
"Kamu itu sepertiĀ petasan, yang kecil saja bikin meledak-ledak."
š„š„š„
"Capek?" tanya Kin. Cowok itu memperhatikan Andara yang baru keluar dari kamar mandi untuk bersih-bersih.
Andara berdeham, berusaha santai.Ā "Lumayan," jawabnya. Bukan capek fisik sih sebenarnya, dia lebih capek menahan diri agar tidak norak.
Kin mengangguk sembari menaruh kedua tangan di bahunya, mendorong dia hingga depan pintu kamar. Andara membuka pintu dan berbalik. Mereka bertatapan.
"Ya udah, tidur gih. Besok kita jalan-jalan lagi."
Kin mengusap pelan kepalanya dan menipiskan jarak. Andara sudah menahan napas. Dia dapat menerka apa yang akan dilakukan dua orang dengan jarak beberapa senti. Apalagi ketika kepala Kin tertunduk, dia refleks memejam. Embusan Kin terasa di depan muka disusul sesuatu yang lembut mendarat di kelopak mata kanan dan kirinya.
"Good night," bisik Kin, dan dia mendengar pintu ditarik hingga menutup.
Andara membuka mata heran. Dia belum menjawab. Dia tidak bisa menjawab. Dia gagap. Dia tercengang. Dia kehabisan kata-kata. Ya ampun, Kin mencium kedua matanya, bukan pipi, bukan juga bibir! Bohong jika Andara tadi tidak berpikir kalau Kin akan mencium bibirnya. Ya, dan Andara sempat berharap itu. Akan tetapi, ciuman di mata tadi cukup menyentuh. Kalau orang merasa senang karena dicium di bibir, Andara tidak mengerti bagaimana menjelaskan kebahagiaannya saat kedua matanya dicium Kin.
Dia menggigit bibir keras-keras dan melempar diri ke kasur, menutup muka dengan bantal. Irama jantungnya masih tidak beraturan dari tadi. Apakah Andara membutuhkan alat pacu jantung agar ritme di dadanya menjadi stabil? Ini jelas mengancam jiwa.
Tadi, sehabis dia memaksa Kin untuk makan, apa yang dibuat Kin makin membuat darah di jantung kocar-kacir. Gigitan Andara pindah ke bantal saat mengingat itu.
"Habis makan nanti keĀ theme park, yuk?" ajak Kin.
Dia melirik garang. "Dimakan, Kin. Gue udah bilang sampai tiga kali. Entar kalau sampai dapat payung cantik, gue pakai buat payungi keranda lo."
"Astaghfirullah, Ra. Jahat amat." Kin meraih garpu dan mulai makan. "Sebenarnya gue udah kenyang, sih."
Cowok itu mengerling ketika Andara menatap dari ujung mata. "Makan kepastian," tambah Kin sebelum akhirnya mengaduh karena dipukul Andara. "Beneran cepat mati gue kalau dipukul terus, Ra,"
"Makanya gue suruh makan supaya lo bisa bertahan hidup dari siksaan." Andara mulai menarik bibir ke atas. Piring di hadapannya sudah kosong sedangkan piring Kin masih penuh. "Buruan makannya, gue hitung sampai lima harus selesai."
"Ini pacaran apa wajib militer?!" protes Kin, tetapi cowok itu tetap buru-buru makan karena Andara mulai menghitung pelan.
Muka Andara terasa panas. Memang dia sengaja mengetes Kin. Keinginan untuk tertawa berusaha ditelannya saat itu.Ā Dia ingin melihat bagaimana perjuangan Kin mengikuti keinginannya, dan dia senang melihat Kin berusaha secepat mungkin menghabiskan makanan. Yang namanya cowok kan harus tangguh. Itu baru disuruh habiskan makanan, bagaimana nanti jika disuruh cari nafkah atau cari sesuatu saat istri ngidam?
Andara buru-buru menjambak kepala sendiri, mengutuk fantasinya barusan. Ini baru pacaran.Ā JanganĀ halu!
Setelah mematikan lampu, Andara merapat ke jendela. Jalan layang yang ada di depan apartemen tidak ramai, tetapi lampu-lampu mobil yang seliweran cukup menghiburnya. Dia kembali menutup kedua muka dengan telapak tangan begitu mengingat kata-kata Kin.
