
Dia menyenangkan. Sayang, saya baru kenal sekarang.
🔥🔥🔥
Pada akhirnya, semua janji kadang kala hanya menjadi sebuah wacana yang nggak terealisasi. Andara bisa bersumpah demi langit dan bumi kalau dia nggak mau bertemu Buana. Namun, kondisi Buana saat ini membuatnya prihatin. Meski sudah keluar dari ICU setelah dua hari mendekam di ruang mengerikan itu, Buana masih banyak tidur. Malah Buana sepanjang hari hanya terbaring tanpa bergerak. Muka dan badannya dipenuhi perban seperti mumi. Kaki dan tangan Buana patah dan masih digips. Selang infus dan selang transfusi darah juga menggantung di tiang yang bersebelahan dengan tempat tidur. Sebenci apa pun Andara kepada Buana, kondisi itu tentu mampu mengubah hati.
Tanpa diminta, Andara sempatkan diri untuk datang setiap hari dalam seminggu ini. Sekadar untuk melihat apakah Buana sudah membaik, apakah Buana sudah benar-benar bangun dan membuka mata, apakah perban-perban sudah dibuka. Namun, Buana terus saja tidur. Setiap dia datang, cowok itu selalu menutup mata pulas seperti habis bergadang lama.Â
Hari ini, setelah siaran, Andara kembali datang. Kamar Buana masih saja sepi dan cowok itu masih saja terlelap. Andara menarik sebuah kursi dan duduk di samping tempat tidur. Dipandanginya Buana yang masih berselimut perban. Pasti sekujur badan Buana sakit, Andara tidak bisa bayangkan bagaimana ngilunya. Dokter pasti selalu menyuntikkan obat penghilang rasa sakit dan penenang untuk menghadapi rasa itu.Â
Perlahan, Andara menaruh tangannya hati-hati di punggung tangan Buana. Dia meraba jari-jari Buana yang bebas, sebab telapak tangan cowok itu bahkan tidak nampak. Digenggamnya telunjuk panjang Buana yang kaku seperti batu.Â
"Buan," panggilnya. "Ini gue, Andara. Gue percaya lo bisa ngehadapin semuanya. Gue percaya lo mampu ngelawan semua rasa sakit di badan lo. Dokter di sini, dokter-dokter yang terbaik. Gue yakin lo pasti bisa sembuh asal lo jangan nyerah."
Pintu kamar terbuka. Seorang perempuan berambut melewati bahu dengan seragam SMA di badan, menyeruak masuk. Cewek itu tampak memperhatikan dia. Matanya melihat dengan jeli bagaimana Andara memegang telunjuk Buana, lantas tatapan itu naik menuju muka Andara. Langkahnya mendekat ke ranjang. "Kakak siapa?"
Dari cara cewek itu bertanya, Andara paham kalau yang baru datang adalah bagian dari keluarga Buana. Dia tahu kok cewek ini adiknya Buana, Instagram-nya juga diikuti Andara pakai akun fake. Andara meletakkan tangan Buana pelan-pelan, berusaha tersenyum sesaat. "Aku Andara, temannya Buana. Kamu adiknya?"
Cewek itu mengangguk, bergegas menaruh ransel di sofa dan menarik sebuah kursi ke sebelah Andara. "Aku Luna, Kak," sapa Kaluna sambil mengulurkan tangan. "Udah lama Kakak di sini?"
"Sekitar sepuluh menit," ujar Andara setelah menjabat tangan. Baru kali ini dia bertemu oleh salah seorang keluarga Buana. Biasanya setiap kali dia mengunjungi Buana, ruangan ini selalu kosong.
Kaluna mengangguk. Sorot mata itu diam-diam masih memperhatikan Andara dan Andara tahu kalau dirinya sedang diawasi. "Baru sekarang kita ketemu ya, Kak. Padahal dulu Abang bilang mau kenalin Kakak sama Luna secepatnya," ulas Kaluna sambil memandang Buana. Bibir itu meringis tipis, berusaha sembunyikan duka.
Andara tersentak, balik meneliti Kaluna dan dia tidak menemukan tanda-tanda gadis muda itu berbohong. "Buana bilang gitu?"
"Iya." Kaluna mengangguk. "Tapi Abang PHP, setiap kali aku tanya, kata Abang, Kakak lagi sibuk siaran. Kakak penyiar, 'kan?"
Tenggorokan Andara terasa kering dan dia bersusah payah mengangguk.
