
Tanpa kamu tahu, kamu itu pengecualian di hidup saya.
š„š„š„
Bertopeng baik-baik saja, Andara berusaha menjalani harinya setelah malam itu. Untuk seorang Andara yang kerap spontan, memang tidak mudah menjalani kepura-puraan tetapi dia merasa tidak perlu membagi ke siapa pun apa yang sedang dirasa. Meski serumah dan bertemu setiap hari, dia tidak membagi ke Natha. Setelah pengakuan Natha pernah membocorkan info tentangnya ke Kin, untuk sekadar cerita bagaimana perasaan saja Andara tak mampu. Dia telanjur waswas.
Andara juga tidak bercerita ke Rossa. Dia sudah dapat menebak bagaimana reaksi Rossa jika mendengar ceritanya. Cewek itu pasti berkali-kali mengingatkan kalau harga jantung hampir 2 miliar dan membahas rasa adalah hal yang membuang-buang waktu saja. Oleh karena itu, Andara mengelabui semua. Dia memasang sikap santai seolah diputuskan oleh Kin bukanlah hal besar. Dia tidak membahas, dan tidak menunjukkan sakit hatinya. Dia tidak juga terlihat enggan kalau Natha menyebutkan nama Kin di antara cerita cewek itu. Andara berusaha terlihat baik-baik saja.
Andara selalu mengafirmasi otaknya kalau kehidupan ini akan terus berjalan, sakit akan hilang. Toh, Kin juga tetap berteman dengan dia. Cowok itu beberapa kali memberiĀ likesĀ pada unggahan Instagram Andara yang berisi pemandangan. Andara juga sebaliknya, kadang menekan tanda hati di Instagram Kin sebagai apresiasi atas keindahan foto lelaki itu. Anggaplah itu silaturahmi, silaturahmi bisa dilakukan sebatas pemberianĀ likesĀ di Instagram. Walaupun foto mereka sudah tidak ada di akun Kin, dia tidak membalas dengan menghapus foto yang ada di akunnya. Andara hanya mengosongkanĀ captionĀ saja, sehingga tidak ada lagi tanda hati di sana.
Dia merasionalkan luka. Dia percaya mereka bisa berteman baik-baik dan tidak ada masalah dalam pertemanan mereka. Kin juga tidak resek seperti Buana.
Untuk Buana, diaĀ Ā unfollowingĀ danĀ blockingĀ akun cowok itu, menghapus semua foto mereka di seluruh sosial media tanpa sisa. Dia tidak ingin beramah tamah dengan mantan yang jelas-jelas tidak menghargainya. Apa pun alasannya, Buana sudah tidak diberi kesempatan lagi. Dia tahu Buana dalang dari semua ini. Pasti Buana kan yang memberikan rekaman percakapan mereka di kafe ke Kin sehingga Kin memutuskannya? Atau malah Buana mengirimkan video mereka di meja makan? Lelaki itu benar-benar biadab.
Bukan cuma di sosial media, di kehidupan nyata juga dia memutuskan hubungan dari Buana. Siapa pun yang merampas kedamaian dan kebahagiaannya, tidak pantas berada di sisinya. Satu yang Buana tidak sadari, meskipun dia diputuskan oleh Kin, dia tidak akan kembali kepada Buana. Walaupun Buana mencari dan mengusahakan banyak cara termasuk jalan licik, Andara tidak akan terpengaruh lagi. Jangan pernah Buana berkhayal kalau keberhasilan misinya menghancurkan hubungan dia dan Kin akan membuat Andara kembali. Tidak akan pernah. Dia tidak akan pernah mau kembali, tidak akan pernah mau berteman, tidak akan pernah mau kenal dengan Buana hingga kiamat datang.
Bukan Andara tidak tahu kalau Buana selalu mencari cara agar terlihat di matanya. Dia tahu Buana kadang melambat-lambatkan jalan di koridor atau sengaja menunggunya lewat agar berpapasan. Dasar kampungan level ampas. Pastilah hal seperti itu tidak digubris Andara. Tingkah-tingkah memuakkan itu hanya menebalkan kebenciannya kepada Buana. Rasa jijiknya sudah kronis, seandainya Andara bisa muntah, mungkin akan dimuntahkan dia di depan muka Buana saat cowok itu beraksi.
Namun, Andara sadar akan satu hal. Ada yang lebih menyakitkan daripada dibenci, yaitu dianggap tidak pernah ada. Sehingga, sekarang, apa pun tingkah yang dibuat Buana tidak akan dihiraukan Andara. Bermodal muka datar, dia menganggap lelaki itu tidak pernah ada di dunia.
"Vin, gue di kelompok lo, ya?" pintanya kepada Vina saat dosen mengumumkan pembagian kelompok.
"Lho, bukannya tadi lo di kelompok Bu ...."
"Ini gue mau ngehadap dosen, pokoknya gue di kelompok lo. Oke?" potong Andara cepat dan dia langsung meninggalkan kelas untuk mengejar dosen yang sudah berjalan. Sekarang atau seribu tahun lagi, dia tidak sudi satu kelompok dengan Buana. Ada seribu alasan karangan yang akan dia kemukakan ke dosen agar bisa pindah kelompok. Jangan sebut dia Andara jika dia tidak bisa.
