
"Perpisahan bukan masalah tempat, ini perihal pamit."
🔥🔥🔥
Dalam sepuluh menit, tubuhnya sudah dibawa pergi di atas jalan yang sepi dan gelap. Andara menekur memandangi lampu-lampu jalan yang mengabur karena taksi melaju kencang. Sudah berapa lama ya dia tidak kembali ke Medan? Bisa dibilang selama dia kuliah di Jakarta, selama itu juga dia melupakan kota Medan. Tidak sekali ada niat untuk kembali, apalagi untuk melihat keluarga besarnya yang memuakkan. Andara mendadak menggaruk pelipis. Kenapa dia jadi mau kembali?
Setelah kejadian di rooftop, dia memang putuskan untuk menghubungi Nia dan mengabari kalau bersedia pulang. Dia kemudian mengisi permohonan cuti kuliah juga mengundurkan diri dari Best FM.Â
Kemarin menjadi hari terakhir dia siaran. Andara memandangi studio dengan tatapan dalam seperti mengucapkan selamat tinggal tanpa kata. Tangannya mengusap meja studio, mixer, mikrofon dengan penuh kasih hingga ditertawai Irvin. Hampir seharian dia berkutat di sana, mulai dari menontoni Duo TiTa siaran, membuat laporan untuk serah terima pekerjaan, menyelesaikan skrip yang akan digunakan Indiebest dan Reload sekaligus mencetak surat pengunduran diri. Andara tahu resign mendadak sangatlah tidak profesional, tetapi dia yakin Best FM tidak akan timpang tanpanya. Penyiar radio itu ada belasan sehingga dengan satu atau dua penyiar reguler yang tidak siaran, tidak akan berpengaruh. Dia sempatkan berpamitan dengan petinggi radio itu juga dengan Duo TiTa yang banyak membantunya selama ini. Di dalam hati, dia yakin pasti akan merindukan Best FM, merindukan atmosfir tegang saat dimarahi, merindukan keramaian nan gaduh saat berkumpul, merindukan siaran dan membaca request juga merindukan acara-acara off air yang selalu spektakuler dan memukau.
Mungkin benar kata Vina, yang dia perlukan sekarang adalah rehat. Andara merasa kelelahan dengan semua. Tubuhnya hanya pasrah mengikuti putaran arus, menjalani dengan terseok-seok, kadang berusaha tersenyum, sering berusaha menahan tangis yang tiba-tiba datang lalu tersenyum kembali dengan linangan air mata. Dan benar, bunuh diri tidak menjawab semuanya. Ada banyak pertanyaan yang belum terjawab, yang tidak ditemukan jawabannya ketika dia hendak melompat dari rooftop.Â
 Â
Kepergian Buana menyisakan ruang kosong besar menganga. Waktu kadang terasa berjalan cepat, tiba-tiba sudah pagi sedangkan dia bahkan belum berhasil tidur atau belum beranjak dari duduk terdiam. Kadang kala, waktu terasa sangat lama padahal dia sudah mengerjakan banyak hal. Dia sudah mandi, sudah makan, sudah menyapu, sudah memberesi kamar dan semua itu hanya membuat jarum panjang bergerak 30 menit dari asal. Dia seperti berada di dunia yang aneh dengan putaran waktu yang tidak bisa dimengerti. Parahnya lagi, setiap orang terlihat biasa saja, hanya dia yang kesusahan mengikuti aliran itu.
Vina berkata kalau dia boleh sedih tetapi tidak boleh terus-terusan, ketika dia dan cewek itu menyusuri jalanan untuk mencoba berbagai jajanan. Menurut cewek itu, Andara tidak boleh hancur sebab Buana pasti terus melihat meski tidak terlihat. "Andara yang gue tahu itu cewek yang kuat dan belakangan ini gue kayak nggak melihat Andara yang gue kenal. Percayalah, Tuhan punya alasan untuk semua ini,"Â ucap Vina yang masih diingat Andara hingga sekarang.
