Pembalasan Andara

Pembalasan Andara
Unavoidable


__ADS_3

🎵 Iris - Goo Goo Dolls 🎵


🔥🔥🔥


"Kakak," panggil Kaluna. Cewek itu melambai, meminta dia mendekat dengan gaya persuasif. "Udah datang? Ikut aku, yuk."


Tadi, Andara datang dua jam lebih cepat dari acara pengajian. Dia ikut menerjunkan diri, bantu asisten rumah tangga di rumah Buana untuk menata kue juga minuman.


Tubuh Kaluna mendekat, lalu menggandengnya untuk tinggalkan dapur. Andara hanya mengikuti langkah cewek itu menaiki undakan tangga berwarna putih menuju lantai dua. Di rumah Buana ini banyak sekali tangga, masuk ke teras ada beberapa anak tangga, menuju ke ruang tengah dan dapur juga seperti itu. Seakan pemisah antar ruangan yang tidak berdinding ditandai dengan tingkatan lantai.


Lantai dua diawali dengan ruang keluarga yang terlihat lapang dan nyaman. Televisi besar dengan susunan home theater, juga sofa besar dengan banyak bantal yang sepertinya empuk. Di belakang sofa ada balkon yang memiliki jendela-jendela sebesar pintu, mungkin bisa dibuka sewaktu-waktu jika pemiliknya ingin bersantai. Tirai keabuan menutupi jendela. Pohon pisang hias setinggi kurang lebih satu meter menjadi satu-satunya makhluk hidup penghuni ruangan itu. Sebab tidak ada sesiapa pun duduk di sana, begitu pun Kaluna, cewek itu hanya lewati saja dan menuju pintu yang terletak di ujung.


Ketika pintu itu terbuka, wangi yang sangat dia kenali menyeruak ke penciuman. Wangi laut khas Buana.  "Lun," bisik Andara tercekat dan menarik tangannya dari gandengan Kaluna.


"Masuk aja, Kak," ajak Kaluna yang lebih dahulu melangkah masuk. Cewek itu mengajaknya bermain tebak-tebakan dengan air muka yang dipaksakan. "Tebak ini kamar siapa?"


Tidak perlu banyak berpikir, dia mengerti kalau ini adalah kamar Buana. Berbeda dengan kamar Buana di rumah persinggahan yang ada di dekat kampus, kamar Buana di rumah ini tentu lebih lebar, lebih banyak isi karena sering ditempati.


Dia melangkah masuk sembari mengamati keadaan kamar. Padu padan hitam putih yang elok dan resik hadir. Dinding di belakang ranjang bercat hitam, diisi dengan beragam figura gambar-gambar band kesukaan cowok itu. Ada Nirvana, Oasis, Queen dan banyak lagi. Sepertinya warna hitam itu adalah warna tambahan, sebab dinding kanan kiri tetap berwarna putih, sama dengan warna keseluruhan rumah ini. Di dinding putih itu ada beberapa gitar tergantung, ukurannya bermacam-macam dari yang sekecil ukulele hingga standar. Sebuah sofa sedang berwarna abu-abu diletakkan berjajar dengan gantungan gitar. Dia menduga Buana akan memainkan benda berdawai koleksinya dengan duduk di sofa itu. Ada beberapa lampu bening tergantung, bohlamnya cantik memancarkan sinar kekuningan. Kamar ini nyaman sekali.


"Aku nggak bolehin Bibik geser sedikit pun susunan kamar ini. Nggak boleh ada yang berubah, semua kayak waktu terakhir kali ditinggal sama Abang," jelas Kaluna tanpa diminta.


Andara menyunggingkan senyum samar. Matanya menatap dinding bagian lain yang berseberangan dengan ranjang, di sana ada meja dan kursi belajar juga lemari buku. Buku-buku tebal tentang hukum tersusun rapi. Dia dahulu pernah menemani Buana membeli buku-buku itu dan mereka juga saling pinjam meminjam jika salah satu tidak punya. 


Selangkah dua langkah, Andara mendekat dan duduk di kursi belajar yang berwarna hitam, pandangi susunan foto-foto yang ditempel rapi membentuk tanda hati di hadapan. Ada banyak foto dia sendiri, foto mereka berdua, foto Marionette, foto Kaluna, foto Silvia bersama Nina.


"Untuk ukuran kamar cowok, kamar ini rapi," gumam Andara, berusaha tidak terpengaruh oleh foto Nina di sana. Bagaimanapun lebih banyak foto dia dan tidak ada foto Buana berdua dengan Nina.