Perubahan Andara juga dengan jelas dirasakan Buana. Cewek itu seperti tidak menganggap Buana ada di mana pun mereka bertemu. Seperti di kampus, dia tahu Andara lebih memilih berputar daripada berpapasan dengannya. Jikapun mereka berdua tiba-tiba bertemu dan Andara tidak bisa menghindar, cewek itu menampilkan raut tanpa ekspresi seolah menganggap Buana ini makhluk halus yang tidak nyata.
Bukannya Buana tidak memperhatikan perubahan yang terjadi pada Andara. Cewek itu makin pendiam dan jarang tertawa. Sekarang, ke mana-mana selalu memasangĀ bluetoothĀ headphone-nya seperti tidak mau diajak bicara siapa pun. Pernah satu ketika, Indra atau Coki menegur, Andara hanya mengangkat tangan sesaat kemudian berlalu tanpa bicara. Kesan menjauh yang terlampau tampak.
Buana akui dia emosi di malam ulang tahun Best. Rasa tidak terima berontak begitu melihat Andara dan Rexy memakai baju kembar. Dia benci melihat senyum pongah Rexy ke arahnya saat dia menyadari baju mereka sama. Buana masih saja menganggap Andara adalah kepunyaannya, dan dia tidak sudi miliknya diklaim orang lain ataupun menjadi olok-olokan. Dia sudah memperingatkan Indra dan Choky agar tidak usah mengomentari baju Andara tetapi mereka tetap saja usil. Begitu juga dengan mulut paraĀ rapper, bising sekali, dan jijiknya, Rexy terlihat senang digoda.
Tidak bisa membungkam mulut-mulut yang menggoda kaus kembar itu, Buana jadi menyerang Andara, dan kini, Buana sangat menyesalinya. Dia ingin mengejar Andara yang berniat pindah kelompok. Dia hendak meminta maaf atas kesalahannya. Baru saja Buana melangkah sebentar, ponselnya bergetar, panggilan dari sang papa.
__ADS_1
"Ya, Pa?"
"Di mana?"
"Kampus," jawab Buana sambil terus mengamati jejak Andara dari jauh.
"Ke kantor Papa sekarang. Papa tunggu," ujar sang papa tanpa menunggu jawaban Buana. "Penting."
Buana lekas mengantongi ponsel dan memakai jaket, melangkah cepat ke arah parkiran motor. Selama ini, papanya tidak pernah menyuruh dia buru-buru ke kantor apalagi sampai mau menunggu. Ada apa? Buana menekan gasnya. Kata 'penting' tadi terdengar aneh dengan nada bicara yang tidak main-main. Buana menyalip kendaraan yang padat. Biasanya kalau ada hal yang ingin disampaikan, sang papa akan gamblang memberitahu lewat telepon. Dada Buana berdebar tidak enak dan rasa itu makin penuh ketika dia memasuki kantor besar di kawasan tengah kota.
"Kenapa, Pa?" tanya Buana saat membuka pintu ruang kerja papa. Benar seperti perkataan di telepon, pria itu sedang duduk dan menunggunya sambil bermain tab.
Telunjuk papa berhenti dari layar dan mukanya mendongak, melihat kedatangan Buana. PriaĀ berkemeja batik itu menaruh tab di laci lalu berdiri dari kursi, jalan menuju sofa di mana Buana sudah duduk. Setelah sampai di hadapan, tangan papa terayun menamparnya. Buana terhenyak.
"Masih ingat Papa bilang apa?!" bentak papa. "Jangan pernah sakiti wanita! Tapi, kenapa kamu buat juga?!"
Buana bingung harus berkata apa. Papa tahu dari mana? Papanya memang pernah dikenalkan sekilas dengan Andara. Namun, pria itu kan seharusnya tidak tahu apa yang terjadi antara mereka berdua.
Buana tertunduk. Kupingnya berdenging dan mukanya terasa panas. Namun, yang lebih panas adalah hatinya. "Siapa yang bilang, Pa? Nina?" tanya Buana mencoba mencari tahu.
Papa berteriak sambil menunjuknya. "Masih bisa kamu tanya seperti itu?! Harusnya kamu pikir, otakmu dipakai! Gimana kalau ketahuan orang, ketahuan media?! Muka Papa mau ditaruh di mana?!"
Buana terdiam. Papa tidak pernah semarah itu sebelumnya. Sebagai pejabat negara, memang selama ini papa selalu menjaga reputasi dengan baik, dan tidak pernah berbuat macam-macam. Buana sadar kok kedudukan sang papa. Dia juga tidak pernah berbuat macam-macam yang bisa mencoreng nama besar papa, tapi untuk Andara, itu pengecualian. Perempuan itu selalu menjadi pengecualian dalam hidupnya.
