
Untuk permintaanku yang sering kamu kabulkan, aku minta kamu tetap di sini.
đ„đ„đ„
Setelah kepergian Andara dan Kaluna, muka tegang Natha berangsur mencair dan cewek itu tertawa mengejek ke arah Kin. "Buset, ya! Kalian berdua ini ngaku temenan tapi kaku amat kayak pinggiran koreng. Act natural, dong."
Kin mengembalikan pandangan ke televisi. Kekakuan dia tadi adalah sebenar-benar tindakan alami, tanpa dibuat-buat. Mau akting alami yang bagaimana? Dia lalu berdiri dan mengajak Natha pergi. "Ngopi, yuk."
Diajak seperti itu, Natha menoleh heran. "Bukannya tadi lo bilang mau main ke rumah?" tanyanya heran, tetapi sedetik kemudian Natha kembali terkekeh. "Oh, mau lihat Andara ternyata. Yaelah, lo ini masih aja mesin diesel!"
Kin mengembus napas gusar. "Ini bukan masalah diesel atau enggak, Nath. Lo nggak bakal ngerti kalau lo nggak di posisi gue. Udah, ah, yuk."
Kin melangkah keluar diikuti Natha. Dia mengarahkan mobil ke arah gerbang perumahan, melewati pos satpam. Lalu lintas yang ramai malah membuat Kin semakin diam. Dia tidak bergerak selama ini bukan karena pengecut atau perlu dipanasi. Dia menahan semua keinginan bodoh yang ada sebab dia berusaha menghargai Andara. Selama mengenal Andara, dia tahu sekali kalau cewek itu selalu menutupi perasaan. Seakan membahas isi hati adalah sesuatu yang fatal. Sekali dua kali dia mendapati Andara berusaha menampik perasaan sendiri, contohnya seperti saat tragedi Coca-Cola. Andara bisa senyum-senyum setelah menyiram Buana, tetapi sebenarnya jiwa cewek itu menangis dan semua itu akhirnya keluar saat mereka di Splash.
"Gue balik besok, Nath," gumam Kin saat mobil hitam itu parkir di kedai kopi.
"Cepat amat lo balik?" protes Natha. "Tujuan lo balik ke Jakarta apaan, sih? Numpang buang hajat apa gimana?"
"Cerewet," balas Kin sambil mendorong pintu kaca yang dibingkai kayu berwarna gelap. Mereka menuju satu bagian tempat yang sering mereka duduki. "Ntar kalau Deni tanya, nggak usah bilang dari rumah lo, ya."
Natha makin terkikik. "Berani nyogok berapa lo? Bvlgari Omnia aja nggak nongol-nongol dari mulai jadian sampai putusan."
"Gue traktir kopi, Nath."
"Malas! Kemurahan."
Kin menoleh sengit. "Sejak kapan lo jadi matre?"
"Matre adalah hak segala bangsa, Kin." Natha menaruh tas kemudian duduk di bangku tinggi yang bisa dipakai untuk menjuntaikan kaki. "Memangnya Deni mau ke sini?"
Kin tidak menjawab, hanya menunjuk ke arah pintu masuk yang didatangi dua orang. Ada Deni dan Diska di sana. Mereka makin merapat ke meja Kin.
"Berdua aja?" tanya Deni dan dijawab Kin dengan anggukan.
"Lho, Andara mana?" Diska bertanya dengan mimik serius, tidak ada unsur bercanda, tetapi Natha malah mati-matian menahan tawa. "Kenapa?" tanyanya penasaran melihat reaksi Natha.
Natha memilih bungkam sambil melirik Kin. Cowok itu berdecak ke arahnya. "Bukan gue yang ngomong, Diska, ya," kilah Natha.
Diska yang tidak mengerti lantas mengamati Natha dan Kin bergantian. "Kenapa, sih?" tanyanya lagi.
Deni mengusap pelan bahu kekasihnya yang tak kunjung mendapat jawaban, baik dari Kin atau Natha. "Udah, nggak usah dipikirin, Beb. Nanti kalau kamu pikirin, bisa lulus S3."
Diska membalas candaan Deni dengan mencibir. "Ya, soalnya tadi kan Kin bilang mau ajak Andara. Udah lama juga kita nggak ketemu dia," jawab Diska masih mencoba cari tahu kenapa reaksi Kin dan Natha aneh seperti itu saat dia bertanya tentang Andara.
Deni menarik napas dalam dan mencoba berbicara pelan agar Diska mengerti kondisi yang ada. "Beb, mereka berdua itu ... udah putus."
