Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Absolutely Knackered


__ADS_3

"Saya menanggung semuanya karena kita."


🔥🔥🔥


"Makanya kalau mau bohong itu jangan tanggung-tanggung. Madol yang jauhan dikit, kek. Ini madol ke Singapur, ya ketemu." Tirto terkekeh mengejek Andara. 


"Nggak pro dia, To. Coba lo ajarin dulu caranya kabur." Tata mengedikkan dagu. 


Tirto duduk bersedekap dengan gaya jemawa. Dia benarkan blankonnya sebentar lantas batuk sedikit seolah akan memberi petuah penting. "Jadi gini ... kalau mau kabur itu ke tempat yang jauh sekalian. Ke Timbuktu, ke Lesotho, ke Manokwari gitu. Nah, jangan ke Singapur atau KL, itu sih tempat orang Jakarta lunch."


"Bang, udahlah." Andara mendesah sembari berjongkok memeluk kaki. Sedari tadi dia belum beristirahat. Semenjak diturunkan SP II untuk Andara, dia diberi banyak tugas dan jabatan. Mendadak jadi Asisten Produser Duo Ti-Ta, mendadak kembali menjadi Creative Production-nya Indiebest, dan dia juga diamanahkan untuk memegang event mahabesar yaitu ulang tahunnya Best FM. Terlihat hebat? Bagi kacamata orang luar mungkin seperti itu, tetapi ini hanyalah kerjaan yang menyita energi karena sesungguhnya semua hanyalah proyek thank you. Masih mending kalau ada ucapan thank you, terkadang skrip yang dia buat masih diprotes dan disalah-salahkan oleh Mbak Inka. Belum lagi kalau acara tersebut memerlukan jingle dan teaser, Andara terpaksa bolak-balik ke ruang produksi untuk bujuk orang produksi membuatkan keperluannya selekas mungkin.


Belum lagi dia berusaha mengejar ketertinggalan materi kuliah, minggu ini adalah minggu-minggu UAS. Ada paper yang belum diselesaikannya dan harus dikumpul sebelum ujian. Dua puluh empat jam terasa sangat kurang untuk Andara. "Apes amat nasib gue," keluh Andara menggaruk kepala.


Tirto tertawa keras di antara lagu terdengar di studio. "Lain kali makanya konsultasi dulu sama Mas, Adik maunya gimana. Biar Mas kasih jalan keluar."


Andara melengos malas sembari meluruskan kaki di lantai studio. Dia merapatkan jaket yang dipakai dari semalam karena kedinginan. Setelah semalam mengerjakan banyak materi hingga harus menginap, paginya dia wajib memantau Ti-Ta siaran. Setiap hari kecuali jika ada jadwal kuliah! Itu pun tidak mudah sebab Andara sudah diminta memberikan jadwal kuliah yang terstempel basah dari bagian jurusan untuk bukti ke Best FM. Bang Rodi tidak memercayainya lagi. 


Tata menimpali. "Halah, Andara ini sok lugu aja. Lo bisa gonta-ganti pacar dengan cepat, masa bohong yang kemarin nggak terencana matang. Lo harusnya bilang kalau Opung lo dirawat di Singapur."


"Ya, tapi ... tetap aja beda. Antara rumah sakit sama Sentosa Island itu bedanya jauh, Ta!" gelak Tirto makin keras. 


"Bilang aja yang sakit pengin refreshing, jadi lo temani ke Sentosa."


"Yang sakit mau dugem?" cela Tirto terbahak-bahak. "Bego, sih! Orang sakit mah pengin sembuh, bukan pengin dugem empet-empetan kena angin laut. Cepat metong yang ada."


"Bisa bahas yang lain aja, nggak? Lo pada kayaknya bahagia banget di atas kesusahan orang lain," sungut Andara. 


"Iya, udah." Tata mengakhiri pembahasan yang sering mereka bahas seminggu terakhir. "Lain kali, kalau mau dugem lo cosplay makanya, pakai wig kek, pakai cadar kek, pakai topeng kek."