"Pakai ngancam anak orang segala! Bikin malu Papa, bikin malu keluarga! Buat apa belajar hukum kalau nggak punya moral!" Pria itu terus memukuli Buana sambil berseru murka, dan Buana hanya bisa meringkuk di sofa, lindungi kepala dengan dua tangan. "Terus sekarang gimana, Buana?! Apa dia hamil?"
Buana tergagap. Dia hanya memejamkan mata, menahan perih tanpa bisa menjawab. Kepalanya mulai pusing. Mukanya lebam-lebam.
"Nggak bisa jawab?! Jawab!" Papa semakin membabi buta, hingga asisten kepercayaan datang melerai mereka.
"Pak, sabar, Pak," ujar asisten itu menenangkan papa dan meminta Buana untuk membersihkan luka.
"Nggak ada sabar-sabar. Ini anakku. Aku berhak mengajar dan menghajarnya!" bentak papa dengan tatapan membunuh. "Bawa dia secepatnya ke rumah, Buana, dan kenalkan ke keluarga!"
__ADS_1
Buana beringsut bangun dan tertatih menuju toilet. Kata-kata terakhir papa bergema di kepala. Mengenalkan Andara ke keluarga? Dia mendengkus. Bukan dia tidak mau, dia selalu mengajak Andara dari dulu, tetapi ditolak. Andara tidak pernah mau diajak berkenalan dengan keluarganya. Wajar 'kan kalau Buana akhirnya meragu dengan cewek itu?
Buana menghidupkan keran wastafel dan membasuh muka. Beberapa bagian terasa nyeri apalagi di sudut bibir. Percakapan di ruang kerja papa masih terdengar di sela-sela gemericik air. Jika saja asisten tidak datang, mungkin dia akan mati di tangan papa.
"Maaf, Pak. Saya nggak maksud mencampuri, tapi ada tamu penting nunggu Bapak," jelas asisten menunjuk ke arah pintu.
Papa terlihat menarik napas untuk memadamkan amarah. "Siapa?"
Belum sempat asisten menjawab, beberapa orang berpakaian bebas lebih dahulu masuk. Dari balik pintu toilet yang tidak tertutup rapat, Buana melihat bagaimana orang-orang itu datang. Yang paling depan menyerahkan selembar kertas ke papa, yang lain menyebar teratur, memeriksa semua barang di ruangan. Bahkan salah satu dari mereka ada yang merekam aksi itu dengan kamera.
Buana mematikan keran dan mulai memperhatikan para tamu yang bergerak-gerik aneh. Selama ini tamu papa yang datang ke ruangan selalu sopan, bukan membongkar-bongkar seperti ini.
"Di sini," seru salah satu dari mereka sambil menunjuk sebuah laci yang berada paling bawah di lemari berkas.
Buana dapat melihat papa mengernyitkan alis. Dia yakin laci itu tidak pernah tersentuh papa. Namun dalam dua detik, baik dia maupun ayahnya menengang ketika sang tamu mengangkat tumpukan uang dari laci.
Asisten memekik kecil sambil menutup kedua tangan di bibir. Buana lebih terpukul lagi. Dia terhenyak, jatuh ke lantai dan tidak tahu harus berbuat apa kala kedua tangan papa diborgol. Pria kesayangannya dijaga ketat seolah orang jahat yang akan kabur.Ā Sebelum papa pergi, pria itu sempatkan diri menoleh ke arah dia. Buana melihat kilat bening di mata itu.
Tidak, tidak mungkin. Papa bukanlah koruptor. Buana menggeleng keras sembari memeluk lutut. Papa selalu menjadi kebanggaannya dan papa selalu mengajarkan hal baik kepada dia. Sehingga tidak mungkin papa memberi makan rumah dan anak-anaknya dari hasil haram. Dia masih tercenung di lantai toilet sampai asisten papa membantu berdiri. Lelaki itu mengarahkan Buana keluar gedung dari jalan lain agar tidak tertangkap wartawan yang berkerumun di luar.
Bermenit-menit dia berputar di jalanan tanpa tujuan. Dadanya sangat sesak. Dia menggeber-geber motor untuk meluapkan emosi yang terpecut. Buana tertawa perih, menertawai diri sendiri lalu kembali menekan gas, mengarah ke mana setangnya berbelok. Dia melewati kemacetan ibu kota, menerobos jalan tikus, melewati pasar-pasar tradisional, meniti jembatan gantung, berliuk di antara beton-beton cor hingga tanpa sadar motornya mengarah ke sini.
Rumah Andara.
Buana terkekeh lirih sambil menggeleng. Kenapa dia bisa datang kemari? Dari balik helm, isi kepalanya masih berdebat, mempertimbangkan kemungkinan. Namun, kaki merajai kali ini, bergerak tanpa perintah. Kedua kakinya mengajak Buana masuk, melewati pintu yang terbuka sedikit dan dia menemukan Andara di sana.
"Ra ...."
š„š„š„
Kenapa nggak update kemarin? Ya udah, sekarang udah update, kan?
Yang masih penasaran sama Kin coba aku tanya, kenapa penasaran? Apa semua harus ada alasannya? š¤
__ADS_1