"Abang memang sedikit lebih bersih daripada aku," ujar Kaluna sambil menjentik ujung kuku seolah menjelaskan kalau perbedaannya tidak banyak. "Sedikit aja."


Andara mengangguk. Dia tahu Buana memang cekatan kalau membersihkan dan merapikan ruangan, seperti saat merapikan ruang tamu kosan yang pernah dia obrak-abrik. "Iya, Lun. Iyain aja biar cepat," balasnya berusaha bercanda.


Kaluna terdiam sejenak, lalu kembali berbicara dengan suara mengandung tangis. "Abang selalu ingatin aku buat beresin lagi kalau aku udah ngacak ke sini buat belajar main gitar. Kata Abang, Kakak sewaktu-waktu bisa aja mau diajak datang ke rumah dan waktu lihat kamarnya, dia bakal malu kalau berantakan."


Andara tidak bisa untuk tidak menegang mendengar itu. Begitu besar sekali harapan Buana agar dia mau mengenal rumah dan keluarga cowok itu. Andara masih terpaku hingga Kaluna hilang dan mempersilakannya untuk bernostalgia dengan peninggalan Buana. Dia dapat membau aroma Buana di mana-mana. Di handuk yang tersampir pada jemuran handuk dekat pintu kamar mandi, di bantal-bantal sofa, di selimut yang dilipat rapi. Andara sempatkan menyentuh semua barang itu seolah sedang menyapa Buana. Di sana, perpaduan parfum dan keringat terasa sangat membayar rindu, sekaligus menyesakkan sampai ke tulang.


Dia meraba pelan dan hati-hati sebab semua yang tersisa benar-benar berharga. Langkahnya berakhir ke sudut, tempat di mana lemari pakaian berdiri. Tangannya ragu untuk membuka, tetapi hatinya ingin melihat semua isi ruangan ini sampai ke bagian yang terkecil. Pintu kayu itu ditarik, harum pewangi pakaian menguar. Tidak ada yang aneh, seperti lemari kebanyakan. Ada pakaian yang tergantung dan ada yang terlipat. Di deret kedua pakaian terlipat, ada kaus yang terkulai begitu saja. Mungkin Buana mengambil kaus di bagian bawah dengan buru-buru. 


Ketika tangan Andara ingin menutup, pandangannya terpaku pada sebuah kaus yang digantung terbalik. Sudut matanya memicing. Buana pencinta kebersihan, tetapi sejak kapan kaus yang seperti pernah dipakai ini ditaruh lemari? Kaus hitam itu ditariknya, seperti biasa label B di leher terlihat. Namun yang membuat Andara tercekat kala kaus itu dibalik. Dia mengenali gambar depan kaus.


Ini kaus kesayangan Buana yang dia taruh terlipat saat menyerah dan memutuskan mundur dari kehidupan cowok itu. Andara mengendus kaus. Tidak ada wangi pewangi pakaian. Dia menelan ludah. Jadi, benar ini kaus bekas pakai? Apa ini yang bekas dipakai dia?


Andara mengembalikan kaus itu dengan jantung yang berisik. Bisa saja perkiraan dia salah, bisa saja. Dia kembalikan kaus ke gantungan. Di sebelah kaus itu, tergantung barang yang dia kenali. Tentu saja, itu tasnya yang dia tinggal di ruang sidang agar bisa bertemu dengan Nina. 


Andara mengambil tas itu dari gantungan dan duduk di atas tempat tidur. Buku tipis miliknya masih ada di dalam tas, juga sebuah pena. Dibukanya buku itu dan dibalik-balik, seperti yang dia duga, ada coretan tangan Buana di sana.


And I'd give up forever to touch you


'Coz I know that you feel me somehow


You're the closest to heaven that I'll ever be

__ADS_1


And I don't want to go home right now


And all I can taste is this moment


And all I can breathe is your life


And sooner or later it's over


I just don't wanna miss you tonight


And I don't the world to see me


'Coz I don't think that they'd understand


When everything's made to be broken


I just want you to know who I am


Sebagai penyiar Reload, Andara tentu tahu lagu ini. Iris-nya Goo Goo Dolls. Marionette pernah membawakan lagu ini waktu acara off air Indiebest. Andara jadi ingat ekspresi Buana saat menyanyikannya. Kala itu, dia pikir Buana hanya menghayati lagu. Dia nggak ambil pusing mesti anak-anak mengolok Buana. Ternyata, menghayati sama menyanyikan isi hati beda-beda tipis, ya? 