Kaluna tersimpul kecil. Mata itu mirip sekali dengan mata Buana, tajam dan indah. "Abang saban hari nyetel radio melulu. Kalau Kakak lagi siaran, dia bilang 'Ini pacar Abang'. Aku bilang dia halu, soalnya Kakak nggak pernah dibawa datang. Jadi ... ya, aku pikir Abang tuh ngaku-ngaku aja kenal Kakak."
Cewek itu menaruh kepala di samping tangan Buana. "Kakak ke mana aja selama ini? Kok baru jenguk?"
Andara membasahi bibirnya sebelum menjawab. "Aku jenguk kok, Lun, tapi biasanya datang malam. Kemarin-kemarin, aku sempatnya malam."
"Oh, pantes kita baru ketemu, ya. Ini Kakak nggak siaran?"
"Udah tadi."
Kaluna mengangguk-angguk meski kepalanya masih menempel di kasur. Setelah diam sesaat dengan sorot menguliti muka Andara, cewek itu lantas menyeletuk, "Ternyata Kakak sama cantiknya kayak di foto yang Abang tunjukin," ujarnya terkekeh pelan. "Kakak beneran pacar Abang?"
Lidah Andara mendadak kelu. Bagaimana cara menjelaskan perihal hubungan kelewat rumit kepada remaja belasan tahun? Dia mengembus napas pelan sambil menoleh ke Buana. "Pernah," jawabnya. "Kami pernah pacaran."
"Jadi sekarang enggak?" Kaluna mulai menegakkan leher. Mukanya menunjukkan rasa ingin tahu.Â
Andara mengiakan. "Iya, udah putus beberapa bulan yang lalu."
Kursi yang diduduki mulai digeser oleh Kaluna, sehingga benar-benar menghadap ke dia. "Beberapa bulan yang lalu?" Kaluna mengulangi kalimatnya. Alis itu terangkat pelan seperti mencocokkan sesuatu. "Minggu lalu Abang masih bilang Kakak pacarnya."
Tangan Kaluna menutup di bibir sambil menggeleng. Cewek itu menatap ke pasien seolah sedang komunikasi dua arah. "Astaga! Abang bikin malu."
__ADS_1
Andara menanggapi itu tanpa komentar. Dalam beberapa menit saja, dia memahami jika antara Kaluna dan Buana sepertinya cukup dekat. Cara Kaluna menyebut Buana sebagai Abang terdengar akrab dan hangat. Sepertinya Buana adalah kakak yang baik untuk Kaluna.
Dia kembali memandang perban-perban di hadapan. Seingatnya, saat berteleponan dahulu, Buana pernah menyebut nama Kaluna, tetapi Andara abaikan. Dia memang sengaja tidak bertanya tentang keluarga kepada cowok itu. Bagi Andara, menceritakan siapa keluarga dinilai seperti usaha membanggakan diri. Dia tidak suka orang yang sesumbar apalagi mendompleng nama keluarga. Dia menyukai Buana tanpa embel-embel siapa orang tuanya dan siapa keluarga besarnya.
Dari Kaluna juga, Andara akhirnya banyak mendengar cerita tentang Buana. Bagaimana cowok itu kerap menjaili Kaluna yang merupakan saudara satu-satunya, bagaimana Buana selalu melarang Kaluna untuk pacaran, bagaimana Buana menyempatkan diri untuk menjemput Kaluna jika adiknya tidak membawa kendaraan. Andara sesekali tersenyum menyimak cerita Kaluna. Dia percaya cerita Kaluna, sebab Buana juga kerap bertingkah seperti itu terhadapnya. Cowok itu selalu menggandengnya erat, kerap menjemput jika siaran malam, dan sering tanya dia sedang di mana.
Kaluna bercerita cukup banyak sampai sore datang dan cewek itu sadar kalau dia perlu mandi juga mengganti baju. Andara ikut beranjak, hendak pulang.
"Kakak pulang sama siapa?" tanya Kaluna saat mereka menyusuri koridor.
Andara melirik sedikit dan tersimpul dari sudut mata. "Sama driver ojol," jawabnya enteng.
"Aku antar, ya? Hari ini, aku bawa mobil."
"Nggak usah. Luna perlu lekas pulang, mandi dan istirahat." Mereka berhenti di depan lobi rumah sakit. "Kakak biar pesan Grab atau Gojek."
Kaluna menggeleng keras. "Kalau Abang udah sadar, Luna yakin Abang bakal nyuruh Kakak pulang sama aku," jelasnya dengan tatapan bersungguh-sungguh. "Ayo, aku antar, Kak. Aku juga pengin sekalian lihat-lihat jalanan biar nggak butek."