"Terus?" Diska mengangkat alis dan menatap muka ketiga orang yang semeja dengannya. "Jadiannya baik-baik, 'kan? Putusannya juga baik-baik, 'kan? Ya, nggak ada salahnya berteman baik-baik juga, dong."
Natha menghirup kopi panas yang baru saja diantar pelayan, lantas tersenyum simpul. "Kenyataannya, nggak segampang itu, Dis. Persahabatan di antara kedua orang mantan bisa terjadi jika antara mereka sebenarnya nggak pernah ada rasa sayang atau ... salah satu dari mereka masih sayang," jelas Natha. "Oh, atau, jangan-jangan dua-duanya masih sayang tapi gengsi. Itu juga bisa jadi," tambahnya berkedip-kedip geli ke arah Kin.
"Nath," tegur Kin jengah.
__ADS_1
"Eh, gue nggak ada nyindir lo, ya!"
Diperjelas seperti itu malah membuat Kin kembali berdecak. Dia memang tadinya meminta Natha ke rumah karena ingin mengajak Andara bergabung bersama Deni dan Diska. Namun, Andara malah mau ke rumah sakit dengan adiknya Buana. Sesayang itu Andara kepada Buana. Kin tahu Andara selalu ke rumah sakit setiap hari. Itu apa namanya jika tidak sayang? Jika hanya teman, frekuensi menjenguk seorang teman paling hanya sekali dua kali, bukan setiap hari. "Ini case-nya beda. Yang satu masih sayang, yang satunya juga masih sayang ... sayang mantan yang lain, maksudnya."
Diska hanya meringis dengar jawaban Kin. "Lo udah tanya belum? Atau cuma asumsi?"
"Asumsi juga dilakukan berdasar, kok. Kan pakai serangkaian pengamatan."
"Ya, tetap aja yang namanya isi hati orang, kita nggak akan tahu kalau nggak dibicarain langsung, Kin."
Kin diam mendengar balasan Diska. Iya, sih. Semua memang hanya hasil pengamatan dia. Namun, Andara juga tidak memperlihatkan tanda-tanda ingin membahas hubungan mereka. Masih perlukah dia mengajak Andara bicara empat mata atau biarkan yang lalu menjadi berlalu?
"Udah, ah. Muka lo nggak usah lecek gitu, Kin!" cela Natha. "Lihat ke sini, kita wefie dulu."
***
Andara mengibas tangan ke atas entah untuk keberapa kali saat Irvin memberitahu dari balik kaca studio bahwa ponselnya berdering lagi. Dia malas memegang benda itu setelah di perjalanan tadi pagi dengan tanpa sengaja dia menemukan muka Kin di Snapgram Natha. Di foto itu ada Natha, Kin, Diska dan Deni. Mereka berempat terlihat akrab, tetapi Andara tidak tahu mengapa hatinya tidak terima. Terakhir kali, dia menjadi bagian dari orang keempat itu. Sekarang, dia hanya bisa duduk menjadi penonton.
Sejak tadi pagi juga, Rossa masih berusaha menghubunginya dan menitip pesan yang sama seperti kemarin-kemarin. Tak lama setelah Rossa, Roni juga menghubungi dia. Kenapa pasangan itu benar-benar mengesalkan? Andara memilih mengabaikan telepon-telepon yang masuk apalagi yang nomornya tidak dia kenali.
Hari ini, dia siaran pukul sepuluh tepat setelah Duo TiTa siaran. Kampus masih libur sehingga setelah siaran nanti Andara bisa kembali ke rumah sakit lagi. Sebelum berangkat, Kaluna berulang-ulang memintanya berjanji agar datang lagi.
"Ra, hape lo ini berisik! Lo ada utang kartu kredit apa KTA, sih?" Irvin muncul dari pintu studio saat dirinya memutar lagu.
"Enak amat lo nuduh kayak nitizen!" cibir Andara. "Biarin ajalah, kan udah gue silent."
"Getarnya tetap kerasa, meja gue udah kayak kena gempa," balas Irvin sembari mengangkat ponsel dia yang berpendar-pendar, menampilkan telepon masuk dari nomor asing. "Tuh, lihat masih aja ada yang telepon."
Irvin manyun sembari menutup pintu. Andara sempat tertawa kecil melihat mimik menggelikan dari muka cowok itu, perhatiannya kemudian teralih ke Twitter Best FM. Dia mau membacakan request yang masuk.