Jadi mereka pacaran? Andara berdesis, susah sekali menahan keinginan untuk tidak teriak-teriak seperti orang gila. Mimpi apa sih dia semalam? Kenapa beruntung sekali dia hari ini dan kenapa Kin manis sekali? Dia pikir digendong dan disuapi Kin tadi siang hanya kebetulan semata, tetapi malam ini bukan hasil dari iseng, 'kan?
Sepanjang diĀ theme park, Kin menggandengnya.Ā Mereka menyusuri wahana bermain yang sebenarnya diperuntukan untuk anak kecil. Sadar kalau permainan bermesin itu tidak sesuai dengan umur mereka, Kin mengajak ke arah lain. Mereka bermain menjala bebek atau menggulirkan bola yang dirintangi lalu tertawa-tawa bodoh begitu mendapatkan hadiah stiker Spiderman dan sebuah notes kecil.
Andara meraih ponsel, menyapu ke samping pesan yang masuk dari Buana, dan menekan panggilan untuk Natha. Dia perlu menceritakan ini kepada Natha, tetapi nomor Natha sibuk, dicoba kedua kali juga masih sibuk.
Sudahlah, mungkin besok bisa diteleponnya. Dia mulai mengantuk lalu menarik selimut sampai ke dada dan menutup mata.
"Good night, Kin," bisiknya.
Di lain pihak, Natha tidak bisa dihubungi karena cewek itu ditelepon Kin. Sehabis menutup pintu kamar tamu, Kin baru memeriksa ponsel dan mendapati pesan dari Natha bertuliskan 'goodĀ luck'.
Dia langsung menghubungi Natha. Di Jakarta sudah tengah malam, apakah Natha sudah tidur?
"Halo, gimana-gimana?" sapa Natha di seberang sambil tertawa.
"Apanya yang gimana? Maksud pesan lo apa?" tanya Kin sambil menyeret langkah ke kamarnya yang ada di samping kamar Andara.
Natha makin tergelak. "Ya,Ā good luckĀ buat lo sama Andara-lah. Apa lagi?"
__ADS_1
Kin menutup pintu kamar dan duduk di pinggir tempat tidur. "Kenapa bilang 'good luck'?" tanyanya belum paham.
"Yaelah, Kin. Lo ini mirip mesin diesel, mesti dipanasin dulu baru jalan!"
Kin mengerutkan alis mendengar kalimat Natha. "Gue? Dipanasin? Maksud lo?"
"Buset! Gini ya, gue tadi sengaja bikin lo panas. Sampai kapan sih kalian berdua mau muna? Capek, deh!"
"Sebentar. Coba lo ceritain yang jelas. Buana beneran ada cari Andara? Dia titip pesan apa?"
"Enggak, Dodol! Enggak ada Buana-Buana!" seru Natha. "Gue manas-manasin lo aja biar mesin lo jalan."
Kin berdecak. "Gue pikir beneran. Gue udah kesel banget!" Rasanya Kin mau menoyor kepala Natha jika cewek itu ada di dekatnya.
Tawa Natha nyaring kembali. "Terus ada hasilnya nggak? Jangan bilang nggak ada hasil."
"Ada." Kin tersenyum, masih tidak menyangka akhirnya tercapai juga. "Gue jadian sama Andara."
Pekikan kemenangan Natha menggema diiringi tawa membubung. Cewek itu mulai menagih makan-makan.
"Nath, udah ada yang bilang belum kalau ketawa lo mirip setan?"
"Kin!" Natha memekik. "Gue sendirian di rumah! Kurang ajar lo!"
Sekarang Kin yang balik tertawa, menertawai nasib yang dialami Natha. "Sabar-sabar, ya. Banyak-banyak doa aja, apalagi Andara pulangnya bakal lama."
Natha terdengar memaki dia. "Sialan! Lo jangan lama-lama kandangin anak orang. Bahaya, tahu!"
Mereka tertawa berdua. "Jangan pikir yang aneh-aneh," ujar Kin.
"Eh, kalau ngirim makan dari Johor kan jauh ya ke Jakarta. Acara makan-makannya diganti kirimin gue parfum juga nggak apa-apa. Bvlgari Omnia aja." Natha mulai menuntut dan Kin hanya melenguh mendengar itu. "Oke, 'kan?Ā Duty free, kok. Udah ah, lo nggak kelonin Andara?"