Apa yang dibilang Kaluna memang benar. Buana sering tidak memperbolehkannya naik ojek atau taksi online. Cowok sebisa mungkin mengantar dan menjemputnya ke mana-mana. Sadar akan hal itu, Andara jadi menerima tumpangan Kaluna. Dia membiarkan dirinya duduk di bangku penumpang kala Kaluna mulai jalankan mobil meninggalkan parkiran rumah sakit.
"Rumah Kakak di mana?" Kaluna bertanya agar mengetahui hendak ke mana setir diarahkan.
"Dekat kampus." Andara lalu memberitahu sebuah komplek perumahan kepada Kaluna setelah mobil itu berbelok ke arah kiri.
Mereka melewati jalanan sore kota Jakarta yang ribut. Kaluna tampak tidak bermasalah dengan kemacetan di hadapan. Sesekali Andara mendengar cewek itu bersenandung saat pemutar musik mengalunkan lagu yang dihafalnya.
"Maaf, ya, jadi ngerepotin Luna." Andara menoleh ke pengemudi.
Andara menjadi tertarik dengan kalimat barusan. "Memangnya Buana nggak dibolehin naik motor?"
"Iya. Seharusnya mobil ini untuk Abang, tapi Abang malah minta motor. Katanya lebih asyik naik motor. Aneh, ya?" Kaluna mengedikkan bahu. "Padahal naik motor kan capek, belum lagi kena hujan juga kena panas."
Andara mengerti cara pandang Kaluna. Di Jakarta yang panas, berdebu dan penuh polusi, tentu lebih enak naik mobil. "Tapi naik motor itu romantis," tambahnya pelan.
Kaluna menoleh sambil mengerutkan alis. "Kenapa persis banget kayak kata Abang? Kata Abang, naik motor itu romantis. Ada kedekatan antara yang bawa motor sama yang dibonceng," cibirnya. Kaki cewek itu bergerak pelan menginjak gas saat mobil di depan mulai berjalan.
Andara dapat melihat kerlip kesal di muka Kaluna. "Kalau naik motor pasti penginnya motong-motong waktu lagi macet, penginnya ngebut-ngebut waktu lagi sepi," desis Kaluna sembari meringis kecut. "Kalau Abang nggak naik motor, kan nggak kecelakaan sampai sekarang."
"Lun." Tangan Andara berusaha menggapai Kaluna yang mulai terisak dan mengusap bahunya. "Sabar. Buana pasti sembuh."
Kaluna mengusap tetes-tetes air di pipinya. Cewek itu mengangguk meski terlihat ragu. "Aku cuma nggak bisa bayangin aja kalau ...."
Cewek itu mencengkeram setir dengan kuat dan menggeleng, menyingkirkan pengandaian barusan. Dia menghirup udara banyak-banyak agar tenang. Hidung itu memerah. "Maaf, Kak. Aku nggak mau nangis di rumah sakit, takut didengar Abang."
Bagaimanapun Kaluna tetaplah remaja berusia belasan tahun, Andara paham. Dirinya juga saat berumur seperti Kaluna pernah sangat terpukul saat Opung meninggal. Dia kembali mengusap bahu Kaluna. "Luna jangan sedih-sedih. Kalau kita sedih, siapa nanti yang bisa kasih kekuatan ke Buana?"
"Iya, Kak," sahut Kaluna lirih. Mobil itu sudah memasuki perumahan Andara. "Rumahnya yang mana?"
"Yang di pojok. Aku ngekos di situ." Andara menunjuk sebuah rumah berwarna gading. Ada mobil Rossa sedang terparkir di luar pagar.
Kaluna menghentikan mobil tepat di depan pagar. Cewek itu mengulas senyum sambil melambai Andara. "Sampai jumpa besok, Kak. Eh, Kak. Aku boleh minta nomor Kakak?"
__ADS_1
Andara menyebutkan dua belas nomor ponselnya sebelum turun. Dia juga balas melambai Kaluna. "Makasih, Luna. Hati-hati di jalan, ya. Jangan ngebut-ngebut."
Kaluna menyengir tipis. "Apa yang mau dingebutin jam segini, Kak? Macet di mana-mana. Kakak petuahnya sama aja kayak Abang, kadang nggak masuk akal. Dadah, Kakak," sapanya berlalu.
Andara menarik sudut bibir. Kaluna ini perpaduan manja dan mau tahu, kadang lucu tetapi bisa juga menjengkelkan. Anak itu menarik. Sayang, dia baru mengenal gadis itu sekarang. Andara membalik badan, masuk ke rumah. Lelah seharian dipenuhi banyak urusan dan Andara segera ingin merebah. Namun, seruan Rossa memaksanya untuk ikut duduk di meja makan.