Air mata yang kembali mengalir di sela pipi, diusapnya. Taksi yang ditumpangi Andara sampai di terminal 3 Soetta pukul empat pagi. Dia turun dan menyeret kaki menuju executive lounge setelah check in. Tiket bisnis yang dikirimi Nia memiliki akses ke tempat itu. Sayang jika dilewatkan.
Suasana bandara masih lengang begitu pun executive lounge. Dia hanya tertarik mengambil segelas kopi guna mengganjal kinerja mata yang masih terasa berat. Berbagai penganan yang disajikan tidak menggugah selera makannya. Tempat ini sunyi dan dingin, sama kosong seperti hari-harinya. Ada satu dua pengunjung yang sibuk dengan laptop masing-masing.
Langit yang masih hitam tampak dari kaca-kaca besar, dipandanginya itu sembari mengaduk kopi panas. Tidak ada apa-apa di langit, juga tidak ada apa-apa di bumi. Seluruhnya gelap.
Seorang Besties pernah bilang tidak menyukai bandara, sebab aura perpisahan sangat kental di terminal keberangkatan. Yang lain malah berpendapat aura perpisahan paling mengerikan adalah di rumah sakit. Namun, menurut Andara, perpisahan bukan masalah tempat. Perpisahan yang terperih ialah perpisahan tanpa kalimat penutup, tanpa kata selamat tinggal atau selamat jalan. Seperti Buana, pergi tanpa pamit, tanpa pernah berkata apa-apa.
Andara mengerjap pelan, ada gemuruh yang masih suka sekali bermain di ujung mata jika ingat cowok itu. Dia merasa hidupnya sepi dan semua berjalan seperti roda pedati yang telanjur berputar. Empat belas hari kepergian Buana dan dia selalu menanyakan takdir. Dia selalu bertanya kenapa dia yang dipilih untuk menjalani semua kisah ini? Jika ini takdir, mengapa takdirnya seperti ini? Semua terasa tidak adil. Kepahitan demi kepahitan terus menimpa. Mengapa dia lahir tanpa mengenal ayah? Mengapa mama bunuh diri?
Harum adukan kopi menyeruak penciuman. Dia menghirup aroma kopi sebelum kemudian diteguk. Pikirannya masih berkelana ke mana-mana. Mengapa Opung selalu meratapi nama Causa ketika mabuk? Sebagai pemabuk, Andara paham sekarang, orang mabuk adalah orang yang acap kali jujur. Bibir itu meringis sedikit ketika menyesap kopi lagi. Dia ingat bagaimana sang mama dirisak keluarga. Dia ingat bagaimana mata orang-orang itu menatapnya seolah berasal dari sampah. Kenapa juga dia mesti dilahirkan? Bukankah dengan tidak melahirkan dia, mama tidak akan dilecehkan oleh keluarga?
Belum lagi pertanyaan tentang Buana selalu memenuhi kepala. Kenapa Buana pergi ketika dia belum sempat meminta maaf? Kenapa Tuhan setega ini kepadanya?Â
Pandangannya turun ke kopi di dalam gelas. Hitam dan pekat, sama seperti hidupnya. "Tapi kenapa banyak orang suka kopi, ya?" gumam Andara pelan.Â
Dia kemudian teringat Kin dan tersenyum kecil. Cowok itu kan suka sekali dengan kopi. Apa kabar Kin, sekarang? Apa masih suka kopi? Kopi dan bandara, merupakan dua hal yang mengingatkan kepada Kin sebelum berpisah terakhir kali dengan status pacar. Setelahnya, pesan-pesan mereka menjadi basi dan kata putus keluar sebagai penyelesai semua mimpi.
__ADS_1
Kin juga pernah bilang kalau sesuatu yang berharga akan tetap berkilau meskipun dalam gelap. Senyum tipis di bibirnya belum pudar. Dulu, dia berharap banyak kepada Kin. Sempat melupakan perasaan juga dengan Buana. Seandainya dia masih berpacaran dengan Kin, bagaimana ya? Apa dia akan kembali ke Medan? Apa Rossa tetap akan membalas Buana? Apakah Buana akan tetap meninggal dunia?
