Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Escaping Reality


__ADS_3

"Kecanduan yang jarang disadari manusia; lari dari kenyataan."


🔥🔥🔥


Andara sampai rumah ketika hari berganti petang, saat matahari merangkak masuk ke peraduan. Perjalanan hari ini cukup menyenangkan, di jalan tadi tak henti-hentinya mereka bertiga bernyanyi seperti orang gila saat Kin memperbolehkan Andara menguasai pemutar musik. Begitulah enaknya memiliki teman-teman yang satu selera, lagu apa pun oke-oke saja.


Dia melangkah turun sendirian sambil menjinjing boots kesayangan, Natha tetap ikut bersama Kin karena akan siaran sampai tengah malam. Di depan rumah ada sebuah mobil MPV premium. Mungkin tamu tetangga menumpang parkir, pikir Andara. Setelah diantar sampai depan rumah, dia melambai ke arah mereka berdua dan Kin membalas dengan klakson pendek satu kali.


Berbalik sambil membuka pagar, dia berjalan masuk. Namun, kaki bersandal jepit itu terhenti saat pandangan matanya bersirobok dengan dua sosok di teras. Pegangan di boots-nya mengetat, menandakan perasaan tidak enak. Tubuhnya kaku dan secara naluriah memasang sikap defensif, tak peduli salah seorang dari mereka menghampirinya dengan wajah penuh rindu.


Mata sayu wanita itu memperhatikan penampilan, dan ranselnya yang terlihat penuh. "Dara, baru dari mana? Tante tadi hubungi hapenya tapi nggak aktif," ujar Nia, sang pemilik mata redup itu. Wanita itu adik dari Causa, mamanya. Nia tersenyum lemah, menunjukkan kecantikan dari umur paruh bayanya. "Kok tasnya basah, nggak pakai sepatu?"


Jika boleh jujur, Andara tahu apa arti tatapan Nia. Sedikit banyak dia pun merindukan tantenya itu, tetapi berurusan dengannya hanya membuat Nia makin dipojokkan oleh keluarga. Walaupun Nia sering kali membela dirinya, wanita itu akan tetap kalah. Anak bungsu dari empat bersaudara itu tidak bisa melawan dua kakak tertuanya; Benzo dan Kalbir, juga istri-istrinya —yang salah satunya ada di samping mereka sekarang.


"Kenapa?" tanya Andara dingin, mengabaikan bola mata Nia yang membesar. Muka Nia seperti tidak percaya akan kalimat barusan yang Andara gunakan untuk menyambutnya. "Belum saatnya memperbaharui surat kuasa, 'kan?"


Jovanka yang sedari tadi sibuk berkipas menjadi melirik garang ke arahnya. Wanita dengan dandanan high class itu mulai angkat komentar. "Kubilang juga apa, buang-buang waktu kau kemari. Anak degil ini takkan mengerti maksud kau."


Berdeham untuk menyamarkan emosi yang terpantik, Andara hanya memasang wajah statis. "Ini rumah saya dan saya berhak mengusir tamu, apalagi yang membuat suasana tidak kondusif," balasnya tajam dan tidak berniat sedikit pun untuk membuka pintu atau mempersilakan tamunya masuk. Matanya menyorot Jovanka dengan sinis tak peduli sosok itu orang lebih tua yang harusnya dihormati.


Dengan membuang muka, Jovanka meminta Nia untuk segera menyelesaikan urusan dan beranjak dari sini. Orang kaya itu tampak risih melihat teras rumah yang kotor dengan wadah-wadah makanan untuk kucing yang mengosong.


"Dara... Tante datang mau tengok kabar kamu. Kamu nggak pernah pulang ke Medan, kiriman juga nggak pernah kamu ambil," ujar Nia pelan. Dia tidak mau memancing adu mulut antara Jovanka dengan Andara lagi. Dia tahu antara Andara dengan keluarga yang lain tidak akur. Saudara-saudaranya sering membandingkan Andara dengan anak mereka, mencemooh Andara karena dinilai selalu kalah pintar, kalah berprestasi.