"Woy, Chu! Sini dulu. Duduk dulu coba." Rossa melambaikan telapak tangan. Dari cara Rossa memandang, Andara sudah tahu kalau cewek itu akan membahas Buana.
Andara duduk dengan malas. Dia mengedikkan dagu. "Napa?"
Rossa dan Natha saling lirik, kemudian Rossa berbicara lagi. "Lo balikan sama Buana?"
"Nggak."
"Kok rajin amat ke rumah sakit?" tanya Rossa menyindir. "Ya, gue sih bukannya gimana, ya. Tapi kalau lo nongol terus di rumah sakit kayak ... apa ya, kayak ngasih kode bakal balikan gitu."
Andara menyandarkan punggung yang terasa penat. Tanpa bicara, dia menunggu Rossa melanjutkan kalimatnya.
"Lo kelihatan masih sayang sama Buana, Ra," timpal Natha.
Andara menatap keduanya. Ada apa ini? Dia memang tidak ada berbalikan dengan Buana. Selama ini, dia datang ke rumah sakit semata-mata karena mengikuti kata hati. Ada bisikan di relungnya bahwa Buana butuh dia, Buana perlu kehadirannya. Bagaimanapun, Buana juga pernah baik kepada Andara.
"Gue masih ingat gimana dia marah-marah sama lo dan Kin di Splash terus besoknya datang ke sini terus cip*k-cip*k kayak nggak ada dosa." Natha mendengkus kesal.
Rossa melengkungkan senyum penuh kode. "Pasti lo nggak tega ya lihat dia sakit?" Cewek itu menjentik-jentik kuku panjangnya sambil menyengir kemudian. "Hati-hati juga sih, Ra. Banyak juga sekarang yang sakit tuh cuma setting-an, biar dapat simpati. Yah, semoga aja si Buana nggak begitu."
"Tapi ... kayaknya Buana berhasil deh mainin hati lo, Ra. Mau gimanapun lo, pasti nggak tega kan ngelihat dia kecelakaan?" ulas Natha memandanginya. "Karena Buana tuh tahu, lo gampang luluh sama yang kayak-kayak gini. Saran gue sama sih kayak Ocha, jangan sering-sering ke rumah sakit, deh."
Andara berdecak sembari bangkit dari duduk. "Gue ke sana atas dasar kemanusiaan, panggilan nurani," balasnya sembari berjalan ke kamar. "Gue rebahan dulu, ah. Capek."
"Iya, iya, kemanusiaan. Bahasa lo udah kayak relawan PMI." Rossa terkekeh. "Memang Buana manusia, ya? Lupa gue."
Andara ikut tertawa garing. Kenapa dia jadi tidak suka sih dengan kalimat Rossa barusan? Kenapa, ya?
"Eh, Chu. Ntar malam keluar, yuk. Devan datang, ngajak dugem kayak biasa," panggil Rossa menahan langkah Andara sebelum masuk ke pintu kamar
"Enggak, ah. Lagi pengin hibernasi," tolak Andara.
"Duile. Awas lo ya, bilangnya hibernasi, nanti tahunya jagain Buana di rumah sakit," goda Rossa lagi. "BTW, mohon maaf aja nih ya, Chu. Gue nggak minat buat ngejenguk Buana lo itu."
Andara mencoba tersenyum tipis. "Nggak usah dijenguk kalau nggak mau, gue juga nggak maksa. Udah ah, gue mau tidur dulu."
"Kalau dugemnya sama Kin, Ra? Masih nggak mau juga?" potong Natha sembari memainkan alis.
Satu nama itu yang masih saja mampu membuat jantung Andara berdetak lebih cepat saat ini. Dia hanya melengos pelan dan masuk ke kamar. Mengempaskan badan ke tempat tidur setelah menaruh asal ransel. Badannya terasa penat, hatinya letih dan tidur menjadi jalan keluar terbaik saat ini. Di sela-sela kesadaran yang melayang, dia sempat mendengar pesan yang diteriakan Rossa.
"Chu, kalau Roni sampai tanya sama lo, bilang gue temanin lo jagain Buana, ya."
🔥🔥🔥
Hamdallah. Aku kok menemukan kekuatan dari membaca komentar-komentar klean. 😆
__ADS_1
Kemarin tuh pinggang belakang mendadak nyeri tak tertahan nggak tahu kenapa, mau bangun aja nggak bisa. Untungnya udah mulai pulih. Memang faktor U nggak bisa bohong, yha?! Manusia jompo kayak aku harus ingat umur. Tapi ... aku kan masih 17 tahun?! 😢