"Baaaang!" Andara melempar pena ke arah Tata. Dua orang itu tidak bisa berhenti tertawa hingga Tirto terpaksa memutar satu lagu lagi untuk tambahan karena belum bisa berbicara. 


"Materi hari ini bahas apa, Ra? Bahas white or black lies aja gimana?" Tirto meringis-ringis geli sambil membaca skrip yang sudah dicetak Andara. 


Andara menggeleng. Dia sudah beberapa kali revisi skrip yang dicoret-coret Mbak Inka. "Nggak, hari ini bahas tentang seberapa berpengaruhnya medsos dalam kehidupan anak muda."


"Ah, nggak asyik." Tata membaca skripnya sekilas. "Gini aja, bahas gimana medsos bisa memberitahukan kebohongan seseorang? Atau gimana caranya mengintai medsos dan mencocokkan fakta kalau lo sedang ditipu?"


"Terus, Bang... Terusin aja nyindirnya."


"Eh, tapi ... gue akhirnya ngeh deh sama foto siluet cewek di IG-nya Kin. Itu lo, 'kan?" Tirto kembali tertawa nyaring. "Berarti beneran lo nggak balik ke Medan tapi ke tempat Kin."


"Nah... Gimana? Bahas itu aja?" Tata tiba-tiba bersemangat, diiringi anggukan Tirto dan tanpa menunggu jawaban Andara, cowok itu langsung open mic. "101 Best FM, The Best Hits Radio Station. 5 SOS - Lie To Me. Kalau ngebahas tentang kebohongan, memang nggak ada matinya ya. Sadar atau enggak, kalau lo terlalu percaya sama seseorang, lo akan kecewa ketika dibohongi."


Tirta menambahi, "Yes, siapa sih yang nggak kecewa waktu tahu dibohongi? Tapi, tenang Besties. Kali ini gue dan Tata akan ajari bagaimana caranya agar lo nggak mudah dibohongi. Sebelum itu, kami mau dengar dulu dong pengalaman Besties yang pernah bohong dan ketahuan. Ditunggu smsnya di 0811-116-BEST atau mention Twitter @BestFM biar nanti Irvin telepon balik kalian."


Andara menggumam kesal. Bisa-bisanya Duo Ti-Ta mengganti topik sesuka hati padahal dia mati-matian menyusunnya.

__ADS_1


"Sekadar cerita nih, To. Gue kan punya teman. Nah, jadi dia tuh bohong. Dia ngarang cerita kalau dia cuti untuk kunjungi keluarga yang sakit di luar kota," tutur Tata menahan tawa.


"Terus, terus?" tanya Tirto mengabaikan muka Andara yang keberatan.


"Selama dia pergi, aman. Eh, tiba-tiba waktu pulang, nasib apes. Dia ketahuan kalau nggak jenguk keluarga sakit tapi pergi beach party. Asoy geboy! Tarik, Mang!" Tata terkekeh karena Tirto langsung memutarkan backsound musik berketukan tinggi.


"Joget aja lo. Lanjut! Terus habis ketahuan gimana?" sela Tirto memotong refrain lagu.


"Ya, apeslah. Kena SP, terus kerjaannya ditambahin sampai lupa pulang, lupa makan, lupa tidur." Mereka berdua lalu pecah dalam tawa. "Kalau kalian gimana, Besties? Udah pernah ketahuan berbohong apa aja dan konsekuensi apa aja yang lo tanggung dari kebohongan itu?"


"Oke, kami tunggu pengakuan kalian sebelum kami kasih tips-tips ngaco yang bermanfaat agar tidak mudah dibohongi," ujar Tirto asal. "Untuk menghangatkan pagi yang dingin ini, ada Aaliyah Massaid - Berharap Tak Berpisah."