"101 Best FM, The Best Hits Radio Station. Dari koleksi Reload yang masih aja disukain Besties, Sheila On 7 - Pemuja Rahasia. Memangnya di penghujung 2019 ini masih ada di antara kalian yang memuja orang diam-diam? Karena mikir jatuh cinta sama orang yang nggak akan mungkin bisa dimiliki, akhirnya memilih memendam aja." Andara terkekeh. "Banyak kayaknya, ya? Tapi ... orang nggak akan tahu lho perasaan kamu kalau kamu nggak ngaku, Besties. Jadi semuanya balik lagi ke kamu, sih. Mau memberitahu atau enggak, itu pilihan. Seenggaknya kamu pikirin juga, jangan sampai semuanya terlambat dan kamu jadi nyesal."
"Well, gue mau bacain request yang masuk di Twitter Best FM. Buat Winda dan Kiki yang tadi minta Sheila On 7, udah diputarin ya. Jangan galau lagi, udah mau 2020 keleus," ujarnya sambil mengulirkan mouse ke arah bawah.
"Halo, Wita. Apa kabar? Kamu mintanya Maroon 5 yang Memories. Cielah, masih ingat aja sama memori masa lalu apa gimana, nih? Move on itu memang gampang-gampang susah ya. Kadang, orang yang disukai udah move, tapi hati kamu masih on sama dia."
Andara tertawa geli sembari menaikkan lagu Memories ke daftar putar teratas sambil terus membaca tweet yang ada.
"Ada juga Indra. Woy, Bro! Tumben ngetweet?" sapanya sembari membaca lanjutan tweet Indra. "Katanya dia mau kasih kabar kalau vokalis Marionette..."
Mata Andara membelalak membaca kiriman terbaru yang masuk. Pesannya terlalu panjang, dan kepala Andara mendadak berputar. Dia menoleh ke arah Irvin dengan tatapan minta bantuan. Cowok itu langsung membaca tweet yang masuk melalui komputernya lalu tergopoh memberitahu penyiar yang ada di ruang tengah. Duo TiTa yang ada di sana langsung melompat dari tempat mereka duduk, menoleh ke arah studio.
Andara bergumam tidak percaya. Rahangnya terbuka lebar tetapi suara dia tidak bisa keluar, sementara lagu pengiring terus berputar. Dia dapat melihat bayang Bang Rodi sudah keluar dari ruangan Station Manager. Pria itu juga sudah berkacak pinggang, hendak menegur penyiar karena jeda diam yang terlalu lama.
Setetes bulir bening turun di wajah Andara dan isaknya lolos. Bulir-bulir lainnya menerjang pertahanan dan dia kalah, terseguk-seguk di depan mikrofon yang masih menyala. Dia tidak bisa berkata apa-apa, lehernya terasa tercekik.
Tata mendorong pintu studio, mengambil alih siaran Andara. Cowok itu merangkulnya sembari menarik mik.
"Besties, gue Tata. Gue mau kabarin kalau barusan sahabat kita, teman kita, salah satu vokalis kebanggaan Indiebest, Buana Semesta sudah berpulang ke sisi Allah SWT. Semoga amal ibadahnya diterima Allah dan semua dosa-dosa yang ada dihapuskan. Kami dari keluarga besar Best FM turut berduka cita sedalam-dalamnya dan sangat merasa kehilangan," jelas Tata lalu memutar lagu Memories yang ada di daftar.
Cowok itu memeluk kepala Andara yang tertunduk lemas. "Sabar, Ra. Lo musti profesional, ya. Tarik napas, tarik napas coba."
__ADS_1
Kenyataannya, Andara tidak bisa profesional. Sulit untuk tidak terguncang menerima kabar itu. Kemarin malam dia masih berbicara dengan Buana, masih meminta cowok itu untuk bangun dan sembuh, masih tertawa-tawa dengan Kaluna sambil membahas mereka.
Ini nggak mungkin terjadi.
Dia menyelesaikan siaran dengan asal-asalan. Tubuhnya seperti tanpa jiwa kala diangkut Tata dan Tirto juga penyiar lain yang hendak melayat. Andara merasa ada yang salah. Entah apa itu, dia merasa semua terasa janggal.
Kendaraan-kendaraan yang lalu lalang terlihat seperti putaran film bisu yang suram. Waktu berjalan sempit dan mengimpit paru-paru. Napasnya makin sesak saat mereka sampai pada sebuah rumah di kawasan Jakarta Selatan. Pengunjung tampak ramai di rumah bergaya Mediteranian itu. Kursi-kursi berjejer di halaman dan mulai dipenuhi orang.