Segaris senyum miris hadir. Jika saat ini ada Buana, rasanya dia mau berkata, "Iya, iya. Aku udah tahu kok semuanya." Tapi semua itu sudah telat dan dia cuma bisa bergumam sendiri di dalam hati.


"Kakak." Kaluna memanggil dari luar. "Ada Bang Indra dan kawan-kawan datang."


Andara menutup buku dan beranjak ke luar. Dari cara Kaluna memberi tahu, seolah-olah yang tuan rumah adalah dia. Dia menyalami Indra, Choky dan lainnya. Rumah masih sepi karena hari masih siang.


"Kami nggak bisa lama-lama, Marionette harus standby buat malam ini," ujar Indra menjelaskan kedatangan mereka yang lebih dini. "Sebenarnya pengin kami batalin, tapi ganti ruginya gede banget."


"Gue yang gantiin sementara, sama hire backing vocal," tambah Indra menunjuk seorang cewek yang tadi juga disalaminya.


Andara kembali mengangguk-angguk sedangkan Kaluna mempersilakan yang lain untuk cicipi penganan. Marionette memang tidak lama, duduk sekitar sepuluh menit saja lantas berpamitan.


"Kami balik, ya. Maaf banget nggak bisa lama-lama."


"Iya, ngerti kok gue. Nggak usah dipikirin."


"Lo udah nggak apa-apa?" tanya Indra ketika diantarkan Andara ke pintu depan.


"Memang gue kenapa?" balas Andara.


Indra tersenyum pelan dan menggeleng. "Ya Buana, ya lo. Sama aja lo berdua. Kalau ada sesuatu itu cerita, jangan dipendam. Lo yakin nggak kenapa-kenapa sampai pingsan berapa kali gitu?" bisik cowok itu.


Andara berdesis malu dan Indra terkekeh kecil. Begitu Indra sampai ke depan pintu, cowok itu terlihat kaget dan menyalami seorang wanita yang berdiri menekur di luar. "Tante," sapa Indra sopan.


Seperti berusaha menunjukkan muka baik-baik saja, wanita itu menegur Indra dengan ramah. "In. Apa kabar?"


"Baik, tante. Tapi, maaf, Indra sama yang lain nggak bisa lama karena mau tampil malam ini."


"Oh, ya udah. Hati-hati ya, In." Tatapan wanita itu mengantar kepergian Indra dan personel Marionette lantas kembali menujunya. "Ini siapa?"


Andara terkesiap, tidak siap atas pertanyaan yang datang. "Saya Andara, Tante."

__ADS_1


Wanita berpenampilan rapi yang ditaksir Andara berumur rentang 40 atau 50 tahun itu terdiam seperti mencerna kalimatnya lalu memindai dengan pandangan menyelidik. "Andara? Jadi kamu yang namanya Andara?"


***


"Kenapa, Kak? Kok jadi pendiam?" bisik Kaluna tampak memperhatikan Andara. Mereka berdua mengumpulkan bekas gelas air mineral ke dalam kotak. Pengajian sudah selesai dan para tamu menyusut. Hanya tersisa beberapa orang yang duduk di teras.


Andara menggeleng sambil melirik mamanya Buana yang sedang protes ke Bibik atas menu makanan yang dipilih Bibik, hari ini. Berbeda dengan Kaluna dan sang papa, mama Buana lebih mengerikan. Dalam hati, penyesalan karena tidak sempat mengenal keluarga Buana ketika cowok itu hidup, mulai berkurang. Setidaknya, dia terselamatkan dari cerita drama sekian episode yang mengisahkan ketidakharmonisan antara dia dan ibunya pacar.


"Karena Mama, ya?" Seperti Kaluna paham dan menenangkan hatinya. "Udah nggak usah dipeduliin, biarin aja. Dulu, dia yang pilih tinggalin rumah ini. Kenapa juga mesti balik lagi?"


"Lun, jangan kayak gitu," tegur Andara berusaha mengingatkan. Sedari kedatangan sang mama, Kaluna selalu menunjukkan muka tidak bersahabat kepada wanita itu.


Kaluna terdengar melengos dan memajukan bibir ke telinga Andara. Cewek yang memegang kotak dengan sampah menjulang itu berdesis sinis, "Aku kadang nggak habis pikir, kenapa dia jadi mama aku?"