Akhirnya dengkusan yang sedari tadi Andara coba tahan keluar juga. Persetan dengan undang-undang perlindungan data nasabah perbankan. Apa yang terjadi dalam rekeningnya adalah hal yang harusnya tidak boleh diketahui siapa pun. Selagi dia bukan tersangka terorisme, pencucian uang atau penggelapan pajak, berapa isi dan pergerakan dana di rekeningnya adalah rahasia bank. Andara menatap Nia sedalam mungkin. Wanita di hadapannya akan sangat mudah mencari tahu atau meminta pertolongan pihak bank, selain karena dia adalah nasabah prioritas yang akrab dengan para petugas, Nia juga menjadi walinya, wali penerus setelah Opung meninggal. Lagi pula aliran dana per bulan yang masuk ke rekeningnya ditransfer dari rekening yang dibubuhi tanda tangan Nia, mudah sekali baginya untuk sekadar mengecek apakah rekening Andara berisi atau kosong.


"Kenapa nggak pernah diambil? Apa ATM kamu hilang?" tanya Nia sembari membuka Hermes-nya, mengeluarkan kertas selembar. Selembar cek dengan nominal tidak sedikit, yang akan membuat orang biasa berjengkit melihatnya. "Ini biar mudah tariknya. Tante juga sudah beritahu pihak bank supaya nggak perlu konfirmasi ulang ke Tante saat ditarik, langsung setuju bayar saja."


Andara tertawa lirih ketika kertas itu dimasukkan ke sakunya. Apalah arti nominal seratus juta jika harga dirinya akan diinjak-injak? Dia sudah puas direndahkan keluarga sendiri. Dibilang pembangkang, anak tak tahu diuntung, anak pembawa sial dan lainnya. Mereka pikir mereka bisa membeli Andara dengan uang? Dengan tersimpul miring, Andara menarik kertas persegi panjang itu, merobeknya hingga menjadi serpihan kecil dan dilempar ke udara. Seratus juta sudah menjadi hujan kertas, menambah panas atmosfer sekitar.


"Kurang ajar memang! Dasar anak sial, nggak ngerti disayang. Pantas mamamu mati, capek dia ngurusin kau! Mati aja kau sana!" pekik Jovanka. Wanita itu dipegangi oleh Nia agar tidak menghampiri Andara. "Ayo, pulang, Nia. Nggak guna kau urus dia. Dia pikir dia hebat kali mentang-mentang kuasakan sahamnya ke kau?!"


Wanita itu mengibas rambut indahnya sembari menunjuk Andara. "Nggak tahu terima kasih kau! Anak Liar! Cuma tahu terima uang aja, nggak pernah kau mau tahu urusan perusahaan! Kau tiru itu Kevin, Devina. Mereka sudah mau belajar ikut rapat, dan kau ongkang-ongkang kaki aja di sini!"


Andara bergeming dengan rahang mengetat. Jika saja tidak ingat norma yang ujung-ujungnya akan dikaitkan dengan sang mama atau Opung, sudah dimakinya orang itu dengan leluasa.


"Kak, sudah." Nia memotong, "Dara, cepat selesaikan kuliah, ya. Supaya cepat bisa belajar seperti Kevin dan Devina."


"Ayo, pulang. Ngapain kita ke tempat ini?! Udah panas, kotor pula. Ini yang kau banggakan itu?" cecar Jovanka sembari melintas, menuju Lexus putih yang tadinya Andara sangka hanya menumpang parkir.


"Setidaknya ini uang hasil keringat saya sendiri," balas Andara pedas. Dia merasa pantas untuk angkuh. Selama merantau, dia berjuang hidup tanpa melibatkan satu pun dari mereka, tanpa mendompleng apa pun dari nama keluarga, tanpa memakai seperser pun uang yang berhubungan dengan mereka. Dia orang yang merdeka.


Jovanka menelengkan kepala, tidak jadi naik ke mobil yang pintunya sudah terbuka otomatis. "Nggak usah sombong kali karena kau bisa nyari duit sekarang. Ingat kau bisa hidup karena siapa?! Kalau bukan karena bapak mertuaku, nggak jadi orang kau sekarang. Dasar Anak Preman, dari bibitnya saja sudah nggak baik," timpal Jovanka tajam lalu masuk dan menghempas badan di jok busa prestisius lagi elegan.