Tungkai kakinya gemetar kala melewati pintu kayu putih yang melengkung rapi. Andara menelengkan kepala. Muka-muka sembab dan berduka hadir di sana. Pandangannya menuju seseorang yang dibaringkan di tengah ruang. Jantung Andara sudah melorot ke mata kaki, menghantam kekuatan berdirinya. Dia bergerak limbung, mendekatkan diri ke arah itu.
Dia masih tidak percaya kabar yang datang, tetapi di depan matanya sendiri dia melihat Kaluna menangis sambil memanggil-manggil Buana. Cowok itu masih saja diam dan tidur. Namun kali ini, tidurnya lebih panjang. Sangat panjang. Amat sangat panjang. Dan Andara yakin kalau cowok itu tidak akan pernah bangun lagi dari hibernasinya.
Dia menjatuhkan diri di samping Buana, berseberangan dengan Kaluna. Tenggorokannya masih saja sakit dan tersendat. Untuk mengucapkan satu kata saja, dia berusaha sekuat mungkin.
"B-buan," panggilnya sambil menyapu Buana selekat mungkin. Perban-perban yang ada di sekujur tubuh Buana sudah dibuka, badan itu diselimuti kain batik berwarna gelap. Andara menatap Buana dan wajah tersebut tampak lebih cerah dari biasa. Meski ada lebam di pelipis, di ujung hidung dan bibir, ada karisma gagah yang tidak pudar. Muka dengan rahang keras dan mata tajam yang pernah dia kagumi setengah mati.
Andara mengusap pipi Buana. Cowok dengan iris mata yang mampu membuat orang menunduk saat ditatap. Dia ingin ditatap Buana lagi. Dia ingin melihat senyum penuh gengsi di muka ini. Andara menggigit bibir dan sakitnya menusuk hingga ke dalam hati. Badai semakin hebat di matanya, setiap kali diusap, datang lebih parah.
"Buan." Andara memegang tangan Buana. Berharapan cowok itu menggenggam sekuat mungkin seperti dulu. Namun, tangan itu hanyalah tangan dingin tanpa kekuatan. Tangan yang tidak bereaksi apa pun meski sudah disentuhnya.
Andara menggeleng kuat. Dia ingin sekali bisa membangunkan Buana. Bukankah kemarin dia sudah meminta cowok itu untuk bangun? Masa Buana nggak mendengar?
"Ra, sabar."
Seseorang mengusap bahunya. Andara menoleh. Ada Vina di sana. Berarti ini bukan mimpi? Andara berharap ini mimpi. Dia menggenggam tangan Buana, mencium telunjuk yang sedari kemarin menjadi satu-satunya cara menyentuh cowok itu. Tetes-tetes air mata makin banjir di pipinya, Andara sampai kesulitan bernapas.
"Buan, bangun. Buan."
Dia ingat apa yang dikatakannya pada Buana, siang itu. Dia meminta Buana untuk pergi sejauh cowok itu bisa dan Buana benar-benar pergi. Bukan ke Mars, bukan ke Pluto, Buana pergi lebih jauh daripada itu.
Andara tersengal penuh sesal. Dia merutuki mulutnya benar-benar tajam dan sumpahnya yang didengar langit. Sebab Buana tidak akan kembali lagi. Buananya sudah meluluskan permintaan dia, pergi jauh dan tidak akan pernah kembali.
Andara berkali-kali menggeleng, air matanya jatuh ke segala arah. Dia mau Buana kembali. Dia ingin Buana kembali. Dia tidak mau ditinggalkan lagi. Apa Tuhan tidak dengar harapan dan ucapannya di rumah sakit? Kenapa yang dikabulkan malah harapan jahatnya? Kenapa harapan baik agar Buana sembuh tidak dikabulkan?
"Tolong bangun."
"Tolong, Buana."
"Bangun, Buana!" raung Andara dan semua terasa gelap, tubuhnya ambruk di tempat.
đ„đ„đ„
Tadi Mbak Hadiati kirimin foto ini ke aku. Katanya, Buana dan Andara itu pasangan favoritnya.
Aku juga suka Buana. Aku suka cara Buana mengistimewakan Andara di beberapa kesempatan. Namun, ada beberapa sikap Buana yang nggak bagus. Itu manusiawi sebenarnya.
Buat yang belum tahu, perkenalkan aku Nadya. Sering dibilang Emak Tiri sama para readers. đ
Yang nangis mana suaranya? Yang senang mana suaranya?
__ADS_1