Andara memberi isyarat agar Kaluna berhenti bicara, tetapi Kaluna tetap abai.


"Abang kan malam itu dari datangin dia." Cewek itu hanya mengangkat bahu ketika Andara menoleh dan menaruh wadah plastik kosong di kotak. "Abang kasih tahu Bibik kalau mau ke tempat Mama. Lokasi kecelakaan Abang juga bukan jalur biasa Abang pulang. Abang pasti dari sana."


Andara kembali menyibukkan diri dengan hal remeh setelah mengumpulkan wadah plastik bersama Kaluna. Dia hanya tidak mau membahas hal itu lagi, semua masih saja seperti kilasan kilat yang lewat sepintas tetapi nyata.


Langit Jakarta mulai meredup. Tidak ada senja karena hujan masih merata. Sebenarnya Andara ingin pulang, tetapi Kaluna terus saja menahan. Cewek itu sengaja mengajaknya makan malam untuk mengulur waktu.


"Kak, ini malam tahun baru. Macet di mana-mana, daripada kejebak macet, lebih baik di sini," ujar Kaluna saat mereka makan malam bersama.


Wanita di hadapan mereka menghentikan sendok dan memperhatikan interaksi Kaluna dan Andara. "Perhatian banget kamu sama orang lain, Lun."


"Seenggaknya orang lain itu juga perhatian sama aku. Aku cuma bikin apa yang mereka buat ke aku," balas Kaluna tanpa memandang muka di depan. Melihat itu, Andara jadi tidak enak hati. "Nginap sini aja ya, Kak," pinta Kaluna membujuk.


Dari sudut mata, Andara dapat melihat rahang wanita itu mengetat sebentar. Sekarang dia tahu, rahang indah Buana diturunkan dari siapa. Wanita itu seperti tidak mempermasalahkan bagaimana sikap Kaluna dan berusaha nimbrung di percakapan. "Udah bisa belain orang ya," ungkap sang mama sembari menandaskan suap terakhir.


Suasana meja makan tampak begitu kaku dan dingin. Makan malam keluarga yang dekat secara fisik tetapi jauh secara emosional. Kontradiksi dalam satu waktu. Andara hanya bisa menunduk sambil mengirim lirikan ke Kaluna agar menyudahi perdebatan.


"Yang pantas dibela, ya aku bela. Selama di rumah sakit juga yang jagain Abang itu Kak Andara sama aku. Mama ke mana? Dan Kak Nina yang Mama maju-majukan itu, cuma sekali datang itu pun cuma menjenguk. Jenguk, bukan jaga," sambar Kaluna dengan mata menyala. "Kalau sekarang aku minta Kak Andara nginap, jelas, dia pasti mau temanin aku. Bukan kayak Mama."


"Luna." Andara memegang lengan Kaluna yang ada di samping. Dia menggeleng-geleng. Ini tidak baik. Yang dimiliki Kaluna saat ini hanya mama. Buana sudah tidak ada, sang papa di penjara.


Wanita itu berdiri setelah meneguk minum. Gaunnya berkibar saat tangan itu menarik tas tangan dan berjalan meninggalkan meja makan. "Satu saat kamu akan tahu perihal memilih," ujar sang mama tersenyum tawar.


Kaluna yang juga sudah berdiri lantas mengangguk. "Dan kami, nggak pernah ada dalam pilihan Mama, 'kan?"


"Kamu bisa ikut Mama kalau kamu mau."


Kaluna menggeleng kuat-kuat sebagai jawaban, hingga wanita itu kembali berjalan menuju pintu depan setelah memeriksa ponsel. Andara yang menyaksikan itu hanya bisa memegang lengan Kaluna, berusaha menenangkan.


"Kakak mau tahu siapa yang dipilih Mama?" timpal Kaluna sambil menyeret langkah ke depan. "Itu, laki-laki itu. Mama pergi sama laki-laki itu. Kabarnya, dia cinta pertama Mama dan Mama nggak bisa lupa sampai sekarang."


Andara memperhatikan dengan saksama dari belakang jendela, terlihat sebuah mobil yang datang menjemput mama Buana. Ada seorang pria turun dan membukakan pintu setelah memeluk wanita itu dengan mesra. Dada Andara tertabuh dan sekitar mendadak terasa sunyi. Dia seperti ingin mengecil saat mengenali sosok lelaki itu. Senyum itu familier, sangat familier.


🔥🔥🔥


__ADS_1


__ADS_2