Jika tidak ingat bagaimana dirinya bersusah payah mengumpulkan serupiah demi serupiah untuk membeli boots incaran, mungkin sepatu yang terkulai di pinggir kakinya itu akan dilempar mengarah ke tempat Jovanka duduk sebagai akumulasi dari ketidakterimaan Andara. Namun, dia lebih menyayangi sepatunya sehingga membiarkan mereka pergi tanpa bereaksi sama sekali.

__ADS_1


Setelah menutup pintu, badannya luruh ke bumi. Semua keriangan sepanjang jalan bersama Kin dan Natha lenyap dalam sekejap. Tamu tak diundang datang seakan berusaha menariknya pada kenyataan bahwa dia memang tidak pernah ditakdirkan bahagia. Siapa yang bisa memilih lahir berayahkan preman? Dia bahkan tidak pernah melihat, mengenal dan bertemu dengan papanya sendiri. Siapa juga yang mau melihat mama sendiri meregang nyawa dengan mulut berbusa-busa? Kira-kira anak delapan tahun yang sudah ditinggal mati seorang mama, dijaga oleh Opungnya dan selalu dicemburui oleh yang lain, apakah akan kenal diajar? Wajar 'kan jika dia kurang ajar? Mereka tidak pernah menggantikan Causa dan membimbingnya. Lantas sekarang mengata-ngatai dia kurang ajar? Apa urusan mereka?! Dia memang kurang ajar; kurang diajari dan tidak selesai diajari oleh seorang ibu.


Andara melempar asal sandal jepitnya. Sandal itu terbang ke atas meja menghantam vas yang ada. Seketika rangkaian bunga itu jatuh ke lantai menimbulkan bunyi ricuh. Belum puas dengan pelampiasan yang ada, dia menendang kursi, menginjak-injak bantal kursi. Hasrat ingin merobek mulut Jovanka membuat Andara terasa kesetanan. Buku-buku tangannya memerah, namun Andara terus memukuli kursi dengan brutal. Enak saja mereka bilang dia Anak Preman. Belum tahu mereka bagaimana jika yang dibilang Anak Preman ini beraksi? Kerambit yang selama ini jadi gantungan kunci akhirnya terayun, mengoyak-ngoyak bantal, membuat kapas-kapas terpental pasrah ke udara.


Sekian lama dia membangun dunia barunya tanpa bantuan orang lain, merangkak tertatih sampai bisa berdiri setegak ini, lalu mereka datang untuk mengacak-acak lagi. Bedebah memang! Andara tidak memakai uang atau budi mereka. Buat apa mereka menginjakkan kaki di rumah ini? Selangkah kaki mereka memasuki rumah ini saja, sudah dianggapnya seperti melanggar teritori yang dia punya.


Erangan geram menggema di ruang tamu, Andara berusaha menyangkal rasa terbakar di ulu hati. Tidak, dia tidak akan membiarkan kehadiran mereka memengaruhi akal sehatnya. Mereka tidak punya andil untuk membuatnya terpuruk lagi. Mereka hanyalah keparat berlabelkan keluarga.


Berusaha meraup oksigen banyak-banyak, Andara menengadah, menumpukan tangannya di lantai agar bisa berdiri. Kakinya dipaksa berjalan ke dapur. Dia membuka kulkas, mencari apa saja yang bisa menyejukkan hatinya.


Air, mi instan, buah-buah yang mulai berkeriput dan sebotol Chivas yang isinya tinggal sedikit. Dia memilih yang terakhir sembari meraih seloki, menuang pelan cairan sisa pesta dan menegak dalam sekali teguk untuk membasuh kerongkongannya.


Hinaan-hinaan tadi masih menggema di kepalanya. "Anak degil," gumamnya terkekeh tawar. Setan itu yang degil, mulutnya tidak beradab. Si Jovanka itu belum pernah dibuat tersedak botol Chivas, mungkin, ya?