"Oh, gitu. Iya deh, iya. Baik-baik lo berdua. Ingat, Bvlgari Omnia!" seru Natha sebelum menutup telepon.
Dasar Natha, di pikirannya kalau ada sepasang manusia berbeda jenis kelamin yang tinggal bersama akan melakukan yang enggak-enggak? Kin melengos dan mulai berbaring.
Dia menghela napas lega. Sebenarnya sepanjang berjalan-jalan tadi dia deg-degan. Kin risau jika Andara meralat perkataannya. Syukurlah hingga pulang, cewek itu tidak protes apa pun dengan kesimpulan berpacaran yang dibuat Kin. Andara mau digandengnya ketika mereka memasuki wahana bermain, ikut tertawa saat bebek yang mau ditangkap malah meleset. Semuanya terasa lucu.
Beberapa kali pernah ke Danga Bay, baru kali ini Kin merasa segembira ini. Persis anak SMA yang pertama kali kencan. Rasanya Kin ingin terus menggenggam tangan mungil itu dan tidak melepaskan apa pun yang terjadi.
Ah, sayang, dia lupa mengabadikan momen itu. Masih ada hari esok, dan esok dia akan banyak-banyak menangkap gambar mereka berdua.
Kin mematikan lampu kamar, menyisakan lampu tidur yang remang. Ada yang meletup-letup di dadanya. Bunga api yang hangat dan ramai seperti perayaan kemenangan atas sesuatu yang ditunggu sekian lama.
***
"Udah bangun?" tanya Kin. Tadinya dia hendak kembali ke kamar selepas dari kamar mandi, tetapi lampu dapur menyala.
Andara yang berkutat dengan kompor lantas menoleh. "Iya, lapar jadi gue bikin mi. Mau?"
"Boleh. Indomie goreng ya, telurnya mata sapi aja terus kasih taburan bawang goreng sama BonCabe."
"Banyak minta! Lo udah pernah keselek wajan belum?" balas Andara garang, tetapi cewek itu mulai memasukkan dua bungkus mi ke air panas.
Kin terkekeh. Andara ini galak tetapi dia suka. Bagaimana ya menjelaskannya? Seperti melihat macan dan kelinci, tentu lebih menantang menjinakkan macan, bukan?
Melihat Andara membuat mi, Kin jadi berinisiatif menyeduh teh. "Hari ini mau teh apa?"
"Teh kismis," jawab Andara asal. Tentu cewek itu tahu rasa itu tidak ada di rak dapurnya.
__ADS_1
"Nggak ada, Beb. Lemon andĀ Mandarin, ya? Enak juga yang ini. Kesukaan gue." Dia langsung menyeduh setelah melihat anggukan Andara. Cewek itu sedang menuang bumbu di piring masing-masing.
Kin kembali duduk sambil membawa dua gelas teh. Dipandanginya punggung Andara sembari mengkhayal betapa menyenangkan jika pemandangan ini hadir setiap hari.
"Kin, mentega habis. Telurnya pakai minyak dikit nggak apa-apa?"
Kin mengiakan. "Ingatin gue buat beli mentega ya nanti." Dia lalu membuka kulkas, meneliti bahan penting yang menipis. Selain mentega, beberapa makanan beku juga sudah habis. Kin lalu mencatatnya di kertas kecil yang ada pada badan kulkas. "Ra, lo mau ke mana hari ini?"
"Kenapa?" Andara mulai membelah telur lalu menaburi telur itu dengan sedikit garam dan merica.
"Gue hari ini padat, nggak bisa temanin lo ke mana-mana. Nggak apa-apa, ya?" Jadwal kuliah Kin di hari Senin benar-benarĀ berdekatan dan berurutan, tidak ada waktu luang sampai sore. "Kalau lo mau di sini aja, nanti bisa minta ditemani Mbak Tika."
Kin lalu memberitahu Andara kalau Mbak Tika adalah orang yang bekerja membersihkan apartemennya. Perempuan itu datang dua hari sekali dan hanya datang di hari kerja biasa. Kadang Mbak Tika juga memasak jika diminta, tetapi Kin lebih sering memasak sendiri atau membeli makanan di luar.