Dia menimang-nimang ponsel, rasanya ingin mengirim Kin pesan sekadar menanyakan kabar. Namun, hati kecilnya sadar itu seperti memberi harapan kepada Kin. Padahal hati dia sendiri tidak berbentuk, saat ini. Memberi harapan tanpa kepastian itu jahat, jantung manusia hanya satu, dan berharga mahal di pasar gelap.
Kepalanya masih saja bertanya-tanya dengan banyak perandaian lain. Untunglah panggilan dari maskapai menyadarkan dari serbuan-serbuan pertanyaan yang dia sendiri bingung jawabannya. Seusai menandaskan kopi, dia bangkit dan menuju jalur khusus yang disediakan untuk penumpang bisnis. Langit masih gelap, tetapi ada yang terlihat berkedip-kedip di ujung cakrawala. Andara memasuki pesawat yang masih lengang dan menaruh badan di bangku empuk berwarna merah marun. Jus apel yang diberikan pramugari hanya diteguknya sedikit. Dia mengusap wajahnya dengan handuk hangat dan syukurlah, handuk hangat itu sedikit memberi efek menenangkan.
Di sebelah, duduk seorang perempuan muda, kira-kira berumur tidak jauh darinya dan sedang memangku seorang bayi kecil yang masih terlelap. Wajar saja, ini masih pukul lima pagi. Mata dia dan perempuan itu bersirobok. Mau tak mau Andara sedikit menyunggingkan senyum lantas sibukkan diri dengan membenarkan letak bantal agar nyaman sebelum pesawat lepas landas.
Ketika pesawat berjalan di landasan dan mengantri hendak terbang, bayi di sebelah mulai merengek gelisah. Andara mendengar itu dengan jelas sebab penumpang tidak diperbolehkan menghidupkan perangkat elektronik saat akan terbang. Tangis bayi itu makin lama makin besar dan sang ibu terlihat panik. Perempuan itu mungkin ingin berdiri menimang-nimang tetapi seluruh penumpang harus duduk mengenakan sabuk pengaman. Andara hanya mendengar desisan sang ibu sambil berusaha menyusui dan menepuk pelan bayinya agar tenang.
"Maaf ya, Mbak, jadi berisik tadi," ujar perempuan itu ketika sang bayi kembali tenang dan pesawat sudah berada di udara.
"Nggak apa-apa, kok." Andara mengedik pelan sembari meraih headset yang tersedia. Dia ingin mendengar lagu saja untuk menemaninya agar tertidur.
"Masih kuliah, Mbak?" tanya perempuan itu memperhatikan Andara.
Andara mengangguk pelan dan merasa tidak perlu menjelaskan keadaannya yang baru saja mengambil cuti. "Masuk semester enam."
"Oh, seharusnya kita sama, tapi waktu hamil dan lahirin dia. Saya jadi ambil cuti kuliah." Perempuan itu menyebutkan nama sebuah kampus yang terkenal dengan jurusan Public Relation. Tanpa Andara minta perempuan menceritakan keadaannya seolah menebar rahasia pribadi tidak akan merugikan diri sendiri. "Saya dulu diperkosa sahabat saya dan hamil bayi ini," tutur perempuan itu pelan.
Bukan maksud Andara hendak mengabaikan peraturan yang berlaku dengan menyuruh perempuan ini untuk mengaborsi bayinya, tetapi dalam undang-undang kesehatan, pengguguran bayi terhadap korban pemerkosaan diperbolehkan apabila menyebabkan trauma psikologis. Dengan kata lain, korban didampingi konselor yang kompeten dapat mengajukan permohonan menggugurkan bayi. Itu pun dengan umur janin maksimal 40 hari dari haid terakhir sang ibu.