Seloki yang kosong diisinya kembali, meneguk segelas lagi. Apa tadi katanya? Nggak usah sombong karena sudah bisa cari uang? Oh, jelas itu patut disombongkan. Dia bukan mereka yang hidup hanya mengharap-harap dividen. Tidak ada dividen pun dia tetap hidup, tetap hidup. Selama ini juga dia tidak pernah menyentuh uang hasil dividen. Itu juga yang membuat Nia mendatanginya. Tantenya itu mungkin berpikir dia mati karena tidak pernah ada penarikan dana di rekeningnya.


Dia kembali terkekeh sambil menegak gelas ketiga. Mati pun dia tidak sudi berurusan dengan mereka. Biar saja dia mati tenggelam di lautan, meledak di udara, atau tertanam di kerak bumi sekalipun, asal tidak meminta bantuan mereka. Jika sampai tidak ada uang, dia lebih baik berutang atau berurusan dengan orang lain daripada keluarga. Ini hidupnya dan dia berdiri di atas kakinya sendiri. Dia orang bebas dan dia berani melawan. Terserah mereka menyebutnya pembangkang.


Sedangkan Kevin, dan Devina? Seketika Andara ingin meludah. Orang seperti itu yang mereka bangga-banggakan? Anak-anak terjajah yang tercocok hidung. Kaum lemah yang hanya bisa iya-iya saja ketika disuruh apa-apa. Besok jika disuruh terbang ke jurang pun mungkin akan menurut terbang, dan mati dengan murahan.


Andara meraih kotak rokok dan menyalakan sebatang, membuang asap dan muaknya ke udara. Anak liar katanya tadi? Ia mengembus kembali asap rokok dengan bulatan-bulatan serupa donat. Jovanka pikir anaknya, si Devina, itu suci?


Ia kembali tertawa miris. Cewek sombong yang berteman pilih-pilih, sok ekslusif tapi ternyata Bipolar bahkan sempat beberapa kali ingin bunuh diri. Menipu semua orang dengan berpura-pura patuh dengan perjodohan padahal di belakang sangat menentang, lalu tinggal kumpul kebo dengan seorang bule. Kalau Andara liar, deskripsi apa yang tepat untuk Devina? Apakah itu yang dibilang suci?


Dan Kevin? Cucu lelaki satu-satunya yang katanya penerus marga, yang katanya pintar dan menawan. Kebanggaan kedua orang tua karena sering memenangkan olimpiade. Kuliah di luar negeri nan tersohor dan digadang-gadang menjadi bibit unggul penerus pimpinan perusahaan. Sebentar, Andara ingin tertawa lagi. Mungkin keluarga Kalbir tidak tahu atau tutup mata kalau anaknya tidak lebih dari penjahat kelamin yang setiap minggu bisa berganti-ganti landasan. Lubang mana saja disikat, mau lubang buaya atau lubang semut. Waktu Andara SMP, dia pernah menemukan stok karet pengaman beraneka rasa di laci mobil Kevin dan juga bong di sela jok. Itu yang katanya baik?


Baik kepala otaknya itu!


Mereka hanya berlindung dari balik nama besar. Orang masih menghormati mereka karena nama Opung, BR Sitorus. Dan kebetulan marga itu juga menempel di nama belakang mereka, tidak seperti dirinya yang lahir dari anak perempuan Opung. Andara tanpa marga, tetapi syukurlah dia dilahirkan tanpa marga, tidak mendompleng seperti mereka.


Orang-orang berpikir Benzo Sitorus, papanya Devina, yang memiliki PT. Sawit Hijau. Aduh, Andara meringis geli. Sahamnya saat ini lebih banyak daripada milik Benzo, Kalbir atau Nia. Opung membelah saham menjadi 5 bagian. Setiap anak laki-laki, Benzo dan Kalbir, diberi 23% saham, sedangkan anak perempuan, Causa dan Hagania diberi 20% saham. Sisanya 14% diberikan kepada Andara, bukan Devina, bukan juga Kevin.


Saat Causa meninggal, saham itu turun ke Andara. Jika otak mereka berjalan, seharusnya mereka sadar, saat ini, porsi saham terbanyak atas nama dirinya. Andara Ratrie memiliki 34% saham PT. Sawit Hijau.