Andara membawa dua piring mi ke meja dan menabur bawang goreng juga tambahan cabe bubuk seperti yang diminta Kin. "Beres."
Kin yang masih menontoni gerak Andara mulai menatap sepiring mi yang tersodor ke arahnya. "Kok bentuk telurnya nggak mulus kayak di restoran, sih? Gimana ini, Chef? Saya nggak bisa terima."
Diisengi seperti itu, Andara hanya menampilkan muka judes. "Makan aja udah, masih untung nggak gue racun."
Kin tersenyum. Dia mengikuti Andara yang mulai melahap mi goreng yang wanginya memenuhi apartemen. Sebenarnya dia sudah keracunan, sih. Keracunan cinta. Tapi kalau Kin bilang seperti itu Andara mana mungkin percaya. Sedari semalam kerja cewek itu hanya membentak, menendang, tertawa atau melengos seolah apa yang Kin ucapkan hanya omong kosong. Memang semua butuh waktu, termasuk Andara. Namun, Kin yakin jika perasaan mereka berdua sama. Berharap boleh, bukan? Apalagi dia cukup mengenal Andara dan tahu bagaimana kesetiaan cewek itu ketika mencintai sesuatu.
Langit yang terlihat dari kaca ruang tengah lambat laun mulai terang. Kin sudah menghabiskan mi buatan Andara. Meski mengejek-ejek, isi piring itu kosong juga. Pintu apartemen terbuka ketika Kin menaruh piring dan gelas kosong ke tempat cucian piring. Seorang wanita berumur kira-kira hampir empat puluh tahun terlihat. "Masuk, Mbak. Nah, ini Mbak Tika, Ra."
Mbak Tika tersenyum sambil mengangguk ke Andara. "Saudaranya, Bang?"
"Iya," jawabnya cepat sebelum Andara menjawab. Dia meminta Andara lekas mandi agar sempat berbelanja di bawah sebelum dia berangkat kuliah.
Tanpa banyak berkata-kata, Andara menurutinya. Cewek itu diam saja sepanjang perjalanan sampai saat mereka tiba di swalayan.Ā
"Tumben nggak ribut atau siksa gue?" Kin mengambil keranjang dorong berukuran sedang, mengarahkan langkah ke bagian buah.
"Nggak apa-apa."
"Mau buah apa?" tanyanya. Di depan mereka berderet koleksi segala jenis apel, jeruk dan pir.Ā
"Apa aja boleh."
"Sukanya apa?" Kin mulai memilih beberapa apel dan pir. "Kalau gue sukanya yang kayak gini," tambahnya sembari mengangkat apel, "yang kalau digigit bunyi krenyes-krenyes."
Andara tidak menjawab dan mengalihkan pandangan ke arah lain. Kentara sekali kalau ada hal yang janggal pada cewek itu.
"Ra..." panggilnya. "Kenapa, sih?"
"Gue bilang nggak apa-apa, ya nggak apa-apa." Cewek itu melirik dengan sudut mata yang mengerikan.
Kin meremang. Mitos kalau tidak ada apa-apa versi cewek adalah hal yang berbahaya ternyata benar adanya. Menyelami suasana yang mendadak kaku, Kin mendorong keranjang menyusuri rak buah. Dia dan Andara jalan tanpa saling berkata sampai cewek itu meraih sekotak anggur.
"Suka anggur?" tanya Kin. Dia masih tidak mengerti apa yang membuat Andara menjadi statis meski sudah diajak bicara.
"Iya." Andara menaruh anggur di keranjang. "Biar nggak dianggurin."
Jawaban itu membuat Kin menganga. Siapa yang mengabaikan Andara?
"Siapa yang anggurin?"
Andara menoleh kepadanya sambil tersenyum, tetapiĀ Kin seperti sedang ditatap makhluk buas yang menyeringai ketika membidik buruan. Cewek itu bergeser maju seperti hendak menerkam. "Ada, seseorang. Saudara gue," ucapnya menekankan kata saudara dan diulang-ulang. "Namanya juga saudara. Ya, untungnya saudara. Kalau aja bukan saudara, nggak tahu lah gue."
Dan Kin makin bingung.
__ADS_1
š„š„š„