"Bulan-bulan pertama saya depresi banget waktu tahu saya hamil, tapi saya nggak bisa untuk menggugurkan bayi. Bayi ini nggak salah." Mata bening di sebelahnya berkaca-kaca, seperti piring mengkilap yang retak. "Lagi pula, sebenarnya saya itu cinta sama dia. Dia aja yang nggak tahu perasaan saya."
"Jadi, walaupun dia hilang dan nggak mau bertanggung jawab, nggak apa-apa, mungkin takdir saya udah begini," tambahnya terlihat berusaha tegar.
Andara menaikkan kedua alis. Takdir? Sesuatu yang masih bisa dipilih kan bukan takdir? Maksud dia, perempuan ini bisa memilih tetap hamil atau menggugurkan bayinya. Kenapa berkata ini takdir? "Well, kamu masih bisa memilih sebenarnya."
Perempuan itu diam, lalu memandangi muka sang bayi. Tangannya mengusap pipi yang terlihat tembam. "Iya, benar. Dulu saya mau aborsi, tetapi saya nggak berani. Apalagi perut saya makin hari makin besar dan tiba-tiba dia bisa tendang saya. Setiap pergerakan dia, buat saya sadar kalau ada makhluk nggak berdaya yang harus saya lindungi. Bayi saya nggak bersalah, dia bahkan nggak bisa memilih untuk lahir dari rahim seorang pendosa atau pendoa."
Tenggorokan Andara terasa tercekat. Perempuan ini seperti mengingatkan dia akan sang mama.
"Saya udah pasrah aja, Mbak. Dibilang orang apa, digosipin apa, bodo amat. Yang penting bayi saya sehat dan bahagia. Mereka nggak akan tahu rasanya jadi saya kalau belum pernah mengandung beneran. Makanya saya bawa anak saya pergi jauh dari Jakarta."
Tangan perempuan itu mengusap kepala sang bayi dengan penuh kasih. Meskipun masih muda, ada karakter keibuan yang hadir dari cara berpikir perempuan itu. Mungkin jiwanya sudah ditempah untuk mengikuti takdir, bukan seperti dia. "Sekarang, saya bersyukur karena dipercaya Tuhan punya anak. Tugas saya adalah berusaha memberi yang terbaik untuk anak saya supaya anak saya tumbuh besar dengan baik, dan terdidik."
__ADS_1
Rasanya Andara ingin mengenakan headset yang sedari tadi dia pegang. Hatinya terlalu lemah mendengar cerita seperti ini dan berusaha mengalihkan pembicaraan. "Ke Medan ngapain?"
"Dapat tawaran kerja yang gaji dan fasilitasnya lumayan. Saya bisa nabung buat anak kelak."
"Terus anaknya?"
"Saya sewa pengasuh, Mbak. Kebetulan mes saya dekat dengan kantor. Bisa didatangi waktu jam makan siang."
Andara mengangguk-angguk. Pembahasan sudah kembali santai, hanya sesekali berjawab-jawaban. Tak lama, perempuan itu sudah tertidur dengan bayinya. Kantuk Andara malah hilang. Dia mulai menyetel musik sembari menarik napas dalam. Ternyata, ada yang lebih parah dari dia, banyak yang lebih mengenaskan dari dirinya dan tetap bertahan hidup.
***
"Hai, Ma. Dara pulang," sapanya sembari duduk di bangku semen yang terlapis marmer berwarna putih. Setelah pesawat mendarat, supir yang menjemput dia minta untuk tidak masuk jalan tol. Andara meminta disinggahkan ke makam keluarga yang berada dalam satu kawasan dengan sebuah masjid di daerah Tanjung Morawa, daerah perlintasan sebelum memasuki kota Medan. Di makam keluarga itu ada makam Causa dan Opung. Sebelum mendatangi makam Causa, Andara sudah lebih dahulu menyapa sang Opung.