Oh, tetapi Andara tidak bangga apalagi berlagak sosialita. Ya Tuhan, di atas langit masih ada Hotman Paris. Di atas Hotman Paris masih ada Ibnu Sutowo. Memang Opung terkenal, siapa yang tidak kenal Baginda Raja Sitorus atau biasa dipanggil BR Sitorus? Akan tetapi, di atas BR Sitorus bahkan ada Sitorus-Sitorus lain yang lebih hebat, lebih kaya dan lebih membumi. Ada Martua Sitorus yang punya Wilmar, DL Sitorus yang punya lebih banyak kebun kelapa sawit. Mereka biasa saja, lho. Dan keluarganya? Baru punya perusahaan yang bisa menghasilkan CPO 1 juta ton per tahun saja sombongnya luar biasa. Orang-orang macam mereka ini yang nantinya bisa membuat buruk marga.


Andara bukan Devina yang ketika macet lalu meminta fasilitas helikopter agar bisa mendarat cepat di rooftop terdekat. Andara bukan Kevin yang menyogok aparat keamanan agar tidak tertangkap. Andara ya Andara, Andara yang tidak bermargakan Sitorus dan tidak pernah sekalipun menggadang-gadangkan nama Opung hanya untuk dihormati orang. Andara yang tanpa marga ini yang disayangi dan diajak Opung ke mana-mana, pergi mengunjungi kebun, meninjau replanting, membuka pabrik kelapa sawit. Andara hanyalah satu-satunya cucu yang mau ikut ke pedalaman hutan, sedangkan cucu yang lain merutuk-rutuk kepanasan. Lantas saat Opung menyayangi dirinya lebih dari cucu yang lain, mengapa mereka iri?


Mungkin kalau Opung masih hidup, dia akan mengusap dada melihat anak, menantu dan cucunya secongkak dan sedengki ini.


Mati saja mereka berulat hati!


Ia meneguk isi gelas yang entah sudah keberapa. Ia membakar rokok yang tidak ingat batang keberapa, mengembus asapnya tinggi-tinggi sambil memainkan seloki. Andara kembali tersenyum kecil, gelas kecil itu mengingatkannya tentang Opung.


Apa mereka percaya jika dia pertama kali menyesap alkohol dari sisa gelas milik Opung? Saat lelaki tua itu jatuh tertelungkup di meja dan sisa-sisa minuman masih ada beradu dengan es batu.

__ADS_1


Apa mereka percaya jika akhirnya Opung mengizinkannya minum dengan syarat hanya boleh minum ketika bersama lelaki itu dan tidak boleh minum di luaran?


Andara meneguk lagi isi seloki, pahit yang tercecap kali ini ditambah asin dari kedua matanya.


Mereka pasti tidak percaya jika dia bilang kalau antara dirinya dan Opung sering bercerita apa saja ditemani seloki yang dia main-mainkan ini?


Tentu saja mereka tidak percaya karena mereka tidak pernah seperti itu!


Andara menggenggam erat seloki kaca di tangannya. Hanya dia yang mengenal Opungnya, hanya dia yang memanggil asisten saat Opung jatuh tertelungkup, hanya dia yang menyeka wajah, tangan dan kaki Opung saat lelaki itu berkali-kali mabuk sambil memanggil nama Causa dengan menggumamkan maaf berulang kali.


Ke mana anak-anak, cucu-cucu yang lain? Mereka bahkan tidak pernah mengurus Opung di masa tuanya.


"Opung," gumamnya lirih. Dia rindu dipeluk lelaki tua itu kala Opung menceritakan tentang mama. Kata Opung, Causa cantik. Kata Opung, Causa hebat. Andara sendiri hanya bisa mengingat samar bagaimana muka mamanya berbekal foto. Jika orang bilang cinta pertama setiap anak perempuan adalah sang ayah, tidak untuk Andara. Cinta pertamanya adalah Opung.