Andara rasanya ingin marah sekaligus tertawa miris, apalagi saat Tirto dengan sengaja memutar remake lagu Reza Artamevia yang sering dijadikan olok-olokan clubbers. Dia beranjak bangkit dari rebahan dan memutar kursi Tata kuat-kuat sebelum keluar studio. Diperiksanya ponsel, tidak ada pemberitahuan apa-apa. Pesannya kemarin belum dijawab Kin. Apa pacarnya belum bangun? Di Johor kan sudah pukul sepuluh pagi saat ini. 


Ada yang berbeda dari Kin setelah ditolaknya, malam itu. Seperti ada yang disembunyikan, cowok itu agak asing dan tatapannya dalam. Entahlah penyebabnya karena apa. Semoga bukan dari ego dan gengsi yang runtuh karena tidak mendapatkan apa yang cowok itu mau, dan sepertinya Kin bukan tipe cowok seperti itu. Andara menimang-nimang ponsel, berpikir apa sebaiknya menelepon Kin saja saat Natha masuk ke ruang tengah.


"Woy, manusia nomaden! Hebat ya lo kagak pulang-pulang," celetuk Natha sambil duduk di samping Andara. 


Andara memutar-mutar ponsel di meja. Seandainya bisa pulang, dia tentu tidak akan menginap di sini. "Urusan gue kagak kelar-kelar, kampret. Mana jam 11 ini gue ada ujian. Baju gue jadi lo bawain 'kan?"


Natha menyodorkan bungkusan plastik ke Andara. "Minta loker khusus aja lo buat taruh baju sama peralatan mandi. Lo jadi sering nggak pulang gini," decak Natha memperhatikan keadaan Andara yang terlihat lunglai. "Itu mata lo bukan panda lagi, saking lingkarannya hitam gitu."


Andara terkekeh garing sambil sesekali melirik layar ponsel. "Eh, Kin ada tanya gue nggak sama lo?"


Natha menggeleng. "Ya kali, ngapain dia tanya lo ke gue lagi?! Lo berdua kan udah jadian."


Tawa pelan terdengar dari sebelah Andara. Layar ponsel Natha diarahkan pemiliknya ke arahnya. "Deni ini memang ada sinting-sintingnya. Lihat deh gaya dia. Kok bisa lah si Diska tahan, ya?"


Andara memperhatikan foto yang Natha tunjukkan. Foto belasan orang sedang duduk, dan juga ada yang berdiri di belakang, seperti foto sekumpulan orang-orang dalam satu lingkar pertemanan. Selain Deni yang bergaya absurd, Andara melihat Diska dan juga Kin di barisan orang yang berdiri. "Ini foto apa?"


"Reuni SMA kecil-kecilan di Singapur. Gue diajakin anak-anak, tapi mereka mendadak banget bilangnya. Gila aja." Natha tertawa kecil. "Seram mau ngarang alasan ntar kejadian kayak lo, gawat."


Reuni? Singapura? Andara menaikkan alisnya. Kin sedang reuni SMA di Singapura? Andara saja tidak tahu, dan tidak diberi tahu. Matanya kembali ke layar dan menemukan sosok yang pernah dia mata-matai Instagram-nya. Refleks, kelopak matanya memicing. "Ini si Ririn-Ririn itu, 'kan?"


Pertanyaan Andara membuat Natha membulatkan mata, lantas menoleh ke foto. Teman serumahnya itu seperti kaget kalau Andara tahu sosok Ririn dan lebih dahulu mengklarifikasi. "Iya, Ririn. Tapi lo jangan mikir aneh dulu. Kami semua kan dulu sekelas. Gimanapun mereka tetap temanan lah."


Berteman dengan mantan? Andara tertawa berdengkus. "Lo kenapa nggak minta izin aja? Izin sehari dua hari gue rasa nggak papa, sih. Lo minta ke Bang Anco supaya tukeran jadwal ke gue. Biar gue yang gantiin lo," ujar Andara mengakhiri tawa sinisnya.  Seandainya Natha ikut kan dia bisa tanya informasi tentang Kin.