Dia diam cukup lama dengan dada yang meronta-ronta. Tak lama, sebutir air mata yang ditahan sedari di pesawat tadi, jatuh. "Dulu, aku pernah tanya sama langit. Kenapa aku mesti dilahirkan di dunia? Kenapa juga Mama nggak aborsi aku aja? Kenapa aku mesti hidup tanpa bisa ingat gimana muka Mama? Kenapa aku ada sedangkan aku sama sekali nggak kenal Papa?"
Diusapnya buliran bening yang terasa hangat di pipi. Semenjak percakapan dengan perempuan yang ada di bangku samping, tadi. Andara menjadi paham mengapa sang mama mempertahankan dan melahirkan dia ke dunia.
"Tapi kemudian aku sadar, kenapa aku ada. Aku nggak mungkin tahu gimana kehidupan kalau aku nggak hidup kayak sekarang. Aku nggak bakal kenal sama Mama kalau aku nggak lahir. Iya, 'kan, Ma?" isaknya pelan.
"Makasih udah mau mengandung dan lahirin aku. Walaupun aku nggak ingat kenangan kita berdua, nggak ingat kapan terakhir dipeluk Mama, tapi nggak apa-apa. Karena kasih sayang Mama, aku bisa ada di dunia ini."
Andara memegang dadanya yang sesak. Dilabuhkan semua kesedihan di pusara sang ibu seolah sedang berbicara langsung. "Maaf, kalau sampai sekarang, aku nggak bisa bikin Mama tersenyum di sana. Aku anak yang gagal, Ma. Aku tahu Mama dan Opung pasti marah kalau lihat kelakuanku dari sana. Maafin aku, Ma. Aku janji, aku akan selalu kuat. Aku janji nggak akan bikin Mama kecewa lagi sama aku."
Pualam putih yang menyelubungi makam kedua orang yang disayanginya itu tampak bersih dan terawat. Kerikil putih yang menutupi tanah juga sangat rapi meskipun makam ini sudah lama tidak dia kunjungi. Ada orang kepercayaan keluarga yang ditugaskan mengurusnya. "Mungkin selama ini aku nggak pernah kasih tahu ini, Ma. Aku sibuk merutuki kejamnya dunia atas kekecewaanku. Aku sibuk memaki semua karena kekalahanku. Aku lupa untuk bilang kalau aku sayang Mama. Aku sayang Mama ... sampai kapanpun. Maafin semua kesalahan aku, Ma."
Dia menarik paksa bibir untuk melukiskan senyum dan menghentikan tangis. Hidupnya sudah terlalu banjir air mata, belakangan ini. Bahkan kadang, Andara merasa dia perlu berkonsultasi ke profesional sebab dia sendiri tidak mengerti apa yang terjadi dalam dirinya. Dia marah, dia kehilangan, dia sedih, merasa tertekan, kesepian juga mengalami gangguan tidur. Tidak, dia tidak ingin gila. Karena itu dia ingin beristirahat dari semua.
Matahari semakin tinggi, pukul setengah sembilan pagi saja sudah terasa panas. Dia kemudian berpamitan dengan sang mama. "Ma, aku ke rumah dulu, ya. Aku baru aja sampai soalnya. Lain kali, aku janji bakal sering kunjungi Mama dan Opung. Oh, iya, kalau di sana Mama kenal sama cowok yang mukanya kelihatan sombong dengan nama Buana Semesta. Jangan pikir kalau dia itu beneran sombong. Aslinya, dia itu baik, Ma. Dia yang bantu aku selama di Jakarta."
Andara berdeham pelan, menyingkirkan sedih yang kembali datang. "Dia itu orang yang aku sayang juga. Kirim salam ke dia, ya, Ma. Aku kangen banget sama dia. Kangen banget sama Opung. Aku kangen kalian bertiga pokoknya. Jangan lupa sampein ya, Ma."
"Namanya Buana Semesta, bukan Buana yang lain. Buana Semesta," ulang Andara sembari menyebutkan nama Buana lengkap dengan penekanan. Kakinya lantas berdiri dan mengusap sekilas kepala nisan. "I love you, Ma."
🔥🔥🔥
__ADS_1