Dan Andara tidak ingin memperebutkan harta Opung. Andara ingin Opung, bukan hartanya. Saat Causa pergi —yang kata orang bunuh diri, hanya Opung dunianya. Saat Opung akhirnya pergi juga, dunia Andara hilang. Cacian, hinaan juga cemoohan makin intens dia terima dan tidak ada lagi pelindung juga penghiburnya.


Botol Chivas sudah menungging di bibir dan sisanya ia teguk langsung tanpa seloki. Tiba-tiba Andara teringat Kaka; tetangga, teman main dari kecil yang berakhir menjadi pacarnya. Kaka pernah bersamanya menghadapi hari-hari suram ditinggal Opung, tetapi akhirnya Kaka juga pergi dengan selingkuhannya. Lagi-lagi, seorang Andara ditinggalkan.


Ia mengulas senyum getir. Ada ruang kosong di hatinya sampai saat ini. Kosong dan hampa, seperti botol Chivas di genggaman. Botol yang akhirnya dia lempar ke pojokan, beradu dengan dinding, berderak, menggelinding di lantai. Sayang kaca botol itu tebal, sehingga empasan Andara tidak memecahkan sang Chivas. Harusnya hatinya diganti kaca Chivas, agar kuat dan tidak sentimental.


Andara memejam. Ada lonjakan di dalam perutnya yang coba dia tahan. Ah, tetapi sulit. Ia beringsut ke bak cuci piring, mengeluarkan cairan asam di sana. Cukup banyak dan membuat pandangannya berkunang, juga badan keringat dingin. Dia bertumpu pada dinding tempat cucian piring sambil merintih.


Gila, dia mabuk berat sendirian. Natha belum pulang dan sebentar lagi dia ditemukan tewas di sini. Perutnya bergejolak lagi dan Andara kembali memuntahkan semuanya. Air dari mata dan mulutnya tumpah ruah.


Samar-samar dia mendengar langkah masuk. Natha mungkin sudah datang. Untungnya dia lupa mengunci pintu depan, jadi tidak perlu merayap ke ruang tamu untuk membukanya.


Andara masih membungkuk di sana ketika Natha menghampiri dan mengumpulkan rambutnya ke belakang, memijat lembut tengkuknya yang sedingin es. Sadar jika Andara tidak punya kekuatan lagi, Natha menyalakan keran dan membasuh muka Andara. Cewek itu juga memapahnya berjalan ke kamar sedang Andara yang terpejam hanya menurut saja. Dia hanya diam saat Natha memberinya minum, menggantikan baju, membenarkan bantal dan menyelimutinya. Paling-paling besok Natha akan menertawai dan mengejeknya sebagai wanita stres yang lagi patah hati.


Kepalanya terasa pusing dan kemaman lepas dari bibir Andara. Ia menyembunyikan mukanya di sela guling dan melepaskan pedih di sana.


"Ra, kenapa?" tanya Natha membuat Andara menajamkan telinga.


Tunggu, ini pukul berapa? Bukankah Natha siaran sampai tengah malam? Dan suara barusan bukan suara Natha.


Gulingnya ditarik dan tangan itu memaksa Andara menengadah. Ia membuka paksa mata untuk menatap penolongnya.


"Kamu kenapa?" Buana duduk di lantai, menyejajarkan pandangan dengan kepala Andara. Mata cowok itu mencoba mengais-ngais informasi.


Andara bungkam sebagai reaksi standar dari pertahanan diri. Namun Buana malah merengkuh kepalanya, mengusap pelan wajahnya dengan amat hati-hati. Seolah dia adalah boneka porselen yang akan hancur sebentar lagi.


"Pejamin matanya," bisik Buana. Tangan itu lalu menyisir pelan surainya, menciptakan gelombang kantuk yang menyenangkan. Cowok itu bahkan memberikan sebelah tangannya lagi sebagai ganjalan kepala Andara.


"Kenapa kamu selalu bikin khawatir, sih, Ra?"


Hening. Andara memilih berpura-pura tertidur meski hatinya terasa dicengkeram. Kali ini, untuk hari ini, dia terima pelukan itu tanpa satu pun umpatan terlontar baik di mulut ataupun hatinya.

__ADS_1


__ADS_2