adik-adik gue. Lo berapa lama pacaran sama Buana?"


"Hampir setahun." Andara tersenyum tipis. Apa maksud cewek ini bertanya lamanya dia berpacaran dengan Buana?

__ADS_1


"Keluarga lo kenal Buana?"


Andara menggeleng. Ini lagi, kenapa tanya-tanya keluarga? Mau mulai membandingkan?


"Dulu, waktu gue mulai ilfil sama Buana. Dia tetap datang ke rumah. Kalau gue cuekin, dia bakal tetap nonton bola sama bokap gue atau dengarin cerita adik gue. Bahkan pernah ketiduran di rumah sehabis nonton bola."


Perasaan Andara mulai tidak enak. Dia sedari tadi sudah mengendalikan ucapan untuk menghargai Nina.


"Dia baik sama keluarga gue, sama adik-adik gue. Gue tahu sih Buana itu cinta sama gue. Dia selalu temani gue belanja, dia bagus kalau memilih sesuatu." Cewek itu menunjuk baju yang dipakainya. "Baju ini yang pilihkan Buana, sepatu ini juga. Semua pilihan Buana bagus."


Nina tampak berkaca-kaca. "Gue yang jahat sama dia karena perasaan gue pernah hilang, tapi Buana tetap sayang sama gue, tetap cinta sama gue sampai sekarang."


Andara menaikkan sebelah alis, menelaah cerita cewek ini. Mungkin Nina tidak tahu kalau sebelum berpacaran dengan Buana, dia lebih dahulu menjadi tempat curhat cowok itu.


"Buana memang sempat lost contact sama gue. Mungkin karena gue abaikan, dia jadi begini. Jadi kebablasan, ngelakuin hal yang aneh-aneh."


Emosi Andara mulai naik selevel demi selevel. Dia mulai mengerti arah pembicaraan Nina. Cewek ini sedang memainkan perannya dan Andara hanya mengangguk-angguk, mengikuti alur yang dimau Nina sambil menyusun serangan.


"Tapi sejujurnya gue sayang sama Buana." Nina mengusap matanya yang basah. "Gue minta tolong sama lo sebagai sesama cewek. Tolong hargai perasaan sesama cewek. Tolong lo posisikan diri lo menjadi gue, Ra."


Andara berdeham. Cewek itu ingin dia memosisikan diri jadi Nina. Bagaimana jika Nina memosisikan diri jadi Andara? Tangannya tergerak untuk mengusap bahu Nina dengan penuh kasih. Dia menyejajarkan muka agar bisikannya didengar Nina. "Iya, gue tahu. Tapi apa lo juga sudah posisikan diri lo jadi gue, Nin?" tanyanya. "Dulu lo nggak pernah anggap Buana, sekarang karena dia sudah lebih bagus terus lo pikir lo bisa seenaknya memungut cowok itu begitu saja?"


Nina menoleh dan menatap dia, berusah menilai. Cewek itu mungkin menangkap kilat berbahaya di matanya. Andara menyeringai.


"Gue memang nggak selama lo sama Buana, Nin. Buana juga nggak seakrab itu ke keluarga gue, tapi bukan berarti lo tahu semua tentang Buana."


Andara membuka pemutar suara, memberikan sebelah juntaian earphone ke telinga Nina. Cewek itu mulai mendengar percakapan dia dengan Buana yang direkam diam-diam sehabis mereka melakukan persetubuhan. Badan Nina menegang begitu mendengar namanya disebut, saat Buana mengakui bahwa kedekatan cowok itu kepada Nina hanya sebatas berciuman. Sepertinya Nina mulai menyadari kalau percakapan itu ada setelah dia menjalin hubungan kembali dengan Buana.


Bahu Nina mulai bergetar saat mendengar Buana berkata cinta, "I love you, Andara Ratrie. You're the best mistake I ever made. Aku tahu kita salah, tapi kalau sama kamu, melakukan kesalahan pun aku mau."


One. Andara menghitung serangannya dalam hati.


Rekaman itu terputus karena sebuah panggilan masuk ke ponsel Andara. Mereka berdua menatap peneleponnya dan nama Buana terpampang di sana. Andara melirik jam, kuliahnya sudah bubar. "Kayaknya Buana cari gue, nih," ungkapnya mengabaikan ekspresi keruh Nina.


Two.


Muka cewek itu sudah berubah, tidak ada duka di sana. Sepertinya topeng itu telah terlepas. Andara menyengir. Memang benar, hanya cewek yang paham sesama cewek. Nina hanya pura-pura dan Andara harus akui akting Nina tadi cukup menyentuh. Dan inilah saatnya, menyerang cewek ini lebih kuat. Karena luka kecil hanya akan membuat orang mampu membalas dendam.


"Ada satu hal penting yang mesti lo ingat, Nin. Gue sama Buana bukan sekadar FWB. Antara gue sama Buana ada sesuatu yang nggak bisa diputus sampai kapanpun, nggak akan bisa dihapus sampai kami mati."


Nina menatapnya yang mulai menurunkan pangkuan kaki.


"I lost my virginity with him. Buana akan terus bertanggung jawab dan akan mengkhawatirkan gue sampai kapanpun."


Three.


Andara mengubah setting ponsel menjadi airplane mode agar tidak masuk lagi telepon Buana lalu membuka video dan menyetel rekaman di ruang makan Buana. Tampak Buana bergerak di atas tubuhnya. Cowok itu memanggil dan merintihkan nama Andara. Nina membekap mulutnya sendiri sebagai tanda keterkejutan.


"Gue nggak pernah ganggu Buana. Dia yang selalu datang ke gue. Dia mengejar-ngejar gue karena memerlukan gue. Lo lihat video tadi, gue nggak ngapa-ngapain, Buana yang mulai," ujar Andara mengulas senyum termanisnya. "Lagi pula di antara kami sudah pernah sama-sama janji, Nin. Kalau kami nggak akan melakukannya dengan orang lain. That's why, kemarin Buana melakukan itu sama gue. Walaupun status dia adalah pacar lo."


Four.


Persetan dengan mata berkaca-kaca Nina. Apa cewek itu bisa bertahan dalam badai jika dia yang menjadi badai di hidup cewek itu? Memangnya Nina bisa bertahan jika cewek itu jadi seorang Andara? Dia tidak akan bisa bertahan dalam badai, dia akan tersungkur dan mati terkubur. Andara mengusap kembali bahu Nina, menciptakan serangan kelima.


"Sebenarnya, kemarin itu Buana melakukannya berkali-kali lagi, lho, Nin. Lo tahulah, ya. Waktu itu kan hujan terus. Buana kedinginan, jadi dia pengin yang hangat-hangat. Oh, iya, Buana keluarin di dalam." Andara mengusap perutnya dengan penuh drama. "Lo mau keponakan laki-laki atau perempuan, Nin?"

__ADS_1


Five attacks. Savage!


🔥🔥🔥


__ADS_2