"Ya udahlah, reuninya juga udah kemarin, kok." Natha mengunci ponsel. Pandangannya menerawang ke langit-langit. Di ruang tengah hanya ada mereka berdua dan Irvin di dekat pintu masuk. "Lagian gue bokek, Ra. Mereka mana tahu gue yang sekarang nggak kayak dulu. Buat makan, bayar kontrakan, bertahan hidup aja susah. Ya, sesekali masih punya uang lebih buat nge-Splash aja udah untung. Yang tahu sikon gue sekarang cuma Kin, sama Deni aja nggak gue ceritain," gumam Natha tersenyum pedih.


Ditinggal seseorang yang membiayai hidup Natha sampai SMA tentu pukulan telak untuk cewek itu. Papanya Natha hilang tidak tahu rimbanya, dan mama Natha sekarang seperti orang aneh yang kerjanya melamun lalu marah-marah. Wanita itu sekarang ada di Yogya, dititipkan Natha kepada keluarga sang mama.


Andara diam. Dia tahu lukanya Natha. Cewek itu bahkan bersumpah akan menyusul pria tidak bertanggung jawab itu ke negaranya, Jerman. Namun, mencari orang tentu tidak semudah itu. Apalagi hanya berbekal nama tanpa alamat sama sekali di negeri yang tidak pernah dikunjungi.


Bagi teman-teman sekolah Natha yang berasal dari salah satu SMA swasta tersohor di Jakarta, untuk berkumpul di Singapura memang hal yang mudah. Tamatannya pun rata-rata melanjutkan kuliah di luar negeri. Namun, berbeda dengan Natha. Situasinya sudah tidak sama. Natha yang sekarang adalah Natha yang jatuh bangun mencari penghidupan yang layak untuk dirinya sendiri. Kadang Andara berpikir, serigala-serigala betina yang ada di The Wolves adalah makhluk pesakitan yang tersingkir tak dianggap. Rossa yang ditinggalkan ayahnya berpaling ke pelakor, Natha yang juga ditinggalkan tanpa kabar dan dia yang sama sekali tidak mengenal siapa ayah dalam kehidupannya. Mereka hanya bisa menertawai kejamnya dunia.


"Iya, sih. Memang nggak semuanya juga mesti lo ikutin kok, Nath," ujar Andara pelan. Setiap orang memiliki medan tempurnya sendiri. Lain masalah hidup dia, lain pula masalah hidup Natha.

__ADS_1


Natha mengangguk, menoleh ke arahnya sambil mengawangkan alis. "Kata Ocha, duit sepuluh jeti itu mau lo balikin ya ke si Buana?"


"Udah gue balikin malah."


"Sayang banget, Ra," desis Natha. Seandainya dia yang mendapat uang itu, tentu bisa dia sisihkan sedikit agar bisa reunian di Singapura.


"Kita juga nggak tahu, dia dapat dari mana duit itu. Kalau hasil ngegarong gimana? Terus waktu polisi periksa rumah kita, gue yang pegang barang bukti lagi." Andara menurunkan punggung ke sandaran kursi, membuat badannya setengah tertidur.


Mau tak mau, Natha terkekeh kecil sambil mendorong kepala Andara. "Geblek sih pemikiran lo!"


"Ya kan siapa tahu?"


"Eh, bodoh! Kata Putra, bokapnya Buana itu pejabat. Ya banyaklah duitnya. Lo aja yang terlalu lurus untuk nggak memanfaatkannya." Natha membuka komputer dan mulai mencetak skrip yang akan dipakainya siaran pukul sepuluh ini. "Nggak mungkinlah dia ngerampok. Palingan nyolong isi brankas bokapnya."


"Bedanya apa ngerampok sama nyolong?" Kali ini Andara yang mendorong kepala Natha. Cewek itu tertawa lepas, seolah duka yang tadi hinggap sudah hilang bersamaan dengan tawa yang mengudara.


"Duh, gue kangen ditraktir piza sama Buana," celetuk Natha masih ada sisa tawa. "Kin jahat, Bvlgari Omnia gue nggak dibeliin."


Andara mendorong kembali kepala Natha yang sedang sibuk dengan kertas di tangan. "Matre lo!"


"Realistis gue, realistis!" balas Natha heboh, dan langsung mengecilkan suara saat Irvin memperingatkan dia. "Lagian gue kan udah sering bantuin Kin dari dulu," sungutnya.


"Bantuin apa?" Andara mengernyit.


Natha menarik bibirnya melengkung ke atas. Senyum itu sudah seperti Joker. "Kasih info tentang lo."


"Hah?" Andara mencengkeram lengan Natha. "Lo kasih info apa? Parah amat!"


Irvin kembali berdeham dari sudut tetapi tidak dipedulikan mereka berdua. Natha menaikkan tangan ke udara. "Tenang, tenang. Gue mah kasih info yang aman. Nggak ada sekalipun gue kasih tahu tentang lo sama Buana. Dulu, Kin itu sering tanya kita lagi di mana, ngapain, sama siapa aja terus kalau tahu kita berdua, dia mau nyusulin kita. Ya udah, lumayan kan ada yang antar jemput gratis secara kita nggak ada kendaraan."


"Benar lo nggak ada cerita yang Buana datang ke rumah itu? Atau yang gue nginap di tempat Buana?"


"Nggak ada, ya. Gini-gini gue nggak selaknat yang lo pikir, Ratrik!" Natha membereskan kertas-kertasnya ketika mendengar Duo Ti-Ta closing. Cewek itu menggulung kertas dan mementung Andara pelan sebelum masuk ke studio.


Andara perlu menarik pasokan oksigen untuk paru-parunya. Pengakuan Natha tadi menggenapi tuduhan yang pernah didengarnya dari Buana. Jadi, apakah Kin memang ada maksud lain berteman dengannya dahulu? Kok dia sampai tidak merasa, ya? Setidak peka itukah dia, tidak tahu kalau Buana mengintainya, tidak tahu kalau Kin memperhatikannya?


Sudahlah. Andara meraih plastik bawaan Natha dan mengambil satu kemeja. Sembari menenteng tas, Andara menuju satu kamar kosong yang ada di deret atas lantai dua ini. Tempat penyiar bermalam dan kadang sebagai tempat ngerumpi. Dia menaruh tas di atas tempat tidur dan menghidupkan keran. Selagi menunggu isi bak penuh, tangan Andara mulai berselancar di ponsel. Kali ini dia kunjungi akun fake yang dahulu dijadikan akun pengintip. Baru saja dia membuka Instagram itu, matanya tegang melihat selfie Ririn.


Bukan. Bukan karena muka tersenyum semringah itu memenuhi layar. Bukan juga karena Ririn bergaya manja di sana. Tetapi, Andara melihat sesuatu di belakang Ririn. Mungkin karena Ririn berfoto dengan mengangkat ponsel ke arahnya, sehingga kaki orang yang ada di belakang Ririn ikut terfoto.


Andara tahu sepatu itu. Sepatu yang sama dengannya. Sepatu limited edition yang dibeli sebelum dia kembali dari Singapura. Sepatu saja? Tidak. Jam tangan itu juga dia tahu milik siapa. Jantung Andara terasa tersentil keras. Dia mati-matian menanggung akibat dari kedatangannya untuk Kin dan cowok itu sedang enak-enakan sekarang?


Omong-omong, tadi, tips-tips apa ya yang diberikan oleh Duo Ti-Ta? Andara harus berguru langsung kepada mereka berdua.


🔥🔥🔥


Tuh, yang kerjaannya tanyain Kin. Udah gue kasih kabar. OWKWKWKWK.

__ADS_1


__ADS_2